Di negara yang mendefinisikan
pahlawan sebagai pejuang anti-Belanda, maka tidak akan ada tempat bagi anak
negeri yang melakukan perjuangan di kutub berbeda. Betapapun heroik tindakan
yang sudah dilakukan, tapi definisi kepahlawanan di kemudian hari membuatnya
lenyap.
Berbicara
mengenai kepahlawanan, gelar pahlawan sangat didominasi oleh sosok lelaki. Barangkali
karena sosoknya yang pemberani dan siap mati melawan penjajah. Dari kaum hawa, ada
Raden Ajeng Kartini merupakan seorang tokoh suku Jawa dan dikenal sebagai
pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Biografi Kartini sudah tertanam dalam
ingatan masyarakat Indonesia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini
seakan mendoktrin siswa bahwa pahlawan perempuan hanya terdapat di pulau Jawa. Padahal
sosok seperti Kartini juga terdapat di Sulawesi Selatan.
Dalam
tradisi Bugis, peran perempuan tidak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau
pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Tapi juga, perempuan Bugis
sudah ikut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan
Bugis jauh sejak masa epos La Galigo mula dikisahkan. Nenek moyang Bugis yang
disebut Tomanurung dikisahkan tidak saja hanya seorang lelaki bernama Batara
Guru, tapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We
Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan
melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis
awal.
Kerajaan-kerajaan
Bugis, dikenal sejak dulu sangat egaliter dan demokratis. Pada masa-masa awal
pemerintahannya, pemilihan raja didasarkan pada kecakapan individual dan
kolektif dengan mendudukkan faktor garis keturunan kebangsawanan di urutan ke
sekian. Hal ini sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Bugis yang terungkap
dalam peribahasa: Maccai na malempu, Waraniwi na magetteng (Cendekia lagi
jujur, Berani lagi teguh pendirian). Pemimpin yang baik bagi masyarakat Bugis
adalah pemimpin yang cendekia dan jujur serta berani yang dilengkapi dengan
keteguhan pada pendirian yang benar.
Dalam
buku History Of Java (1817) Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan
peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya: “the women are held in more esteem
than could be expected from the state of civilization in general, and undergo
none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity
in other parts of the world” [perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang
lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan
kekerasan, pelanggaran privacy atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi
aktifitas/kesuburan mereka, disbanding yang dialami kaumnya di belahan dunia
lain] (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi)
Tak
hanya dihargai pendapatnya, terkadang beberapa perempuan Bugis terpilih menjadi
penguasa di kerajaannya masing-masing. Kesetaraan hak politik perempuan ini
diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.
Siti
Aisyah We Tenri Olle adalah satu diantara sekian banyak raja perempuan Bugis
yang narasi tentang dirinya senyap di lintasan sejarah. Ia adalah Raja Tanete, putri
kedua dari La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Masa kekuasaan We Tenri Olle
terbilang cukup lama, 55 tahun, yakni sejak 1855 hingga 1910.
Kronik
hidup We Tenri Olle, penguasa Tanete nan cerdas itu rupanya tak selengkap
kronik penguasa lokal yang lain. Setidaknya dalam penelusuran di berbagai
literatur, tahun kelahiran perempuan cerdas asal Tanete ini tidak pernah
disebutkan. Perempuan peminat sastra dan pemerhati pendidikan ini hanya
disebutkan tahun wafatnya di desa Pancana Tanete ri lau, yang juga kampung
kelahirannya, tahun 1919.
Masa
remaja We Tenri Olle dihabiskan di istana Sultan Tanete yang saat itu
diperintah oleh kakeknya dari pihak ibu: Raja Tanete La Rumpang Megga Matinroe
ri Mutiara. Pada 1853, perempuan cerdas ini menemukan bintang terangnya kala
berinteraksi dengan dua peneliti asal Eropa, BF Matthes dari Belanda dan Ida
Pfeiffer asal Austria.
Saat
naik tahta, We Tenri Olle sejatinya harus menghadapi banyak pertentangan,
bahkan dari ibundanya sendiri, Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Sang
ibunda lebih menghendaki La Makkawaru, kakak lelaki sulung Tenri Olle, untuk
naik tahta. Tetapi, intervensi kakeknya, La Rumpang, ayah Collipujie yang juga
Raja Tanete kala itu, membuat penentangan ibundanya mereda. Apalagi, perilaku
keseharian La Makkawaru yang disebutkan gemar berjudi dan meminum-minuman keras
membuatnya tersingkir dari tahta kekuasaan Tanete. Perilaku demikian bertolak
belakang dengan Tenri Olle yang terkenal cerdas, terpelajar, serta meminati
sastra Bugis dan Islam.
We
Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang
stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin
kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia.
Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk
berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan
kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.
Ø Menemukan Kembali Epos Lagaligo
Lamanya
masa pemerintahan We Tenri Olle memungkinkan dirinya untuk berbuat lebih banyak
untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La
Galigo. Dengan diinisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh
Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan
Collipujie, sang ibunda, ia kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo
yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak
kalangan Bugis.
Kemampuan
We Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos
La Galigo, yang tersusun dalam 300.000 larik cerita berangkai, membuat
pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan
anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara
Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku Boeginesche Chrestomathie
Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan
Universitas Leiden, Belanda, dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya
mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.
Menurut
BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya, Collipujie, sangat signifikan dalam
memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin
epos ini akan lama terpendam di dalam bilik-bilik senyap istana-istana
raja-raja Bugis hingga keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka
hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras
pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini. Ia
berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari
karya sastra bugis ini.
Ø Sekolah Rakyat (volkschool) untuk
semua kalangan
Model
sekolah rakyat ini, atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool),
merupakan inisiatif We Tenri Olla dan menjadi yang pertama di jazirah Sulawesi
Selatan kala itu. Ia lahir dari ide kreatif Kerajaan Tanete tanpa bantuan dari
pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Belakangan, model sekolah rakyat ini
diadopsi oleh daerah lainnya di Sulawesi Selatan hingga ke Wajo, Bone, dan
Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut “Sekolah Melayu” sebagaimana
dituliskan oleh FB Matthes dalam bukunya.
Kala
itu, ide sekolah rakyat untuk semua kalangan tanpa diskriminasi ini sungguh
luar biasa dan melampaui zamannya. Bahkan jauh mendahului RA Kartini dan Dewi
Sartika, dimana nama yang pertama dibuat lebih dikenal dalam kepeloporan
pendidikannya di Indonesia.
Ø Senyap di Lintas Sejarah
Siti
Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritas di lintas sejarah
Indonesia. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti
mengenai sejarah penulisan La Galigo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak
mengundang kekaguman dalam bentuk tulisan-tulisan yang tersebar di buku
sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat Bugis saat ini,
yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan
Hasanuddin atau Arung Palakka.
Namanya
jauh dari sentuhan literatur. Bahkan, dalam penelusuran mesin pencari di
internet, hanya ditemukan 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”,
jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1.080.000
tautan dan Dewi Sartika dengan 2.100.000 tautan.
Satu-satunya
cacat seorang Wa Tenri Olle, jika kita menyepakati hal ini sebagai cacat
sembari melenyapkan pertimbangan-pertimbangan politis-strategis masa itu,
adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan
mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda
melawan raja-raja Bugis di Pare-Pare pada 1905. Faktor lain yang barangkali
turut membuat namanya senyap adalah tidak adanya karya tulis yang ia hasilkan
sendiri.

No comments:
Post a Comment