Thursday, 12 June 2014

Puisi Cinta Anak Matematika


Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa

Diagonal-diagonal ruang hatimu
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku

Jika aku adalah akar-akar persamaan
x1 dan x2
maka engkaulah persamaan dengan akar-akar
2×1 dan 2×2

Aku ini binatang jalang
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integrasi belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi hatiku

Kemana harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?

Ku lihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu

modus ponen…. podue tollens….
entah dengan modus apa ku singkap
logika hatimu…..
Beribu-ribu matriks ordo 2×2 kutempuh
Bagaimana ku ungkap adjoinku padamu?

Ku jalani tiap barisan geometri yang tak hingga jumlahnya
tiap barisan aritmatika yang tak terhitung…

Akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan pendek
berimpit pada pukul 19:34 29/12

Karena Kamu Tulang Rusukku


Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kian mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
“Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,
“Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!” Tiba-tiba Dara menjadi terdiam ,
Berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”
Lima tahun berlalu. Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara. Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

Seorang Wanita dan Keperawanannya


            Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
            Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
            Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
            Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
“Maaf, nona. Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
“Tidak!” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
“Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
“Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
“Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
“Maksud, bapak?”
“Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini”
“Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual” Kata wanita itu dengan suara lambat.
“Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
“Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”
“Saya ingin menjual diri saya.” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
            Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
“Mari ikut saya,” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya .
            Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
“Apakah anda serius?”
“Saya serius.” Jawab wanita itu tegas.
“Berapa tarif yang anda minta?”
“Setinggi-tingginya.”
“Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
“Saya masih perawan”
“Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini. Pikirnya.
“Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
“Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan?”
“Kalau tidak terbukti?”
“Tidak usah bayar.”
“Baiklah.” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
“Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.”
“Cobalah.”
“Berapa tarif yang diminta?”
“Setinggi-tingginya.”
“Berapa?”
“Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”
“Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.”
            Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
“Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”
“Ini termasuk yang tertinggi,” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
“Saya ingin yang lebih tinggi.”
“Baiklah. Tunggu disini.” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
“Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”
“Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini, dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh.”
“Saya ingin tawaran tertinggi.” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
“Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli.” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
            Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
“Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat?” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
            Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu.
“Berapa?” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
“Setinggi-tingginya” Jawab wanita itu dengan tegas.
“Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
“Rp. 6 juta, tuan”
“Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam.”
Wanita itu terdiam.
            Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
“Bagaimana?” tanya pria itu.
“Saya ingin lebih tinggi lagi.” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
“Bawa pergi wanita ini.” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
“Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?”
“Tentu!”
“Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu.“
“Saya minta yang lebih tinggi lagi.”
            Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
“Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.
            Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
“Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup?” Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika
“Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita nggak ketemu, ya sayang?!”
            Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
            Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: “Pak, apakah anda butuh wanita ???”
            Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
“Ada wanita yang duduk disana,” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan.”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. “Benarkah itu?”
“Benar, pak.”
“Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu.“
”Dengan senang hati. Tapi, pak. Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
”Saya tidak peduli.” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah.” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
”Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar.
”Beritahu berapa harga yang kamu minta?”
”Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit.”
”Maksud kamu?”
”Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih.”
”Hanya itu?”
”Ya!”
            Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
”Siapa nama kamu?”
”Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar.” Kata wanita itu.
”Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar.”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!”
”Ada !” Kata pria itu seketika.
”Sebutkan!”
”Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
”Saya tidak mengerti.”
”Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar.”
”Dan, apakah bapak ikhlas.?”
”Apakah uang itu kurang?”
”Lebih dari cukup, pak.”
”Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”
”Silahkan.”
”Mengapa kamu begitu beraninya.”
”Siapa bilang saya berani. Saya takut pak. Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang bodoh. Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan.”
”Keyakinan apa? ”
”Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita. ”Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
”Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini.”
”Kesadaran.”
            Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
”Kamu sudah pulang, nak”
”Ya, bu.”
”Kemana saja kamu, nak???”
”Menjual sesuatu, bu.”
”Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum.
            Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan.
”Kini saatnya ibu untuk berobat.”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ”Tuhan telah membeli yang saya jual.”
            Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada sopir taksi:
”Antar kami ke rumah sakit”

Wanita itu pergi dengan senyuman bahagia.
TAMAT

Tuesday, 3 June 2014

Puncak, Bogor yang Pindah

            Hari ini sabtu, 31 Mei 2014 pagi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya, mentari tetap terbit di ufuk timur dan berjalan membangunkan manusia, juga merupakan hari terakhir dibulan mei yang tidak begitu spesial. Pasalnya dihari libur kuliah seperti ini aku diharuskan mengikuti kegiatan Studium Lecture di Auditorium utama. Belum sempat mengeluh, hatiku seakan mengisyaratkan untuk segera bergegas menuju kamar mandi asrama. Setelah mengakhiri kegiatanku di hadapan kaca yaitu dengan mengenakan jas almamater kampus kebanggaanku berwarna biru dongker, tanpa berfikir panjang aku keluar dari kamar dan menuju kamar kak Sasan di gedung 3B. Ku dapati dia masih tertidur namun tidak pulas.
Ku bangunkan lalu bertanya, “kak mau pergi kuliah umum nggak?”
Dengan mata yang belum lepas dari alam mimpi dia merespon, “emang sekarang udah jam berapa sih?”
Spontan aku menjawab “ya Allah ini udah jam 8 kak, mandi aja dulu ntar aku tungguin deh”.
            Aku dan kak Sasan juga teman-teman yang lain sudah berada di dalam audit, hampir sejam lamanya kami berada dalam ruangan ber-AC itu namun acaranya belum dimulai juga. Suntuk mulai terasa hingga kak Sasan memulai percakapan singkat lewat BBM bersama kak Aw hingga aku terlibat secara tidak langsung didalamnya. Tidak lama kemudian handphone di saku jasku berdering dan ternyata panggilan dari kak Aw. Ku angkat dan mulai menanyakan perihal tujuan dia menelponku yang masih berhubungan dengan BBM-annya bersama kak Sasan. Kak Aw tidak berbasa-basi dia hanya mengamanahkan kepadaku untuk memberitahu kak Husain perihal waktu keberangkatannya hari ini ke Puncak, Bogor untuk menghadiri acara liburan teman-teman IKAMI SS cab. Jakarta. Ku cari nomor kontak kak Husain di handphoneku lalu menghubunginya. Sempat kami mengobrol santai menanyakan lokasi keberadaan masing-masing sebelum aku masuk dalam pembahasan yang sebenarnya.
Kemudian aku bertanya, “kak Aw pesan katanya ntar kakak mau berangkat jam berapa ke Puncak? Dia mau bareng katanya.”
Kak Husain menjawab dengan suara tak berirama, “sekitar jam 2 siang lah.”
Aku penasaran dan kembali bertanya, “trus ntar kakak perginya bareng siapa?”
Dia pun menjawab, “ntar aja diliat kalo ada yang mau nemenin.”
“oh gitu” jawabku singkat.
Tiba-tiba dia berkata “yaudah kalo kamu mau, kita perginya bareng aja.”
Dengan nada bahagia aku menyudahi percakapan dan berkata “oke kak, ntar aku kabarin lagi yah.”
            Di sela-sela studium lecture yang cukup membosankan buatku, rayuan demi rayuan ku lontarkan kepada kak Sasan yang sedari tadi tak berniat untuk ikut ke Pucak dengan alasan ingin ke Senayan ataupun ke Kota Tua. Aku yakin sebenarnya, dia tidak sepenuhnya ingin ke Senayan ataupun ke Kota Tua karena terlihat dari air mukanya yang menahan rindu terhadap kakak Aw (ciee… cie… cie…). Usai studium lecture, dalam perjalanan pulang ke asrama kak Aw menghubungiku untuk memberi kabar bahwa dia sudah sampai di Ciputat setelah perjalanan beberapa menit dari Kalibata.
Kemudian dia bertanya, “emang kak Sasan mau pergi atau nggak La? Kalo dia nggak ikut kakak juga nggak usah pergi deh, soalnya nggak ada temen.”
Karena panik maka tanpa berfikir panjang aku menjawab dengan terburu-buru, “ikut dong kak, pastilah. Masa sih kak Sasan nggak mau ikut, dia kan kangen sama kakak.”
             Sesampainya di asrama aku dan kak Sasan sempat bersantai sejenak di kamar kak Sasan kemudian mengisi kampung tengah yang sedari pagi belum diisi. Selepas merileksasikan jasmani beberapa menit aku kembali ke kamar. Belum sempat 5 menit merasakan oksigen  kamarku tercinta, handphoneku lagi-lagi berdering dan ternyata kak Aw. Dia hanya menginformasikan bahwa dia sudah berada didepan asrama. Setelah mengetahui bahwa kak Aw sudah menunggu kami, aku jadi bingung mau melakukan apa terlebih dahulu. Memilah-milah baju atau packing ataupun bersih-bersih badan atau juga menghubungi kak Husain. Entah hal apa yang paling utama ku kerjakan hingga akhirnya kami berkumpul didepan asrama dan saling bertanya dimana tempat yang akan kami datangi. Informasi yang didapatkan oleh kak Aw bahwa lokasinya di Vila Bahagia, Puncak-Bogor. Namun, daerah Puncak sangatlah luas kami tidak tahu pasti lokasi yang diinformasikan tersebut. Sambil menunggu info selanjutnya satu per satu dari mereka kami hubungi akan tetapi semua nomor yang memiliki operator sama, tak ada yang aktif. Hingga info terakhir yang didapat oleh kak Aw entah dari siapa memberitahu bahwa lokasinya di Vila Bumi Luhur, Ciapus. Kami pun berangkat dengan kendaraan pribadi beroda dua milik kak Aw dan kak Husain untuk menuju Puncak sekitar jam 3 sore.
Dalam hati aku bertanya-tanya, “serius nih kak Husain mau pake motor dia ke Puncak? Bukannya belakangan ini motornya sering sakit-sakitan? Dipake ke tempat yang deket aja kadang bannya bocor, gimana kalo dipake ke Puncak? Tapi tetep positif thinking aja deh, barangkali motornya sudah bisa dipake berjalan jauh.”
***
            Di sela-sela perjalanan, kak Husain selalu merasa risih akan alas kaki yang ku pakai. Dia menganggap bahwa bukan waktunya untuk memakai high heels. Sebenarnya aku juga tak ingin memakai high heels, akan tetapi sepatu yang sedari pagi aku cari tidak ada dalam susunan rak sepatu asrama. Hingga pada saat aku keluar dari asrama, sepatu yang ku cari-cari itu ternyata ada di depan pintu masuk, sepertinya ada yang telah memakainya.
            Memasuki kota Bogor, kami kehilangan jejak kak Aw dan kak Sasan. Mereka menunggu kami di perbatasan Depok-Bogor padahal kami telah jauh memasuki kota Bogor hingga kami yang harus menunggu mereka. Setelah bertemu kembali, kami berempat melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hingga memaksa kami untuk berteduh di teras sebuah bank sampai hujan tidak begitu reda sepenuhnya namun kami bisa melanjutkan perjalanan. Maghrib pun menghampiri, lapar mulai terasa di tengah cuaca yang lumayan dingin setelah disembur oleh derasnya hujan. Kami akhirnya singgah di sebuah warung makan sambil menanyakan lokasi yang akan kami tuju. Hal yang membuat kami seolah-olah semuanya absurd ketika beberapa orang yang kami tanya memerintahkan untuk putar haluan sekitar 5-6 km. Lelah telah tampak diwajah kami masing-masing namun apa boleh buat kak Aw dan kak Husain kembali menancapkan gas.
            Tiba di perepatan yang cukup padat dan macet kami mengambil arah ke kiri. Setelah berjalan sekitar 4-5 km, kami baru sadar ternyata jalan yang kami lalui adalah arah ke Sukabumi. Kak Aw dan kak Husain kembali memutar haluan di tengah-tengah kemacetan yang disebabkan oleh adanya perbaikan jalan dan tak jarang kami temui aspal yang berlubang seakan menambah kekhawatiranku akan motor yang aku dan kak Husain kendarai. Kembali ke perepatan sebelumnya, kami tak mau ambil resiko lalu menanyakan lokasi yang akan kami tuju.
            Setelah yakin dengan arah jalan yang kami pilih, barulah roda-roda motor yang kami kendarai mulai berputar lagi. Terlihat tangan kak Husain dan kak Aw tampak memerah akibat menyetir terlalu lama. Sesekali aku memijat pundak kak Husain yang sepertinya sangat lelah karena badanku juga merasakan hal yang sama, begitu juga dengan kak Sasan yang memijat pundak kak Aw di tengah perjalanan menuju Ciapus. Udara malam yang semakin menusuk masuk ke paru-paru membuat mataku tak tahan lagi menahan rasa kantuk dan kepalaku pun mulai terasa berat menahan beratnya helm yang ku kenakan. Mulai ku sandarkan kepalaku dipundak kak Husain hingga dia mengajakku berbasa-basi dengan berkata, “ini mah namanya bukan Puncak tapi arah menuju ke Gunung Salak, tempat pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) jatuh” dan akhirnya berujung dengan tawa lepas dariku yang membuat kantukku hilang.
            Tibalah kami di sebuah perepatan yang bernama Pertigaan Taman Sari, menurut petunjuk yang diterima kak Aw dari seorang teman, kami harus belok kiri namun menurut warga sekitar kami harus belok kanan. Akhirnya kami belok kanan, dengan jalanan yang terjal dan rusak tak banyak rumah yang kami temui ditambah dengan tak adanya lampu jalan yang menerangi perjalanan kami membuat suasana sangat berbau mistis. Beberapa orang yang kami temui di setiap sudut jalan tak mengetahui Vila Bumi Asih dan hanya beropini agar jalan terus. Hingga kami sampai di pertigaan dan tak tahu harus jalan ke arah mana, maka kami bertanya. Lagi-lagi tak ada yang mengetahui dan seakan memaksa kami kembali ke Pertigaan Taman Sari yang jaraknya sekitar 3 km. Lelah yang bertubi-tubi seakan berbisik kepada kami untuk menyerah dan mencari tempat penginapan terdekat karena sudah tak ada pilihan lain ditambah hanya handphone kak Sasan yang masih aktif untuk menghubungi mereka, lagi-lagi tidak aktif dan tak diangkat. Namun kami masih punya secuil semangat untuk menemui mereka maka dari itu kami mengambil arah berlawanan dari arah kami sebelumnya.
            Tampak sangat berbeda, kali ini kami banyak menemui rumah penduduk dan bertemu dengan sekumpulan bapak yang sedang asyik bermain kartu disebuah pos ronda. Kami menanyakan hal sama dengan pertanyaan sebelumnya dengan orang-orang yang berbeda tetapi kami harus kecewa untuk sekian kalinya. Salah satu dari mereka berkata bahwa jalan yang kami tempuh sebelumnya sudah benar menurut analoginya. Kami akhirnya meminta izin untuk beristirahat sejenak sekaligus mengisi daya handphone kak Aw yang lowbath. Usaha demi usaha dilakukan untuk dapat menghubungi salah satu dari mereka yang ada di vila tersebut. Sekitar 1800 second kami mendapat info terbaru yang mengatakan bahwa kami kembali ke jalan sebelumnya dan mengambil arah kanan.
            Lelah yang kami rasakan seakan hilang dan tanpa tunggu lama kami pamit kepada bapak-bapak yang masih tetap asyik memainkan kartu joker mereka. Sekitar 5-6 km kami menempuh perjalanan dan sampai di pertigaan yang tadinya membuat kami bingung. Koneksi jaringan kak Aw  mampu terhubung dengan salah seorang teman yang ada disana. Dia hanya mengintruksikan untuk jalan mengikuti arah Curug Luhur yang jauhnya sekitar 4 km. Kami melanjutkan perjalanan dan berharap dapat bertemu mereka meski malam sudah sangat pekat. Kami memasuki sebuah perkampungan yang sangat sunyi dan melewati sebuah wisma yang bertuliskan Wisma Bumi Luhur Wisata dibalut dengan cat berwarna merah dan background berwarna putih dengan tumbuhan liar yang hampir menutupi tulisan itu. Kak Husain sempat menerawang wisma tersebut yang tampak angker dan gelap dan membayangkan apa yang terjadi jika ia berada disana.
            Tak terasa kami telah berjalan sejauh 6-7 km hingga berhenti disebuah pangkalan ojek dan bertanya hal serupa dengan pertanyaan sebelumnya. Untuk kesekian kalinya kami harus mengantongi kekecewaan karena tak ada yang tahu lokasi tersebut. Tak berhenti sampai disitu bapak tukang ojek tersebut mengajak kami ke tempat yang sering dijadikan penginapan buat para wisatawan barangkali disana ada vila bernama Bumi Asih. Kami putar haluan lagi sejauh 2-3 km dan jawaban dari penduduk yang kami temui sangat realistis. Mereka mengatakan tak ada Vila Bumi Asih sekitar sini. Lelah dan kecewa menggerogoti badan dan hati kami hingga akhirnya harus memutuskan untuk mencari penginapan. Bukan karena putus asa, namun karena waktu yang sudah sangat larut mengharuskan kami beristirahat. Dengan senang hati bapak tukang ojek tersebut mengantarkan kami menuju penginapan yang aku dan kak Husain bicarakan sebelumnya. Rasanya sangat konyol hingga kami tersenyum seakan digelitik oleh angin selamat datang wisma tersebut.
            Ingin rasanya langsung membaringkan badan tapi salah satu kamar wisma yang kami pesan lampunya tak berfungsi hingga kami harus menunggu petugas wisma membenarkan dan menggantinya dengan yang baru. Terlihat kak Husain yang sangat penasaran akan keramaian yang tertutupi oleh sebuah mobil pribadi. Dan dia mulai mengintip dari balik mobil, menyerap setiap perkataan orang-orang yang ada disana ternyata bahasanya khas sama seperti kami. Semakin penasaran, dia pun mendekat tapi tidak terlalu dekat dan akhirnya dia menyimpulkan bahwa merekalah yang kami cari. Dia bergegas menghampiri kami dan pastinya kami sangat shock mendengar perkataan kak Husain. Sungguh sangat luar biasa skenario yang dibuat Allah untuk kami. Meski kami seolah-olah diombang-ambing oleh informasi yang berlainan sumber tapi usaha mencari mereka terbayar dengan bertemu secara tidak sengaja dan itu membuat kami semakin mengagungkan Sang Maha Pencipta.
***
            Pagi hari dibulan baru, udara pegunungan yang cukup sejuk mampu membuat badanku menjadi rileks sambil menonton televisi dikamar seakan menghilangkan kepenatan dan masalah yang ada. Tiba-tiba kak Husain memanggil kami untuk ikut berkumpul bersama teman-teman yang lain karena semalam belum sempat bersua akibat kelelahan. Ada diantara mereka yang memang sudah ku kenali sebelumnya namun ada juga yang wajahnya masih asing. Hingga mataku tertuju pada seorang gadis yang sepertinya telah lama ku kenali tapi sayang aku hanya mampu melihatnya dari belakang. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi dan kudengar seseorang memanggilnya dengan nama Lilis. Mulai ku flashback ingatanku dan ternyata dia adalah teman kelasku sewaktu duduk di salah satu sekolah menengah islam favorit di daerahku hingga saat ini.
            Ada keraguan untuk menghampirinya tapi feelingku tidak akan salah dengan melihat postur badan dan raut wajahnya dari samping, perlahan demi perlahan ku dekati dia.
Dari samping ku memanggil namanya, “Lilis?”
            Dia sempat memperhatikanku dan otaknya merespon sangat cepat. Hingga akhirnya dia balik memanggil namaku dengan sebutan Ela. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mencubitku seperti saat sekolah dulu, dia paling suka mencubit teman-teman kelas termasuk saya. Sekitar 4 tahun lamanya kami bersua kembali bagai anak ayam yang bertemu kembali dengan induknya, sangat bising teriakan yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Tak perlu meminta lisensi kepada orang-orang sekitar karena mereka tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami bercerita seakan hanya ada kami berdua, bercerita tentang teman-teman kami dan sedikit penggalan kisah masa lalu.
            Tidak begitu lama kami bersua, Lilis dan rombongannya harus segera menuju Permandian Curug Luhur. Sebelum Lilis berangkat kami sempat berfoto bersama dengan teman-teman yang lain.  Aku, kak Sasan, kak Husain dan kak Aw diajak untuk ikut bersama robongan, kami hanya berkata akan menyusul mereka. Tak terasa matahari sebentar lagi akan tergelincir, mau tidak mau kami harus segera pulang karena masih ada urusan lain yang harus diselesaikan. Namun sebelum pulang ke Ciputat, kami mendatangi Permandian Curug Luhur. Hanya melihatnya dari luar, kami langsung memutar haluan karena waktu yang semakin siang dan tak ada pakaian ganti semakin mengurungkan niat kami untuk masuk kedalamnya.
            Keindahan Gunung Salak dan hamparan sawah seakan menemani kami dalam perjalanan pulang. Rasanya jiwa ini berada dikampung halaman sendiri dengan pepohonan yang membuat cuaca semakin sejuk. Tak dapat dipungkiri, suatu pengalaman yang sangat mengesankan bagi kami ketika rasa kekeluargaan yang mengikat mampu menjadi alasan agar tetap bertahan dalam keadaan ego yang seakan memaksa kami menyudahi perjalanan puluhan hingga ratusan kilo yang kami lalui. Sebuah sejarah baru kehidupan kami terukir lagi, kini semuanya menjadi kenangan, semuanya membuahkan hikmah dan semuanya meninggalkan jejak pengalaman yang tak lekang termakan waktu.

***