Usai shalat subuh saya bergegas mengambil ponsel
yang ada di tempat tidur. Dengan jantung yang berdegup kencang dan rasa
penasaran yang semakin memuncak saya akhirnya berhasil membuka website yang
menjadi penentu masa depan saya. Karena di website itu tertera pengumuman
SPMB-PTAIN PPA. Tinggal itu satu-satunya harapan saya untuk lolos di perguruan
tinggi melalui jalur undangan tanpa test. Sambil menerka-nerka di dalam hati
apakah saya lolos atau tidak, tiba-tiba saya melihat background di pengumuman
saya berwarna hijau spontan saya mengucap syukur Alhamdulillah. Namun saya
belum tahu PTAIN mana yang menerima saya, pelahan-lahan saya turunkan cursor
ponsel saya dan melihat prodi yang saya masuki adalah Pendidikan Matematika. Sempat saya berfikir sejenak sebelum
melanjutkan gerakan cursor itu.
“perasaan saya tidak mengambil jurusan Pendidikan Matematika di UIN
Alauddin Makassar dan berarti universitas yang menerima saya adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” kataku
dalam hati.
Dan akhirnya dugaan tersebut benar, saya merasa
sangat senang karena dapat melanjutkan kuliah di luar pulau Sulawesi dan juga
merasa belum yakin kalau saya bisa kuliah disana. Saya langsung berteriak
mencari mama yang saat itu sedang berada di dapur, saya sempat berbasa-basi
terlebih dahulu sebelum memberitahukan pengumuman tersebut.
“Ma, coba tebak saya lolos di PTAIN apa?” Sambil tersenyum.
“Kalau menurut mama kamu lolos di UIN Alauddin Makassar, tapi sepertinya
kamu sangat yakin kalau kamu lolos di Jakarta. Memangnya pengumuman PTAIN sudah
keluar?”.
“Iya ma, pengumumannya sudah keluar dan tebakan mama benar”.
“Mama bilang juga apa, pasti UIN Makassar dan kalau kamu itu dari dulu
udah diramalkan kuliah di UIN”.
“Iya ma, tapi tebakan mama yang benar itu adalah tebakan yang kedua dan
memang benar kalau saya ditakdirkan buat kuliah di UIN dan itu UIN Jakarta
bukan UIN Makassar hehe”.
Mama pun kaget bukan
kepalang dan mengatakan kalau impian dan cita-citaku sewaktu kecil sebentar
lagi akan menjadi kenyataan. Karena sjak kecil saya memang sering bercerita ke
mama ketika besar nanti saya akan tinggal di Jakarta karena jodoh saya ada di
Jakarta, mama pun selalu mengaminkan kata-kata itu setiap terucap dari mulut
saya. Entah apa yang ada di fikiran anak kecil yang masih polos seperti saya
sampai-sampai mengatakan hal yang seperti itu.
Namun tak segampang itu
saya mewujudka impian dan cita-cita saya, banyak pro-kontra yang terjadi antara
keluarga dan saya, hampir 90% dari mereka tidak sepakat saya berkuliah di
Jakarta karena mereka fikir Jakarta itu adaah kota metropolitan dan semua
hal-hal buruk tentang Jakarta mereka utarakan tanpa melihat sisi baik dari
Jakarta dan orang-orangnya. Kegaluan dan dilema pun semakin memuncak dalam diri
saya hingga ketika semuanya tak menyetujui pilihan saya tersebut saya nekad tidak keluar dari kamar beberapa
hari dan tidak mau makan. Awalnya mereka menganggap bahwa itu Cuma bualan saya
agar keinginan untuk berkuliah di Jakarta bisa terwujud namun lama kelamaan
mama melihat tekad dan sikap keras kepala saya yang semakin keras seperti batu
karang. Sebagai seorang ibu dia tidak tega melihat masa depan anaknya hancur
hanya karena satu keinginan besarnya tidak terpenuhi.
Mama akhirnya membujuk
saya untuk keluar kamar dan memberi nasehat bahwa gula janganlah dipadukan dengan
gula karena tidak akan menghasilkan apapun namun, kamu harus bisa memadukan
gula itu dengan air hangat agar menghasilkan air yang manis. Maksudnya, egoisme
dan keras kepala dari keluarga jangan dibalas dengan hal serupa, namun balaslah
dengan kelembutan dan meyakinkan mereka bahwa kamu bisa.
***
Malam ini semua
keluarga besar saya berkumpul di rumah dan membicarakan tentang bagaimana masa
depan saya selanjutnya. Ada diantara mereka yang berkata:
“kalau saja dia masih tetap dengan pendiriannya dan keras kepala seperti
itu maka kita nikahkan saja”.
Saya pun mengelak perkataan itu sambil membentak
dengan nada kesal
“memangnya kamu siapa? Orang tua saya saja tidak pernah berkata seperti
itu, saya masih punya mimpi dan cita-cita Insya Allah suatu saat saya akan
membahagiakan orang tua saya tanpa melalui jalan pernikahan dini”.
Orang itu tiba-tiba
terdiam, dan nenek saya pun mulai bertanya dengan nada khawatir
“nak nanti kamu kesana sama siapa? Kalau tiba dijemput sama siapa? Dan
mau tinggal dimana? Kamu ini anak gadis sulung dari mama kamu dan kamu belum
mengerti situasi dan kondisi Jakarta”
Saya pun tertunduk
ternyata mereka mengkhawatirkan keadaan saya ketika sampai di sana maka dengan
nada rendah saya menjawab pertanyaan itu,
“Insya Allah saya tidak akan tersesat disana dan saya yakin Allah selalu
melindungi saya ketika berada disana. Mungkin ini sudah menjadi garis takdir
saya untuk melanjutkan kuliah disana. Ketika saya lolos seleksi Teen Model
Contest 2009 dan harus ke Jakarta tetapi terkendala dengan ujian semester
padahal sudah membeli 2 buah tiket mama pernah bilang mungkin ini bukan jalan
kamu untuk ke Jakarta tapi, mama yakin suatu hari nanti kamu akan ke Jakarta
dan bisa melihat Jakarta dari puncak Monumen Nasional. Dan saya yakin inilah waktunya
nek. Jangan khawatirkan saya”.
Keluarga yang berkumpul
pada malam itu sudah meyakini tekad saya dan mengizinkan untuk melanjutkan
kuliah di Jakarta dengan syarat saya harus berangkat seorang diri. Saya pun
menyetujui itu.
***
Satu masalah sudah teratasi
dan hasilnya memuaskan batin saya akan tetapi saya kepikiran dengan perkataan
nenek saya bahwa nanti ketika sampai di Jakarta siapa yang menjemput dan dimana
saya tinggal untuk sementara? Pertanyaan itu berulang-ulang dalam benak saya.
Kebetulan saya sedang membuka media sosial dan tiba-tiba terbesit di otak bahwa
saya harus memcari perkumpulan mahasiswa di Jakarta karena beberapa waktu yang
lalu ketika para mahasiswa UI yang berasal dari Sulawesi mengadakan Try Out di
Bulukumba saya mendengar kalau mereka punya sekretariat. Dari situlah pikiran
saya menelaah pasti UIN juga punya perkumpulan seperti itu.
Mulailah saya searching
dengan key word: Perkumpulan mahasiswa Sulawesi Selatan di Jakarta. Tidak cukup
60 secon saya menemukan halaman media sosial grup IKAMI Sul Sel cab. DKI
Jakarta. Dengan perasaan senang saya mulai mengetik beberapa huruf hingga
menjadi kata-kata untuk mengutarakan maksud dan tujuanku di dinding halaman
tersebut, aji mumpung pun menimpa saya pada saat itu admin halaman tersebut
sedang online juga dia merespon dengan baik apa yang saya inginkan. Setelah
saya mencari tahu adminnya adalah ketua umum IKAMI Sul Sel cab. DKI Jakarta
namanya Ashari Alang Pabua dia memberikan saya nomor ponsel ketua umum IKAMI
Sul Sel Cab. Ciputat berhubung kampus saya letaknya di Ciputat. Tanpa berfikir
panjang saya mengutarakan maksud dan tujuan saya ke Jakarta sembari berkenalan
dengan ketua umumnya yang bernama Amiruddin Wata.
Saya dengan perasaan
senang memberitahukan kepada mama dan semua keluarga bahwa akan ada yang
menjemput saya ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta meskipun saya belum
terlalu yakin dengan hal ini.
***
Pada H-1 keberangkatan saya, entah kenapa hati saya
merasa sangat sakit dan ingin menangis ketika ingin berpisah dengan orang tua,
keluarga, teman-teman dan kerabat untung saja saya tidak punya pujaan hati.
Tapi, perjalanan hidup baru saya baru saja akan di mulai dan tidak mungkin saya
stop sampai disini. Tak lupa saya menghubungi kak Amir untuk meminta kepastian
apakah nantinya ketika saya sampai di Jakarta akan ada yang menjemput atau
tidak. Alhamdulillah kak Amir mengiyakan itu dan akan ada yang menjemput
namanya Muhammad Sapril, dia pun memberikan nomor ponsel yang bisa saya hubungi
agar nantinya bisa berkomunikasi.
Sekitar jam 07:30 WITA mama mengantarku ke bandara
dan membawa sekoper penuh barang-barang dan pakaian yang akan saya gunakan
nantinya. Satu hal yang membuat saya sedih ketika koper yang mama bawa
diberikan kepada saya dan ditempat itu orang-orang berkerumunan dan saya tidak
menyadari sudah berada di dalam bandara setelah menengok ke belakang mama dan
adik saya yang kecil sudah tidak terlihat lagi di kerumunan orang.
24 Juni 2013 adalah hari pertama kalinya saya
menginjakkan kaki di ibukota negara dan kak Sapril menjemput saya on time. Di
sepanjang jalan kami berbagi cerita dan pengalaman dan dia menceritakan sedikit
pengalamannya selama bergambung dengan IKAMI. Saya terdiam dan merasa sangat
beruntung akan dipertemukan dengan mereka dan mulai saat itulah saya jatuh cinta
dengan organisasi yang bernama IKAMI Sul Sel ini karena dengan satu alasan,
bahwa IKAMI adalah organisasi yang membangun karakter para kadernya untuk
berjiwa kekeluargaan dan menolong siapa saja tanpa pamrih. Tak terasa 2 jam
lebih kami berada di perjalanan dan akhirnya sampai di sekretariat IKAMI Sul
Sel cab. Ciputat, letaknya tidak terlalu jauh dari kampus UIN Jakarta.
Sesampainya disana para anak IKAMI menyambut saya dengan hangat dan perasaan
gembira mulailah saya berkenalan dengan mereka meskipun saya belum bisa
menghafal nama mereka satu per satu.
Salah seorang dari mereka menghubungi anak IKAMI
perempuan untuk memberikan saya tempat tinggal sementara waktu. Setelah
beristirahat beberapa jam, 3 orang perempuan menjemput saya untuk tinggal di tempat
mereka, namanya Nura Abla, Selvi dan Cida. Saya merasa sangat bersyukur dan
hati pun tak henti-hentinya berbicara: “mungkin
karena niat dan tekadku yang kuat serta doa dari orang-orang terkasih, Allah
memberiku kemudahan dalam mencapai cita-citaku salah satunya yaitu dengan
mempertemukanku dengan mereka IKAMI Sul Sel”.
Inilah salah satu foto kebersamaan saya dengan IKAMI . Foto ini diambil sehari setelah saya
sampai di Jakarta tepatnya 25 Juni 2013 dalam acara Indonesia Law Years Club di
Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.


weitz, seperti cerita dongeng.
ReplyDeletehaha... Bisa dijadikan dongeng sebelum tidur :D
ReplyDeletesungguh menyentuh tulisan ini, bikin terharu...hehehe
ReplyDeletehahaa.. butuhki tissue kak?
Deleteineh banyak disini ckck