Monday, 22 December 2014

Sepucuk Surat dari Ibu

Ibu tercinta!
            Malam diliputi kegelapan. Langit pun pekat. Hitam tanpa kerlip bintang. Purnama masih terlalu dini untuk berseri. Tanah masih basah oleh gerimis, di beberapa lubang jalan, air tanpak menggenang. Sedesis angin terasa membelai malam, lembut. Menebar dinginnya hawa durjana. Mengisyaratkan angkara. Meniupkan bau penyesalan dan kerinduan ke dalam kalbu.
            Tiba-tiba kami menemukan surat. Masya Allah, kami baca perlahan isi surat itu dengan perasaan tak karuan. Petir disiang bolong mungkin tak terlalu membuat kami terkejut. Tapi surat  ini…! Sedikitpun kami tak menduga akan menemukannya.
            Inilah surat gaib itu.

Untuk Anakku tercinta,
Nak, ketika ibu semakin tua, ibu berharap kalian memahami dan memiliki kesabaran atas ibu. Jika suatu ketika ibu memecahkan piring atau menumpahkan sup di meja sebab pandangan ibu yang telah kabur, ibu berharap kalian tidak memarahi ibu. Orang itu itu sensitif, Nak! Selalu merasa bersalah saat kalian berteriak membentak.
Ketika pendengaran ibu semakin memburuk, dan ibu tak lagi mampu mendengar apa yang kalian katakan, ibu harap kalian tak memanggil ibu, “TULI!” Ibu mohon ulangi saja apa yang kalian katakan atau tuliskan saja untuk ibu. Maafkan ibu, Nak!
Ibu semakin tua. Ketika lutut ibu semakin melemah, ibu berharap kalian memiliki kesabaran untuk membantu ibu bangun. Sebagaimana ibu selalu membantu kalian berjalan di masa kecil dulu.
Ibu mohon kalian tidak bosan dengan ibu. Ketika ibu terus mengulangi apa yang ibu katakan bagai kaset rusak dan kusust, ibu berharap kalian sudi mendengarnya. Ingatkah kalian saat kalian merengek meminta balon waktu kecil dulu? Kalian mengulangi apa yang kalian mau berulang-ulang sampai kalian benar-benar mendapatkannya.
Maafkan juga jika BAU ibu tercium bagai orang yang sudah bangka. Jangan paksa kamimandi ya, Nak…! Tubuh kami lemah. Orang tua mudah sakit dan rentan terhadap dingin. Ibu berharap, ibu tidak terlihat kotor bagi kalian. Apakah kalian ingat, saat kalian kecil, ibu selalu mengejar kalian karena kalian tidak ingin mandi? Ibu berharap kalian bisa bersabar atas kerewelan kami, Nak! Sebab, semua ini adalah hal yang harus dialami oleh orang yang sudah renta. Kalian akan mengerti ketika kalian tua nanti!
Jika kalian memiliki waktu luang, ibu berharap kita bisa berbicara walau hanya beberapa menit saja. Ibu selalu merasa sepi sepanjang waktu. Ibu tahu kaiansibuk bekerja. Sekalipun kalian tidak tertarik pada cerita ibu, ibu berharap kalian mau memberikan ibu waktu untuk bersama kalian. Apakah kalian masih ingat, saat kalian kecil, ibu tak pernah bosan mendengar cerita kalian tentang mainan kalian?
Ketika saatnya tiba dan ibu terbaring sakit, ibu berharap kalian bersabar merawat ibu. Maafkan ibu jika ibu selalu mengompol dan membuat berantakan segala yang ada. Dan, ibu juga berharap kalian sabar merawat ibu pada detik-detik terakhir hidup ibu. Ibu mungkin takkan bertahan lama.
Ketika kematian datang menjemput ibu, ibu berharap kalian memegang tangan ibu dan memnerikan kekuatan kepada ibu untuk menghadapi malaikat maut. Dan, jangan khawatir, Nak! Ketika ibu bertemu sang pencipta, ibu akan berbisik kepada-Nya untuk selalu memberikan berkah kepada kalian karena kalian mencintai dan menyayangi ibu. Terima kasih atas segala perhatian kalian. Ibu menyayangi kalian dengan kasih yang berlimpah.
Ttd.
Ibumu


            Setelah membaca isi surat ini, sesak dada kami. Berlinanglah air mata membasahi pipi. Hati remuk dimangsa rindu dan dicabik sesal dari ulah laku yang tak kenal malu. Sungguh, betapa kami ingin bersimpuh di hadirat engkau wahai ibu tercinta.

Tuesday, 16 December 2014

Kartini Bermata Timur (Siti Aisyah We Tenriolle)


            Di negara yang mendefinisikan pahlawan sebagai pejuang anti-Belanda, maka tidak akan ada tempat bagi anak negeri yang melakukan perjuangan di kutub berbeda. Betapapun heroik tindakan yang sudah dilakukan, tapi definisi kepahlawanan di kemudian hari membuatnya lenyap.
            Berbicara mengenai kepahlawanan, gelar pahlawan sangat didominasi oleh sosok lelaki. Barangkali karena sosoknya yang pemberani dan siap mati melawan penjajah. Dari kaum hawa, ada Raden Ajeng Kartini merupakan seorang tokoh suku Jawa dan dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Biografi Kartini sudah tertanam dalam ingatan masyarakat Indonesia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini seakan mendoktrin siswa bahwa pahlawan perempuan hanya terdapat di pulau Jawa. Padahal sosok seperti Kartini juga terdapat di Sulawesi Selatan.
            Dalam tradisi Bugis, peran perempuan tidak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Tapi juga, perempuan Bugis sudah ikut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan Bugis jauh sejak masa epos La Galigo mula dikisahkan. Nenek moyang Bugis yang disebut Tomanurung dikisahkan tidak saja hanya seorang lelaki bernama Batara Guru, tapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis awal.
            Kerajaan-kerajaan Bugis, dikenal sejak dulu sangat egaliter dan demokratis. Pada masa-masa awal pemerintahannya, pemilihan raja didasarkan pada kecakapan individual dan kolektif dengan mendudukkan faktor garis keturunan kebangsawanan di urutan ke sekian. Hal ini sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Bugis yang terungkap dalam peribahasa: Maccai na malempu, Waraniwi na magetteng (Cendekia lagi jujur, Berani lagi teguh pendirian). Pemimpin yang baik bagi masyarakat Bugis adalah pemimpin yang cendekia dan jujur serta berani yang dilengkapi dengan keteguhan pada pendirian yang benar.
            Dalam buku History Of Java (1817) Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya: “the women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” [perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran privacy atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, disbanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain] (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi)
            Tak hanya dihargai pendapatnya, terkadang beberapa perempuan Bugis terpilih menjadi penguasa di kerajaannya masing-masing. Kesetaraan hak politik perempuan ini diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.
            Siti Aisyah We Tenri Olle adalah satu diantara sekian banyak raja perempuan Bugis yang narasi tentang dirinya senyap di lintasan sejarah. Ia adalah Raja Tanete, putri kedua dari La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Masa kekuasaan We Tenri Olle terbilang cukup lama, 55 tahun, yakni sejak 1855 hingga 1910.
            Kronik hidup We Tenri Olle, penguasa Tanete nan cerdas itu rupanya tak selengkap kronik penguasa lokal yang lain. Setidaknya dalam penelusuran di berbagai literatur, tahun kelahiran perempuan cerdas asal Tanete ini tidak pernah disebutkan. Perempuan peminat sastra dan pemerhati pendidikan ini hanya disebutkan tahun wafatnya di desa Pancana Tanete ri lau, yang juga kampung kelahirannya, tahun 1919.
            Masa remaja We Tenri Olle dihabiskan di istana Sultan Tanete yang saat itu diperintah oleh kakeknya dari pihak ibu: Raja Tanete La Rumpang Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, perempuan cerdas ini menemukan bintang terangnya kala berinteraksi dengan dua peneliti asal Eropa, BF Matthes dari Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria.
            Saat naik tahta, We Tenri Olle sejatinya harus menghadapi banyak pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Sang ibunda lebih menghendaki La Makkawaru, kakak lelaki sulung Tenri Olle, untuk naik tahta. Tetapi, intervensi kakeknya, La Rumpang, ayah Collipujie yang juga Raja Tanete kala itu, membuat penentangan ibundanya mereda. Apalagi, perilaku keseharian La Makkawaru yang disebutkan gemar berjudi dan meminum-minuman keras membuatnya tersingkir dari tahta kekuasaan Tanete. Perilaku demikian bertolak belakang dengan Tenri Olle yang terkenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.
            We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.
Ø  Menemukan Kembali Epos Lagaligo
Lamanya masa pemerintahan We Tenri Olle memungkinkan dirinya untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La Galigo. Dengan diinisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan Collipujie, sang ibunda, ia kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis.
Kemampuan We Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos La Galigo, yang tersusun dalam 300.000 larik cerita berangkai, membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.
Menurut BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya, Collipujie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam di dalam bilik-bilik senyap istana-istana raja-raja Bugis hingga keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini. Ia berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra bugis ini.
Ø  Sekolah Rakyat (volkschool) untuk semua kalangan
Model sekolah rakyat ini, atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool), merupakan inisiatif We Tenri Olla dan menjadi yang pertama di jazirah Sulawesi Selatan kala itu. Ia lahir dari ide kreatif Kerajaan Tanete tanpa bantuan dari pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Belakangan, model sekolah rakyat ini diadopsi oleh daerah lainnya di Sulawesi Selatan hingga ke Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut “Sekolah Melayu” sebagaimana dituliskan oleh FB Matthes dalam bukunya.
Kala itu, ide sekolah rakyat untuk semua kalangan tanpa diskriminasi ini sungguh luar biasa dan melampaui zamannya. Bahkan jauh mendahului RA Kartini dan Dewi Sartika, dimana nama yang pertama dibuat lebih dikenal dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia.
Ø  Senyap di Lintas Sejarah
Siti Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritas di lintas sejarah Indonesia. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti mengenai sejarah penulisan La Galigo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak mengundang kekaguman dalam bentuk tulisan-tulisan yang tersebar di buku sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat Bugis saat ini, yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka.
Namanya jauh dari sentuhan literatur. Bahkan, dalam penelusuran mesin pencari di internet, hanya ditemukan 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1.080.000 tautan dan Dewi Sartika dengan 2.100.000 tautan.
Satu-satunya cacat seorang Wa Tenri Olle, jika kita menyepakati hal ini sebagai cacat sembari melenyapkan pertimbangan-pertimbangan politis-strategis masa itu, adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda melawan raja-raja Bugis di Pare-Pare pada 1905. Faktor lain yang barangkali turut membuat namanya senyap adalah tidak adanya karya tulis yang ia hasilkan sendiri.


Friday, 5 December 2014

Semangat Rantau Transformatif dalam Nahkoda IKAMI SulSel

            
Hei kalian. Jika hari ini kakimu tak berpijak di tana pa’jajianmu (tanah kelahiranmu) melainkan di sebuah tempat yang jauh dari keluarga demi menuntut ilmu pengetahuan maka sebutlah dirimu sebagai anak rantau. Dalam KBBI arti kata rantau adalah 1 pantai sepanjang teluk (sungai); pesisir (lawan darat): berlayar sepanjang --; 2 daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing; teluknya dalam, -- nya sakti, pb tidak mudah dikalahkan.
            Merantau, ya sebuah perantauan adalah perjalanan untuk mencari “rumah kedua” atau mungkin bisa dikatakan menemukan rumah yang sesungguhnya. Menembus arah, keterbataasan dan kekurangan dengan kesunggguhan dan keikhlasan. Merantau seperti dikatakan penulis (A. Fuadi) mempunyai keajaiban-keajaiban yang luar biasa, membuat kita lebih bersyukur, lebih memaknai hidup, dan mencintai ilmu. Seperti perkataan Imam Syafi’i dalam syairnya:
“Merantaulah. Gapailah setinggi-setingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu. Melipur duka dan memulai penghidupan baru. Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.” (Berjuang di Tanah Rantau, hal 11).
            Dalam perspektif reflektif jalan panjang ini , secara garis besar, mahasiswa rantau dapat dibagi dalam dua arus besar. Pertama, mahasiswa rantau yang mampu memaknai perjalanan panjang dan melahirkan kesadaran akan posisinya sebagai kaum intelektual. Kedua, mahasiswa rantau yang termotivasi dengan bayang-bayang profan. Termotivasi oleh nilai-nilai material. Merantau untuk mendapatkan harta melimpah atau merantau untuk menjadi yang “terbaik” di bumi masing-masing. Pertanyaannya, di manakah kita berada?
            Sangat disayangkan jika point kedua masih sangat melekat dalam diri kita. Karena perspektif untuk melihat suatu hal masih terhalang oleh tembok material dan tak mampu menembus ruang dibaliknya. Pada sisi inilah kita mampu menjelaskan nilai dari falsafah bugis-makassar tellu cappa’ yang dimiliki mahasiswa perantau. “Dalam paseng to riolo (pesan tetua zaman dahulu) dikatakan :
“Engka tellu cappa’ bokonna to laoe, iyana ritu :Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa’ kawalie.” (Terdapat tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, yaitu: ujung lidah, ujung kelelakian (kemaluan), ujung badi’/kawali (senjata)).
            Kalimat yang bermakna filosofis dan bersifat antisipatif ini bila seseorang dapat menginternalisasikan dan mempergunakannya melalui cara-cara yang tepat dan benar, maka yang bersangkutan bisa semakin menunjukkan eksistensi jati dirinya dan berbagai kehidupannya lebih bermakna secara luas dan positif. Namun, realita perantau celebes saat ini melihat tellu cappa’ tersebut dengan sudut pandang material. Ujung lidah hanya sebagai perangkat negosiasi kepentingan pribadi. Ujung kemaluan tidak lebih untuk mengelabui objek kepentingan demi kepentingan sesaat dan ujung senjata hanya untuk menyombongkan diri secara fisik.
Maka pertanyaannya saat ini, bagaimana strategi perantau bugis-makassar memupuk kembali nilai-nilai kebudayaan lokal di perantauan?
            Sebagai mahasiswa yang berintelektual, berproses dalam organisasi paguyuban Sulawesi Selatan atau yang sering dikenal dengan nama Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan merupakan langkah awal untuk menata kembali nilai-nilai budaya luhur yang telah diwariskan kepada kita agar konsep dan perbuatan berbanding lurus serta berada dalam artian yang sebenarnya. Ber-IKAMI bukanlah hal yang sulit namun tak boleh disepelehkan. Adanya pergolakan yang terjadi dalam diri setiap orang. Semuanya menginginkan IKAMI yang bermutu namun tak luput dari eksistensi.
            Dalam konteks ini, penulis memvisualisasikan IKAMI sebagai sebuah rumah yang asri. Tempat keluarga berkumpul. Rumah yang asri ini berhalaman luas. Dipenuhi tanaman dan bunga-bunga. Ada gardu atau sanggar di situ tempat anak-anak IKAMI berekspresi berkesenian. Ada yang melukis, memotret, menari, berteater, bermusik, dan ekspresi lainnya. Di halaman belakang. Ada lapangan luas tempat berolahraga. Bermain bola, raga, takraw, bulutangkis, juga berenang. Ada juga kebun kecil tempat mereka melakukan penelitian, kolam ikan, dan budidaya alam lainnya. Di sebelahnya ada ruang untuk berusaha. Toko kecil-kecilan lah begitu. Tapi bukan warung kelontong seperti kebanyakan.
            Di dalam rumah tersedia ruang rapat yang kapan saja bisa digunakan untuk diskusi dan bermusyawarah. Ada laboratorium kecil untuk riset dan penelitian. Ada perpustakaan buku dan media digital. Ada juga tempat untuk beribadah, melakukan kajian-kajian agama. Tempat berselancar di dunia maya. Tentu saja ada tempat tidur untuk melepaskan penat setelah beraktivitas, kamar mandi untuk membersihkan diri. Dapur untuk bereksperimen dengan masakan daerah. Kemudian ada bilik curhat tempat mencurahkan isi hati apapun problematika hidup di tanah rantau. Dan tentu saja bagian paling depan untuk menerima tamu dalam rangka menjalin kerjasama yang lebih luas.
            Semua itu dapat terealisasi dengan campur tangan kita semua. Tentunya dengan pengkaderan yang tepat meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa IKAMI merupakan organisasi paguyuban. Tetapi harus diingat juga, tanpa pengkaderan yang tepat, akan sangat sulit membina organisasi ini menjadi organisasi yang hebat dan diperhitungkan. Tentu juga akan sulit menghasilkan karya dan prestasi yang monumental dari anggotanya. Inilah titik temu untuk menjadikan IKAMI sebuah organisasi yang bermutu dan tak lepas dari eksistensi.
            Untuk mengkader anggota dengan tepat,  ada beberapa nilai dasar yang dapat dikatakan sebagai pondasi awal untuk memulai sebuah pengkaderan.
Ø  Kearifan Lokal
Memahami kearifan lokal budaya celebes dapat menjadi titik awal dalam menyusun konsep kader IKAMI
Ø  Universalitas Nilai Agama
Nilai-nilai agama yang universal menjadi semangat dasar setiap kader IKAMI dalam mengekspresikan karya dan prestasi mereka.
Ø  Serapan Budaya Nasional dan Dunia
Kita tidak mungkin fanatik dan bersifat radikal terhadap nilai-nilai budaya celebes dalam menghadapi tantangan global. Adanya filter terhadap budaya luar mampu membesarkan dan meningkatkan kualitas diri dan organisasi.
            Dengan berpacu terhadap ketiga nilai dasar tersebut, maka akan memunculkan konsep dan gagasan baru dalam menata IKAMI yang lebih rapi dan tentunya berintelektual. Inilah tantangan kita bersama. Apapun posisi kita dalam organisasi ini, tanggung jawab untuk meningkatkan mutu IKAMI  ada di tangan semua anggota. Tidak ada senioritas melainkan keluarga. Mampu menerima konsekuensi bersama terhadap problematika nyata saat ini.

 Siapakatau, sipakainge, sipakale’bi.