Pagi
ini langit begitu gelap tak bersahabat, awan-awan hitam berarak di atas
kepalaku yang baru saja keluar dari kostan dan byur… hujan pun turun dengan
derasnya. Tak ada tempat berteduh, mau tidak mau aku harus lari ditengah
kerumunan air yang jatuh dari langit.
“Agh
sial tiba-tiba hujan, mana kampus masih jauh lagi! Kalau aku kembali ke kostan bisa-bisa
telat ke kampus dan pastinya dimarahin ama dosen over killer itu”.
Sambil
menggerutu tidak jelas aku tetap lari sekuat tenaga tanpa melihat bahwa ada
genangan air di hadapanku. Satu tragedi terjadi lagi, tubuhku penuh dengan air
lumpur yang kotor dan aku pun mulai putus asa untuk tidak melanjutkan
perjalanan ke kampus.
“Sudah
mati-matian mau ngampus eh tau-taunya jadi kayak gini. Ah sudahlah aku balik
aja ke kostan mungkin emang dari tadi aku nggak ditakdirin untuk ngampus”.
Dengan mata yang mulai memerah dan
wajah yang berlekuk tak sedap aku berbalik arah menuju kost yang tidak jauh
dari tempat kejadian tersebut.
Setelah mengeringkan badan, aku
duduk termangu dan menatap langit yang masih saja menagis dari balik kaca
jendela yang juga basah tersapu oleh hujan. Ku mulai memainkan pena merah jambu
di tanganku diatas buku bersampul menara eiffel dan membentuk rangkaian kata
yang tak beraturan namun penuh makna bagiku:
“Aku tak tahu harus mengadu kepada
siapa lagi saat penat menggerogoti jiwa ini.
Akankah ku mampu tetap berdiri
sedang yang ku injak adalah bara api?
Ku ingin melangkah namun jurang terlalu
dalam buat kusebrangi.
Tubuhku bagai terhempas, ditindas
oleh penyesalan.
Aku lelah dengan hidup yang
abu-abu.”
Sambil menghela nafas dengan sorot
mata yang memaksa otak mengingat kembali kejadian setahun yang lalu. Karena melihat
kondisi keluargaku yang sangat memprihatinkan, hidup dalam genangan hutang,
maka aku sangat tergiur dengan ibukota yang mungkin bisa memberikan secerca
cahaya dalam hidupku. Aku memutuskan memohon restu kepada ayah dan ibu untuk melanjutkan
pendidikan ke Jakarta. Namun seperti tak ada respon dari mereka maka aku pun
memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa sepengetahuan mereka di tengah
derasnya hujan dan meninggalkan sepucuk surat buat mereka:
“Ayahku tersayang dan Ibuku
tercinta
Terima kasih atas sejuta cinta yang
kalian berikan.
Terhanyut dan tenggelam dalam
lautan derita.
Termakan bisikan lintah-lintah
darat.
Tetap berdiri di tengah kekejaman
ombak dunia.
Walau demikian lukamu tiada tampak sedikitpun.
Kini ku coba memeluk nestapa derita
di jalan setapak.
Dan…
Butiran pasir di seluruh lautan tak
mampu mewakili lantunan maafku.
Namun, izinkan aku membawa separuh
luka keluarga ini.
Hingga nanti ku kembali…
Luka itu telah ku ubah menjadi
intan permata.”
Anakmu terkasih,
Yanty
Tok.. tok.. tok.. seseorang dari
balik pintu mengetuk dengan lantang sehingga membangunkanku dari lamunan. Ku usap
air mata yang tidak sengaja jatuh di pipiku dan setelah kulihat dari balik
tirai ah, ternyata itu ibu kost dengan masker memenuhi wajah dan rambut ikalnya
yang dikuncir berantakan. Dengan jantung yang berdegup ekstra, aku pun mulai
membuka pintu.
“Maaf
bu, ada apa yah? Kok ngetuknya kenceng baget?”
“Kamu
nggak usah sok polos gitu, kapan mau bayarnya? Kamu udah nunggak 3 bulan loh.”
“Anu
bu.. eeh nanti kalau gaji saya sudah dibayar.”
“Oke
saya kasih kamu waktu satu minggu untuk melunasi semua hutang-hutang kamu.
Kalau tidak, kamu harus get out dari sini.”
“Iya
bu..”
Dengan nafas yang sedikit lega bisa terhindar
dari jerat ibu kostan namun lagi-lagi keindahan yang dulu ku impikan hanya
sebuah fatamorgana kehidupan. Tak pernah tuh aku tersenyum bahagia 24 jam,
kalau pun tersenyum palingan untuk turut meramaikan suasana saja dengan
teman-teman senasib yang hidup di perantauan ibukota.
Jam menunjukkan pukul 13:00 WIB
badanku yang lelah akibat terpaan derita akhirnya terhempas di kasur. Kringgg
kringgg kringgg nada handphone ku berbunyi ternyata panggilan masuk dari Dinda teman
seperjuanganku di ibukota yang berasal dari daerah yang sama, kami saling
mengenal satu sama lain kurang lebih 2 bulan belakangan ini melalui perkumpulan
organisasi kedaerahan tapi rasanya kami sudah lama bertemu dan menjalin
hubungan persahabatan.
Dengan
suara parau aku mengagkatnya “Hallo, ada apa Din?”
“Yan,
kamu dmna? Aku sama Fani mau keluar nih.
Mau ikut nggak?”
“Biasa
aku lagi di kostan nggak kemana-mana. Emang mau kemana sih? Diluar kan lagi
hujan.”
“Coba
deh kamu tengok keluar, cuacanya terang kayak gitu kok dibilang hujan sih. Temen-temen
pada ngumpul di danau sore ini jam 5. Kamu ikut yah, sekalian ajakin yang lain
juga.”
“Oh
iya iya sip, ntar aku kabarin lagi deh.”
Dengan mata yang masih sayup aku
menatap keluar jendela dan memang benar hujannya sudah reda, kemudian pandangan
mataku tiba-tiba melengser ke arah jam yang menujukkan pukul 16:10 WIB.
“Ah
dasar si Dinda sukanya dadakan banget.” aku mulai mengoceh sambil menjarkom ke
teman-teman yang lainnya.
***
Langit senja menemani kebersamaan
kami di tanggul danau, sambil menyantap hidangan jagat raya yang terhempas luas,
menyaksikan mereka tertawa dan tersenyum indah dan aku dengan kedua tangan
menekuk lulut mulai memainkan imajinasi ku:
“Terhanyut di balik senja…
Mengingat, melupakan dan mengingat
lagi.
Hingga terdampar di tepian malam
yang pekat.
Semuanya hanya fatamorgana.!
Ya fatamorgana kehidupan.”
Aku dan sejuta angan-anganku sambil
mengangguk-angguk tak lagi memikirkan siapa mereka yang ada disekitar. Hingga
suara bising mengganggu kenikmatan itu dan duarr… ternyata suara kak Andi
“Hei
kalian semua dengerin aku, baru saja ada temen kita yang nyatain cinta”
Semua mulai bertanya-tanya siapa
gerangan orang tersebut dan ternyata dia seseorang yang sangat berperan penting
dalam organisasi kami, semua pasti mengenalnya. Ya dia adalah kak Zain dan satu hal yang membuat aliran
darahku sempat kandas sejenak ketika kak Andi menyebut namaku sebagai orang yang
ditembak oleh kak Zain.
Ntah apa maksud kak Andi melakukan
ini karena yang ku tahu kak Zain hanya menganggapku sebagai adik dan begitu
sebaliknya, aku menganggap kak Zain sebagai kakak tak ada yang lebih dari
hubungan kita berdua.
“hah?
Apa-apaan sih kak, leluconnya nggak lucu tau!”
Aku
sempat menyangkal perkataan kak Andi. Tetapi tetap saja, teman-teman yang lain
lebih percaya kepada kak Andi yang pandai bersilat lidah dan mudah membuat
orang lain percaya padanya. Aku dan kak Zain tertunduk saling menghindar dan
sama-sama tersipu malu. Ketika yang lain memaksa kak Zain untuk mengungkapkan
perasaannya, tiba-tiba mataku tertuju pada Irfan yang sudah ku anggap sebagai
teman terbaikku. Dia duduk di bebatuan sambil menatap keindahan danau yang
dipayungi langit tak berbintang dengan wajah yang tak berekspresi. Aku tak tahu
apa yang terjadi dengannya yang tiba-tiba dingin dan beku seperti itu.
Kembali
ke masalah sebelumnya, aku dengan tatapan datar dan mulut yang seakan terkunci.
Dengan bunga origami yang sangat khas ditangannya, aku melihat kak Zain sudah
bertekuk di hadapanku dan dengan suara lirih dia berkata:
“Dengan bunga ini, saya sampaikan
perasaan saya.
Kepada adik yang selama ini ada
dalam ingatan saya.
Saya tahu bagaimana sebenarnya
perasaan dia terhadap saya.
Tapi, selama ini saya tidak ada
perasaan dan tidak ada hati pun sama sekali.
Cuman dalam perjalanannya ada sesuatu yang
spesial.
Yang mungkin pada malam ini, di danau ini.
Melalui bunga ini saya sampaikan
perasaan saya.
Tapi ingat walaupun bunga ini jadi
saksi dan teman-teman jadi saksi.
Di danau ini, saya sampaikan bahwa
saya orangnya tidak setia.
Namun, terkadang jika perasaan saya
yang mengajak untuk setia.
Saya tidak tahu bagaimana jadinya,
bagaimana kedepannya dan bagaimana dengan dia.
Melalui bunga ini saya sampaikan
perasaan cinta saya sama dia.
Saya akan memberikan bunga ini dan
dialah yang saya maksud itu.
Jadi, maukah kau menerima bunga
ini?”
(ungkapan hati kak Zain, 29 Desember 2013)
(ungkapan hati kak Zain, 29 Desember 2013)
Sorakan dari teman-teman seakan
menambah nuansa danau malam ini setelah kak Zain mengungkapkan perasaannya
kepadaku. Dengan sikap yang seolah-olah tak tahu apa-apa dan seakan semua
kepenatan hidupku berguguran aku dengan spontan mengambil bunga itu dari
tangannya dan itu artinya…..
“Horeee..
yes!!! Jadian jadian jadian. Selamat yah buat kalian berdua”
Euforia dari mereka tak terbendung
seakan jagat ini hanya ada kami semua. Melompat tinggi dan berlari menunjukkan
kebahagiaan mereka. Namun, beda halnya dengan Irfan yang sedari tadi tak
bersuara dan gelisah tak berpenghujung. Terlihat dari raut wajahnya yang ingin
melompati waktu.
***
Kembali ku genggam buku dan pena merah jambuku di
dampingi dengan bunga origami yang diberikan oleh kak Zain. Yang dapat ku
lakukan hanya menguntai kata yang tak dapat ku ucap melalui buku dan pena merah
jambuku:
“Mendesah
dinginnya malam…
Semelayur
hembusan angin yang memasuki ruang-ruang kosong di hidupku.
Mereka
masuk dan dengan sekejap menghilang tanpa jejak.
Mengisyaratkan
kepada bumi, lalu tertawa.
Nadiku
seakan lelah berdenyut, jantungku seakan letih memompa.
Tubuhku
tergeletak dan terhempas bak kaleng minuman di pinggir jalan.
Tak
ada arti, tak bermakna dan pincang.!
Ah,
tak ada gunanya lagi memaksa sarafku mengingat yang lalu.
Mencoba
merobek semua kenagan usang penuh belatung.
Dan
ternyata….
Aku
tak perlu berpeluh keringat merobek segalanya.
Tanpa
ku tahu dia sendiri yang melarikan diri, menjauhiku.
Kemudian
retina mataku serasa mengecil.
Tertuju
pada satu arah yang sangat menyilaukan.
Oh
ternyata kenangan usang takut terhadapnya.
Terhadap
dia…
Seberkas
cahaya kehidupan yang datang menyapaku.
Menyentuh
batinku dengan kelembutan, kasih sayang dan cinta.”
Belum bisa ku cerna kejadian malam ini yang cukup
menggerakkan sel saraf motorikku. Sangat sulit membenarkannya, namun inilah
kenyataannya. Baru kali ini sesuatu yang sangat mustahil bagiku dapat terjadi.
Sedangkan setiap sesuatu yang ku anggap sepeleh dan pasti terjadi, sampai saat
ini belum dapat kutemui ujung dan bentuk nyatanya.
***
Kring.. kring.. kring.. handphone ku
berdering pertanda ada yang memanggil. Wah ternyata kak Zain, dengan grogi aku
mengangkatnya.
“Hallo
sekarang kamu lagi dimana dek?”
“Hallo
kak, ini eeh lagi di kostan aja. Eeh ada apa kak?”
“Nggak
kok, ntar malam kamu ada acara nggak?”
“Kayaknya
nggak ada deh kak, mmm kenapa emangnya?”
“Kalo
gitu ntar malam kita dinner yah, aku jemput jam 8 malam.”
“Ok
kak.”
Mataku hampir tak berkedip melihat
detakan jarum jam yang hampir menunjukkan pukul 20:00 WIB, brum brum brum suara
motor kak Zain yang sudah cukup ku kenali. Kami pun dinner bersama sambil
membicarakan tentangku dan tentangnya di masa lalu. Senyum dan tawa membuat
penat kehidupanku seakan terlepas begitu saja. Selepas dinner kami pun beranjak
pulang dan byur… hujan dengan derasnya mengeroyok kami berdua, terpaksa kami
harus berteduh dibawah atap rumah orang lain.
“Yah…
kok tiba-tiba hujan sih kak?”
“Mungkin
langitnya lagi sedih kali melihat manusia yang tamak merusak bumi”
“Mmm…
bisa jadi.”
Kak Zain yang sedang duduk menatap
ke arahku yang sedang berdiri sambil menggigil. Dan tiba-tiba menarik tanganku
kemudian memasukkan jemariku di setiap sela tangannya lalu menggenggamnya. Bola
mata kami saling berhadapan satu sama lain.
“Kamu
kedinginan yah dek?”
“Lumayan
sih kak, tapi sebenarnya aku takut dan benci dengan hujan.”
“Jika
kita saling menggenggam hujannya pasti reda kok. Tapi kamu harus menceritakan
apa penyebab ketakutan dan kebencianmu itu kepada kakak.”
Tak cukup semenit, hujan yang seakan
ingin memecah kaca jendela tiap-tiap rumah kini terdiam dan berlalu pergi. Kak
Zain dengan sigap naik ke atas motor dan mengantarku menuju kostan. Di
perjalanan pulang, ku ceritakan semua kebencianku terhadap hujan dan dia
merespon dengan berkata:
“Setiap hujan bukanlah kendala,
bukan pula bencana.
Karena setelah turunnya hujan pasti
akan ada pelangi yang indah.
Maka kita tidak boleh menyamakan
suatu hal yang belum kita tahu bagaimana hasilnya ketika belum mencobanya.
Karena selama jiwa dan nafas masih
berhembus jangan seali-kali berputus asa dan takut mencoba.
Namun, ketika engkau lelah akan
kepenatan beristirahatlah sejenak dan bangkit kembali dengan semangat yang
lebih membara dan merekahkan senyuman.”
Tiba-tiba motor kak Zain berhenti
dan ternyata, pas sampai di depan kostanku. Tak terasa dinner malam ini sangat
berkesan dengan turunnya hujan. Aku pun masuk kedalam kostan dan beberapa menit
kemudian ku buka kaca jendela yang masih basah sambil menatap ke atas langit
yang cukup indah dengan taburan bintang dan rembulan yang mulai keluar dari
tempat persembunyiannya. Ku mulai merenungi keadaanku saat ini yang rasanya
lebih membaik dari hari-hari sebelumnya.
“Semakin ku jalani hidup ini,
semakin ku mengerti.
Sesuatu yang terjauh dari kita
adalah masa lalu.
Yang terdekat adalah kematian.
Dan kesuksesan berada diantara
keduanya.
Meski 99 fatamorgana terpampang di
hadapan kita.
Namun, ada 1 hal yang tidak
terlihat oleh mata.
Yaitu mimpi…
Dengan bermimpi kita bisa berharap.
Dengan harapan kita bisa melakukan
sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu.
Karena Tuhan pasti tahu dan akan
selalu tahu.
Kapan mimpi itu akan terwujud.
Selagi kita bisa memahami sebuah
pelajaran dari segalanya.
Yaitu keikhlasan…”
Berbicara soal tunggakan kostan, aku
tak jadi diusir dari sana. Kami sudah sepakat bahwa gajiku tiap bulannya kena
potongan untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Karena sekarang aku menjadi
guru privat anak ibu kostanku. Dan sebagian dari gajiku juga menjadi tabungan
untuk melunasi hutang-hutang orang tuaku di kampung.
Kini
aku mencintai hujan, setiap tetesnya adalah nikmat buat makhluk hidup lainnya.
Dan kemana pun aku pergi tak lupa ku ajak payung merah mudaku sebagai hadiah terindah
bagiku. Siapa lagi kalau bukan dari kak Zain yang juga ikut memayungi hatiku di
saat sedih maupun senang. Seorang kakak yang selalu menasehati dan memotivasi
dan juga seorang kekasih yang ada setiap saat, meski dengan kesibukannya yang
menumpuk.
***

kata-katanya bagus.. teruslah menulis :)
ReplyDeletemakasih kakak.
DeleteInsya Allah selagi saya masih bisa :)
guru privat apa dek ??
ReplyDeletehehe... iya yah dalam cerita tidak di sebutkan.
Deleteitu salah satu hak pembaca kak, mau menjadikan si Yanty sebagai guru privat apapun boleh :D
hehe...bisa bisa :)
Delete:D
Deletemantap markotop...:D
ReplyDeleteckckck.... :D
DeleteRangkaian kata-katanya sangat indah dan mudah dipahami :-)
ReplyDeleteterima kasih :)
Delete