Sunday, 22 December 2013

Duo Villa ber Carita di Anyer


Hari ini 13 Desember 2013  suasana siang menjelang sore hari terasa sangat bising dan lumayan panas. Sambil melihat wajah-wajah yang nampak asing bagi saya, butiran-butiran debu pun serasa menutupi pandangan ini terhadap mereka. Kami calon kader dari IKAMI Sul Sel cab. Ciputat akan  melaksanakan makrab atau lebih dikenal dengan istilah ta’aruf. Mendengar cerita dari para senior, peserta tahun ini cukup meluap dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Ayo..  ayo cepat naik.!” Kata beberapa orang panitia saat memulai keberangkatan ke Anyer.
            Saya bergegas naik ke atas bus yang berada di deretan ke dua bersama seeorang teman dan kakak panitia, sebut saja namanya Dilla dan kak Rosita. Saya duduk beberapa deret dari jarak Pak supir sedangkan mereka duduk di belakang saya. Sambil mengingat kembali buku sewaktu saya masih duduk di bangku kelas 2 SD, di dalamnya terdapat cerita mengenai Pantai Carita, Anyer. Sempat saya menerawang jauh keindahan Anyer seperti yang di ilustrasikan oleh buku itu. Tiba-tiba imajinasi indah itu terputus oleh suara mesin bus yang siap berangkat. Saya pun menghentikan imajinasi itu dan berfokus terhadap pemandangan kota Tangerang, sambil sesekali bercakap dengan kak Anna yang duduk di sebelah saya ataupun kak Rosita dan Dilla yang berada di belakang saya.
            Di tengah perjalanan ass. supir menyuguhkan kami beberapa lagu lawas yang kira-kira trend sekitar tahun 90-an, bibirku pun ikut bergoyang mengikuti syair-syair lagu tersebut sambil memainkan ponsel dengan satu tujuan yaitu membuka media sosial. Dengan kalimat “welcome Banten, welcome Anyer beach” kusuguhkan kalimat itu kepada teman-teman yang membuka media sosial. Rasanya lumayan suntuk juga ketika hujan turun ditambah dengan suasana bus yang terasa hening. Beberapa kali saya mencoba menutup mata tetapi rasanya mata saya masih terasa fresh.
            Ketika memasuki kawasan Anyer, hujan sempat reda namun tak lama hujan pun turun lagi dengan sangat derasnya. Langit tampak menghitam dan terlihat jelas tanda-tanda bahwa mentari telah berganti bulan tapi sayang, sepertinya malam ini bulan tertutupi oleh awan hitam. Namun itu bukanlah kendala untuk tujuan kami kali ini. Dalam suasana yang membosankan, datanglah beberapa teman dari deretan belakang menyanyikan beberapa lagu ditemani dengan gitar ditangannya. Saya cukup menikmati lagu-lagu yang dinyanyikannya tanpa terasa 5 jam berlalu kami pun sampai di villa yang akan menyatukan kami semua.
***
            Tanah yang becek dan hujan yang masih saja turun membuat kami berhati-hati dalam melangkah menuju villa. Tanpa saya duga tragedi kecil menimpa ketika memasuki teras villa, sambil menenteng barang-barang saya pun terpeleset di teras villa untung hanya memar yang saya dapat dari tragedi itu.
“Uh, sakit…!!!” desah kecilku.
“Makanya kalo jalan hati-hati dong, biar nggak kepleset”, kata seorang teman yang melihat saya  terpleset.
“Apakah cuma saya yang terpleset karena kurang hati-hati atau mungkin terasnya benar-benar licin? ntahlah!”, kataku dalam hati.
            Villa yang kami tempati terdiri atas dua tingkat dan pemisahan antara cewek dan cowok di bagi berdasarkan tingkatan villa itu.
“Cewek tidur di atas dan cowok tidur di lantai dasar”, kata beberapa panitia.
Setelah beristirahat beberapa jam kami disuguhi makan malam dengan lauk ayam, karena telur himpunan bagian dari ayam maka semuanya sepakat bahwa makan malam kita adalah ayam. Beberapa menit setelah makan malam, acara pembukaan ta’aruf dimulai. Kami diperkenalkan beberapa senior dan panitia meskipun bagi saya beberapa dari mereka telah saya kenal sebelumnya tapi mungkin tidak untuk teman-teman yang lain dan diperkenalkan pula kepada kami calon anggot IKAMI yang berstatus anggota luar biasa yaitu anggota yang bukan berasal atau berdarah Sulawesi Selatan tetapi ingin menjadi bagian dari IKAMI. Malam semakin larut, sebelum beristirahat kami dibagi kelompok secara acak dan saya masuk ke dalam kelompok 1 yang dimentoring oleh kak Jumansyah atau biasa dipaggil kak Anca.
***
            14 Desember 2013, pagi hari yang cukup dingin ditambah dengan kamar yang ber-AC membuat bulu kuduk merinding, rerumputan yang basah menandakan hujan baru saja berhenti. Kegiatan kami tidak cukup sampai  disini, meskipun asam laktat dalam tubuh masih menumpuk dan glukosa yang terpecah masih sedikit, kegiatan pagi hari kami yaitu mentoring dan perkenalan sesama teman kelompok masih tetap berlanjut. Namun, ada berita mengagetkan dari mentor kami, kita semua akan meninggalkan villa dan belum pasti apakah kita akan pindah ke villa yang lain atau mereka akan memulangkan kita semua ke Ciputat.
“Rasanya mirip kisah Cinderella saja meski ada sedikit perbedaan jika Cinderella harus meninggalkan istana jam 12 malam, tak jauh beda dengan kami yang harus meninggalkan villa yang sedari awal sudah menjadi istana bagi kami semua pada jam 12. Namun 12 yang saya maksud adalah 12 siang”. Candaku pada diri sendiri.
            Usai sarapan kami di suguhkan materi tentang ke IKAMI-an yang dibawakan oleh kakanda Rusdi Anwar S.H, beliau mengungkapkan bahwa ada empat tujuan IKAMI yaitu: meningkatkan mutu keilmuan, melestarikan budaya & nilai-nilai luhur, pengabdian masyarakat dan mempererat semangat kekeluargaan. Setelah materi selesai kami siap-siap untuk packing, kabar baiknya kami tidak dipulangkan tetapi menuju villa yang baru di daerah Padeglang, Banten yang bernama “Villa Mama Teteh”. Sayangnya perjalanan kami kesana dihiasi oleh hujan deras hingga aktivitas selama disana sempat vakum beberapa jam.
***
Sore hari, hujan terlihat agak reda dan memungkinkan kita semua untuk bermain di pantai. Berbicara tentang pantai pasti tidak lepas dengan jeprat-jepret dan mandi di temani oleh ombak yang menggulung-gulung. Sesampainya di pantai kami para anggota baru bermain beberapa permainan yang sangat menyenangkan yang di pandu oleh kak Afni dan kak Ambo.  Saya mengakui bahwa kelompok kami sering melakukan kecurangan hampir di setiap games hingga kelompok dan mentor yang lain meneriaki kami.
“Curang…! Curang…! Curang…! Kelompok 1 curang…!”, teriak mereka.
“Bagaimana tidak curang? Namanya saja Laa Recu hahaha”, balasku dengan teriakan yang keras juga.
Games masih berlanjut namun hujan mulai turun lagi, tanpa menghiraukan hujan kami tetap memainkan games yang terakhir meski ombak dan cuaca tidak bersahabat. Pada akhirnya kami semua kebasahan, bukan karena mandi dipantai melainkan karena tersiram air hujan. Meski demikian kami tetap menikmati suasana yang ada hingga para panitia memberi kami arahan untuk kembali ke villa.
            Air hujan yang membasahi seakan memaksa kami untuk mandi di senja itu. Saya yang awalnya tak ada niat untuk mandi akhirnya mandi juga. Selesai membersihkan badan, saya dan dua orang teman yang selama disana tidak pernah terpisahkan yaitu Dilla dan Fitria mulai membuka kresekan yang setiap saat ditenteng. Tentu saja kresekan itu berisi persediaan makanan selama disana.
“Wah malam ini kita pesta Pop Mie”, kataku sambil menerima Pop Mie dari Dilla.
“Kita mau nyeduh mie dimana?”, kata Fitria.
“Ya udah kita ke aula aja, kan disana ada dispenser”, kataku sambil menggiring mereka berdua menuju aula villa.
“Nggak  usah disana ah, takut sama kakak-kakaknya. Kita nyeduh ama ibu yang jualan di depan aja” kata Dilla, memutar haluan.
“Takut kenapa? Mereka nggak makan orang kok. Sudahlah jangan malu-malu seperti itu” bujukku dan meneruskan perjalanan ke aula villa.
***
            Aula villa memang tempat yang paling sering di kunjungi oleh teman-teman peserta selain tempat untuk lunch atau dinner, ada keperluan pribadi atau universal mungkin mereka juga ingin lebih akrab lagi dengan para panitia atau senior. Namun, tujuan kami bertiga kali ini tidak lain hanya untuk menyeduh mie. Awalnya kami Cuma bertiga, akan tetapi kak Halim datang dan ingin menyeduh mie juga. Kebetulan di depan aula terdapat kursi dan meja yang bisa kami duduki sejenak selagi menyantap mie kami masing-masing.
            Sambil memandangi rerumputan dan dedaunan yang basah akibat tetesan hujan hingga memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami, kak Halim tak sungkan membagi pengalamannya selama di IKAMI kepada kami bertiga dan sesekali menghiasinya dengan candaan. Bukan hanya dia yang bercerita, kami pun ikut menceritakan pengalaman masing-masing hingga berujung dengan diskusi.
            Tak terasa wadah mie kami sudah tak berisi lagi, perut yang tadinya keroncongan kini sudah berisi. Kami akhirnya menyudahi pembicaraan itu kemudian saya, Dilla dan Fitria beranjak dari kursi lalu menuju kamar untuk beristirahat sejenak sebelum memulai materi terakhir. Belum sempat memejamkan mata tiba-tiba ponsel saya berdering, terlihat panggilan masuk dari kak Firman dan memberi amanah kepada saya untuk memberitahukan kepada teman-teman yang lain bahwa tiba saatnya untuk makan malam.
***
            Usai makan malam kami langsung memasuki materi terakhir mengenai teknik persidangan yang dibawakan oleh kakanda Amiruddin Wata. Selain materi, kami juga di beri praktek secara langsung bagaimana sidang dalam organisasi itu. Ada 4 cara peserta memberi intruksi kepada pimpinan sidang yaitu: point of order, point of information, point of clarification, point of privat. Suasana pada malam ini yang awalnya biasa saja tiba-tiba menjadi gaduh. Tentu saja karena praktek dalam persidangan yang sejak awal sudah direncanakan oleh panitia membuat banyak peserta merasa tegang kemudian kabur masuk ke dalam kamar. Meskipun saya bukan anak psikologi, namun saya bisa melihat dari raut wajah para panitia yang tidak begitu serius dan mungkin karena saya sudah merasakan hal ini sebelumnya ketika musyawarah cabang di Situ Gintung yang lalu. Akhirnya materi persidangan selesai, di penghujung malam minggu kali ini semuanya bersuka ria dengan menampilkan kreasi dari tiap kelompok hingga waktu yang ditetapkan berakhir.
***
            15 Desember 2013 pagi ini angin terasa merambah kedalam sum-sum tulang, sedikit demi sedkit mata ini membuka dan terlihat semuanya masih tertidur pulas tanda kelelahan. Hampir sejam jam setelah saya membuka mata tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan yang masih serak. Ternyata itu para kakak panitia yang sejak pagi telah bangun untuk menyiapkan sarapan buat kita semua. Pagi ini kami dihidangkan nasi goreng ala kakak panitia yang super lezat. Usai sarapan bersama, banyak dari kami yang bergegas menuju pantai namun lain halnya denga kami bertiga. Meskipun cuaca sangat mendukung untuk bermain di pantai, rasa PW untuk tetap di villa masih sangat terasa. Kami pun mencari lokasi disekitar villa untuk mengabadikan kebersamaan ini dan kami pun menemukan lokasi yang cukup indah di dekat pohon beringin kebetulan berdekatan dengan villa senior. Kami duduk sejenak diteras villa senior dan  mengabadikan moment itu dalam lensa kamera. Tiba-tiba kak Amir datang menghampiri kami dan memulai candanya, tak lupa dia mengeluarkan rayuan gombalnya. Tapi, bukan kepada kami bertiga melainkan dengan seseorang yang masih berada di dalam kamar villa.
            Tak lama kemudian kak Anna yang sedari tadi kami tunggu akhirnya keluar juga dari villa, dia mengajak kami untuk berfoto di pantai. Awalnya kami tidak ada niat untuk ke pantai tapi karena ajakan kakak, kami pun kesana. Kami menikmati suasana dan keramaian pantai carita pagi itu, tiba-tiba ada kejadian yang membuat kita harus meninggalkan pantai sesegera mungkin. Selepas dari pantai kami diperintahkan untuk packing karena sebentar lagi kami akan meninggalkan anyer dan sejuta kenangannya.
            Tiba saatnya penutupan dan penyerahan hadiah bagi kelompok yang menang pada saat games kemarin. Dan pada kesempatan itu pula Ihsan terpilih sebagai ketua ta’aruf IKAMI Sul Sel cab. Ciputat angkatan 2013. Dia menyebut angkatan kami dengan sebutan Duo Villa dengan alasan: belum ada sejarah bahwa IKAMI menyelenggarakan ta’aruf dengan memakai dua villa sekaligu hingga angkatan 2012 dan kali ini angkatan 2013 menuliskan sejarah itu. Kami menganggap itu logis dan masuk akal sehingga kami sepakat bahwa angkatan kami disebut dengan Duo Villa.
            Usai penutupan kami belum juga di pulangkan ke Ciputat karena ada trouble yang memungkinkan kami untuk tetap tinggal beberapa jam di Anyer. Mau tidak mau kami harus menjadi orang yang sabar meski tak dipungkiri keluhan demi keluhan selalu tersirat dari bibir kami. Akhirnya, pada pukul yang hampir menunjukkan 15.00 WIB bus pun berangkat menuju Ciputat. Di perjalanan saya banyak berbincang dengan kak Amir, sambil berbagi ilmu dan pengalaman kepada saya dia tak henti-hentinya mengeluarkan rayuan gombal atau biasa disebut modus malam terhadap kakak cantik yang duduk di sebelah saya. Tak terasa bus memasuki kawasan Lebak Bulus itu artinya sebentar lagi saya dan teman-teman se asrama akan tiba di tempat yang kami ibaratkan sebagai rumah. Kurang dari pukul 22.00 WIB kami sampai dengan selamat.
            Terima kasih buat para kakak-kakak panitia dan senior yang telah bersedia mengenal kami dan menunda aktivitasnya yang mungkin padat selama 3 hari 2 malam. Kami bersedia menjadi regenerasi IKAMI Sul Sel cab. Ciputat di tahun yang akan datang dengan semangat:
Lempu, Macca, Warani.
Sipakatau, Sipakainge’, Sipakale’bi.

EWAKO…! EWAKO…! EWAKO…!

Dibawah ini sedikit kegiatan kami di balik lensa kamera:

Materi ke IKAMI-an oleh kakanda Rusdi Anwar (tengah)

Sambutan oleh ketua panitia

Para peserta ketika menyimak materi

Istirahat sejenak ketika sampai di villa

Ini kelompok kami (kelompok 1) biasa disebut La Recu

Fitria, Dilla, Laila (pagi hari di Pantai Carita)

Makan malam peserta cowok

Makan malam peserta cewek

Salah satu games  kekompakan (mengangkat air dengan sarung)

Suasana bus ketika pulang ke Ciputat





No comments:

Post a Comment