Saturday, 18 January 2014

99 Fatamorgana di Kolong Jakarta



            Pagi ini langit begitu gelap tak bersahabat, awan-awan hitam berarak di atas kepalaku yang baru saja keluar dari kostan dan byur… hujan pun turun dengan derasnya. Tak ada tempat berteduh, mau tidak mau aku harus lari ditengah kerumunan air yang jatuh dari langit.
“Agh sial tiba-tiba hujan, mana kampus masih jauh lagi! Kalau aku kembali ke kostan bisa-bisa telat ke kampus dan pastinya dimarahin ama dosen over killer itu”.
Sambil menggerutu tidak jelas aku tetap lari sekuat tenaga tanpa melihat bahwa ada genangan air di hadapanku. Satu tragedi terjadi lagi, tubuhku penuh dengan air lumpur yang kotor dan aku pun mulai putus asa untuk tidak melanjutkan perjalanan ke kampus.
“Sudah mati-matian mau ngampus eh tau-taunya jadi kayak gini. Ah sudahlah aku balik aja ke kostan mungkin emang dari tadi aku nggak ditakdirin untuk ngampus”.
            Dengan mata yang mulai memerah dan wajah yang berlekuk tak sedap aku berbalik arah menuju kost yang tidak jauh dari tempat kejadian tersebut.
            Setelah mengeringkan badan, aku duduk termangu dan menatap langit yang masih saja menagis dari balik kaca jendela yang juga basah tersapu oleh hujan. Ku mulai memainkan pena merah jambu di tanganku diatas buku bersampul menara eiffel dan membentuk rangkaian kata yang tak beraturan namun penuh makna bagiku:

“Aku tak tahu harus mengadu kepada siapa lagi saat penat menggerogoti jiwa ini.
Akankah ku mampu tetap berdiri sedang yang ku injak adalah bara api?
Ku ingin melangkah namun jurang terlalu dalam buat kusebrangi.
Tubuhku bagai terhempas, ditindas oleh penyesalan.
Aku lelah dengan hidup yang abu-abu.”

            Sambil menghela nafas dengan sorot mata yang memaksa otak mengingat kembali kejadian setahun yang lalu. Karena melihat kondisi keluargaku yang sangat memprihatinkan, hidup dalam genangan hutang, maka aku sangat tergiur dengan ibukota yang mungkin bisa memberikan secerca cahaya dalam hidupku. Aku memutuskan memohon restu kepada ayah dan ibu untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Namun seperti tak ada respon dari mereka maka aku pun memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa sepengetahuan mereka di tengah derasnya hujan dan meninggalkan sepucuk surat buat mereka:

“Ayahku tersayang dan Ibuku tercinta
Terima kasih atas sejuta cinta yang kalian berikan.
Terhanyut dan tenggelam dalam lautan derita.
Termakan bisikan lintah-lintah darat.
Tetap berdiri di tengah kekejaman ombak dunia.
Walau demikian lukamu tiada tampak sedikitpun.
Kini ku coba memeluk nestapa derita di jalan setapak.
Dan…
Butiran pasir di seluruh lautan tak mampu mewakili lantunan maafku.
Namun, izinkan aku membawa separuh luka keluarga ini.
Hingga nanti ku kembali…
Luka itu telah ku ubah menjadi intan permata.”
Anakmu terkasih,
Yanty

            Tok.. tok.. tok.. seseorang dari balik pintu mengetuk dengan lantang sehingga membangunkanku dari lamunan. Ku usap air mata yang tidak sengaja jatuh di pipiku dan setelah kulihat dari balik tirai ah, ternyata itu ibu kost dengan masker memenuhi wajah dan rambut ikalnya yang dikuncir berantakan. Dengan jantung yang berdegup ekstra, aku pun mulai membuka pintu.
“Maaf bu, ada apa yah? Kok ngetuknya kenceng baget?”
“Kamu nggak usah sok polos gitu, kapan mau bayarnya? Kamu udah nunggak 3 bulan loh.”
“Anu bu.. eeh nanti kalau gaji saya sudah dibayar.”
“Oke saya kasih kamu waktu satu minggu untuk melunasi semua hutang-hutang kamu. Kalau tidak, kamu harus get out dari sini.”
“Iya bu..”
            Dengan nafas yang sedikit lega bisa terhindar dari jerat ibu kostan namun lagi-lagi keindahan yang dulu ku impikan hanya sebuah fatamorgana kehidupan. Tak pernah tuh aku tersenyum bahagia 24 jam, kalau pun tersenyum palingan untuk turut meramaikan suasana saja dengan teman-teman senasib yang hidup di perantauan ibukota.
            Jam menunjukkan pukul 13:00 WIB badanku yang lelah akibat terpaan derita akhirnya terhempas di kasur. Kringgg kringgg kringgg nada handphone ku berbunyi ternyata panggilan masuk dari Dinda teman seperjuanganku di ibukota yang berasal dari daerah yang sama, kami saling mengenal satu sama lain kurang lebih 2 bulan belakangan ini melalui perkumpulan organisasi kedaerahan tapi rasanya kami sudah lama bertemu dan menjalin hubungan persahabatan.
Dengan suara parau aku mengagkatnya “Hallo, ada apa Din?”
“Yan, kamu dmna? Aku sama Fani mau keluar nih.  Mau ikut nggak?”
“Biasa aku lagi di kostan nggak kemana-mana. Emang mau kemana sih? Diluar kan lagi hujan.”
“Coba deh kamu tengok keluar, cuacanya terang kayak gitu kok dibilang hujan sih. Temen-temen pada ngumpul di danau sore ini jam 5. Kamu ikut yah, sekalian ajakin yang lain juga.”
“Oh iya iya sip, ntar aku kabarin lagi deh.”
            Dengan mata yang masih sayup aku menatap keluar jendela dan memang benar hujannya sudah reda, kemudian pandangan mataku tiba-tiba melengser ke arah jam yang menujukkan pukul 16:10 WIB.
“Ah dasar si Dinda sukanya dadakan banget.” aku mulai mengoceh sambil menjarkom ke teman-teman yang lainnya.
***

            Langit senja menemani kebersamaan kami di tanggul danau, sambil menyantap hidangan jagat raya yang terhempas luas, menyaksikan mereka tertawa dan tersenyum indah dan aku dengan kedua tangan menekuk lulut mulai memainkan imajinasi ku:

“Terhanyut di balik senja…
Mengingat, melupakan dan mengingat lagi.
Hingga terdampar di tepian malam yang pekat.
Semuanya hanya fatamorgana.!
Ya fatamorgana kehidupan.”

            Aku dan sejuta angan-anganku sambil mengangguk-angguk tak lagi memikirkan siapa mereka yang ada disekitar. Hingga suara bising mengganggu kenikmatan itu dan duarr… ternyata suara kak Andi
“Hei kalian semua dengerin aku, baru saja ada temen kita yang nyatain cinta”
            Semua mulai bertanya-tanya siapa gerangan orang tersebut dan ternyata dia seseorang yang sangat berperan penting dalam organisasi kami, semua pasti mengenalnya. Ya dia adalah  kak Zain dan satu hal yang membuat aliran darahku sempat kandas sejenak ketika kak Andi menyebut namaku sebagai orang yang ditembak oleh kak Zain.
            Ntah apa maksud kak Andi melakukan ini karena yang ku tahu kak Zain hanya menganggapku sebagai adik dan begitu sebaliknya, aku menganggap kak Zain sebagai kakak tak ada yang lebih dari hubungan kita berdua.
“hah? Apa-apaan sih kak, leluconnya nggak lucu tau!”
Aku sempat menyangkal perkataan kak Andi. Tetapi tetap saja, teman-teman yang lain lebih percaya kepada kak Andi yang pandai bersilat lidah dan mudah membuat orang lain percaya padanya. Aku dan kak Zain tertunduk saling menghindar dan sama-sama tersipu malu. Ketika yang lain memaksa kak Zain untuk mengungkapkan perasaannya, tiba-tiba mataku tertuju pada Irfan yang sudah ku anggap sebagai teman terbaikku. Dia duduk di bebatuan sambil menatap keindahan danau yang dipayungi langit tak berbintang dengan wajah yang tak berekspresi. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya yang tiba-tiba dingin dan beku seperti itu.
Kembali ke masalah sebelumnya, aku dengan tatapan datar dan mulut yang seakan terkunci. Dengan bunga origami yang sangat khas ditangannya, aku melihat kak Zain sudah bertekuk di hadapanku dan dengan suara lirih dia berkata:

“Dengan bunga ini, saya sampaikan perasaan saya.
Kepada adik yang selama ini ada dalam ingatan saya.
Saya tahu bagaimana sebenarnya perasaan dia terhadap saya.
Tapi, selama ini saya tidak ada perasaan dan tidak ada hati pun sama sekali.
 Cuman dalam perjalanannya ada sesuatu yang spesial.
 Yang mungkin pada malam ini, di danau ini.
Melalui bunga ini saya sampaikan perasaan saya.
Tapi ingat walaupun bunga ini jadi saksi dan teman-teman jadi saksi.
Di danau ini, saya sampaikan bahwa saya orangnya tidak setia.
Namun, terkadang jika perasaan saya yang mengajak untuk setia.
Saya tidak tahu bagaimana jadinya, bagaimana kedepannya dan bagaimana dengan dia.
Melalui bunga ini saya sampaikan perasaan cinta saya sama dia.
Saya akan memberikan bunga ini dan dialah yang saya maksud itu.
Jadi, maukah kau menerima bunga ini?”
(ungkapan hati kak Zain, 29 Desember 2013)

            Sorakan dari teman-teman seakan menambah nuansa danau malam ini setelah kak Zain mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dengan sikap yang seolah-olah tak tahu apa-apa dan seakan semua kepenatan hidupku berguguran aku dengan spontan mengambil bunga itu dari tangannya dan itu artinya…..
“Horeee.. yes!!! Jadian jadian jadian. Selamat yah buat kalian berdua”
            Euforia dari mereka tak terbendung seakan jagat ini hanya ada kami semua. Melompat tinggi dan berlari menunjukkan kebahagiaan mereka. Namun, beda halnya dengan Irfan yang sedari tadi tak bersuara dan gelisah tak berpenghujung. Terlihat dari raut wajahnya yang ingin melompati waktu.
***

            Kembali ku genggam buku dan pena merah jambuku di dampingi dengan bunga origami yang diberikan oleh kak Zain. Yang dapat ku lakukan hanya menguntai kata yang tak dapat ku ucap melalui buku dan pena merah jambuku:

“Mendesah dinginnya malam…
Semelayur hembusan angin yang memasuki ruang-ruang kosong di hidupku.
Mereka masuk dan dengan sekejap menghilang tanpa jejak.
Mengisyaratkan kepada bumi, lalu tertawa.
Nadiku seakan lelah berdenyut, jantungku seakan letih memompa.
Tubuhku tergeletak dan terhempas bak kaleng minuman di pinggir jalan.
Tak ada arti, tak bermakna dan pincang.!
Ah, tak ada gunanya lagi memaksa sarafku mengingat yang lalu.
Mencoba merobek semua kenagan usang penuh belatung.
Dan ternyata….
Aku tak perlu berpeluh keringat merobek segalanya.
Tanpa ku tahu dia sendiri yang melarikan diri, menjauhiku.
Kemudian retina mataku serasa mengecil.
Tertuju pada satu arah yang sangat menyilaukan.
Oh ternyata kenangan usang takut terhadapnya.
Terhadap dia…
Seberkas cahaya kehidupan yang datang menyapaku.
Menyentuh batinku dengan kelembutan, kasih sayang dan cinta.”

            Belum bisa ku cerna kejadian malam ini yang cukup menggerakkan sel saraf motorikku. Sangat sulit membenarkannya, namun inilah kenyataannya. Baru kali ini sesuatu yang sangat mustahil bagiku dapat terjadi. Sedangkan setiap sesuatu yang ku anggap sepeleh dan pasti terjadi, sampai saat ini belum dapat kutemui ujung dan bentuk nyatanya.
***

            Kring.. kring.. kring.. handphone ku berdering pertanda ada yang memanggil. Wah ternyata kak Zain, dengan grogi aku mengangkatnya.
“Hallo sekarang kamu lagi dimana dek?”
“Hallo kak, ini eeh lagi di kostan aja. Eeh ada apa kak?”
“Nggak kok, ntar malam kamu ada acara  nggak?”
“Kayaknya nggak ada deh kak, mmm kenapa emangnya?”
“Kalo gitu ntar malam kita dinner yah, aku jemput jam 8 malam.”
“Ok kak.”
            Mataku hampir tak berkedip melihat detakan jarum jam yang hampir menunjukkan pukul 20:00 WIB, brum brum brum suara motor kak Zain yang sudah cukup ku kenali. Kami pun dinner bersama sambil membicarakan tentangku dan tentangnya di masa lalu. Senyum dan tawa membuat penat kehidupanku seakan terlepas begitu saja. Selepas dinner kami pun beranjak pulang dan byur… hujan dengan derasnya mengeroyok kami berdua, terpaksa kami harus berteduh dibawah atap rumah orang lain.
“Yah… kok tiba-tiba hujan sih kak?”
“Mungkin langitnya lagi sedih kali melihat manusia yang tamak merusak bumi”
“Mmm… bisa jadi.”
            Kak Zain yang sedang duduk menatap ke arahku yang sedang berdiri sambil menggigil. Dan tiba-tiba menarik tanganku kemudian memasukkan jemariku di setiap sela tangannya lalu menggenggamnya. Bola mata kami saling berhadapan satu sama lain.
“Kamu kedinginan yah dek?”
“Lumayan sih kak, tapi sebenarnya aku takut dan benci dengan hujan.”
“Jika kita saling menggenggam hujannya pasti reda kok. Tapi kamu harus menceritakan apa penyebab ketakutan dan kebencianmu itu kepada kakak.”
            Tak cukup semenit, hujan yang seakan ingin memecah kaca jendela tiap-tiap rumah kini terdiam dan berlalu pergi. Kak Zain dengan sigap naik ke atas motor dan mengantarku menuju kostan. Di perjalanan pulang, ku ceritakan semua kebencianku terhadap hujan dan dia merespon dengan berkata:

“Setiap hujan bukanlah kendala, bukan pula bencana.
Karena setelah turunnya hujan pasti akan ada pelangi yang indah.
Maka kita tidak boleh menyamakan suatu hal yang belum kita tahu bagaimana hasilnya ketika belum mencobanya.
Karena selama jiwa dan nafas masih berhembus jangan seali-kali berputus asa dan takut mencoba.
Namun, ketika engkau lelah akan kepenatan beristirahatlah sejenak dan bangkit kembali dengan semangat yang lebih membara dan merekahkan senyuman.”

            Tiba-tiba motor kak Zain berhenti dan ternyata, pas sampai di depan kostanku. Tak terasa dinner malam ini sangat berkesan dengan turunnya hujan. Aku pun masuk kedalam kostan dan beberapa menit kemudian ku buka kaca jendela yang masih basah sambil menatap ke atas langit yang cukup indah dengan taburan bintang dan rembulan yang mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ku mulai merenungi keadaanku saat ini yang rasanya lebih membaik dari hari-hari sebelumnya.

“Semakin ku jalani hidup ini, semakin ku mengerti.
Sesuatu yang terjauh dari kita adalah masa lalu.
Yang terdekat adalah kematian.
Dan kesuksesan berada diantara keduanya.
Meski 99 fatamorgana terpampang di hadapan kita.
Namun, ada 1 hal yang tidak terlihat oleh mata.
Yaitu mimpi…
Dengan bermimpi kita bisa berharap.
Dengan harapan kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu.
Karena Tuhan pasti tahu dan akan selalu tahu.
Kapan mimpi itu akan terwujud.
Selagi kita bisa memahami sebuah pelajaran dari segalanya.
Yaitu keikhlasan…”

            Berbicara soal tunggakan kostan, aku tak jadi diusir dari sana. Kami sudah sepakat bahwa gajiku tiap bulannya kena potongan untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Karena sekarang aku menjadi guru privat anak ibu kostanku. Dan sebagian dari gajiku juga menjadi tabungan untuk melunasi hutang-hutang orang tuaku di kampung.
Kini aku mencintai hujan, setiap tetesnya adalah nikmat buat makhluk hidup lainnya. Dan kemana pun aku pergi tak lupa ku ajak payung merah mudaku sebagai hadiah terindah bagiku. Siapa lagi kalau bukan dari kak Zain yang juga ikut memayungi hatiku di saat sedih maupun senang. Seorang kakak yang selalu menasehati dan memotivasi dan juga seorang kekasih yang ada setiap saat, meski dengan kesibukannya yang menumpuk.
***

10 comments:

  1. kata-katanya bagus.. teruslah menulis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kakak.
      Insya Allah selagi saya masih bisa :)

      Delete
  2. Replies
    1. hehe... iya yah dalam cerita tidak di sebutkan.
      itu salah satu hak pembaca kak, mau menjadikan si Yanty sebagai guru privat apapun boleh :D

      Delete
  3. Rangkaian kata-katanya sangat indah dan mudah dipahami :-)

    ReplyDelete