Monday, 21 November 2016

Edelweis

Barangkali kau melihatku hanya sekejap mata. Barangkali kau mengenalku hanya semaumu saja. Barangkali kau tak tahu tentangku. Ahh.. barangkali aku yang terlalu mendamba. Mungkin hati masih tertutup awan kelabu. Dan membutuhkan cahaya untuk membuatnya terang. Seperti taman yang membutuhkan kupu-kupu. Sebelah hati membutuhkan hati yang lain untuk membuatnya utuh. Aku menunggumu.
Matahari pagi ini mungkin enggan untuk menyambut embun sisa hujan semalam. Awan mendung, udara dingin, dan hujan gerimis juga membuatku enggan untuk menyambut hari. Tapi bukan hanya itu yang membuatku sangat tidak semangat pagi ini. Mata bengkak akibat menangis semalam membuat duniaku terasa semakin sempit. Ahh, aku benci keadaan ini, aku benci kenangan itu, aku benci Poci. Tapi dimana dia sekarang? Di mana orang yang selalu mengganggu pikiranku itu? Langit masih saja murung, aku tak habis pikir kenapa mereka seolah mengurungku dalam kegalauan. Ku mainkan gitar akustikku perlahan.
“Jujur saja ku tak mampu
Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu
Kau tak di sampingku setiap waktu
Ku sadari aku cinta padamu”
“Kamu masih suka sama Alvin?” Vera menghentikan aktivitasku mengibur diri.
“Kamu Ver… ya gitu deh.”
“Udah hampir tiga tahun loh La, kamu masih belum bisa lupain dia? Kamu pernah mikir nggak, apa dia masih ingat sama kamu, apa dia pernah berpikir untuk ketemu kamu? Bukannya kamu udah lost contact sama dia?” Aku diam. Benar juga kata Vera, mungkin aku hanya menyakiti diriku sendiri dengan memikirkannya. Dan duniaku kembali berputar dengan lambat, memutar satu kenangan sebelum dia pergi.
“Setelah lulus SMA nanti, aku bakal pulang dan langsung temui kamu, jaga diri baik-baik ya..” Dia mengulurkan Poci padaku, waktu itu aku hanya menangis dan tak mengucapkan apa pun.
“Jangan nangis, aku janji akan menghubungi kamu sesampainya di sana.” Aku tersenyum, walau janji itu terabaikan dan mungkin tak akan menemui kejelasan. Apa yang terjadi denganmu?
Vera menyodorkan selembar kertas kecil berwarna biru.
“Janganlah bersedih sendirian. Luapkan kesedihanmu sayang. Ceritakan apa yang kau rasakan. Tersenyumlah pada dunia. Tunjukkan bahwa kau gadis sempurna.. Edelweis.”
“Dari siapa?” Tanyaku bingung pada Vera. Vera menggeleng. Siapa?
Aku kembali menikmati sendiriku dengan hanya memikirkan satu nama itu, Alvin. Mungkin dunia telah lelah melihatku memikirkannya, mungkin angin tak mau lagi mengirimkan rinduku padanya, bahkan malam pun mungkin telah enggan mendengar ceritaku. Aku masih menunggu walau hanya ditemani dingin dan hujan.
“Tatap awan itu. Mereka cerah untuk membuatmu tersenyum. Jika kau masih saja murung. Aku mau menjadi sandaranmu.. Edelweis.” Satu lagi ku temukan kertas biru terselip di buku catatanku. Sebenarnya siapa dia? Siapa Edelweis? Kenapa dia seolah tahu tentangku? Ahh kenapa hatiku selalu saja berwarna kelabu? Ku tinggalkan lorong itu dengan hati gelisah. Awan masih gelap. Di ujung lorong itu, aku melihat sosok orang yang selama ini aku rindukan, aku melihatnya, apakah ini nyata? Aku mendekat.
“Alvin!”
Aku benar-benar terkejut dan tidak percaya. Bagaimana mungkin? Dia berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. Oh, apa dia telah lupa? Benarkah dia lupa? Aku mengeluarkan boneka kecil bertuliskan ‘Poci’ dari dalam tas dan mengulurkan padanya. Seketika raut wajahnya berubah. “Lala?” Secuil kebahagiaan itu kembali dan rintik hujan sore ini menjadi saksi bisu pertemuan kita. Tapi hujan dari mata ini ikut menetes. Kau tak datang untukku. Benarkah kau telah lupa padaku dan memilih menjalani hari dengan gadis di sampingmu itu?
“Maafkan aku Lala!”
Aku berlari menantang hujan. Tak ku pedulikan lagi ia akan membasahi tubuhku. Aku kecewa. Harapanku untuk bersamamu lagi telah hancur. Penantian ini sia-sia. Aku lelah dan mimilih duduk di bangku rumah kecil pinggir danau.
“Hapuslah air matamu.. Kini ku hanya datang untukmu. Memang hidup kadang susah bikin gelisah. Genggamlah tanganku, aku akan selalu mendukungmu setiap waktu. Curahkan semua kesal, amarah, lelah. Sampai hilang semua beban itu. Seorang laki-laki menyanyikan lagu dengan gitar di tangannya. Dia mengulurkan sapu tangan dan tersenyum padaku.”
“Terima kasih.” Ku terima sapu tangan dengan bordiran di bagian bawahnya. Ku buka lipatan itu dan, “Edelweis?”
Dia hanya tersenyum.
“Untuk, Alvino Aditama. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya saat tanah merindukan hujan, saat malam tak ditemani bintang, dan saat udara begitu dingin. Terima kasih telah mengajariku arti menunggu. Walau kesetiaanku kau balas dengan kekecewaan. Terima kasih atas kenangan yang telah kau ukir bersamaku. Terima kasih telah menjadi pangeranku. Syabila Larasati.”

Monday, 16 May 2016

PARK HYUNG SEOK & PYEON DEOK HWA - BEAUTIFUL DAY


내가 처음 뱉은 라임들로 가사를 뱉을때
(Naega cheoeum baeteun raimdeullo gasareul baeteul ttae)
Ketika aku mengeluarkan lirik dengan irama yang ku keluarkan untuk pertama kalinya
관객들로 에워쌓인 이 무대를 누빌때
(Gwangaekdeullo eowo ssahin i mudaereul nubil ttae)
Ketika aku berkelak-kelok melalui panggung yang dipenuhi dengan penonton
박자를 절고 가사를 까먹는 trauma
(Bagjareul jeolgo gasareul kkameokneun trauma)
Sebuah trauma membuat tempo lemah dan lupa lirik
없기를 바래 이건 TV속에서 보던 드라마
(Eobgireul barae igeon TV sogeseo bodeon drama)
Aku harap kamu tidak akan mengalaminya, ini adalah drama yang kamu lihat di TV
소름이 끼쳐 리허설도 했지 한 세번
(Soreumi kkichyeo riheoseoldo haejji han sebeon)
Ini kaku, aku bahkan melakukan latihan sekitar tiga kali
난 영웅이 될거야 어릴적 꿈에 메칸더 V
(Nan yeongungi doelgeoya eoriljeok kkume mekandeo V)
Aku akan menjadi seorang pahlawan, impianku saat kecil adalah Mechander V
마스터 P 또는 여기의 마스터키
(Master P ttoneun yeogiui master key)
Master P atau tempat master key ini
롤모델 들과 한잔할거야 마스터끼리
(Role model deulgwa hanjan halgeoya masterkkiri)
Aku akan minum dengan role model diantara para master
안된다 했고 날 내려다봣던 모두
(Andwinda haeggo nal naeryeoda bwaddeon modu)
Mereka berkata ini tidak akan bekerja, semua yang memandang aku rendah
날 봐 내 사인은 이 무대 위에서 숨을 거둠
(Nalbwa nae saineun i mudae wieseo sumeul geodum)
Lihat aku, tandaku sedang sekarat di panggung ini
멍청한 표정 쩍 벌어진 너희 입에
(Meongcheonghan pyojeong jjeok beoreojin neohui ibe)
Wajah yang konyol, aku kembali mengeluarkan
침 뱉어주러 다시 돌아온다 I’ll be back
(Chim baeteo jureo dasi doraonda I’ll be back)
Di mulutmu yang menganga lebar, aku akan kembali
지나간 아픔들은 지워 yeah
(Jinagan apeumdeureun jiwo yeah)
Hapus luka masa lalu
어제와 다른 오늘 so beautiful day yeah
(Eojewa dareun oneul so beautiful day yeah)
Berbeda dari kemarin, hari ini begitu indah
두려움을 딛고 한걸음 뛰면 oh oh
(Duryeoumeul didgo hangeoreum ttwimyeon oh oh)
Saat kamu mengatasi rasa takut dan melangkah
따갑던 나날들은 아무것도 아냐 be ok
(Tta gabdeon nanaldeureun amugeotdo anya be ok)
Hari yang berduri itu tidak ada apa-apanya, be ok
혼자서만 듣던 내 목소리
(Honjaseoman deuddeon nae moksori)
Hanya aku sendiri yang mendengarkan suaraku
자신감없는 나만의 stage
(Jasingam eomneun namanui stage)
Ketidakyakinan panggung soloku
끝없이 노력하고 노력하다보니
(Kkeuteobsi noryeoghago noryeoghada boni)
Saat aku berusaha dan berusaha dengan tiada hentinya
어느새 난 이 무대위에서 노래해
(Eoneusae nan i mudae wieseo noraehae)
Aku bernyanyi di panggung ini sebelum aku mengetahuinya
방에 붙은 포스터 내가 될 준비됐어
(Bange buteun poseuteo naega doel junbi dwaesseo)
Aku siap untuk ada di poster yang ditempel di dinding
미래 준비를 위해선 가사를 쓰는게 최선
(Mirae junbireul wihaeseon gasareul sseuneunge choeseon)
Untuk menyiapkan masa depan, menulis lirik adalah yang terbaik
열등감의 대한 개선 나는 최대한 피해서
(Yeoldeunggamui daehan gaeseon naneun choedaehan pihaeseo)
Perbaikan melawan rasa rendah diri, aku memutuskan untuk pergi di jalanku
가기로 맘먹었네 토 달지마 여기에 대해선
(Gagiro mam meogeonne to daljima yeogie daehaeseon)
Menghindari sebisa mungkin, jangan mengurusi hal yang tidak perlu disini
고생만 했던 맘 이제 편해질 차례
(Gosaengman haeddeon mam ije pyeonhaejil charye)
Pikiranku yang hanya berpikir ini sulit, sekarang saatnya mendapatkan kenyamanan
우리 행복을위해서 네가 도와주길 바래
(Uri haengbokeul wihaeseo nega dowa jugil barae)
Aku berharap kamu akan membantu untuk kebahagiaan kami
별거 없어 제발 그냥 이 그대로를 즐겨
(Byeolgeo eobseo jebal geunyang i geudaeroreul jeulgyeo)
Ini tidak ada apa-apanya, nikmati saja saat ini
오늘도 가사를 쓰려 난 컴퓨터를 켜고 불꺼
(Oneuldo gasareul sseuryeo nan keompyuteoreul kyeogo bulkkeo)
Aku menghidupkan komputer dan mematikan lampu untuk menulis lirik hari ini
지나간 아픔들은 지워 yeah
(Jinagan apeumdeureun jiwo yeah)
Hapus luka masa lalu
어제와 다른 오늘 so beautiful day yeah
(Eojewa dareun oneul so beautiful day yeah)
Berbeda dari kemarin, hari ini begitu indah
두려움을 딛고 한걸음 뛰면 oh oh
(Duryeoumeul didgo hangeoreum ttwimyeon oh oh)
Saat kamu mengatasi rasa takut dan melangkah
따갑던 나날들은 아무것도 아냐 be ok
(Tta gabdeon nanaldeureun amugeotdo anya be ok)
Hari yang berduri itu tidak ada apa-apanya, be ok
지나간 아픔들은 지워 yeah
(Jinagan apeumdeureun jiwo yeah)
Hapus luka masa lalu
어제와 다른 오늘 so beautiful day yeah
(Eojewa dareun oneul so beautiful day yeah)
Berbeda dari kemarin, hari ini begitu indah
두려움을 딛고 한걸음 뛰면 oh oh
(Duryeoumeul didgo hangeoreum ttwimyeon oh oh)
Saat kamu mengatasi rasa takut dan melangkah
따갑던 나날들은 아무것도 아냐 be ok
(Tta gabdeon nanaldeureun amugeotdo anya be ok)
Hari yang berduri itu tidak ada apa-apanya, be ok
따갑던 나날들은 아무것도 아냐 be ok
(Tta gabdeon nanaldeureun amugeotdo anya be ok)
Hari yang berduri itu tidak ada apa-apanya, be ok

Tuesday, 10 May 2016

Formulasi

formula
Hari rabu di awal bulan Maret, ku susuri sepanjang lorong lantai enam kampus satu, yang kudapati hanya suasana lengang sepi tak ada geming dan riuh celoteh mahasiswa. Maha-siswa, sebuah makhluk perpaduan dari gamet jantan dan betina, sebentuk zigot, terbungkus rahim ibu, dan keluar di usia sekitar dua puluh tahun. Makhluk yang selalu di tuntut menyumbangkan ide-ide gila, menggeruskan pil perubahan, dan menelankannya pada tiap-tiap mulut individu terdahulu tanpa peduli tentang sisi lain bayang-bayang sisi kemanusiaan yang harfiah merasakan cinta. Ledakan emosionalitas dan pacuan adrenalin ketika mendekati seorang pujaan hati. Seakan ingatanku memflashback dimensi-dimensi ingatanku kemarin. Ketika aku dan teman akrabku bercakap tentang formulasi cinta. Sebuah ide gila mengkonsepkan serta merumuskan tentang definisi sebuah cinta. Menggunakan seluruh kerut-kerut korteks otak kami untuk sesuatu yang mungkin tak masuk logika. Memeras tiap lokus-lokus terdalam hingga kering, lalu menjemurnya di bawah terik matahari siang itu yang begitu panas.
“Bro, apa cinta bisa diformulasikan?”. “Entahlah, apa perlu kita coba?”. Sebuah ajakan yang membuatku makin larut dalam hasutan propaganda Gael. Seolah ada sesuatu yang menggelitik rasa penasaranku pada Einstein, bagaimana dia mampu merumuskan sesuatu yang imajiner dan terkesan tidak logis menjadi sesuatu yang bisa dibuktikan, sangat masuk akal dan logis. Rasanya beberapa asupan karbohidrat, protein dan lemak akan membantu kami untuk memecahkan perumusan ini. Sepiring nasi soto dan dua gelas es limun telah mengisi kerongkonganku dan Gael, sampai tidak secuil pun dari sisa rempah-rempah bersisa di mulut. Membebaskan sel-sel mitokondria tubuh kami mencernanya dengan cepat. Namun, sejauh ini tidak satu pun dari kami dapat merumuskan sebaris formulasi cinta – atau minimal tentang konseptualitas perumusan dari pengalaman-pengalaman cinta kami – mungkin lebih tepatnya pengalaman cinta Gael – bukan pengalaman cintaku. Aku hanya terlalu sering mencintai, tapi harus berakhir dengan keabstrakan. Mencintai, tapi tak sekali pun pernah dicintai. Bahkan untuk sebuah niat yang benar sekali pun tidak ada kesempatan bagiku. Sedang Gael, dia sudah sering membongkar pasang kepingan puzzle-puzzle kehidupan cintanya. Menata ulang album-album rekam EEG dalam memori otaknya–tentang mencintai dan dicintai – selagi kami berdiskusi.
Gael adalah sebuah literatur nyata yang berisi tentang perbendaharaan emosionalitas, pemetaan langkah, dan esai-esai tentang cinta – dalam versi hidup dan bernafas. Seseorang yang ku kenal sebagai penerjemah dari sandi-sandi cinta. Sedangkan aku hanya mencicipi dari ceritanya dan berusaha merumuskan formulasi cinta – sambil berkata, “Perfecto!”. Tapi semua itu tidak akan mudah bagiku, bahkan faktanya aku pun bukan seorang pengicip yang baik. Butuh ekstra tunjangan hari tua untuk pekerjaan yang sekali lagi tak masuk logika dan terkesan gila ini.
Seminggu kemudian, lagi-lagi di hari ini – hari rabu – masih di bulan Maret. Ini kali kedua aku berjumpa dengan matakuliah yang sejujurnya tak serumit namanya, hanya saja agak membosankan, semua sama sejak dulu Phytagoras ada sampai sekarang pita kado sudah dijual dimana – mana, dengan beraneka motif dan warna. Jam pagi untuk mata kuliah Matematika Dasar II. Matakuliah yang sekali lagi harus memaksaku menyusuri sepanjang lorong lantai enam kampus satu dalam suasana lengang, sepi tak bergeming. Hari yang seharusnya di kampus ini diwajibkan sebuah “tradisi upacara adat” suku mahasiswa bernama pulang kampung. Kulangkahkan kaki yang beralaskan sepatu kulit ini dengan prasangka baik, mencoba masuk ke dalam ruang dunia angka-angka itu tanpa gugup sedikit pun dan duduk di barisan paling depan – sebuah bentuk susunan permutasi dari deret-deret kursi mahasiswa yang keramat dan wajib dijauhi. Mataku sempat lalu-lalang menatap masuk ke arah bola mata dosenku, mencoba menebak-nebak apa yang ada di benaknya ketika melihatku yang datang terlambat. Tak berselang lama, sontak aku bergegas menarik pandanganku dari dalam bola matanya, aku seperti melihat sebuah pandangan sinis berpangkat tak berhingga mengarah kepadaku sebelum materi hari ini – yang sempat beberapa detik terhenti – di mulai kembali.
Sebuah tangan menepukku agak keras dari belakang – seolah membangunkanku dari hipnotis alam bawah sadar bola mata dosenku. “Santai bro, kuliah baru dimulai.”, seru lirih Gael dengan agak berbisik. Kalkulus, Aljabar, Geometri, dan Algoritma. Lagi, lagi, dan lagi. Sekali lagi aku harus benci mengakuinya, semuanya berulang-ulang sejak dari pertama aku mulai belajar mengikat sepatu hingga kini aku sudah mengikatkan dasi di leherku. Perasaan mual selalu ada tiap kali materi-materi itu harus di jejalkan kedalam pori-pori kepala dan menyerapnya tepat di otakku yang sebenarnya sudah menutup rapat-rapat. Menghindari jejalan materi formulasi matematis hasil copy-paste dari para tokoh-tokoh filusuf pendahulu.
Kenapa tak coba sesekali untuk mencoba menggunakan bagian-bagian dari sinapsis otak kita untuk menkonsepkan sendiri sebuah rumusan – bahkan untuk suatu rumusan yang tak logis sekali pun. Tentang cinta, mungkin? Materi yang juga sempat ku bahas dengan Gael semalam lewat telepon – cukup serius – bahkan sampai larut, hingga operator selular mungkin sudah muak mendengar celoteh omong kosong kami tentang ide gila memformulasikan cinta. Memang tadi malam, hampir tiga atau empat kali lipat dari SKS normal matakuliah Matematika Dasar II kami habiskan untuk membahas ulang percakapan kami kemarin. Tiap inchi kata-kata Gael benar-benar mendetail. Tiap milisekon ceritanya sangat padat berisi. Sampai-sampai aku bingung menyebutnya sebagai sebuah informasi, pengetahuan baru, dongeng atau curahan hati. Beberapa menit lagi – tak lebih dari lima belas derajat jarum jam terlewat – jam kuliah akan berakhir, saatnya bergiliran mengerjakan latihan soal diakhir perkuliahan. Anehnya, tiba-tiba saja otakku menghasutku untuk berfikir lebih, “Kenapa jam kuliah ini tidak ku gunakan untuk membuat formulasi itu saja.”
Kusiapkan kertas putih HVS, tiap-tiap dari inchi-nya masih putih bersih tanpa cacat bekas coretan atau lekukan. Sebuah awal yang baik untuk memulai merumuskan formulasi. Perlahan ku coretkan beberapa konsep-konsep dalam bentuk simbol-simbol. Perlahan namun pasti, seiring memenuhnya tulisan di papan, semakin menyempit pula ruang coret di hadapanku. Semakin jelas pula ku temukan formulasi itu. Tanganku seoalah bergerak sendiri mencari ruang kosong untuk siap di isi, melayani perintah otakku yang menjadi dalang dari semua aksi gila ini. Sampai beberapa saat kemudian, aku berhasil menemukan sebuah formulasi cinta itu, lengkap dengan penjelasannya. Spontanitas rasa puasku mendorong otakku untuk mengekspresikan perasaanku lewat suara – tanpa sadar – reflek aku berkata dengan lantang memecah keheningan kelas, “Perfecto!”. Seisi kelas menjadi riuh, membicarakan tingkah spontinitasku itu. Dosen pun tahu coretan-coretan yang ku tulis, beliau menyuruhku untuk menuliskannya ke depan kelas. Dengan bangga aku mulai melangkahkan kaki, menggenggam spidol hitam di tangan kananku dan mulai menulis formulasiku dengan tegas di atas papan putih dihadapanku.
Formulasi Cinta :
S(c) = { s-n | c > k^2, s ? T.h }, ? OK
Keterangan:
S = sayang.
c = cinta.
s-n = sekarang hingga nanti.
k^(2 ) = sebuah kata-kata.
T = anggota tubuh.
h = lubuk hati yang paling dalam.
OK = omong kosong.
Penjelasan:
Sayang adalah sebuah fungsi dari cinta, himpunan cinta yang sedemikian dari sekarang hingga nanti, yang lebih dari sebuah kata-kata, yang mana sayang itu dari anggota tubuh bernama lubuk hati yang paling dalam, dan itu bukan himpunan omong kosong.
Sebuah rumusan yang langsung diganjar nilai C untuk matakuliah Matematika Dasar II ku. Sebuah huruf kapital yang amat tebal.

Sunday, 8 May 2016

Kimchi Praktis Ala Indonesia

Halo semua...
Baru ngepost lagi nih hehe kali ini Lai akan membagikan resep kimchi yang enak, lezat, halal dan yang pasti sesuai dengan lidah orang Indonesia.
Pasti sahabat sekalian udah pada tahu kan apa itu kimchi? Ya, betul banget. Kimchi adalah makanan khas Korea yang rasanya kayak nano-nano (manis, asem, asin) meski memiliki rasa yang demikian, kimchi terkenal bukan hanya karena rasa atau sering disajikan dalam film/drama Korea tapi juga mengandung berbagai macam manfaat yang baik untuk tubuh(inilah rahasia kenapa orang-orang Korea rata-rata bertubuh langsing). WHO sendiri telah membuktikan bahwa kimchi adalah salah satu dari 5 makanan tersehat di dunia.
Baiklah, kita akan mulai membuat kimchi (ayo siapkan terlebih dahulu bahan-bahannya yah)

Bahan:
1 buah sawi besar
1/2 cangkir garam kasar
1 buah wortel besar
3 buah daun bawang
Air secukupnya

Bahan saus:
1 sdm tepung beras
2/3 air
1/2 sdm gula pasir
3 sdm cabe bubuk (bisa kurang/lebih, tergantung selera)
3 siung bawang putih
1 ruas jahe

Proses pembuatan:
Pertama-tama potong sawi menjadi dua secara vertikal lalu cuci bersih sebanyak 3x lalu siapkan baskom dan masukkan garam kasar serta air secukupnya. Rendam sawi hingga ke sela-sela. Lakukan selama 4 jam.

Potong wortel dan daun bawang berbentuk korek api, lalu bilas dan sisihkan.

Blender bawang putih dan jahe sambil masak campuran air, gula dan tepung beras hingga kental dan mendidih.

Campurkan bubuk cabe beserta bawang putih dan jahe yang sudah dihaluskan. Masukkan sedikit demi sedikit campuran saus yang sudah dingin.

Setelah 4 jam, campur wortel dan daun bawang dengan adonan saus yang telah dibuat, ratakan.

Cuci bersih sawi yang telah direndam dalam air garam lalu potong secara horizontal sebanyak 2 atau 3 potong.

Campurkan sawi dengan adonan yang telah dibuat. Ratakan sawi menggunakan tangan yang telah dibungkus menggunakan plastik/sarung tangan karet.

Masukkan kedalam stoples kaca lalu diamkan selama 2x24 jam dalam suhu ruangan.
Kimchi siap di hidangkan.

Cocok buat dijadikan cemilan, pendamping makanan, nasi goreng dll.

Resep aslinya pakai lobak sama kecap ikan. Tapi,  Lai udah keliling se-kabupaten nggak nemu hehe maklum buatnya pas lagi di rumah nggak di Jakarta.
Meskipun begitu rasanya dijamin enak.
Oh iya Lai lupa, kalau sudah 2x24 jam sebaiknya kimchi disimpan dalam kulkas biar rasanya tidak semakin masam yah.


Wednesday, 25 November 2015

Sebuah Wajah, Sebuah Cerita

Wajah adalah simbol utama untuk dikenali dalam pertemuan pertama dan selanjutnya.
Tapi suatu hari diantar 365 hari di tahun 2015, aku bertemu dengan seseorang yang (pernah) dekat dengan dia yang memiliki kemiripan wajah juga sifat denganku.
Hingga akhirnya dia bercerita tentang mantan kekasihnya itu sambil menatapku lamat-lamat. Berusaha menolak memori masa lalunya namun tetap saja bercerita dengan sesekali menunjukkanku, juga orang yang disebelahku beberapa foto kekasih lamanya itu.
Benar, dia memang sangat mirip denganku. Apalagi saat dia berkata "lihatlah, pasti kau serasa bercermin menatap foto ini. Saya ingat betul memori yang tertinggal dari foto ini, itu saat dia seusiamu."
"Sifatnya juga tidak jauh beda denganmu" katanya. Ketika dia berkata: "saat aku memandangnya, dia selalu tersenyum menunduk dan malu-malu." Persis yang kulakukan saat itu juga, tanpa jeda. Tanpa rekayasa.
Namun sayang, air mukanya berubah ketika dia bercerita bahwa Tuhan tidak menakdirkannya berjodoh dengan anak tunggal itu.
Beberapa minggu yang lalu, di Yogya sana, perempuan cantik itu telah dipinang oleh seseorang.
Ada perasan sedih yang timbul dari ucapannya.
Karena dia tidak bisa melupakan perempuan yang dulu selalu membuat hati dan harinya bahagia.
Ada perasaan menyesal ketika perempuan itu pernah meminta pinangannya namun dia berkata belum siap.

Hingga di akhir cerita, aku baru tahu ternyata.....
Dia yang terlebih dahulu meminang perempuan lain.
Kejadian itu hanya berselang 3 minggu saat perempuan itu meminta pinangannya.
THE END

Note: jodoh ada yang atur, kita hanya perlu menata diri untuk berjalan ke arah seseorang yang ditakdirkan buat kita.