Tuesday, 30 September 2014

G27S/IKAMI Ciputat


            Suatu pagi di Ciputat, cahaya mentari menyilaukan mataku yang menuntun agar segera melakukan aktivitas. Hatiku tak ingin beranjak, badan ini terasa kaku dan tak ada gairah lagi. Terdengar suara yang tak terlalu jauh asalnya, “Woeiy bangun meko… kuliah kuliah kuliah”. Itu suara kak Indri yang suka berdengung ditelingaku saat pagi hari. Ku respon suara tersebut, “Iye kak, bangun ja sebentar. Kan kuliah jam 10-an ja”. Kembali ku pejamkan mata sejenak sambil menghela nafas sepanjang-panjangnya.
            Berangkat ke kampus tanpa mood sama sekali. Sesekali ku lihat orang yang berjalan melaluiku, sekan aku seorang teroris yang dicari-cari oleh intel. Ku tundukkan kepalaku dan mempercepat langkahku. Hingga tak terasa diri ini telah berada dihadapan fakultas yang menjadi tempatku belajar selama disini. Kakiku terhenti dan kembali berjalan melewati fakultas itu. “Tak ada niat buat kuliah hari ini”, kataku dalam hati. Ku berfikir dan mencoba mencari tempat ternyaman dikampus ini. Dimana tak seorangpun mengenaliku. Ya aku menemukannya, di perpustakaan utama atau kami para mahasiswa biasa menyebutnya PU.
            Wajahku tersiram sejuknya AC dalam perpustakaan yang seolah-olah menyuruhku merebahkan diri di sofa yang ada dilantai dasar PU. Tanpa berlama-lama ku segerakan naik ke lantai 2, tempat para kutu buku berada. Mulai ku telusuri rak-rak buku, kali ini tak sedikitpun aku melirik ke rak berbau matematika. Ku ambil sebuah buku dari rak sastra yang tak sedikitpun ku perhatikan judulnya. Ku perhatikan sekeliling dan mengambil tempat duduk yang tak ada orang disebelahnya.
            Mulai ku buka lembar demi lembar buku ditanganku. Tapi mataku terfokus pada sesuatu. Bukan yang ada dihadapku, bukan pula disekelilingku. Mataku terfokus pada suara panik dari ponselku yang ku dengar dua hari yang lalu. Tepatnya pada minggu siang. Itu suara kak Fahri, dia terdengar tergesa-gesa meminta tolong kepadaku. Setelah  ku penuhi  keinginanya tersebut tak ada lagi kabar darinya. Hingga malam menjemput.
            “La, malam ini adik-adik mau nginap dikostan”, isi BBM kak Indri tak begitu mengejutkanku. Hingga saat dia datang bersama para adik maba dan ku pandangi wajahnya satu per satu yang terlihat begitu ketakutan dan cemas. Tak berani aku bertanya ada apa dengan mereka. Ku biarkan mereka mengeluarkan sendiri apa alasan sehingga mereka mematenkan niat untuk nginap dikostanku. Satu hal yang ku tangkap dari perbincangan mereka yaitu teman-teman IKAMI SulSel melakukan tawuran bersama para preman di Situ Gintung. Awalnya aku tak percaya akan omongan mereka. Karena aku sangat kenal dengan teman-teman yang ikut tawuran. Mereka tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu jika tidak ada yang memancing emosi mereka.
            Seantero Ciputat tahu bahwa orang bugis-makassar sangat keras dan anarkis. Padahal kenyataanya, kami keturunan bugis-makassar tidak akan melakukan hal seperti itu jika tak ada alasannya. Karena kami memegang teguh falsafah bugis-makassar Siri’ na Pecce. Maksudnya, kami menjunjung tinggi budaya malu. Layaknya seorang perantau yang tak akan pulang ke kampung halaman sebelum sukses di perantauan, seperti kami semua. Namun ada juga yang mengartikan bahwa apabila bugis-makassar dipermalukan dalam bentuk apapun meski hanya sekedar untaian kata, tak segan mereka melakukan tindakan anarkis, hingga berujung dengan pertaruhan nyawa. Itulah alasannya mengapa banyak media yang membesar-besarkan aksi tawuran yang sering terjadi di Makassar. Padahal kami bugis-makassar menganggap itu hal yang biasa dilakukan.
            Kembali ke aksi tawuran IKAMI SS, aku belum tahu pasti alasan mengapa mereka melakukannya. Dan tak seorangpun dari mereka yang enggan buka mulut, termasuk kak Fahri. Satu per satu kabar burung memasuki telingaku. Ada yang berkata bahwa kejadiannya berawal dari rekan kami mahasiswa dari Kalimantan yang dikeroyok oleh para preman Gintung dan berujung dengan baku tikam. Katanya ada satu yang meninggal dan dua orang lagi kritis di rumah sakit. Dan ada empat dari kurang lebih tiga puluh orang yang diamankan oleh kapolsek untuk dimintai keterangan akan kejadian tersebut, yang lainnya masih dalam pencarian para intel.
            Malam itu udara kostan sangat pengap dan mataku tak ingin terpejam. Kekhawatiranku terhadap kak Fahri semakin menjadi-jadi karena beberapa hari yang lalu dia datang menemuiku dan bekata bahwa siang harinya dia mengalami pendarahan dihidung atau sering disebut mimisan. Ku otak-atik tab yang selalu menemaniku. Ku buka BBM, FB, instagram, path dan media sosial lainnya namun tak sedikitpun membuatku ngantuk. Aku benar-benar insomnia malam itu. Hingga jarum jam hampir menunjukkan pukul 04:00 WIB, seorang adik membangunkan aku dan kak Indri dan berkata bahwa salah seorang dari mereka ada yang sakit. Badannya panas dan menggigil. Kami berdua tak bisa berbuat apa-apa selain memberikan obat alakadarnya saat itu. Akupun hanya berkata “Yaudah besok pagi aja yah kita ke RS UIN, ntar pake KTM kakak”. Aku dan kak Indri kembali merebahkan diri di pembaringan kami. Aku tak langsung tertidur. Dua jam kemudian akupun tertidur meski tak nyenyak.
            Siang menjelang sore, kami mengantarkan adik itu ke RS UIN. Tak berapa lama setelah kami sampai dikostan, kak Darwis datang. Dia membawa informasi dari kantor polisi bahwa adiknya, Kahar telah dibebaskan namun sebagai gantinya kak Fahri harus menyerahkan diri. Dia menyerahkan diri tepat pada malam dimana mataku tak bisa terpejam hingga pagi menjelang. Hatiku meronta-ronta, terasa pengap dan panas. Bayangkan saja jika orang yang selama ini ada buatmu kini harus berada didalam bui yang sumpek dan tak ada kehidupan. Air mataku menetes meski tak banyak dan tak ada yang melihat. Aku tak meneteskan air mata kesedihan melainkan air mata bangga terhadapnya. Meski nama baiknya sebagai seorang ketua umum IKAMI SS cab. Ciputat saat ini tercoreng seantero Ciputat dan sekitarnya, aku tetap bangga dan aku akan selalu bangga.
            Satu per satu teman IKAMI SS yang tak terlibat tawuran menanyakan perihal pleno kepadaku yang rencananya diadakan senin malam ini dan berlanjut dengan peringatan hari jadi IKAMI SS yang ke-53. Sebelumnya aku sempat berkomunikasi dengan ketua panitia yang ikut andil dalam tawuran tersebut. Dia hanyan bisa memohon maaf atas pleno yang diundur sampai pemberitahuan selanjutnya. Dia juga mengatakan sebuah alasan yaitu karena ada masalah. Berkali-kali ku memancingnya untuk buka mulut tapi dia tetap bungkam. Tiba-tiba kak Sapril menelponku dan mengatakan “Dimanako? Baik-baik jeko?”, dengan legowo aku membalasnya “Lagi dikostan ji. Baik-baik ja kak. Ada apa kah?”. Dia juga ikut bungkam, hanya menjawab “Tidak ji”, kemudian menutup teleponnya. Aku hanya bisa berpura-pura tak tahu kejadian tersebut. Dan memastikan teman-teman yang lain bahwa para BPH dan panitia inti sedang tak ada di Ciputat. Mereka bertanya lagi dan ku skak dengan kata tidak tahu.
            Malam harinya aku dan kak Indri berniat untuk nginap dikostan kak Ayu, tepat diatas kostan kami. Biar adik-adik lebih leluasa dikostan kami. Semua info dan kabar burung ditumpahkan oleh kak Ayu. Menurut kabar yang beredar bahwa para korban mengalami luka tusuk didadanya yang tembus hingga ke belakang. Kak Ayu menceritakan kronologi kejadiannya secara runtut seperti ini.
            Malam minggu sebelumnya mahasiswa Kalimantan berkumpul di danau Situ Gintung. Kemudian salah satu dari mereka bercanda berkata melihat hantu lalu yang lain teriak dan lari terbirit-birit. Hingga para preman menghadang mereka dan dikeroyok sampai babak belur. Tak satupun dari mereka yang melaporkan kejadian ini ke kantor polisi atau ke senior mereka. Beberapa hari kemudian sampailah berita ini ke salah seorang anggota IKAMI SS yang berasal dari Palu. Kemudian sampai ke telinga kak Fahri. Tak tega melihat temannya dikeroyok seperti itu, mereka ikut andil ingin segera melapor ke polisi ataupun memusyawarahkannya baik-baik dengan para preman tersebut.
            Malam minggu berikutnya, sekitar 30 orang dari mereka datang ke danau Situ Gintung diantaranya ada anak Kalimantan juga Ambon. Sambil berjalan dipinggiran danau. Seorang dari mereka dikatai gondrong oleh preman. Awalnya tak ia hiraukan tapi preman itu memancing kemarahannya dan hilang kesabaran. Seorang temannya ikut memprovokasi untuk segera memberi pelajaran terhadap preman tersebut. Anak Kalimantan yang ikut bersamanya mengatakan dalam hati bahwa preman yang mengkroyok dia bukan yang itu. Namun apa boleh buat, kemarahan mereka tak mampu dibendung. Sekali tonjok, dua kali dan berujung dengan tawuran hingga penusukan dengan benda tajam.
            Dengan cerdiknya preman itu melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi. Empat orang diamankan dengan bantuan anak Ambon yang memihak polisi .Hingga para intel menggrebek sekretariat IKAMI SS untuk mencari kak Fahri dan kawan-kawan. Namun tak ada hasil. Satu per satu warga setempat ditanyai keberadaan mereka namun tak ada yang mengetahui.
            Begitulah kronologi yang saat ini diketahui oleh teman-teman semua. Pihak kampus YAN juga akan mengambil keputusan, akan memulangkan semua mahasiswa Sulawesi dan Ambon. Ada hal yang paling membuat hatiku tercabik-cabik ketika kak Ayu mengatakan bahwa setelah menyerahkan diri, kak Fahri disiksa dan dimaki oleh para polisi. Kukunya dicabut dan mimisan terjadi lagi pada dirinya. Ah, tangisku tak dapat terbendung lagi. Dihadapan kak Indri dan kak Ayu air mata itu tumpah dengan derasnya. Hatiku berkata, sampai kapan dia berada disana? Apakah seperti ini resikonya menjadi seorang ketua? Harus menanggung perbuatan para anggotanya yang sekarang bersembunyi dan kabur entah kemana.
            Aku menulis ini dengan hati, Kawan. Bisakah kamu membaca dan merenungkannya dengan hati juga? Bisakah kamu bayangkan menjadi diriku, Kawan? Saat orang yang kamu sayangi sangat terpuruk disela-sela sakitnya. Nama baiknya tercoreng. Begitu juga nama baikmu, Kawan. Juga nama baik organisasi yang telah membesarkanmu di tanah rantau. Apakah ada yang bisa kamu lakukan, Kawan? Saat orang terkasih sangat membutuhkan kehadiranmu. Namun, jeruji itu menghalangimu. Seakan memisahkan duniamu. Pastinya hatimu sangat sakit, Kawan! Lututmu tak mampu menopang tubuhmu. Tak ada lagi tempat mencurahkan keluh kesahmu di tanah rantau secara langsung. Tak ada tempat menyenderkan kepalamu saat dunia begitu terasa memuakkan. Tak ada lagi senyumnya yang mampu menghilangkan gundahmu saat kau merasa rindu keluarga yang jauh disana. Ya, mungkin hanya do’a dan semangat yang bisa kamu berikan.
            PING! PING! PING! BBM ku berbunyi, ternyata itu dari kak Sani. Dia berkata bahwa sudah berada di kostan kak Ayu. Sejak kemarin dia penasaran akan apa yang terjadi. Tak ingin ku bicarakan melalui telepon makanya ku suruh dia datang kesana. Ku tutup buku yang dari tadi tak ku baca. Lalu pergi menuju kostan. Tak lama beristirahat dikostan kak Ayu tiba-tiba kak Indri memanggil dari bawah. “Ayu, oh Ayu. Ayo pergi jengukki Fahri”. Aku yang mendengarnya spontan turun ke kostku sendiri. Kak Indri berkata “Barupi mauka BBM ko tapi ku cari namamu tidak ada, jadi tidak jadimi. Eh, ternyata datang sendiri jeko pale”. Aku hanya tersipu malu mendengar perkataan kak Indri. Ah rasanya dag dig dug melihatnya lagi. Tak dapat aku bayangkan bagaimana raut wajahnya ketika pertama bertemu dalam bui.
            Kantor polisi itu hanya berjarak 500 meter dari kostanku. Setibanya disana aku, kak Indri, kak Ayu, kak Sani juga beberapa teman yang lain melihat seorang senior sedang berada dilantai dua. Kami naik dan dia mengatakan bahwa kak Fahri sedang berada di dalam ruangan sambil menunjuk ruangan tepat dihadapannya. Dari atas kami bisa melihat tahanan yang lain karena atapnya hanya tebuat dari jaring-jaring. Tak berapa lama kak Fahri mengintip dari balik gorden. Dia melihatku tapi aku tak melihatnya. Beberapa kali dia melakukan itu, hingga aku melihatnya sedang tersenyum kepadaku.
            Kami diizinkan masuk kedalam ruangan tersebut dan sungguh mengejutkan. Semua opini yang ku ketahui sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang saat ini ku lihat. Ku perhatikan kak Fahri dari atas sampai bawah yang memakai kaos putih dan celana pendek abu-abu. Tak satupun anggota badannya terlihat cedera. Hanya saja dia tak memakai alas kaki. Ku lihat pak kapolda tak seperti gangster malahan lebih lucu terlihat dari caranya berbicara. Sambil berkata kepada kami untuk terus berdo’a akan kesembuhan korban yang ternyata satpam UIN. Berkali-kali pak kapolda membullyku yang berujung senyum merekah dari kami yang ada didalam ruangan tersebut.           
            Waktu besuk sudah berakhir, kami mohon izin untuk pulang. Aku dan kak Fahri berjabat sedikit agak lama dan saling memandang memberi isyarat. Bahwa semua pasti ada hikmahnya.
            Aku sempat menyimpulkan kejadian ini, bahwa "tak semua yang kau anggap teman adalah teman yang sebenarnya. Kadang disaat susah barulah terlihat jelas siapa teman yang sebenarnya dan siapa yang hanya mampu berkata bahwa dia adalah temanmu". Aku teringat perkataan pak kapolda bahwa kak Fahri tidak bersalah, hanya saja sebagai ketua dia harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Karena ada dua macam orang yang berada dibalik bui yaitu, pertama karena murni kesalahannya dan kedua karena pertanggung jawaban atas kesalahan yang tidak dia lakukan.

            Buat pak preman, get well soon yah… semoga cepat sembuh dan mudah memaafkan. Aamiin yaa Raab.