Friday, 5 December 2014

Semangat Rantau Transformatif dalam Nahkoda IKAMI SulSel

            
Hei kalian. Jika hari ini kakimu tak berpijak di tana pa’jajianmu (tanah kelahiranmu) melainkan di sebuah tempat yang jauh dari keluarga demi menuntut ilmu pengetahuan maka sebutlah dirimu sebagai anak rantau. Dalam KBBI arti kata rantau adalah 1 pantai sepanjang teluk (sungai); pesisir (lawan darat): berlayar sepanjang --; 2 daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing; teluknya dalam, -- nya sakti, pb tidak mudah dikalahkan.
            Merantau, ya sebuah perantauan adalah perjalanan untuk mencari “rumah kedua” atau mungkin bisa dikatakan menemukan rumah yang sesungguhnya. Menembus arah, keterbataasan dan kekurangan dengan kesunggguhan dan keikhlasan. Merantau seperti dikatakan penulis (A. Fuadi) mempunyai keajaiban-keajaiban yang luar biasa, membuat kita lebih bersyukur, lebih memaknai hidup, dan mencintai ilmu. Seperti perkataan Imam Syafi’i dalam syairnya:
“Merantaulah. Gapailah setinggi-setingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu. Melipur duka dan memulai penghidupan baru. Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.” (Berjuang di Tanah Rantau, hal 11).
            Dalam perspektif reflektif jalan panjang ini , secara garis besar, mahasiswa rantau dapat dibagi dalam dua arus besar. Pertama, mahasiswa rantau yang mampu memaknai perjalanan panjang dan melahirkan kesadaran akan posisinya sebagai kaum intelektual. Kedua, mahasiswa rantau yang termotivasi dengan bayang-bayang profan. Termotivasi oleh nilai-nilai material. Merantau untuk mendapatkan harta melimpah atau merantau untuk menjadi yang “terbaik” di bumi masing-masing. Pertanyaannya, di manakah kita berada?
            Sangat disayangkan jika point kedua masih sangat melekat dalam diri kita. Karena perspektif untuk melihat suatu hal masih terhalang oleh tembok material dan tak mampu menembus ruang dibaliknya. Pada sisi inilah kita mampu menjelaskan nilai dari falsafah bugis-makassar tellu cappa’ yang dimiliki mahasiswa perantau. “Dalam paseng to riolo (pesan tetua zaman dahulu) dikatakan :
“Engka tellu cappa’ bokonna to laoe, iyana ritu :Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa’ kawalie.” (Terdapat tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, yaitu: ujung lidah, ujung kelelakian (kemaluan), ujung badi’/kawali (senjata)).
            Kalimat yang bermakna filosofis dan bersifat antisipatif ini bila seseorang dapat menginternalisasikan dan mempergunakannya melalui cara-cara yang tepat dan benar, maka yang bersangkutan bisa semakin menunjukkan eksistensi jati dirinya dan berbagai kehidupannya lebih bermakna secara luas dan positif. Namun, realita perantau celebes saat ini melihat tellu cappa’ tersebut dengan sudut pandang material. Ujung lidah hanya sebagai perangkat negosiasi kepentingan pribadi. Ujung kemaluan tidak lebih untuk mengelabui objek kepentingan demi kepentingan sesaat dan ujung senjata hanya untuk menyombongkan diri secara fisik.
Maka pertanyaannya saat ini, bagaimana strategi perantau bugis-makassar memupuk kembali nilai-nilai kebudayaan lokal di perantauan?
            Sebagai mahasiswa yang berintelektual, berproses dalam organisasi paguyuban Sulawesi Selatan atau yang sering dikenal dengan nama Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan merupakan langkah awal untuk menata kembali nilai-nilai budaya luhur yang telah diwariskan kepada kita agar konsep dan perbuatan berbanding lurus serta berada dalam artian yang sebenarnya. Ber-IKAMI bukanlah hal yang sulit namun tak boleh disepelehkan. Adanya pergolakan yang terjadi dalam diri setiap orang. Semuanya menginginkan IKAMI yang bermutu namun tak luput dari eksistensi.
            Dalam konteks ini, penulis memvisualisasikan IKAMI sebagai sebuah rumah yang asri. Tempat keluarga berkumpul. Rumah yang asri ini berhalaman luas. Dipenuhi tanaman dan bunga-bunga. Ada gardu atau sanggar di situ tempat anak-anak IKAMI berekspresi berkesenian. Ada yang melukis, memotret, menari, berteater, bermusik, dan ekspresi lainnya. Di halaman belakang. Ada lapangan luas tempat berolahraga. Bermain bola, raga, takraw, bulutangkis, juga berenang. Ada juga kebun kecil tempat mereka melakukan penelitian, kolam ikan, dan budidaya alam lainnya. Di sebelahnya ada ruang untuk berusaha. Toko kecil-kecilan lah begitu. Tapi bukan warung kelontong seperti kebanyakan.
            Di dalam rumah tersedia ruang rapat yang kapan saja bisa digunakan untuk diskusi dan bermusyawarah. Ada laboratorium kecil untuk riset dan penelitian. Ada perpustakaan buku dan media digital. Ada juga tempat untuk beribadah, melakukan kajian-kajian agama. Tempat berselancar di dunia maya. Tentu saja ada tempat tidur untuk melepaskan penat setelah beraktivitas, kamar mandi untuk membersihkan diri. Dapur untuk bereksperimen dengan masakan daerah. Kemudian ada bilik curhat tempat mencurahkan isi hati apapun problematika hidup di tanah rantau. Dan tentu saja bagian paling depan untuk menerima tamu dalam rangka menjalin kerjasama yang lebih luas.
            Semua itu dapat terealisasi dengan campur tangan kita semua. Tentunya dengan pengkaderan yang tepat meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa IKAMI merupakan organisasi paguyuban. Tetapi harus diingat juga, tanpa pengkaderan yang tepat, akan sangat sulit membina organisasi ini menjadi organisasi yang hebat dan diperhitungkan. Tentu juga akan sulit menghasilkan karya dan prestasi yang monumental dari anggotanya. Inilah titik temu untuk menjadikan IKAMI sebuah organisasi yang bermutu dan tak lepas dari eksistensi.
            Untuk mengkader anggota dengan tepat,  ada beberapa nilai dasar yang dapat dikatakan sebagai pondasi awal untuk memulai sebuah pengkaderan.
Ø  Kearifan Lokal
Memahami kearifan lokal budaya celebes dapat menjadi titik awal dalam menyusun konsep kader IKAMI
Ø  Universalitas Nilai Agama
Nilai-nilai agama yang universal menjadi semangat dasar setiap kader IKAMI dalam mengekspresikan karya dan prestasi mereka.
Ø  Serapan Budaya Nasional dan Dunia
Kita tidak mungkin fanatik dan bersifat radikal terhadap nilai-nilai budaya celebes dalam menghadapi tantangan global. Adanya filter terhadap budaya luar mampu membesarkan dan meningkatkan kualitas diri dan organisasi.
            Dengan berpacu terhadap ketiga nilai dasar tersebut, maka akan memunculkan konsep dan gagasan baru dalam menata IKAMI yang lebih rapi dan tentunya berintelektual. Inilah tantangan kita bersama. Apapun posisi kita dalam organisasi ini, tanggung jawab untuk meningkatkan mutu IKAMI  ada di tangan semua anggota. Tidak ada senioritas melainkan keluarga. Mampu menerima konsekuensi bersama terhadap problematika nyata saat ini.

 Siapakatau, sipakainge, sipakale’bi.

No comments:

Post a Comment