Friday, 18 April 2014

Goresan dalam Kertas Usangku Tentangnya


            Suatu ketika di bulan Juni dalam pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya, beberapa pemuda berkenalan denganku. Dengan raut wajah yang masih asing bagiku tetapi cara mereka berbicara mampu menghipnotis perasaanku seolah-olah masih berada di daerah sendiri yang kutiggalkan beberapa jam yang lalu. Akibat perjalanan jauh membuatku kelelahan namun beberapa dari mereka sudah mulai ku kenali meski namanya masih samar-samar di fikiranku.
            Sehari setelah perkenalan itu, salah seorang dari mereka menghubungiku untuk mengikuti sebuah event di salah satu stasiun tv swasta. Tentu saja tak ku sia-siakan kesempatan emas itu meski sebenarnya wajah orang yang menghubungiku tersebut masih samar-samar dalam ingatanku. Aku bertanya-tanya dalam hati, “orangnya seperti apa? Kenapa aku yang diajak? Memangnya tidak ada orang lain?”. Beberapa jam kemudian, bunyi klakson motor terdengar dari luar halaman tempatku menginap. Kata teman se-kamarku “Dia” sudah datang. Aku pun bergegas mengakhiri step jilbabku dan segera menemuinya. Dengan style layaknya mahasiswa, dia mengenakan kaos putih dibalut dengan almamater kampus serta mengenakan sepatu coklat. Air mukanya menandakan dia seorang aktivis dan terlihat jelas semangat seorang mahasiswa perantauan dalam dirinya. Dalam perjalanan menuju basecamp tempat teman-teman yang lain berkumpul, dia cukup banyak menceritakanku lokasi-lokasi yang sering aku kunjungi nantinya. Tak lupa pula dia menanyakanku beberapa hal terkait dengan kedatanganku ke ibukota. Ternyata dia asyik diajak ngobrol dan pembawaannya calm.
            Mulailah ku coba menerawang karakter dan sifat dari pemuda-pemuda tersebut dan itu diawali oleh dia. Namun sayang, hari itu belum banyak ku ketahui tentangnya hanya saja ada sifat darinya yang menurutku keren dan tidak dimiliki oleh semua pemuda yang bersama kami malam itu. Salah satunya adalah ketika mereka menawarinya rokok, dengan tersenyum dia menolaknya. Awalnya aku mengira kalau dia hanya bercanda menolak rokok tersebut tapi sampai akhir pertemuan kami malam itu tak kulihat satu batang pun dihisapnya. Meski malam itu aku tak selalu bersamanya tapi sikapnya dan prilakunya tak lepas dari pandanganku. Ada bisikan aneh yang menyuruhku mencari tahu siapa dia sebenarnya.
            Memasuki bulan Ramadhan, intensitas pertemuanku dengannya semakin banyak dan kajianku tentangnya semakin banyak pula. Menurutku banyak sisi positif yang dapat ku ambil dari pribadinya yang ramah dan membantu orang lain tanpa pamrih sedikitpun. Setiap kali dia mengajakku menemaninya kemanapun selalu ku iya-kan, bukan karena dia menjadi penguasa suatu organisasi atau aku yang terlalu labil dalam menentukan pilihan namun karena pengkajian tentang kehidupannya selalu ku lakukan secara bertahap agar nantinya aku bisa tahu siapa dia sebenarnya. Aku tak punya tujuan tertentu melakukan hal ini hanya saja ada rasa bahagia yang timbul setelah aku mengetahui sesuatu tentangnya. Meski menurutku ada beberapa sifatnya yang tidak harus dia perlihatkan kepada orang lain yaitu, sikap egonya dan mau menang sendiri selalu diperlihatkannya secara tak sengaja ketika dia melakukan kesalahan kecil yang menurut orang lain itu tidak baik maka bantahan demi bantahan dia lakukan untuk membela diri karena nasehat yang diberikan kepadanya dia anggap sebagai penjudgetisan dirinya. Hingga beberapa apologi dia keluarkan untuk meyakinkan orang lain bahwa dia memang benar tetapi sesungguhnya dia salah. Satu lagi, dia sangat menyepelehkan hal-hal kecil yang sebenarnya hal tersebut mempengaruhi hal yang besar. Dan ketika dia sudah diambang batas dan tidak mampu menyelesaikan hal tersebut maka aura negatif dalam dirinya bergejolak dan ditumpahkan kepada orang-orang disekitarnya.
            Sekiranya aku dapat memahami sifatnya tersebut, karena itu manusiawi. Tidak lepas dari sifat itu, kebaikan yang selalu dia lakukan kepadaku seakan membungkus sifat buruknya dimataku. Dia membantuku disetiap aku membutuhkannya, meskipun dia hanya menganggap itu hal biasa tapi bagiku itu sangat luar biasa. Mulai dari menjemput dan mengantarku ke tempat tujuan hingga mengantarku ke mana pun meski tanpa tujuan yang jelas.
            Bulan September sebentar lagi berlalu, dalam suatu pertemuan dia menunjukku untuk mengisi salah satu hiburan yaitu berpuisi menggunakan bahasa daerah pada saat pelantikannya sebagai ketua yang berkisar seminggu kemudian. Aku kaget dan tidak dapat menolak keputusan tersebut karena tak ada satupun dari peserta rapat malam itu yang bersedia selain aku. Berkali-kali aku latihan dihadapan teman-teman namun hasilnya jauh dibawah maksimal. Hari pelantikan sudah di depan mata rasa grogi dan nervous, ku buang jauh-jauh dan aku berusaha menyuguhkan penampilan terbaikku di depan orang banyak. Kulihat terbesit senyum dibibirnya yang menandakan bahwa dia terpukau dengan penampilanku malam itu.
            Hari-hari berlalu, aku disibukkan dengan ranah perkuliahan dan kegiatan lainnya yang membuat jarakku dengannya merenggang begitupun di media sosial. Hingga suatu ketika aku datang ke basecamp bersama dengan seorang lelaki yang sebaya denganku, tak lain dia adalah keluargaku di kampung. Satu hal yang membuatku shock ketika aku turun dari motor dan menjatuhkan pandanganku tepat di wajahnya dengan sebatang rokok berada di mulutnya. Sambil jalan menghampirinya aku bertanya-tanya didalam hati, “apakah itu dia? Memang dia? Betul-betul dia? Sejak kapan dia melakukan itu? Apa alasan dia melakukannya?”. Sejak saat itu, banyak pertanyaan hatiku yang ku jawab sendiri. Mungkin banyak problematika kehidupan yang dia alami, ntahlah! Akupun memutuskan untuk menjaga jarak dengannya agar aku tak ikut menjadi beban fikirannya. Namun, tidak segampang itu aku bisa menghindarinya ada saja hal yang membuatku berkomunikasi dan bertemu dengannya meski tidak bersifat pribadi.
            Kulihat banyak kemerosotan yang terjadi dalam dirinya sejak kejadian itu. Gelombang suaranya tidak memancarkan semangat seperti dulu lagi serasa mengecil ditelan bumi. Sinar matanya seakan meredup bak bohlam 5 watt yang sudah lama terpakai. Senyumnya tetap merekah namun semakin lama ku pandangi senyum itu bagai ice cream yang meleleh. Selalu ku yakinkan diriku bahwa itu hanyalah feelingku saja dan terbawa dengan suasana yang ada atau bisa jadi ini benar adanya. Aku pun bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa dalam diriku mengenai pribadinya yang melengser dari sifatnya di awal-awal bersua ataukah memang ini sifat dia yang sebenarnya. Semakin dalam dan dalam lagi rasa penasaranku terhadapnya, kadang logika mengharuskanku mengakhiri coretan dan kajian tentangnya tapi hati cenderung mengisi halaman demi halaman tentangnya. “Apa yang sebenarnya ku alami? Apakah memang benar seperti ini rasa kepedulian adik terhadap kakak?.”
            Di hari yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dapat ku pahami itu bukanlah keinginan hati terkecilnya melainkan keinginan hati yang terbelenggu oleh paksaan. Meski ku tahu tetap saja aku menerima pernyataan itu, yang selalu bergejolak apakah itu hanya berdasarkan logikaku atau memang benar itu dari hatiku?. Yang harus ku pahami saat ini bahwa diriku dan dirinya terikat dalam suatu komitmen bersama. Bukan hanya itu, aku pun harus bisa mendobrak kembali semangatnya yang hampir padam.
            Hari demi hari berlalu, meninggalkan sejarah kehidupan setiap orang. Begitupun sejarahku bersamanya yang serasa berjalan begitu cepat. Kebanyakan cowok jika memasuki tahap awal jadian tak henti-hentinya mengeluarkan rayuan gombal hingga perempuan merasa enek terhadapnya tapi dia berbeda dari kebanyakan cowok yah mungkin karena sikap kritisnya yang selalu menjadi cemilan setiap kali kami bersua dan semua tentangku dibahasnya secara detail. Dia selalu mengatakan ini dan itu katanya demi kebaikanku, aku selalu mencoba mengikutinya tapi selalu saja dia mengatakan tak ada yang berubah dariku. Apakah aku harus bersamanya 24 jam agar dia bisa melihat perubahan itu meskipun sebesar biji zarrah? Dan sering kali aku dibandingkan dengan perempuan dari masa lalunya, yah aku mengerti apa yang dia lakukan itu demi kebaikanku juga namun tak seorangpun yang ingin kelemahannya dibanding-bandingkan dengan kelebihan orang lain karena setiap orang ingin menjadi dirinya sendiri termasuk aku. It’s Ok! Bagiku semua itu adalah bentuk perhatiannya terhadapku namun terkadang aku merasa menjadi manusia paling tidak sempurna bukan karena kata-katanya melainkan cara dan sikapnya yang terlalu serius sehingga membuatku tegang sendiri bagai dihadapkan dengan sidang skripsi. Karena aku tidak tahu kapan saatnya dia berkata serius ataupun bercanda, semuanya terasa sama. Ya lagi-lagi aku tidak tahu!
            Aku tak perlu mengoceh terlalu banyak seperti mereka yang selalu memberi masukan namun tak juga dihiraukan. Aku tak ingin semuanya di-iyakan hanya untuk membuat kesenangan sesaat bagiku namun kata berbanding terbalik dengan perbuatan. Aku tak menuntut untuk mengubah segala kekurangannya hanya karena kehadiranku. Aku hanya ingin dia melakukannya secara perlahan tanpa ada paksaan dari orang lain. Dia melakukan itu untuk dirinya sendiri dan kalaupun bisa, dia juga melakukannya untuk orang-orang yang dia sayang dan menyayanginya.

            Aku ingin melihatnya bukan bagai lilin yang menerangi di siang hari dan meleleh serta habis begitu saja tapi bagai lilin yang menerangi dalam kegelapan meski meleleh namun mampu memberi cahaya bagi orang-orang disekitarnya. Aku ingin melihat dia melalui garam kehidupan bukan untuk ditanggungnya sendiri karena banyak orang yang peduli terhadapnya hingga suatu hari nanti aku juga melihatnya mengenakan topi hitam dalam auditorium megah didampingi orang-orang yang dia sayangi.

Saturday, 12 April 2014

Mungkin itu yang Terakhir

Oleh: Laila Idayanty Zul

Ketika telingamu tak kuasa lagi mendengar setiap perkataan dari bibirku.
Perkataan yang mengharuskanmu bertindak.
Namun logika memaksamu tetap diam.
Jangan khawatir, kamu boleh menutup telingamu.
Tapi mungkin itu yang terakhir kali kau mendengar suaraku.


Ketika matamu mulai bosan memandangiku.
Yang setiap saat berada di sampingmu

dan mengawasi semua perbuatanmu.
Jangan khawatir, kamu boleh berpaling dariku.
Tapi mungkin itu yang terakhir kali kau melihat wajahku.


Ketika genggamanmu tak erat lagi.
Seakan memaksa jemariku melepas genggaman itu yang telah lama melekat.
Jangan khawatir, kamu boleh menjauhiku sejauh yang kau mau.
Tapi mungkin itu yang terakhir kali kau merasakan sentuhanku.


Ketika hatimu mati rasa terhadapku.
Tak lagi menganggap keberadaanku di sisimu.
Jangan khawatir, kamu boleh melepasku pergi.
Tapi mungkin itu yang terakhir kali kau merasakan kebahagiaan bersamaku.


Karena takkan lagi kau temui diriku di dunia ini.
Yang kau dapati hanya rangkaian bunga yang layu 

dan nisan penuh debu bertuliskan namaku.
Namun, satu hal yang harus kau tahu.
Namamu tetap abadi di hatiku.
Hingga suatu saat nanti, kita dipertemukan di dunia yang berbeda.

Saturday, 5 April 2014

Pernahkah Kamu Berfikir?


            Terkadang kamu melakukan suatu hal yang dirimu sendiri tidak tahu apa dampak dari tindakan tersebut. Kamu hanya tahu hal apa yang kamu rasakan setelah melakukannya, tanpa berfikir apakah orang lain akan ikut bahagia atau malah sebaliknya.
Pernahkah kamu berfikir tentang:
            Seseorang yang penuh basa-basi menghubungimu dan di dalam hatimu sendiri merasa bosan mendengarkan suaranya hingga kamu mencari-cari alasan untuk segera mengakhiri percakapanmu dengannya. Apakah kamu pernah berfikir apa alasan dia menghubungimu dengan percakapan yang sangat biasa? Dia hanya menanyakan bagaimana keadaanmu sekarang, meski dia tahu kalau kamu baik-baik saja. Dia hanya menanyakan apakah perutmu sudah menampung beberapa suap nasi, meski tanpa ditanya kamu pun akan melakukannya dan masih banyak hal biasa lainnya yang tidak ter tulis satu per satu karena kamu pun sudah tahu hal itu. Sebenarnya orang yang menghubungimu hanya ingin mendengarkan suaramu dengan maksud untuk meredakan sedikit kerinduannya terhadapmu. Namun, dia tidak mampu berkata-kata saat mendengarkan suaramu. Semua kata yang telah dia rangkai sebelumnya hilang begitu saja karena mendengar suaramu. Tanpa kamu ketahui terkatang air matanya ikut menetes jika mendengar suaramu. Sekali lagi karena suaramu!  Fikirkan dan renungkanlah, karena dirimu yang lebih tahu.
            Apakah kamu pernah berbincang melalui ponsel secara serius dengan seseorang di malam hari? Dan di dalam hatimu merasa sangat jengkel karena dia mengganggu waktu istrahatmu. Sebelum dia memulai maksud dan tujuannya menghubungimu, ada perbincangan santai yang terjadi diantara kalian berdua. Hingga pada akhirnya dia tidak mampu mengutarakan hal sebenarnya yang ingin di sampaikan olehnya, hanya mengucapkan “selamat tidur semoga mimpi indah” dan kamu pun beranggapan tak ada hal yang penting dalam perbincangan kalian saat itu. Sebenarnya orang yang menghubungimu tidak kuasa mengeluarkan semua yang telah dia proses dalam otaknya untuk dituangkan melalui mulutnya karena ada hal yang kamu utarakan sebelumnya dan yang dia tahu, jika dia menyampaikan hal tersebut akan membawa aura negatif terhadap dirimu dan bisa merusak nyenyaknya tidurmu malam itu. Coba renungkan! Ada orang yang menyayangimu dalam diamnya tanpa harus mengungkapkan kalau dia sangat menyayangimu. Cukup dengan tindakan yang kecil dan tidak kasat mata olehmu meski kamu tak terlalu memperdulikan hal itu.
            Tanpa kamu sadari ada orang yang lebih mementingkan dirimu dibanding dirinya sendiri. Sangat khawatir dan cemas saat mendengar bahwa dirimu sedang sakit. Bergegas menemuimu jika keadaan memungkinkan dan pernahkah kamu berfikir ada hal lain yang rela dia korbakankan hanya untuk menemuimu? Sepertinya tidak! Yang kamu tahu, hanya bisa memaksa hingga ngambek dan marah jika dia tidak menemuimu dan memberikan apa yang kamu inginkan. Padahal, perlu kamu ketahui bahwa tidak mudah baginya memenuhi segala keinginanmu dengan segala kekurangannya. Ingat, keinginanmu! Ya, keinginanmu yang seolah-olah menjadi keperluanmu. Cobalah renungkan semuanya! Segala bentuk kebaikan dan kasih sayang orang yang benar-benar menyayangimu.
            Sejauh ini, apakah kamu masih berfikir siapa seseorang yang ku maksud?
         Sesungguhnya dia lebih terang dibandingkan mentari yang hanya mampu menyinarimu di siang hari. Ataupun rembulan yang hanya mampu menyinarimu di malam hari. Senyumnya lebih indah dibandingkan pelangi, lebih sejuk dibandingkan hembusan angin mammiri di tepi Pantai Losari. Kasihnya bukan fatamorgana yang hanya bayang-bayang belaka. Kata-katanya bukan layangan yang ditarik dan diulur. Kamu sering memanggilnya Ibu!
Ibu Ibu Ibu…
Kasih sayangmu terukir dibenakku.
Hingga suatu saat nanti…
Mata ini tak mampu lagi melihat paras indahmu.
Hidung ini tak mampu lagi menghirup aroma tubuhmu.
Telinga ini tak mampu lagi mendengar suaramu.
Lidah ini tak mampu lagi merasakan kelezatan masakanmu.
Kulit ini tak mampu lagi merasakan hangat pelukanmu.
Namun, otak ini selalu memikirkanmu.
Karena hati dan sanubariku selalu mendoakanmu.
Untukmu Ibuku....