Tuesday, 3 June 2014

Puncak, Bogor yang Pindah

            Hari ini sabtu, 31 Mei 2014 pagi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya, mentari tetap terbit di ufuk timur dan berjalan membangunkan manusia, juga merupakan hari terakhir dibulan mei yang tidak begitu spesial. Pasalnya dihari libur kuliah seperti ini aku diharuskan mengikuti kegiatan Studium Lecture di Auditorium utama. Belum sempat mengeluh, hatiku seakan mengisyaratkan untuk segera bergegas menuju kamar mandi asrama. Setelah mengakhiri kegiatanku di hadapan kaca yaitu dengan mengenakan jas almamater kampus kebanggaanku berwarna biru dongker, tanpa berfikir panjang aku keluar dari kamar dan menuju kamar kak Sasan di gedung 3B. Ku dapati dia masih tertidur namun tidak pulas.
Ku bangunkan lalu bertanya, “kak mau pergi kuliah umum nggak?”
Dengan mata yang belum lepas dari alam mimpi dia merespon, “emang sekarang udah jam berapa sih?”
Spontan aku menjawab “ya Allah ini udah jam 8 kak, mandi aja dulu ntar aku tungguin deh”.
            Aku dan kak Sasan juga teman-teman yang lain sudah berada di dalam audit, hampir sejam lamanya kami berada dalam ruangan ber-AC itu namun acaranya belum dimulai juga. Suntuk mulai terasa hingga kak Sasan memulai percakapan singkat lewat BBM bersama kak Aw hingga aku terlibat secara tidak langsung didalamnya. Tidak lama kemudian handphone di saku jasku berdering dan ternyata panggilan dari kak Aw. Ku angkat dan mulai menanyakan perihal tujuan dia menelponku yang masih berhubungan dengan BBM-annya bersama kak Sasan. Kak Aw tidak berbasa-basi dia hanya mengamanahkan kepadaku untuk memberitahu kak Husain perihal waktu keberangkatannya hari ini ke Puncak, Bogor untuk menghadiri acara liburan teman-teman IKAMI SS cab. Jakarta. Ku cari nomor kontak kak Husain di handphoneku lalu menghubunginya. Sempat kami mengobrol santai menanyakan lokasi keberadaan masing-masing sebelum aku masuk dalam pembahasan yang sebenarnya.
Kemudian aku bertanya, “kak Aw pesan katanya ntar kakak mau berangkat jam berapa ke Puncak? Dia mau bareng katanya.”
Kak Husain menjawab dengan suara tak berirama, “sekitar jam 2 siang lah.”
Aku penasaran dan kembali bertanya, “trus ntar kakak perginya bareng siapa?”
Dia pun menjawab, “ntar aja diliat kalo ada yang mau nemenin.”
“oh gitu” jawabku singkat.
Tiba-tiba dia berkata “yaudah kalo kamu mau, kita perginya bareng aja.”
Dengan nada bahagia aku menyudahi percakapan dan berkata “oke kak, ntar aku kabarin lagi yah.”
            Di sela-sela studium lecture yang cukup membosankan buatku, rayuan demi rayuan ku lontarkan kepada kak Sasan yang sedari tadi tak berniat untuk ikut ke Pucak dengan alasan ingin ke Senayan ataupun ke Kota Tua. Aku yakin sebenarnya, dia tidak sepenuhnya ingin ke Senayan ataupun ke Kota Tua karena terlihat dari air mukanya yang menahan rindu terhadap kakak Aw (ciee… cie… cie…). Usai studium lecture, dalam perjalanan pulang ke asrama kak Aw menghubungiku untuk memberi kabar bahwa dia sudah sampai di Ciputat setelah perjalanan beberapa menit dari Kalibata.
Kemudian dia bertanya, “emang kak Sasan mau pergi atau nggak La? Kalo dia nggak ikut kakak juga nggak usah pergi deh, soalnya nggak ada temen.”
Karena panik maka tanpa berfikir panjang aku menjawab dengan terburu-buru, “ikut dong kak, pastilah. Masa sih kak Sasan nggak mau ikut, dia kan kangen sama kakak.”
             Sesampainya di asrama aku dan kak Sasan sempat bersantai sejenak di kamar kak Sasan kemudian mengisi kampung tengah yang sedari pagi belum diisi. Selepas merileksasikan jasmani beberapa menit aku kembali ke kamar. Belum sempat 5 menit merasakan oksigen  kamarku tercinta, handphoneku lagi-lagi berdering dan ternyata kak Aw. Dia hanya menginformasikan bahwa dia sudah berada didepan asrama. Setelah mengetahui bahwa kak Aw sudah menunggu kami, aku jadi bingung mau melakukan apa terlebih dahulu. Memilah-milah baju atau packing ataupun bersih-bersih badan atau juga menghubungi kak Husain. Entah hal apa yang paling utama ku kerjakan hingga akhirnya kami berkumpul didepan asrama dan saling bertanya dimana tempat yang akan kami datangi. Informasi yang didapatkan oleh kak Aw bahwa lokasinya di Vila Bahagia, Puncak-Bogor. Namun, daerah Puncak sangatlah luas kami tidak tahu pasti lokasi yang diinformasikan tersebut. Sambil menunggu info selanjutnya satu per satu dari mereka kami hubungi akan tetapi semua nomor yang memiliki operator sama, tak ada yang aktif. Hingga info terakhir yang didapat oleh kak Aw entah dari siapa memberitahu bahwa lokasinya di Vila Bumi Luhur, Ciapus. Kami pun berangkat dengan kendaraan pribadi beroda dua milik kak Aw dan kak Husain untuk menuju Puncak sekitar jam 3 sore.
Dalam hati aku bertanya-tanya, “serius nih kak Husain mau pake motor dia ke Puncak? Bukannya belakangan ini motornya sering sakit-sakitan? Dipake ke tempat yang deket aja kadang bannya bocor, gimana kalo dipake ke Puncak? Tapi tetep positif thinking aja deh, barangkali motornya sudah bisa dipake berjalan jauh.”
***
            Di sela-sela perjalanan, kak Husain selalu merasa risih akan alas kaki yang ku pakai. Dia menganggap bahwa bukan waktunya untuk memakai high heels. Sebenarnya aku juga tak ingin memakai high heels, akan tetapi sepatu yang sedari pagi aku cari tidak ada dalam susunan rak sepatu asrama. Hingga pada saat aku keluar dari asrama, sepatu yang ku cari-cari itu ternyata ada di depan pintu masuk, sepertinya ada yang telah memakainya.
            Memasuki kota Bogor, kami kehilangan jejak kak Aw dan kak Sasan. Mereka menunggu kami di perbatasan Depok-Bogor padahal kami telah jauh memasuki kota Bogor hingga kami yang harus menunggu mereka. Setelah bertemu kembali, kami berempat melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hingga memaksa kami untuk berteduh di teras sebuah bank sampai hujan tidak begitu reda sepenuhnya namun kami bisa melanjutkan perjalanan. Maghrib pun menghampiri, lapar mulai terasa di tengah cuaca yang lumayan dingin setelah disembur oleh derasnya hujan. Kami akhirnya singgah di sebuah warung makan sambil menanyakan lokasi yang akan kami tuju. Hal yang membuat kami seolah-olah semuanya absurd ketika beberapa orang yang kami tanya memerintahkan untuk putar haluan sekitar 5-6 km. Lelah telah tampak diwajah kami masing-masing namun apa boleh buat kak Aw dan kak Husain kembali menancapkan gas.
            Tiba di perepatan yang cukup padat dan macet kami mengambil arah ke kiri. Setelah berjalan sekitar 4-5 km, kami baru sadar ternyata jalan yang kami lalui adalah arah ke Sukabumi. Kak Aw dan kak Husain kembali memutar haluan di tengah-tengah kemacetan yang disebabkan oleh adanya perbaikan jalan dan tak jarang kami temui aspal yang berlubang seakan menambah kekhawatiranku akan motor yang aku dan kak Husain kendarai. Kembali ke perepatan sebelumnya, kami tak mau ambil resiko lalu menanyakan lokasi yang akan kami tuju.
            Setelah yakin dengan arah jalan yang kami pilih, barulah roda-roda motor yang kami kendarai mulai berputar lagi. Terlihat tangan kak Husain dan kak Aw tampak memerah akibat menyetir terlalu lama. Sesekali aku memijat pundak kak Husain yang sepertinya sangat lelah karena badanku juga merasakan hal yang sama, begitu juga dengan kak Sasan yang memijat pundak kak Aw di tengah perjalanan menuju Ciapus. Udara malam yang semakin menusuk masuk ke paru-paru membuat mataku tak tahan lagi menahan rasa kantuk dan kepalaku pun mulai terasa berat menahan beratnya helm yang ku kenakan. Mulai ku sandarkan kepalaku dipundak kak Husain hingga dia mengajakku berbasa-basi dengan berkata, “ini mah namanya bukan Puncak tapi arah menuju ke Gunung Salak, tempat pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) jatuh” dan akhirnya berujung dengan tawa lepas dariku yang membuat kantukku hilang.
            Tibalah kami di sebuah perepatan yang bernama Pertigaan Taman Sari, menurut petunjuk yang diterima kak Aw dari seorang teman, kami harus belok kiri namun menurut warga sekitar kami harus belok kanan. Akhirnya kami belok kanan, dengan jalanan yang terjal dan rusak tak banyak rumah yang kami temui ditambah dengan tak adanya lampu jalan yang menerangi perjalanan kami membuat suasana sangat berbau mistis. Beberapa orang yang kami temui di setiap sudut jalan tak mengetahui Vila Bumi Asih dan hanya beropini agar jalan terus. Hingga kami sampai di pertigaan dan tak tahu harus jalan ke arah mana, maka kami bertanya. Lagi-lagi tak ada yang mengetahui dan seakan memaksa kami kembali ke Pertigaan Taman Sari yang jaraknya sekitar 3 km. Lelah yang bertubi-tubi seakan berbisik kepada kami untuk menyerah dan mencari tempat penginapan terdekat karena sudah tak ada pilihan lain ditambah hanya handphone kak Sasan yang masih aktif untuk menghubungi mereka, lagi-lagi tidak aktif dan tak diangkat. Namun kami masih punya secuil semangat untuk menemui mereka maka dari itu kami mengambil arah berlawanan dari arah kami sebelumnya.
            Tampak sangat berbeda, kali ini kami banyak menemui rumah penduduk dan bertemu dengan sekumpulan bapak yang sedang asyik bermain kartu disebuah pos ronda. Kami menanyakan hal sama dengan pertanyaan sebelumnya dengan orang-orang yang berbeda tetapi kami harus kecewa untuk sekian kalinya. Salah satu dari mereka berkata bahwa jalan yang kami tempuh sebelumnya sudah benar menurut analoginya. Kami akhirnya meminta izin untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi daya handphone kak Aw yang lowbath. Usaha demi usaha dilakukan untuk dapat menghubungi salah satu dari mereka yang ada di vila tersebut. Sekitar 1800 second kami mendapat info terbaru yang mengatakan bahwa kami kembali ke jalan sebelumnya dan mengambil arah kanan.
            Lelah yang kami rasakan seakan hilang dan tanpa tunggu lama kami pamit kepada bapak-bapak yang masih tetap asyik memainkan kartu joker mereka. Sekitar 5-6 km kami menempuh perjalanan dan sampai di pertigaan yang tadinya membuat kami bingung. Koneksi jaringan kak Aw  mampu terhubung dengan salah seorang teman yang ada disana. Dia hanya mengintruksikan untuk jalan mengikuti arah Curug Luhur yang jauhnya sekitar 4 km. Kami melanjutkan perjalanan dan berharap dapat bertemu mereka meski malam sudah sangat pekat. Kami memasuki sebuah perkampungan yang sangat sunyi dan melewati sebuah wisma yang bertuliskan Wisma Bumi Luhur Wisata dibalut dengan cat berwarna merah dan background berwarna putih dengan tumbuhan liar yang hampir menutupi tulisan itu. Kak Husain sempat menerawang wisma tersebut yang tampak angker dan gelap dan membayangkan apa yang terjadi jika ia berada disana.
            Tak terasa kami telah berjalan sejauh 6-7 km hingga berhenti disebuah pangkalan ojek dan bertanya hal serupa dengan pertanyaan sebelumnya. Untuk kesekian kalinya kami harus mengantongi kekecewaan karena tak ada yang tahu lokasi tersebut. Tak berhenti sampai disitu bapak tukang ojek tersebut mengajak kami ke tempat yang sering dijadikan penginapan buat para wisatawan barangkali disana ada vila bernama Bumi Asih. Kami putar haluan lagi sejauh 2-3 km dan jawaban dari penduduk yang kami temui sangat realistis. Mereka mengatakan tak ada Vila Bumi Asih sekitar sini. Lelah dan kecewa menggerogoti badan dan hati kami hingga akhirnya harus memutuskan untuk mencari penginapan. Bukan karena putus asa, namun karena waktu yang sudah sangat larut mengharuskan kami beristirahat. Dengan senang hati bapak tukang ojek tersebut mengantarkan kami menuju penginapan yang aku dan kak Husain bicarakan sebelumnya. Rasanya sangat konyol hingga kami tersenyum seakan digelitik oleh angin selamat datang wisma tersebut.
            Ingin rasanya langsung membaringkan badan tapi salah satu kamar wisma yang kami pesan lampunya tak berfungsi hingga kami harus menunggu petugas wisma membenarkan dan menggantinya dengan yang baru. Terlihat kak Husain yang sangat penasaran akan keramaian yang tertutupi oleh sebuah mobil pribadi. Dan dia mulai mengintip dari balik mobil, menyerap setiap perkataan orang-orang yang ada disana ternyata bahasanya khas sama seperti kami. Semakin penasaran, dia pun mendekat tapi tidak terlalu dekat dan akhirnya dia menyimpulkan bahwa merekalah yang kami cari. Dia bergegas menghampiri kami dan pastinya kami sangat shock mendengar perkataan kak Husain. Sungguh sangat luar biasa skenario yang dibuat Allah untuk kami. Meski kami seolah-olah diombang-ambing oleh informasi yang berlainan sumber tapi usaha mencari mereka terbayar dengan bertemu secara tidak sengaja dan itu membuat kami semakin mengagungkan Sang Maha Pencipta.
***
            Pagi hari dibulan baru, udara pegunungan yang cukup sejuk mampu membuat badanku menjadi rileks sambil menonton televisi dikamar seakan menghilangkan kepenatan dan masalah yang ada. Tiba-tiba kak Husain memanggil kami untuk ikut berkumpul bersama teman-teman yang lain karena semalam belum sempat bersua akibat kelelahan. Ada diantara mereka yang memang sudah ku kenali sebelumnya namun ada juga yang wajahnya masih asing. Hingga mataku tertuju pada seorang gadis yang sepertinya telah lama ku kenali tapi sayang aku hanya mampu melihatnya dari belakang. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi dan kudengar seseorang memanggilnya dengan nama Lilis. Mulai ku flashback ingatanku dan ternyata dia adalah teman kelasku sewaktu duduk di salah satu sekolah menengah islam favorit di daerahku hingga saat ini.
            Ada keraguan untuk menghampirinya tapi feelingku tidak akan salah dengan melihat postur badan dan raut wajahnya dari samping, perlahan demi perlahan ku dekati dia.
Dari samping ku memanggil namanya, “Lilis?”
            Dia sempat memperhatikanku dan otaknya merespon sangat cepat. Hingga akhirnya dia balik memanggil namaku dengan sebutan Ela. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mencubitku seperti saat sekolah dulu, dia paling suka mencubit teman-teman kelas termasuk saya. Sekitar 4 tahun lamanya kami bersua kembali bagai anak ayam yang bertemu kembali dengan induknya, sangat bising teriakan yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Tak perlu meminta lisensi kepada orang-orang sekitar karena mereka tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami bercerita seakan hanya ada kami berdua, bercerita tentang teman-teman kami dan sedikit penggalan kisah masa lalu.
            Tidak begitu lama kami bersua, Lilis dan rombongannya harus segera menuju Permandian Curug Luhur. Sebelum Lilis berangkat kami sempat berfoto bersama dengan teman-teman yang lain.  Aku, kak Sasan, kak Husain dan kak Aw diajak untuk ikut bersama robongan, kami hanya berkata akan menyusul mereka. Tak terasa matahari sebentar lagi akan tergelincir, mau tidak mau kami harus segera pulang karena masih ada urusan lain yang harus diselesaikan. Namun sebelum pulang ke Ciputat, kami mendatangi Permandian Curug Luhur. Hanya melihatnya dari luar, kami langsung memutar haluan karena waktu yang semakin siang dan tak ada pakaian ganti semakin mengurungkan niat kami untuk masuk kedalamnya.
            Keindahan Gunung Salak dan hamparan sawah seakan menemani kami dalam perjalanan pulang. Rasanya jiwa ini berada dikampung halaman sendiri dengan pepohonan yang membuat cuaca semakin sejuk. Tak dapat dipungkiri, suatu pengalaman yang sangat mengesankan bagi kami ketika rasa kekeluargaan yang mengikat mampu menjadi alasan agar tetap bertahan dalam keadaan ego yang seakan memaksa kami menyudahi perjalanan puluhan hingga ratusan kilo yang kami lalui. Sebuah sejarah baru kehidupan kami terukir lagi, kini semuanya menjadi kenangan, semuanya membuahkan hikmah dan semuanya meninggalkan jejak pengalaman yang tak lekang termakan waktu.

***

No comments:

Post a Comment