Suatu pagi di Ciputat, cahaya
mentari menyilaukan mataku yang menuntun agar segera melakukan aktivitas. Hatiku
tak ingin beranjak, badan ini terasa kaku dan tak ada gairah lagi. Terdengar suara
yang tak terlalu jauh asalnya, “Woeiy bangun meko… kuliah kuliah kuliah”. Itu suara
kak Indri yang suka berdengung ditelingaku saat pagi hari. Ku respon suara
tersebut, “Iye kak, bangun ja sebentar. Kan kuliah jam 10-an ja”. Kembali ku pejamkan
mata sejenak sambil menghela nafas sepanjang-panjangnya.
Berangkat ke kampus tanpa mood sama
sekali. Sesekali ku lihat orang yang berjalan melaluiku, sekan aku seorang
teroris yang dicari-cari oleh intel. Ku tundukkan kepalaku dan mempercepat
langkahku. Hingga tak terasa diri ini telah berada dihadapan fakultas yang
menjadi tempatku belajar selama disini. Kakiku terhenti dan kembali berjalan
melewati fakultas itu. “Tak ada niat buat kuliah hari ini”, kataku dalam hati. Ku
berfikir dan mencoba mencari tempat ternyaman dikampus ini. Dimana tak
seorangpun mengenaliku. Ya aku menemukannya, di perpustakaan utama atau kami
para mahasiswa biasa menyebutnya PU.
Wajahku tersiram sejuknya AC dalam
perpustakaan yang seolah-olah menyuruhku merebahkan diri di sofa yang ada
dilantai dasar PU. Tanpa berlama-lama ku segerakan naik ke lantai 2, tempat
para kutu buku berada. Mulai ku telusuri rak-rak buku, kali ini tak sedikitpun
aku melirik ke rak berbau matematika. Ku ambil sebuah buku dari rak sastra yang
tak sedikitpun ku perhatikan judulnya. Ku perhatikan sekeliling dan mengambil
tempat duduk yang tak ada orang disebelahnya.
Mulai ku buka lembar demi lembar
buku ditanganku. Tapi mataku terfokus pada sesuatu. Bukan yang ada dihadapku,
bukan pula disekelilingku. Mataku terfokus pada suara panik dari ponselku yang
ku dengar dua hari yang lalu. Tepatnya pada minggu siang. Itu suara kak Fahri,
dia terdengar tergesa-gesa meminta tolong kepadaku. Setelah ku penuhi
keinginanya tersebut tak ada lagi kabar darinya. Hingga malam menjemput.
“La, malam ini adik-adik mau nginap
dikostan”, isi BBM kak Indri tak begitu mengejutkanku. Hingga saat dia datang
bersama para adik maba dan ku pandangi wajahnya satu per satu yang terlihat
begitu ketakutan dan cemas. Tak berani aku bertanya ada apa dengan mereka. Ku biarkan
mereka mengeluarkan sendiri apa alasan sehingga mereka mematenkan niat untuk
nginap dikostanku. Satu hal yang ku tangkap dari perbincangan mereka yaitu
teman-teman IKAMI SulSel melakukan tawuran bersama para preman di Situ Gintung.
Awalnya aku tak percaya akan omongan mereka. Karena aku sangat kenal dengan
teman-teman yang ikut tawuran. Mereka tidak akan melakukan hal bodoh semacam
itu jika tidak ada yang memancing emosi mereka.
Seantero Ciputat tahu bahwa orang
bugis-makassar sangat keras dan anarkis. Padahal kenyataanya, kami keturunan
bugis-makassar tidak akan melakukan hal seperti itu jika tak ada alasannya. Karena
kami memegang teguh falsafah bugis-makassar Siri’ na Pecce. Maksudnya, kami
menjunjung tinggi budaya malu. Layaknya seorang perantau yang tak akan pulang
ke kampung halaman sebelum sukses di perantauan, seperti kami semua. Namun ada
juga yang mengartikan bahwa apabila bugis-makassar dipermalukan dalam bentuk
apapun meski hanya sekedar untaian kata, tak segan mereka melakukan tindakan
anarkis, hingga berujung dengan pertaruhan nyawa. Itulah alasannya mengapa
banyak media yang membesar-besarkan aksi tawuran yang sering terjadi di
Makassar. Padahal kami bugis-makassar menganggap itu hal yang biasa dilakukan.
Kembali ke aksi tawuran IKAMI SS,
aku belum tahu pasti alasan mengapa mereka melakukannya. Dan tak seorangpun dari
mereka yang enggan buka mulut, termasuk kak Fahri. Satu per satu kabar burung
memasuki telingaku. Ada yang berkata bahwa kejadiannya berawal dari rekan kami
mahasiswa dari Kalimantan yang dikeroyok oleh para preman Gintung dan berujung
dengan baku tikam. Katanya ada satu yang meninggal dan dua orang lagi kritis di
rumah sakit. Dan ada empat dari kurang lebih tiga puluh orang yang diamankan
oleh kapolsek untuk dimintai keterangan akan kejadian tersebut, yang lainnya
masih dalam pencarian para intel.
Malam itu udara kostan sangat pengap
dan mataku tak ingin terpejam. Kekhawatiranku terhadap kak Fahri semakin
menjadi-jadi karena beberapa hari yang lalu dia datang menemuiku dan bekata
bahwa siang harinya dia mengalami pendarahan dihidung atau sering disebut
mimisan. Ku otak-atik tab yang selalu menemaniku. Ku buka BBM, FB, instagram,
path dan media sosial lainnya namun tak sedikitpun membuatku ngantuk. Aku benar-benar
insomnia malam itu. Hingga jarum jam hampir menunjukkan pukul 04:00 WIB,
seorang adik membangunkan aku dan kak Indri dan berkata bahwa salah seorang
dari mereka ada yang sakit. Badannya panas dan menggigil. Kami berdua tak bisa
berbuat apa-apa selain memberikan obat alakadarnya saat itu. Akupun hanya
berkata “Yaudah besok pagi aja yah kita ke RS UIN, ntar pake KTM kakak”. Aku dan kak Indri kembali merebahkan diri di pembaringan kami. Aku tak langsung
tertidur. Dua jam kemudian akupun tertidur meski tak nyenyak.
Siang menjelang sore, kami
mengantarkan adik itu ke RS UIN. Tak berapa lama setelah kami sampai dikostan,
kak Darwis datang. Dia membawa informasi dari kantor polisi bahwa adiknya,
Kahar telah dibebaskan namun sebagai gantinya kak Fahri harus menyerahkan diri.
Dia menyerahkan diri tepat pada malam dimana mataku tak bisa terpejam hingga
pagi menjelang. Hatiku meronta-ronta, terasa pengap dan panas. Bayangkan saja
jika orang yang selama ini ada buatmu kini harus berada didalam bui yang sumpek
dan tak ada kehidupan. Air mataku menetes meski tak banyak dan tak ada yang melihat.
Aku tak meneteskan air mata kesedihan melainkan air mata bangga terhadapnya. Meski
nama baiknya sebagai seorang ketua umum IKAMI SS cab. Ciputat saat ini
tercoreng seantero Ciputat dan sekitarnya, aku tetap bangga dan aku akan selalu
bangga.
Satu per satu teman IKAMI SS yang
tak terlibat tawuran menanyakan perihal pleno kepadaku yang rencananya diadakan
senin malam ini dan berlanjut dengan peringatan hari jadi IKAMI SS yang ke-53. Sebelumnya
aku sempat berkomunikasi dengan ketua panitia yang ikut andil dalam tawuran
tersebut. Dia hanyan bisa memohon maaf atas pleno yang diundur sampai
pemberitahuan selanjutnya. Dia juga mengatakan sebuah alasan yaitu karena ada
masalah. Berkali-kali ku memancingnya untuk buka mulut tapi dia tetap bungkam. Tiba-tiba
kak Sapril menelponku dan mengatakan “Dimanako? Baik-baik jeko?”, dengan legowo
aku membalasnya “Lagi dikostan ji. Baik-baik ja kak. Ada apa kah?”. Dia juga ikut
bungkam, hanya menjawab “Tidak ji”, kemudian menutup teleponnya. Aku hanya bisa
berpura-pura tak tahu kejadian tersebut. Dan memastikan teman-teman yang lain
bahwa para BPH dan panitia inti sedang tak ada di Ciputat. Mereka bertanya lagi
dan ku skak dengan kata tidak tahu.
Malam harinya aku dan kak Indri berniat
untuk nginap dikostan kak Ayu, tepat diatas kostan kami. Biar adik-adik lebih
leluasa dikostan kami. Semua info dan kabar burung ditumpahkan oleh kak Ayu. Menurut
kabar yang beredar bahwa para korban mengalami luka tusuk didadanya yang tembus
hingga ke belakang. Kak Ayu menceritakan kronologi kejadiannya secara runtut seperti ini.
Malam
minggu sebelumnya mahasiswa Kalimantan berkumpul di danau Situ Gintung. Kemudian
salah satu dari mereka bercanda berkata melihat hantu lalu yang lain teriak dan
lari terbirit-birit. Hingga para preman menghadang mereka dan dikeroyok sampai
babak belur. Tak satupun dari mereka yang melaporkan kejadian ini ke kantor
polisi atau ke senior mereka. Beberapa hari kemudian sampailah berita ini ke
salah seorang anggota IKAMI SS yang berasal dari Palu. Kemudian sampai ke telinga
kak Fahri. Tak tega melihat temannya dikeroyok seperti itu, mereka ikut andil
ingin segera melapor ke polisi ataupun memusyawarahkannya baik-baik dengan para
preman tersebut.
Malam
minggu berikutnya, sekitar 30 orang dari mereka datang ke danau Situ Gintung
diantaranya ada anak Kalimantan juga Ambon. Sambil berjalan dipinggiran danau. Seorang
dari mereka dikatai gondrong oleh preman. Awalnya tak ia hiraukan tapi preman
itu memancing kemarahannya dan hilang kesabaran. Seorang temannya ikut
memprovokasi untuk segera memberi pelajaran terhadap preman tersebut. Anak Kalimantan
yang ikut bersamanya mengatakan dalam hati bahwa preman yang mengkroyok dia
bukan yang itu. Namun apa boleh buat, kemarahan mereka tak mampu dibendung. Sekali
tonjok, dua kali dan berujung dengan tawuran hingga penusukan dengan benda
tajam.
Dengan
cerdiknya preman itu melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi. Empat orang
diamankan dengan bantuan anak Ambon yang memihak polisi .Hingga para intel
menggrebek sekretariat IKAMI SS untuk mencari kak Fahri dan kawan-kawan. Namun tak
ada hasil. Satu per satu warga setempat ditanyai keberadaan mereka namun tak
ada yang mengetahui.
Begitulah kronologi yang saat ini
diketahui oleh teman-teman semua. Pihak kampus YAN juga akan mengambil
keputusan, akan memulangkan semua mahasiswa Sulawesi dan Ambon. Ada hal yang
paling membuat hatiku tercabik-cabik ketika kak Ayu mengatakan bahwa setelah
menyerahkan diri, kak Fahri disiksa dan dimaki oleh para polisi. Kukunya dicabut
dan mimisan terjadi lagi pada dirinya. Ah, tangisku tak dapat terbendung lagi. Dihadapan
kak Indri dan kak Ayu air mata itu tumpah dengan derasnya. Hatiku berkata,
sampai kapan dia berada disana? Apakah seperti ini resikonya menjadi seorang
ketua? Harus menanggung perbuatan para anggotanya yang sekarang bersembunyi dan
kabur entah kemana.
Aku menulis ini dengan hati, Kawan.
Bisakah kamu membaca dan merenungkannya dengan hati juga? Bisakah kamu
bayangkan menjadi diriku, Kawan? Saat orang yang kamu sayangi sangat terpuruk
disela-sela sakitnya. Nama baiknya tercoreng. Begitu juga nama baikmu, Kawan. Juga
nama baik organisasi yang telah membesarkanmu di tanah rantau. Apakah ada yang
bisa kamu lakukan, Kawan? Saat orang terkasih sangat membutuhkan kehadiranmu. Namun,
jeruji itu menghalangimu. Seakan memisahkan duniamu. Pastinya hatimu sangat
sakit, Kawan! Lututmu tak mampu menopang tubuhmu. Tak ada lagi tempat
mencurahkan keluh kesahmu di tanah rantau secara langsung. Tak ada tempat menyenderkan
kepalamu saat dunia begitu terasa memuakkan. Tak ada lagi senyumnya yang mampu
menghilangkan gundahmu saat kau merasa rindu keluarga yang jauh disana. Ya,
mungkin hanya do’a dan semangat yang bisa kamu berikan.
PING! PING! PING! BBM ku berbunyi,
ternyata itu dari kak Sani. Dia berkata bahwa sudah berada di kostan kak Ayu. Sejak
kemarin dia penasaran akan apa yang terjadi. Tak ingin ku bicarakan melalui
telepon makanya ku suruh dia datang kesana. Ku tutup buku yang dari tadi tak ku
baca. Lalu pergi menuju kostan. Tak lama beristirahat dikostan kak Ayu
tiba-tiba kak Indri memanggil dari bawah. “Ayu, oh Ayu. Ayo pergi jengukki
Fahri”. Aku yang mendengarnya spontan turun ke kostku sendiri. Kak Indri
berkata “Barupi mauka BBM ko tapi ku cari namamu tidak ada, jadi tidak jadimi. Eh,
ternyata datang sendiri jeko pale”. Aku hanya tersipu malu mendengar perkataan
kak Indri. Ah rasanya dag dig dug melihatnya lagi. Tak dapat aku bayangkan
bagaimana raut wajahnya ketika pertama bertemu dalam bui.
Kantor polisi itu hanya berjarak 500
meter dari kostanku. Setibanya disana aku, kak Indri, kak Ayu, kak Sani juga
beberapa teman yang lain melihat seorang senior sedang berada dilantai dua. Kami
naik dan dia mengatakan bahwa kak Fahri sedang berada di dalam ruangan sambil menunjuk ruangan tepat dihadapannya. Dari atas kami bisa melihat tahanan yang lain karena atapnya hanya tebuat dari
jaring-jaring. Tak berapa lama kak Fahri mengintip dari balik gorden. Dia melihatku
tapi aku tak melihatnya. Beberapa kali dia melakukan itu, hingga aku melihatnya
sedang tersenyum kepadaku.
Kami diizinkan masuk kedalam ruangan
tersebut dan sungguh mengejutkan. Semua opini yang ku ketahui sangat berbanding
terbalik dengan kenyataan yang saat ini ku lihat. Ku perhatikan kak Fahri dari
atas sampai bawah yang memakai kaos putih dan celana pendek abu-abu. Tak satupun
anggota badannya terlihat cedera. Hanya saja dia tak memakai alas kaki. Ku lihat
pak kapolda tak seperti gangster malahan lebih lucu terlihat dari caranya berbicara. Sambil
berkata kepada kami untuk terus berdo’a akan kesembuhan korban yang ternyata
satpam UIN. Berkali-kali pak kapolda membullyku yang berujung senyum merekah
dari kami yang ada didalam ruangan tersebut.
Waktu besuk sudah berakhir, kami
mohon izin untuk pulang. Aku dan kak Fahri berjabat sedikit agak lama dan
saling memandang memberi isyarat. Bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Aku sempat menyimpulkan kejadian ini,
bahwa "tak semua yang kau anggap teman adalah teman yang sebenarnya. Kadang disaat
susah barulah terlihat jelas siapa teman yang sebenarnya dan siapa yang hanya
mampu berkata bahwa dia adalah temanmu". Aku teringat perkataan pak kapolda
bahwa kak Fahri tidak bersalah, hanya saja sebagai ketua dia harus bertanggung
jawab atas kejadian tersebut. Karena ada dua macam orang yang berada dibalik
bui yaitu, pertama karena murni kesalahannya dan kedua karena pertanggung
jawaban atas kesalahan yang tidak dia lakukan.
Buat pak preman, get well soon yah… semoga
cepat sembuh dan mudah memaafkan. Aamiin yaa Raab.
No comments:
Post a Comment