Hari ini sabtu, 31 Mei 2014 pagi yang
sama dengan pagi-pagi sebelumnya, mentari tetap terbit di ufuk timur dan
berjalan membangunkan manusia, juga merupakan hari terakhir dibulan mei yang
tidak begitu spesial. Pasalnya dihari libur kuliah seperti ini aku diharuskan
mengikuti kegiatan Studium Lecture di Auditorium utama. Belum sempat mengeluh, hatiku
seakan mengisyaratkan untuk segera bergegas menuju kamar mandi asrama. Setelah
mengakhiri kegiatanku di hadapan kaca yaitu dengan mengenakan jas almamater
kampus kebanggaanku berwarna biru dongker, tanpa berfikir panjang aku keluar
dari kamar dan menuju kamar kak Sasan di gedung 3B. Ku dapati dia masih
tertidur namun tidak pulas.
Ku
bangunkan lalu bertanya, “kak mau pergi kuliah umum nggak?”
Dengan
mata yang belum lepas dari alam mimpi dia merespon, “emang sekarang udah jam
berapa sih?”
Spontan
aku menjawab “ya Allah ini udah jam 8 kak, mandi aja dulu ntar aku tungguin deh”.
Aku dan kak Sasan juga teman-teman
yang lain sudah berada di dalam audit, hampir sejam lamanya kami berada dalam
ruangan ber-AC itu namun acaranya belum dimulai juga. Suntuk mulai terasa
hingga kak Sasan memulai percakapan singkat lewat BBM bersama kak Aw hingga aku
terlibat secara tidak langsung didalamnya. Tidak lama kemudian handphone di
saku jasku berdering dan ternyata panggilan dari kak Aw. Ku angkat dan mulai
menanyakan perihal tujuan dia menelponku yang masih berhubungan dengan
BBM-annya bersama kak Sasan. Kak Aw tidak berbasa-basi dia hanya mengamanahkan
kepadaku untuk memberitahu kak Husain perihal waktu keberangkatannya hari ini
ke Puncak, Bogor untuk menghadiri acara liburan teman-teman IKAMI SS cab.
Jakarta. Ku cari nomor kontak kak Husain di handphoneku lalu menghubunginya.
Sempat kami mengobrol santai menanyakan lokasi keberadaan masing-masing sebelum
aku masuk dalam pembahasan yang sebenarnya.
Kemudian
aku bertanya, “kak Aw pesan katanya ntar kakak mau berangkat jam berapa ke
Puncak? Dia mau bareng katanya.”
Kak
Husain menjawab dengan suara tak berirama, “sekitar jam 2 siang lah.”
Aku
penasaran dan kembali bertanya, “trus ntar kakak perginya bareng siapa?”
Dia
pun menjawab, “ntar aja diliat kalo ada yang mau nemenin.”
“oh
gitu” jawabku singkat.
Tiba-tiba
dia berkata “yaudah kalo kamu mau, kita perginya bareng aja.”
Dengan
nada bahagia aku menyudahi percakapan dan berkata “oke kak, ntar aku kabarin
lagi yah.”
Di sela-sela studium lecture yang
cukup membosankan buatku, rayuan demi rayuan ku lontarkan kepada kak Sasan yang
sedari tadi tak berniat untuk ikut ke Pucak dengan alasan ingin ke Senayan ataupun
ke Kota Tua. Aku yakin sebenarnya, dia tidak sepenuhnya ingin ke Senayan
ataupun ke Kota Tua karena terlihat dari air mukanya yang menahan rindu
terhadap kakak Aw (ciee… cie… cie…). Usai studium lecture, dalam perjalanan
pulang ke asrama kak Aw menghubungiku untuk memberi kabar bahwa dia sudah
sampai di Ciputat setelah perjalanan beberapa menit dari Kalibata.
Kemudian
dia bertanya, “emang kak Sasan mau pergi atau nggak La? Kalo dia nggak ikut
kakak juga nggak usah pergi deh, soalnya nggak ada temen.”
Karena
panik maka tanpa berfikir panjang aku menjawab dengan terburu-buru, “ikut dong
kak, pastilah. Masa sih kak Sasan nggak mau ikut, dia kan kangen sama kakak.”
Sesampainya di asrama aku dan kak Sasan sempat
bersantai sejenak di kamar kak Sasan kemudian mengisi kampung tengah yang
sedari pagi belum diisi. Selepas merileksasikan jasmani beberapa menit aku
kembali ke kamar. Belum sempat 5 menit merasakan oksigen kamarku tercinta, handphoneku lagi-lagi
berdering dan ternyata kak Aw. Dia hanya menginformasikan bahwa dia sudah
berada didepan asrama. Setelah mengetahui bahwa kak Aw sudah menunggu kami, aku
jadi bingung mau melakukan apa terlebih dahulu. Memilah-milah baju atau packing
ataupun bersih-bersih badan atau juga menghubungi kak Husain. Entah hal apa
yang paling utama ku kerjakan hingga akhirnya kami berkumpul didepan asrama dan
saling bertanya dimana tempat yang akan kami datangi. Informasi yang didapatkan
oleh kak Aw bahwa lokasinya di Vila Bahagia, Puncak-Bogor. Namun, daerah Puncak
sangatlah luas kami tidak tahu pasti lokasi yang diinformasikan tersebut. Sambil
menunggu info selanjutnya satu per satu dari mereka kami hubungi akan tetapi
semua nomor yang memiliki operator sama, tak ada yang aktif. Hingga info
terakhir yang didapat oleh kak Aw entah dari siapa memberitahu bahwa lokasinya
di Vila Bumi Luhur, Ciapus. Kami pun berangkat dengan kendaraan pribadi beroda
dua milik kak Aw dan kak Husain untuk menuju Puncak sekitar jam 3 sore.
Dalam
hati aku bertanya-tanya, “serius nih kak Husain mau pake motor dia ke Puncak? Bukannya
belakangan ini motornya sering sakit-sakitan? Dipake ke tempat yang deket aja
kadang bannya bocor, gimana kalo dipake ke Puncak? Tapi tetep positif thinking
aja deh, barangkali motornya sudah bisa dipake berjalan jauh.”
***
Di sela-sela perjalanan, kak Husain
selalu merasa risih akan alas kaki yang ku pakai. Dia menganggap bahwa bukan
waktunya untuk memakai high heels. Sebenarnya aku juga tak ingin memakai high
heels, akan tetapi sepatu yang sedari pagi aku cari tidak ada dalam susunan rak
sepatu asrama. Hingga pada saat aku keluar dari asrama, sepatu yang ku
cari-cari itu ternyata ada di depan pintu masuk, sepertinya ada yang telah
memakainya.
Memasuki kota Bogor, kami kehilangan
jejak kak Aw dan kak Sasan. Mereka menunggu kami di perbatasan Depok-Bogor
padahal kami telah jauh memasuki kota Bogor hingga kami yang harus menunggu
mereka. Setelah bertemu kembali, kami berempat melanjutkan perjalanan yang
masih jauh. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hingga memaksa kami untuk
berteduh di teras sebuah bank sampai hujan tidak begitu reda sepenuhnya namun kami
bisa melanjutkan perjalanan. Maghrib pun menghampiri, lapar mulai terasa di
tengah cuaca yang lumayan dingin setelah disembur oleh derasnya hujan. Kami akhirnya
singgah di sebuah warung makan sambil menanyakan lokasi yang akan kami tuju. Hal
yang membuat kami seolah-olah semuanya absurd ketika beberapa orang yang kami
tanya memerintahkan untuk putar haluan sekitar 5-6 km. Lelah telah tampak
diwajah kami masing-masing namun apa boleh buat kak Aw dan kak Husain kembali
menancapkan gas.
Tiba di perepatan yang cukup padat
dan macet kami mengambil arah ke kiri. Setelah berjalan sekitar 4-5 km, kami
baru sadar ternyata jalan yang kami lalui adalah arah ke Sukabumi. Kak Aw dan
kak Husain kembali memutar haluan di tengah-tengah kemacetan yang disebabkan
oleh adanya perbaikan jalan dan tak jarang kami temui aspal yang berlubang
seakan menambah kekhawatiranku akan motor yang aku dan kak Husain kendarai. Kembali
ke perepatan sebelumnya, kami tak mau ambil resiko lalu menanyakan lokasi yang
akan kami tuju.
Setelah yakin dengan arah jalan yang
kami pilih, barulah roda-roda motor yang kami kendarai mulai berputar lagi. Terlihat
tangan kak Husain dan kak Aw tampak memerah akibat menyetir terlalu lama. Sesekali
aku memijat pundak kak Husain yang sepertinya sangat lelah karena badanku juga
merasakan hal yang sama, begitu juga dengan kak Sasan yang memijat pundak kak
Aw di tengah perjalanan menuju Ciapus. Udara malam yang semakin menusuk masuk
ke paru-paru membuat mataku tak tahan lagi menahan rasa kantuk dan kepalaku pun
mulai terasa berat menahan beratnya helm yang ku kenakan. Mulai ku sandarkan
kepalaku dipundak kak Husain hingga dia mengajakku berbasa-basi dengan berkata,
“ini mah namanya bukan Puncak tapi arah menuju ke Gunung Salak, tempat pesawat Sukhoi
Superjet 100 (SSJ-100) jatuh” dan akhirnya berujung dengan tawa lepas dariku
yang membuat kantukku hilang.
Tibalah kami di sebuah perepatan
yang bernama Pertigaan Taman Sari, menurut petunjuk yang diterima kak Aw dari
seorang teman, kami harus belok kiri namun menurut warga sekitar kami harus
belok kanan. Akhirnya kami belok kanan, dengan jalanan yang terjal dan rusak
tak banyak rumah yang kami temui ditambah dengan tak adanya lampu jalan yang
menerangi perjalanan kami membuat suasana sangat berbau mistis. Beberapa orang
yang kami temui di setiap sudut jalan tak mengetahui Vila Bumi Asih dan hanya
beropini agar jalan terus. Hingga kami sampai di pertigaan dan tak tahu harus
jalan ke arah mana, maka kami bertanya. Lagi-lagi tak ada yang mengetahui dan
seakan memaksa kami kembali ke Pertigaan Taman Sari yang jaraknya sekitar 3 km.
Lelah yang bertubi-tubi seakan berbisik kepada kami untuk menyerah dan mencari
tempat penginapan terdekat karena sudah tak ada pilihan lain ditambah hanya
handphone kak Sasan yang masih aktif untuk menghubungi mereka, lagi-lagi tidak
aktif dan tak diangkat. Namun kami masih punya secuil semangat untuk menemui
mereka maka dari itu kami mengambil arah berlawanan dari arah kami sebelumnya.
Tampak sangat berbeda, kali ini kami
banyak menemui rumah penduduk dan bertemu dengan sekumpulan bapak yang sedang
asyik bermain kartu disebuah pos ronda. Kami menanyakan hal sama dengan
pertanyaan sebelumnya dengan orang-orang yang berbeda tetapi kami harus kecewa
untuk sekian kalinya. Salah satu dari mereka berkata bahwa jalan yang kami
tempuh sebelumnya sudah benar menurut analoginya. Kami akhirnya meminta izin
untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi daya handphone kak Aw yang
lowbath. Usaha demi usaha dilakukan untuk dapat menghubungi salah satu dari
mereka yang ada di vila tersebut. Sekitar 1800 second kami mendapat info
terbaru yang mengatakan bahwa kami kembali ke jalan sebelumnya dan mengambil
arah kanan.
Lelah yang kami rasakan seakan
hilang dan tanpa tunggu lama kami pamit kepada bapak-bapak yang masih tetap
asyik memainkan kartu joker mereka. Sekitar 5-6 km kami menempuh perjalanan dan
sampai di pertigaan yang tadinya membuat kami bingung. Koneksi jaringan kak Aw mampu terhubung dengan salah seorang teman
yang ada disana. Dia hanya mengintruksikan untuk jalan mengikuti arah Curug Luhur yang jauhnya sekitar 4 km. Kami melanjutkan perjalanan dan berharap dapat
bertemu mereka meski malam sudah sangat pekat. Kami memasuki sebuah
perkampungan yang sangat sunyi dan melewati sebuah wisma yang bertuliskan Wisma
Bumi Luhur Wisata dibalut dengan cat berwarna merah dan background berwarna
putih dengan tumbuhan liar yang hampir menutupi tulisan itu. Kak Husain sempat
menerawang wisma tersebut yang tampak angker dan gelap dan membayangkan apa
yang terjadi jika ia berada disana.
Tak terasa kami telah berjalan
sejauh 6-7 km hingga berhenti disebuah pangkalan ojek dan bertanya hal serupa
dengan pertanyaan sebelumnya. Untuk kesekian kalinya kami harus mengantongi
kekecewaan karena tak ada yang tahu lokasi tersebut. Tak berhenti sampai disitu
bapak tukang ojek tersebut mengajak kami ke tempat yang sering dijadikan penginapan
buat para wisatawan barangkali disana ada vila bernama Bumi Asih. Kami putar
haluan lagi sejauh 2-3 km dan jawaban dari penduduk yang kami temui sangat
realistis. Mereka mengatakan tak ada Vila Bumi Asih sekitar sini. Lelah dan
kecewa menggerogoti badan dan hati kami hingga akhirnya harus memutuskan untuk
mencari penginapan. Bukan karena putus asa, namun karena waktu yang sudah
sangat larut mengharuskan kami beristirahat. Dengan senang hati bapak tukang
ojek tersebut mengantarkan kami menuju penginapan yang aku dan kak Husain
bicarakan sebelumnya. Rasanya sangat konyol hingga kami tersenyum seakan
digelitik oleh angin selamat datang wisma tersebut.
Ingin rasanya langsung membaringkan
badan tapi salah satu kamar wisma yang kami pesan lampunya tak berfungsi hingga
kami harus menunggu petugas wisma membenarkan dan menggantinya dengan yang
baru. Terlihat kak Husain yang sangat
penasaran akan keramaian yang tertutupi oleh sebuah mobil pribadi. Dan dia
mulai mengintip dari balik mobil, menyerap setiap perkataan orang-orang yang
ada disana ternyata bahasanya khas sama seperti kami. Semakin penasaran, dia pun mendekat tapi tidak terlalu dekat dan akhirnya dia menyimpulkan
bahwa merekalah yang kami cari. Dia bergegas menghampiri kami dan pastinya kami
sangat shock mendengar perkataan kak Husain. Sungguh sangat luar biasa skenario
yang dibuat Allah untuk kami. Meski kami seolah-olah diombang-ambing oleh
informasi yang berlainan sumber tapi usaha mencari mereka terbayar dengan bertemu
secara tidak sengaja dan itu membuat kami semakin mengagungkan Sang Maha
Pencipta.
***
Pagi hari dibulan baru, udara
pegunungan yang cukup sejuk mampu membuat badanku menjadi rileks sambil
menonton televisi dikamar seakan menghilangkan kepenatan dan masalah yang ada. Tiba-tiba
kak Husain memanggil kami untuk ikut berkumpul bersama teman-teman yang lain
karena semalam belum sempat bersua akibat kelelahan. Ada diantara mereka yang
memang sudah ku kenali sebelumnya namun ada juga yang wajahnya masih asing. Hingga
mataku tertuju pada seorang gadis yang sepertinya telah lama ku kenali tapi
sayang aku hanya mampu melihatnya dari belakang. Rasa penasaranku semakin
menjadi-jadi dan kudengar seseorang memanggilnya dengan nama Lilis. Mulai ku
flashback ingatanku dan ternyata dia adalah teman kelasku sewaktu duduk di
salah satu sekolah menengah islam favorit di daerahku hingga saat ini.
Ada keraguan untuk menghampirinya
tapi feelingku tidak akan salah dengan melihat postur badan dan raut wajahnya
dari samping, perlahan demi perlahan ku dekati dia.
Dari
samping ku memanggil namanya, “Lilis?”
Dia sempat memperhatikanku dan
otaknya merespon sangat cepat. Hingga akhirnya dia balik memanggil namaku
dengan sebutan Ela. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan
mencubitku seperti saat sekolah dulu, dia paling suka mencubit teman-teman
kelas termasuk saya. Sekitar 4 tahun lamanya kami bersua kembali bagai anak
ayam yang bertemu kembali dengan induknya, sangat bising teriakan yang keluar
dari bibirku dan bibirnya. Tak perlu meminta lisensi kepada orang-orang sekitar
karena mereka tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami bercerita seakan hanya
ada kami berdua, bercerita tentang teman-teman kami dan sedikit penggalan kisah
masa lalu.
Tidak begitu lama kami bersua, Lilis
dan rombongannya harus segera menuju Permandian Curug Luhur. Sebelum Lilis berangkat
kami sempat berfoto bersama dengan teman-teman yang lain. Aku, kak Sasan, kak Husain dan kak Aw diajak
untuk ikut bersama robongan, kami hanya berkata akan menyusul mereka. Tak terasa
matahari sebentar lagi akan tergelincir, mau tidak mau kami harus segera pulang
karena masih ada urusan lain yang harus diselesaikan. Namun sebelum pulang ke
Ciputat, kami mendatangi Permandian Curug Luhur. Hanya melihatnya dari luar,
kami langsung memutar haluan karena waktu yang semakin siang dan tak ada
pakaian ganti semakin mengurungkan niat kami untuk masuk kedalamnya.
Keindahan Gunung Salak dan hamparan
sawah seakan menemani kami dalam perjalanan pulang. Rasanya jiwa ini berada
dikampung halaman sendiri dengan pepohonan yang membuat cuaca semakin sejuk. Tak
dapat dipungkiri, suatu pengalaman yang sangat mengesankan bagi kami ketika
rasa kekeluargaan yang mengikat mampu menjadi alasan agar tetap bertahan dalam
keadaan ego yang seakan memaksa kami menyudahi perjalanan puluhan hingga
ratusan kilo yang kami lalui. Sebuah sejarah baru kehidupan kami terukir lagi,
kini semuanya menjadi kenangan, semuanya membuahkan hikmah dan semuanya meninggalkan
jejak pengalaman yang tak lekang termakan waktu.
***

No comments:
Post a Comment