Barangkali kau melihatku hanya sekejap mata. Barangkali kau mengenalku hanya semaumu saja. Barangkali kau tak tahu tentangku. Ahh.. barangkali aku yang terlalu mendamba. Mungkin hati masih tertutup awan kelabu. Dan membutuhkan cahaya untuk membuatnya terang. Seperti taman yang membutuhkan kupu-kupu. Sebelah hati membutuhkan hati yang lain untuk membuatnya utuh. Aku menunggumu.
—
Matahari pagi ini mungkin enggan untuk menyambut embun sisa hujan semalam. Awan mendung, udara dingin, dan hujan gerimis juga membuatku enggan untuk menyambut hari. Tapi bukan hanya itu yang membuatku sangat tidak semangat pagi ini. Mata bengkak akibat menangis semalam membuat duniaku terasa semakin sempit. Ahh, aku benci keadaan ini, aku benci kenangan itu, aku benci Poci. Tapi dimana dia sekarang? Di mana orang yang selalu mengganggu pikiranku itu? Langit masih saja murung, aku tak habis pikir kenapa mereka seolah mengurungku dalam kegalauan. Ku mainkan gitar akustikku perlahan.
“Jujur saja ku tak mampu
Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu
Kau tak di sampingku setiap waktu
Ku sadari aku cinta padamu”
“Kamu masih suka sama Alvin?” Vera menghentikan aktivitasku mengibur diri.
“Kamu Ver… ya gitu deh.”
“Udah hampir tiga tahun loh La, kamu masih belum bisa lupain dia? Kamu pernah mikir nggak, apa dia masih ingat sama kamu, apa dia pernah berpikir untuk ketemu kamu? Bukannya kamu udah lost contact sama dia?” Aku diam. Benar juga kata Vera, mungkin aku hanya menyakiti diriku sendiri dengan memikirkannya. Dan duniaku kembali berputar dengan lambat, memutar satu kenangan sebelum dia pergi.
“Setelah lulus SMA nanti, aku bakal pulang dan langsung temui kamu, jaga diri baik-baik ya..” Dia mengulurkan Poci padaku, waktu itu aku hanya menangis dan tak mengucapkan apa pun.
“Jangan nangis, aku janji akan menghubungi kamu sesampainya di sana.” Aku tersenyum, walau janji itu terabaikan dan mungkin tak akan menemui kejelasan. Apa yang terjadi denganmu?
Vera menyodorkan selembar kertas kecil berwarna biru.
“Janganlah bersedih sendirian. Luapkan kesedihanmu sayang. Ceritakan apa yang kau rasakan. Tersenyumlah pada dunia. Tunjukkan bahwa kau gadis sempurna.. Edelweis.”
“Dari siapa?” Tanyaku bingung pada Vera. Vera menggeleng. Siapa?
—
Aku kembali menikmati sendiriku dengan hanya memikirkan satu nama itu, Alvin. Mungkin dunia telah lelah melihatku memikirkannya, mungkin angin tak mau lagi mengirimkan rinduku padanya, bahkan malam pun mungkin telah enggan mendengar ceritaku. Aku masih menunggu walau hanya ditemani dingin dan hujan.
“Tatap awan itu. Mereka cerah untuk membuatmu tersenyum. Jika kau masih saja murung. Aku mau menjadi sandaranmu.. Edelweis.” Satu lagi ku temukan kertas biru terselip di buku catatanku. Sebenarnya siapa dia? Siapa Edelweis? Kenapa dia seolah tahu tentangku? Ahh kenapa hatiku selalu saja berwarna kelabu? Ku tinggalkan lorong itu dengan hati gelisah. Awan masih gelap. Di ujung lorong itu, aku melihat sosok orang yang selama ini aku rindukan, aku melihatnya, apakah ini nyata? Aku mendekat.
“Alvin!”
Aku benar-benar terkejut dan tidak percaya. Bagaimana mungkin? Dia berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. Oh, apa dia telah lupa? Benarkah dia lupa? Aku mengeluarkan boneka kecil bertuliskan ‘Poci’ dari dalam tas dan mengulurkan padanya. Seketika raut wajahnya berubah. “Lala?” Secuil kebahagiaan itu kembali dan rintik hujan sore ini menjadi saksi bisu pertemuan kita. Tapi hujan dari mata ini ikut menetes. Kau tak datang untukku. Benarkah kau telah lupa padaku dan memilih menjalani hari dengan gadis di sampingmu itu?
“Maafkan aku Lala!”
Aku berlari menantang hujan. Tak ku pedulikan lagi ia akan membasahi tubuhku. Aku kecewa. Harapanku untuk bersamamu lagi telah hancur. Penantian ini sia-sia. Aku lelah dan mimilih duduk di bangku rumah kecil pinggir danau.
“Hapuslah air matamu.. Kini ku hanya datang untukmu. Memang hidup kadang susah bikin gelisah. Genggamlah tanganku, aku akan selalu mendukungmu setiap waktu. Curahkan semua kesal, amarah, lelah. Sampai hilang semua beban itu. Seorang laki-laki menyanyikan lagu dengan gitar di tangannya. Dia mengulurkan sapu tangan dan tersenyum padaku.”
“Terima kasih.” Ku terima sapu tangan dengan bordiran di bagian bawahnya. Ku buka lipatan itu dan, “Edelweis?”
Dia hanya tersenyum.
—
“Untuk, Alvino Aditama. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya saat tanah merindukan hujan, saat malam tak ditemani bintang, dan saat udara begitu dingin. Terima kasih telah mengajariku arti menunggu. Walau kesetiaanku kau balas dengan kekecewaan. Terima kasih atas kenangan yang telah kau ukir bersamaku. Terima kasih telah menjadi pangeranku. Syabila Larasati.”


