Ibu tercinta!
Malam diliputi kegelapan. Langit pun
pekat. Hitam tanpa kerlip bintang. Purnama masih terlalu dini untuk berseri. Tanah
masih basah oleh gerimis, di beberapa lubang jalan, air tanpak menggenang. Sedesis
angin terasa membelai malam, lembut. Menebar dinginnya hawa durjana. Mengisyaratkan
angkara. Meniupkan bau penyesalan dan kerinduan ke dalam kalbu.
Tiba-tiba kami menemukan surat. Masya Allah, kami baca perlahan isi surat itu dengan
perasaan tak karuan. Petir disiang bolong mungkin tak terlalu membuat kami
terkejut. Tapi surat ini…! Sedikitpun kami
tak menduga akan menemukannya.
Inilah surat gaib itu.
Untuk
Anakku tercinta,
Nak,
ketika ibu semakin tua, ibu berharap kalian memahami dan memiliki kesabaran
atas ibu. Jika suatu ketika ibu memecahkan piring atau menumpahkan sup di meja sebab
pandangan ibu yang telah kabur, ibu berharap kalian tidak memarahi ibu. Orang itu
itu sensitif, Nak! Selalu merasa bersalah saat kalian berteriak membentak.
Ketika
pendengaran ibu semakin memburuk, dan ibu tak lagi mampu mendengar apa yang
kalian katakan, ibu harap kalian tak memanggil ibu, “TULI!” Ibu mohon ulangi
saja apa yang kalian katakan atau tuliskan saja untuk ibu. Maafkan ibu, Nak!
Ibu semakin
tua. Ketika lutut ibu semakin melemah, ibu berharap kalian memiliki kesabaran untuk
membantu ibu bangun. Sebagaimana ibu selalu membantu kalian berjalan di masa
kecil dulu.
Ibu mohon
kalian tidak bosan dengan ibu. Ketika ibu terus mengulangi apa yang ibu katakan
bagai kaset rusak dan kusust, ibu berharap kalian sudi mendengarnya. Ingatkah kalian
saat kalian merengek meminta balon waktu kecil dulu? Kalian mengulangi apa yang
kalian mau berulang-ulang sampai kalian benar-benar mendapatkannya.
Maafkan
juga jika BAU ibu tercium bagai orang yang sudah bangka. Jangan paksa kamimandi
ya, Nak…! Tubuh kami lemah. Orang tua mudah sakit dan rentan terhadap dingin. Ibu
berharap, ibu tidak terlihat kotor bagi kalian. Apakah kalian ingat, saat
kalian kecil, ibu selalu mengejar kalian karena kalian tidak ingin mandi? Ibu berharap
kalian bisa bersabar atas kerewelan kami, Nak! Sebab, semua ini adalah hal yang
harus dialami oleh orang yang sudah renta. Kalian akan mengerti ketika kalian
tua nanti!
Jika kalian
memiliki waktu luang, ibu berharap kita bisa berbicara walau hanya beberapa
menit saja. Ibu selalu merasa sepi sepanjang waktu. Ibu tahu kaiansibuk
bekerja. Sekalipun kalian tidak tertarik pada cerita ibu, ibu berharap kalian
mau memberikan ibu waktu untuk bersama kalian. Apakah kalian masih ingat, saat
kalian kecil, ibu tak pernah bosan mendengar cerita kalian tentang mainan
kalian?
Ketika
saatnya tiba dan ibu terbaring sakit, ibu berharap kalian bersabar merawat ibu.
Maafkan ibu jika ibu selalu mengompol dan membuat berantakan segala yang ada. Dan,
ibu juga berharap kalian sabar merawat ibu pada detik-detik terakhir hidup ibu.
Ibu mungkin takkan bertahan lama.
Ketika
kematian datang menjemput ibu, ibu berharap kalian memegang tangan ibu dan
memnerikan kekuatan kepada ibu untuk menghadapi malaikat maut. Dan, jangan
khawatir, Nak! Ketika ibu bertemu sang pencipta, ibu akan berbisik kepada-Nya
untuk selalu memberikan berkah kepada kalian karena kalian mencintai dan
menyayangi ibu. Terima kasih atas segala perhatian kalian. Ibu menyayangi
kalian dengan kasih yang berlimpah.
Ttd.
Ibumu
Setelah membaca isi surat ini, sesak
dada kami. Berlinanglah air mata membasahi pipi. Hati remuk dimangsa rindu dan
dicabik sesal dari ulah laku yang tak kenal malu. Sungguh, betapa kami ingin
bersimpuh di hadirat engkau wahai ibu tercinta.

No comments:
Post a Comment