Merantau, ya sebuah perantauan
adalah perjalanan untuk mencari “rumah kedua” atau mungkin bisa dikatakan
menemukan rumah yang sesungguhnya. Menembus arah, keterbataasan dan kekurangan
dengan kesunggguhan dan keikhlasan. Merantau seperti dikatakan penulis (A.
Fuadi) mempunyai keajaiban-keajaiban yang luar biasa, membuat kita lebih
bersyukur, lebih memaknai hidup, dan mencintai ilmu. Seperti perkataan Imam
Syafi’i dalam syairnya:
“Merantaulah. Gapailah setinggi-setingginya
impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu. Melipur duka dan
memulai penghidupan baru. Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta
meluaskan ilmu.” (Berjuang di Tanah Rantau, hal 11).
Dalam perspektif reflektif jalan
panjang ini , secara garis besar, mahasiswa rantau dapat dibagi dalam dua arus
besar. Pertama, mahasiswa rantau
yang mampu memaknai perjalanan panjang dan melahirkan kesadaran akan posisinya
sebagai kaum intelektual. Kedua,
mahasiswa rantau yang termotivasi dengan bayang-bayang profan. Termotivasi oleh
nilai-nilai material. Merantau untuk mendapatkan harta melimpah atau merantau
untuk menjadi yang “terbaik” di bumi masing-masing. Pertanyaannya, di manakah
kita berada?
Sangat disayangkan jika point kedua
masih sangat melekat dalam diri kita. Karena perspektif untuk melihat suatu hal
masih terhalang oleh tembok material dan tak mampu menembus ruang dibaliknya. Pada
sisi inilah kita mampu menjelaskan nilai dari falsafah bugis-makassar tellu cappa’ yang dimiliki mahasiswa
perantau. “Dalam paseng to riolo (pesan tetua zaman dahulu) dikatakan :
“Engka tellu cappa’ bokonna to
laoe, iyana ritu :Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa’ kawalie.”
(Terdapat tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, yaitu: ujung
lidah, ujung kelelakian (kemaluan), ujung badi’/kawali (senjata)).
Kalimat yang bermakna filosofis dan
bersifat antisipatif ini bila seseorang dapat menginternalisasikan dan
mempergunakannya melalui cara-cara yang tepat dan benar, maka yang bersangkutan
bisa semakin menunjukkan eksistensi jati dirinya dan berbagai kehidupannya
lebih bermakna secara luas dan positif. Namun, realita perantau celebes saat
ini melihat tellu cappa’ tersebut
dengan sudut pandang material. Ujung lidah hanya sebagai perangkat negosiasi
kepentingan pribadi. Ujung kemaluan tidak lebih untuk mengelabui objek
kepentingan demi kepentingan sesaat dan ujung senjata hanya untuk menyombongkan
diri secara fisik.
Maka
pertanyaannya saat ini, bagaimana strategi perantau bugis-makassar memupuk
kembali nilai-nilai kebudayaan lokal di perantauan?
Sebagai mahasiswa yang
berintelektual, berproses dalam organisasi paguyuban Sulawesi Selatan atau yang
sering dikenal dengan nama Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia
(IKAMI) Sulawesi Selatan merupakan langkah awal untuk menata kembali
nilai-nilai budaya luhur yang telah diwariskan kepada kita agar konsep dan
perbuatan berbanding lurus serta berada dalam artian yang sebenarnya. Ber-IKAMI
bukanlah hal yang sulit namun tak boleh disepelehkan. Adanya pergolakan yang
terjadi dalam diri setiap orang. Semuanya menginginkan IKAMI yang bermutu namun
tak luput dari eksistensi.
Dalam konteks ini, penulis memvisualisasikan
IKAMI sebagai sebuah rumah yang asri. Tempat keluarga berkumpul. Rumah yang
asri ini berhalaman luas. Dipenuhi tanaman dan bunga-bunga. Ada gardu atau
sanggar di situ tempat anak-anak IKAMI berekspresi berkesenian. Ada yang
melukis, memotret, menari, berteater, bermusik, dan ekspresi lainnya. Di
halaman belakang. Ada lapangan luas tempat berolahraga. Bermain bola, raga,
takraw, bulutangkis, juga berenang. Ada juga kebun kecil tempat mereka
melakukan penelitian, kolam ikan, dan budidaya alam lainnya. Di sebelahnya ada
ruang untuk berusaha. Toko kecil-kecilan lah begitu. Tapi bukan warung
kelontong seperti kebanyakan.
Di dalam rumah tersedia ruang rapat
yang kapan saja bisa digunakan untuk diskusi dan bermusyawarah. Ada
laboratorium kecil untuk riset dan penelitian. Ada perpustakaan buku dan media
digital. Ada juga tempat untuk beribadah, melakukan kajian-kajian agama. Tempat
berselancar di dunia maya. Tentu saja ada tempat tidur untuk melepaskan penat
setelah beraktivitas, kamar mandi untuk membersihkan diri. Dapur untuk
bereksperimen dengan masakan daerah. Kemudian ada bilik curhat tempat
mencurahkan isi hati apapun problematika hidup di tanah rantau. Dan tentu saja
bagian paling depan untuk menerima tamu dalam rangka menjalin kerjasama yang
lebih luas.
Semua itu dapat terealisasi dengan
campur tangan kita semua. Tentunya dengan pengkaderan yang tepat meskipun tidak
menutup kemungkinan bahwa IKAMI merupakan organisasi paguyuban. Tetapi harus
diingat juga, tanpa pengkaderan yang tepat, akan sangat sulit membina
organisasi ini menjadi organisasi yang hebat dan diperhitungkan. Tentu juga
akan sulit menghasilkan karya dan prestasi yang monumental dari anggotanya.
Inilah titik temu untuk menjadikan IKAMI sebuah organisasi yang bermutu dan tak
lepas dari eksistensi.
Untuk mengkader anggota dengan
tepat, ada beberapa nilai dasar yang
dapat dikatakan sebagai pondasi awal untuk memulai sebuah pengkaderan.
Ø Kearifan
Lokal
Memahami
kearifan lokal budaya celebes dapat menjadi titik awal dalam menyusun konsep
kader IKAMI
Ø Universalitas
Nilai Agama
Nilai-nilai
agama yang universal menjadi semangat dasar setiap kader IKAMI dalam
mengekspresikan karya dan prestasi mereka.
Ø Serapan
Budaya Nasional dan Dunia
Kita
tidak mungkin fanatik dan bersifat radikal terhadap nilai-nilai budaya celebes
dalam menghadapi tantangan global. Adanya filter terhadap budaya luar mampu
membesarkan dan meningkatkan kualitas diri dan organisasi.
Dengan
berpacu terhadap ketiga nilai dasar tersebut, maka akan memunculkan konsep dan
gagasan baru dalam menata IKAMI yang lebih rapi dan tentunya berintelektual.
Inilah tantangan kita bersama. Apapun posisi kita dalam organisasi ini,
tanggung jawab untuk meningkatkan mutu IKAMI
ada di tangan semua anggota. Tidak ada senioritas melainkan keluarga.
Mampu menerima konsekuensi bersama terhadap problematika nyata saat ini.
Siapakatau,
sipakainge, sipakale’bi.

No comments:
Post a Comment