Suatu ketika di bulan Juni dalam
pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya, beberapa pemuda berkenalan
denganku. Dengan raut wajah yang masih asing bagiku tetapi cara mereka
berbicara mampu menghipnotis perasaanku seolah-olah masih berada di daerah
sendiri yang kutiggalkan beberapa jam yang lalu. Akibat perjalanan jauh
membuatku kelelahan namun beberapa dari mereka sudah mulai ku kenali meski
namanya masih samar-samar di fikiranku.
Sehari setelah perkenalan itu, salah
seorang dari mereka menghubungiku untuk mengikuti sebuah event di salah satu
stasiun tv swasta. Tentu saja tak ku sia-siakan kesempatan emas itu meski sebenarnya
wajah orang yang menghubungiku tersebut masih samar-samar dalam ingatanku. Aku bertanya-tanya
dalam hati, “orangnya seperti apa? Kenapa aku yang diajak? Memangnya tidak ada
orang lain?”. Beberapa jam kemudian, bunyi klakson motor terdengar dari luar
halaman tempatku menginap. Kata teman se-kamarku “Dia” sudah datang. Aku pun bergegas
mengakhiri step jilbabku dan segera menemuinya. Dengan style layaknya mahasiswa,
dia mengenakan kaos putih dibalut dengan almamater kampus serta mengenakan
sepatu coklat. Air mukanya menandakan dia seorang aktivis dan terlihat jelas
semangat seorang mahasiswa perantauan dalam dirinya. Dalam perjalanan menuju
basecamp tempat teman-teman yang lain berkumpul, dia cukup banyak
menceritakanku lokasi-lokasi yang sering aku kunjungi nantinya. Tak lupa pula
dia menanyakanku beberapa hal terkait dengan kedatanganku ke ibukota. Ternyata dia
asyik diajak ngobrol dan pembawaannya calm.
Mulailah ku coba menerawang karakter
dan sifat dari pemuda-pemuda tersebut dan itu diawali oleh dia. Namun sayang,
hari itu belum banyak ku ketahui tentangnya hanya saja ada sifat darinya yang menurutku
keren dan tidak dimiliki oleh semua pemuda yang bersama kami malam itu. Salah satunya
adalah ketika mereka menawarinya rokok, dengan tersenyum dia menolaknya. Awalnya
aku mengira kalau dia hanya bercanda menolak rokok tersebut tapi sampai akhir
pertemuan kami malam itu tak kulihat satu batang pun dihisapnya. Meski malam
itu aku tak selalu bersamanya tapi sikapnya dan prilakunya tak lepas dari
pandanganku. Ada bisikan aneh yang menyuruhku mencari tahu siapa dia sebenarnya.
Memasuki bulan Ramadhan, intensitas
pertemuanku dengannya semakin banyak dan kajianku tentangnya semakin banyak
pula. Menurutku banyak sisi positif yang dapat ku ambil dari pribadinya yang
ramah dan membantu orang lain tanpa pamrih sedikitpun. Setiap kali dia
mengajakku menemaninya kemanapun selalu ku iya-kan, bukan karena dia menjadi
penguasa suatu organisasi atau aku yang terlalu labil dalam menentukan pilihan
namun karena pengkajian tentang kehidupannya selalu ku lakukan secara bertahap
agar nantinya aku bisa tahu siapa dia sebenarnya. Aku tak punya tujuan tertentu
melakukan hal ini hanya saja ada rasa bahagia yang timbul setelah aku
mengetahui sesuatu tentangnya. Meski menurutku ada beberapa sifatnya yang tidak
harus dia perlihatkan kepada orang lain yaitu, sikap egonya dan mau menang
sendiri selalu diperlihatkannya secara tak sengaja ketika dia melakukan
kesalahan kecil yang menurut orang lain itu tidak baik maka bantahan demi
bantahan dia lakukan untuk membela diri karena nasehat yang diberikan kepadanya
dia anggap sebagai penjudgetisan dirinya. Hingga beberapa apologi dia keluarkan
untuk meyakinkan orang lain bahwa dia memang benar tetapi sesungguhnya dia
salah. Satu lagi, dia sangat menyepelehkan hal-hal kecil yang sebenarnya hal
tersebut mempengaruhi hal yang besar. Dan ketika dia sudah diambang batas dan
tidak mampu menyelesaikan hal tersebut maka aura negatif dalam dirinya
bergejolak dan ditumpahkan kepada orang-orang disekitarnya.
Sekiranya aku dapat memahami
sifatnya tersebut, karena itu manusiawi. Tidak lepas dari sifat itu, kebaikan
yang selalu dia lakukan kepadaku seakan membungkus sifat buruknya dimataku. Dia
membantuku disetiap aku membutuhkannya, meskipun dia hanya menganggap itu hal
biasa tapi bagiku itu sangat luar biasa. Mulai dari menjemput dan mengantarku
ke tempat tujuan hingga mengantarku ke mana pun meski tanpa tujuan yang jelas.
Bulan September sebentar lagi
berlalu, dalam suatu pertemuan dia menunjukku untuk mengisi salah satu hiburan
yaitu berpuisi menggunakan bahasa daerah pada saat pelantikannya sebagai ketua yang
berkisar seminggu kemudian. Aku kaget dan tidak dapat menolak keputusan
tersebut karena tak ada satupun dari peserta rapat malam itu yang bersedia
selain aku. Berkali-kali aku latihan dihadapan teman-teman namun hasilnya jauh
dibawah maksimal. Hari pelantikan sudah di depan mata rasa grogi dan nervous,
ku buang jauh-jauh dan aku berusaha menyuguhkan penampilan terbaikku di depan
orang banyak. Kulihat terbesit senyum dibibirnya yang menandakan bahwa dia
terpukau dengan penampilanku malam itu.
Hari-hari berlalu, aku disibukkan
dengan ranah perkuliahan dan kegiatan lainnya yang membuat jarakku dengannya
merenggang begitupun di media sosial. Hingga suatu ketika aku datang ke
basecamp bersama dengan seorang lelaki yang sebaya denganku, tak lain dia
adalah keluargaku di kampung. Satu hal yang membuatku shock ketika aku turun
dari motor dan menjatuhkan pandanganku tepat di wajahnya dengan sebatang rokok
berada di mulutnya. Sambil jalan menghampirinya aku bertanya-tanya didalam
hati, “apakah itu dia? Memang dia? Betul-betul dia? Sejak kapan dia melakukan
itu? Apa alasan dia melakukannya?”. Sejak saat itu, banyak pertanyaan hatiku
yang ku jawab sendiri. Mungkin banyak problematika kehidupan yang dia alami,
ntahlah! Akupun memutuskan untuk menjaga jarak dengannya agar aku tak ikut
menjadi beban fikirannya. Namun, tidak segampang itu aku bisa menghindarinya
ada saja hal yang membuatku berkomunikasi dan bertemu dengannya meski tidak
bersifat pribadi.
Kulihat banyak kemerosotan yang
terjadi dalam dirinya sejak kejadian itu. Gelombang suaranya tidak memancarkan semangat
seperti dulu lagi serasa mengecil ditelan bumi. Sinar matanya seakan meredup
bak bohlam 5 watt yang sudah lama terpakai. Senyumnya tetap merekah namun
semakin lama ku pandangi senyum itu bagai ice cream yang meleleh. Selalu ku
yakinkan diriku bahwa itu hanyalah feelingku saja dan terbawa dengan suasana
yang ada atau bisa jadi ini benar adanya. Aku pun bersikap seolah-olah tak
terjadi apa-apa dalam diriku mengenai pribadinya yang melengser dari sifatnya
di awal-awal bersua ataukah memang ini sifat dia yang sebenarnya. Semakin dalam
dan dalam lagi rasa penasaranku terhadapnya, kadang logika mengharuskanku
mengakhiri coretan dan kajian tentangnya tapi hati cenderung mengisi halaman
demi halaman tentangnya. “Apa yang sebenarnya ku alami? Apakah memang benar
seperti ini rasa kepedulian adik terhadap kakak?.”
Di hari yang telah ditakdirkan oleh
Tuhan, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dapat ku pahami itu bukanlah
keinginan hati terkecilnya melainkan keinginan hati yang terbelenggu oleh paksaan.
Meski ku tahu tetap saja aku menerima pernyataan itu, yang selalu bergejolak
apakah itu hanya berdasarkan logikaku atau memang benar itu dari hatiku?. Yang
harus ku pahami saat ini bahwa diriku dan dirinya terikat dalam suatu komitmen
bersama. Bukan hanya itu, aku pun harus bisa mendobrak kembali semangatnya yang
hampir padam.
Hari demi hari berlalu, meninggalkan
sejarah kehidupan setiap orang. Begitupun sejarahku bersamanya yang serasa
berjalan begitu cepat. Kebanyakan cowok jika memasuki tahap awal jadian tak
henti-hentinya mengeluarkan rayuan gombal hingga perempuan merasa enek
terhadapnya tapi dia berbeda dari kebanyakan cowok yah mungkin karena sikap kritisnya
yang selalu menjadi cemilan setiap kali kami bersua dan semua tentangku dibahasnya
secara detail. Dia selalu mengatakan ini dan itu katanya demi kebaikanku, aku
selalu mencoba mengikutinya tapi selalu saja dia mengatakan tak ada yang
berubah dariku. Apakah aku harus bersamanya 24 jam agar dia bisa melihat
perubahan itu meskipun sebesar biji zarrah? Dan sering kali aku dibandingkan
dengan perempuan dari masa lalunya, yah aku mengerti apa yang dia lakukan itu
demi kebaikanku juga namun tak seorangpun yang ingin kelemahannya
dibanding-bandingkan dengan kelebihan orang lain karena setiap orang ingin
menjadi dirinya sendiri termasuk aku. It’s Ok! Bagiku semua itu adalah bentuk
perhatiannya terhadapku namun terkadang aku merasa menjadi manusia paling tidak
sempurna bukan karena kata-katanya melainkan cara dan sikapnya yang terlalu
serius sehingga membuatku tegang sendiri bagai dihadapkan dengan sidang
skripsi. Karena aku tidak tahu kapan saatnya dia berkata serius ataupun
bercanda, semuanya terasa sama. Ya lagi-lagi aku tidak tahu!
Aku tak perlu mengoceh terlalu
banyak seperti mereka yang selalu memberi masukan namun tak juga dihiraukan. Aku
tak ingin semuanya di-iyakan hanya untuk membuat kesenangan sesaat bagiku namun
kata berbanding terbalik dengan perbuatan. Aku tak menuntut untuk mengubah
segala kekurangannya hanya karena kehadiranku. Aku hanya ingin dia melakukannya
secara perlahan tanpa ada paksaan dari orang lain. Dia melakukan itu untuk
dirinya sendiri dan kalaupun bisa, dia juga melakukannya untuk orang-orang yang
dia sayang dan menyayanginya.
Aku ingin melihatnya bukan bagai lilin
yang menerangi di siang hari dan meleleh serta habis begitu saja tapi bagai
lilin yang menerangi dalam kegelapan meski meleleh namun mampu memberi cahaya
bagi orang-orang disekitarnya. Aku ingin melihat dia melalui garam kehidupan
bukan untuk ditanggungnya sendiri karena banyak orang yang peduli terhadapnya
hingga suatu hari nanti aku juga melihatnya mengenakan topi hitam dalam auditorium
megah didampingi orang-orang yang dia sayangi.
No comments:
Post a Comment