Tuesday, 16 December 2014

Kartini Bermata Timur (Siti Aisyah We Tenriolle)


            Di negara yang mendefinisikan pahlawan sebagai pejuang anti-Belanda, maka tidak akan ada tempat bagi anak negeri yang melakukan perjuangan di kutub berbeda. Betapapun heroik tindakan yang sudah dilakukan, tapi definisi kepahlawanan di kemudian hari membuatnya lenyap.
            Berbicara mengenai kepahlawanan, gelar pahlawan sangat didominasi oleh sosok lelaki. Barangkali karena sosoknya yang pemberani dan siap mati melawan penjajah. Dari kaum hawa, ada Raden Ajeng Kartini merupakan seorang tokoh suku Jawa dan dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Biografi Kartini sudah tertanam dalam ingatan masyarakat Indonesia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini seakan mendoktrin siswa bahwa pahlawan perempuan hanya terdapat di pulau Jawa. Padahal sosok seperti Kartini juga terdapat di Sulawesi Selatan.
            Dalam tradisi Bugis, peran perempuan tidak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Tapi juga, perempuan Bugis sudah ikut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan Bugis jauh sejak masa epos La Galigo mula dikisahkan. Nenek moyang Bugis yang disebut Tomanurung dikisahkan tidak saja hanya seorang lelaki bernama Batara Guru, tapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis awal.
            Kerajaan-kerajaan Bugis, dikenal sejak dulu sangat egaliter dan demokratis. Pada masa-masa awal pemerintahannya, pemilihan raja didasarkan pada kecakapan individual dan kolektif dengan mendudukkan faktor garis keturunan kebangsawanan di urutan ke sekian. Hal ini sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Bugis yang terungkap dalam peribahasa: Maccai na malempu, Waraniwi na magetteng (Cendekia lagi jujur, Berani lagi teguh pendirian). Pemimpin yang baik bagi masyarakat Bugis adalah pemimpin yang cendekia dan jujur serta berani yang dilengkapi dengan keteguhan pada pendirian yang benar.
            Dalam buku History Of Java (1817) Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya: “the women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” [perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran privacy atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, disbanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain] (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi)
            Tak hanya dihargai pendapatnya, terkadang beberapa perempuan Bugis terpilih menjadi penguasa di kerajaannya masing-masing. Kesetaraan hak politik perempuan ini diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.
            Siti Aisyah We Tenri Olle adalah satu diantara sekian banyak raja perempuan Bugis yang narasi tentang dirinya senyap di lintasan sejarah. Ia adalah Raja Tanete, putri kedua dari La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Masa kekuasaan We Tenri Olle terbilang cukup lama, 55 tahun, yakni sejak 1855 hingga 1910.
            Kronik hidup We Tenri Olle, penguasa Tanete nan cerdas itu rupanya tak selengkap kronik penguasa lokal yang lain. Setidaknya dalam penelusuran di berbagai literatur, tahun kelahiran perempuan cerdas asal Tanete ini tidak pernah disebutkan. Perempuan peminat sastra dan pemerhati pendidikan ini hanya disebutkan tahun wafatnya di desa Pancana Tanete ri lau, yang juga kampung kelahirannya, tahun 1919.
            Masa remaja We Tenri Olle dihabiskan di istana Sultan Tanete yang saat itu diperintah oleh kakeknya dari pihak ibu: Raja Tanete La Rumpang Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, perempuan cerdas ini menemukan bintang terangnya kala berinteraksi dengan dua peneliti asal Eropa, BF Matthes dari Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria.
            Saat naik tahta, We Tenri Olle sejatinya harus menghadapi banyak pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Sang ibunda lebih menghendaki La Makkawaru, kakak lelaki sulung Tenri Olle, untuk naik tahta. Tetapi, intervensi kakeknya, La Rumpang, ayah Collipujie yang juga Raja Tanete kala itu, membuat penentangan ibundanya mereda. Apalagi, perilaku keseharian La Makkawaru yang disebutkan gemar berjudi dan meminum-minuman keras membuatnya tersingkir dari tahta kekuasaan Tanete. Perilaku demikian bertolak belakang dengan Tenri Olle yang terkenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.
            We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.
Ø  Menemukan Kembali Epos Lagaligo
Lamanya masa pemerintahan We Tenri Olle memungkinkan dirinya untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La Galigo. Dengan diinisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan Collipujie, sang ibunda, ia kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis.
Kemampuan We Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos La Galigo, yang tersusun dalam 300.000 larik cerita berangkai, membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.
Menurut BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya, Collipujie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam di dalam bilik-bilik senyap istana-istana raja-raja Bugis hingga keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini. Ia berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra bugis ini.
Ø  Sekolah Rakyat (volkschool) untuk semua kalangan
Model sekolah rakyat ini, atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool), merupakan inisiatif We Tenri Olla dan menjadi yang pertama di jazirah Sulawesi Selatan kala itu. Ia lahir dari ide kreatif Kerajaan Tanete tanpa bantuan dari pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Belakangan, model sekolah rakyat ini diadopsi oleh daerah lainnya di Sulawesi Selatan hingga ke Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut “Sekolah Melayu” sebagaimana dituliskan oleh FB Matthes dalam bukunya.
Kala itu, ide sekolah rakyat untuk semua kalangan tanpa diskriminasi ini sungguh luar biasa dan melampaui zamannya. Bahkan jauh mendahului RA Kartini dan Dewi Sartika, dimana nama yang pertama dibuat lebih dikenal dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia.
Ø  Senyap di Lintas Sejarah
Siti Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritas di lintas sejarah Indonesia. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti mengenai sejarah penulisan La Galigo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak mengundang kekaguman dalam bentuk tulisan-tulisan yang tersebar di buku sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat Bugis saat ini, yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka.
Namanya jauh dari sentuhan literatur. Bahkan, dalam penelusuran mesin pencari di internet, hanya ditemukan 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1.080.000 tautan dan Dewi Sartika dengan 2.100.000 tautan.
Satu-satunya cacat seorang Wa Tenri Olle, jika kita menyepakati hal ini sebagai cacat sembari melenyapkan pertimbangan-pertimbangan politis-strategis masa itu, adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda melawan raja-raja Bugis di Pare-Pare pada 1905. Faktor lain yang barangkali turut membuat namanya senyap adalah tidak adanya karya tulis yang ia hasilkan sendiri.


No comments:

Post a Comment