Sunday, 22 December 2013

Duo Villa ber Carita di Anyer


Hari ini 13 Desember 2013  suasana siang menjelang sore hari terasa sangat bising dan lumayan panas. Sambil melihat wajah-wajah yang nampak asing bagi saya, butiran-butiran debu pun serasa menutupi pandangan ini terhadap mereka. Kami calon kader dari IKAMI Sul Sel cab. Ciputat akan  melaksanakan makrab atau lebih dikenal dengan istilah ta’aruf. Mendengar cerita dari para senior, peserta tahun ini cukup meluap dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Ayo..  ayo cepat naik.!” Kata beberapa orang panitia saat memulai keberangkatan ke Anyer.
            Saya bergegas naik ke atas bus yang berada di deretan ke dua bersama seeorang teman dan kakak panitia, sebut saja namanya Dilla dan kak Rosita. Saya duduk beberapa deret dari jarak Pak supir sedangkan mereka duduk di belakang saya. Sambil mengingat kembali buku sewaktu saya masih duduk di bangku kelas 2 SD, di dalamnya terdapat cerita mengenai Pantai Carita, Anyer. Sempat saya menerawang jauh keindahan Anyer seperti yang di ilustrasikan oleh buku itu. Tiba-tiba imajinasi indah itu terputus oleh suara mesin bus yang siap berangkat. Saya pun menghentikan imajinasi itu dan berfokus terhadap pemandangan kota Tangerang, sambil sesekali bercakap dengan kak Anna yang duduk di sebelah saya ataupun kak Rosita dan Dilla yang berada di belakang saya.
            Di tengah perjalanan ass. supir menyuguhkan kami beberapa lagu lawas yang kira-kira trend sekitar tahun 90-an, bibirku pun ikut bergoyang mengikuti syair-syair lagu tersebut sambil memainkan ponsel dengan satu tujuan yaitu membuka media sosial. Dengan kalimat “welcome Banten, welcome Anyer beach” kusuguhkan kalimat itu kepada teman-teman yang membuka media sosial. Rasanya lumayan suntuk juga ketika hujan turun ditambah dengan suasana bus yang terasa hening. Beberapa kali saya mencoba menutup mata tetapi rasanya mata saya masih terasa fresh.
            Ketika memasuki kawasan Anyer, hujan sempat reda namun tak lama hujan pun turun lagi dengan sangat derasnya. Langit tampak menghitam dan terlihat jelas tanda-tanda bahwa mentari telah berganti bulan tapi sayang, sepertinya malam ini bulan tertutupi oleh awan hitam. Namun itu bukanlah kendala untuk tujuan kami kali ini. Dalam suasana yang membosankan, datanglah beberapa teman dari deretan belakang menyanyikan beberapa lagu ditemani dengan gitar ditangannya. Saya cukup menikmati lagu-lagu yang dinyanyikannya tanpa terasa 5 jam berlalu kami pun sampai di villa yang akan menyatukan kami semua.
***
            Tanah yang becek dan hujan yang masih saja turun membuat kami berhati-hati dalam melangkah menuju villa. Tanpa saya duga tragedi kecil menimpa ketika memasuki teras villa, sambil menenteng barang-barang saya pun terpeleset di teras villa untung hanya memar yang saya dapat dari tragedi itu.
“Uh, sakit…!!!” desah kecilku.
“Makanya kalo jalan hati-hati dong, biar nggak kepleset”, kata seorang teman yang melihat saya  terpleset.
“Apakah cuma saya yang terpleset karena kurang hati-hati atau mungkin terasnya benar-benar licin? ntahlah!”, kataku dalam hati.
            Villa yang kami tempati terdiri atas dua tingkat dan pemisahan antara cewek dan cowok di bagi berdasarkan tingkatan villa itu.
“Cewek tidur di atas dan cowok tidur di lantai dasar”, kata beberapa panitia.
Setelah beristirahat beberapa jam kami disuguhi makan malam dengan lauk ayam, karena telur himpunan bagian dari ayam maka semuanya sepakat bahwa makan malam kita adalah ayam. Beberapa menit setelah makan malam, acara pembukaan ta’aruf dimulai. Kami diperkenalkan beberapa senior dan panitia meskipun bagi saya beberapa dari mereka telah saya kenal sebelumnya tapi mungkin tidak untuk teman-teman yang lain dan diperkenalkan pula kepada kami calon anggot IKAMI yang berstatus anggota luar biasa yaitu anggota yang bukan berasal atau berdarah Sulawesi Selatan tetapi ingin menjadi bagian dari IKAMI. Malam semakin larut, sebelum beristirahat kami dibagi kelompok secara acak dan saya masuk ke dalam kelompok 1 yang dimentoring oleh kak Jumansyah atau biasa dipaggil kak Anca.
***
            14 Desember 2013, pagi hari yang cukup dingin ditambah dengan kamar yang ber-AC membuat bulu kuduk merinding, rerumputan yang basah menandakan hujan baru saja berhenti. Kegiatan kami tidak cukup sampai  disini, meskipun asam laktat dalam tubuh masih menumpuk dan glukosa yang terpecah masih sedikit, kegiatan pagi hari kami yaitu mentoring dan perkenalan sesama teman kelompok masih tetap berlanjut. Namun, ada berita mengagetkan dari mentor kami, kita semua akan meninggalkan villa dan belum pasti apakah kita akan pindah ke villa yang lain atau mereka akan memulangkan kita semua ke Ciputat.
“Rasanya mirip kisah Cinderella saja meski ada sedikit perbedaan jika Cinderella harus meninggalkan istana jam 12 malam, tak jauh beda dengan kami yang harus meninggalkan villa yang sedari awal sudah menjadi istana bagi kami semua pada jam 12. Namun 12 yang saya maksud adalah 12 siang”. Candaku pada diri sendiri.
            Usai sarapan kami di suguhkan materi tentang ke IKAMI-an yang dibawakan oleh kakanda Rusdi Anwar S.H, beliau mengungkapkan bahwa ada empat tujuan IKAMI yaitu: meningkatkan mutu keilmuan, melestarikan budaya & nilai-nilai luhur, pengabdian masyarakat dan mempererat semangat kekeluargaan. Setelah materi selesai kami siap-siap untuk packing, kabar baiknya kami tidak dipulangkan tetapi menuju villa yang baru di daerah Padeglang, Banten yang bernama “Villa Mama Teteh”. Sayangnya perjalanan kami kesana dihiasi oleh hujan deras hingga aktivitas selama disana sempat vakum beberapa jam.
***
Sore hari, hujan terlihat agak reda dan memungkinkan kita semua untuk bermain di pantai. Berbicara tentang pantai pasti tidak lepas dengan jeprat-jepret dan mandi di temani oleh ombak yang menggulung-gulung. Sesampainya di pantai kami para anggota baru bermain beberapa permainan yang sangat menyenangkan yang di pandu oleh kak Afni dan kak Ambo.  Saya mengakui bahwa kelompok kami sering melakukan kecurangan hampir di setiap games hingga kelompok dan mentor yang lain meneriaki kami.
“Curang…! Curang…! Curang…! Kelompok 1 curang…!”, teriak mereka.
“Bagaimana tidak curang? Namanya saja Laa Recu hahaha”, balasku dengan teriakan yang keras juga.
Games masih berlanjut namun hujan mulai turun lagi, tanpa menghiraukan hujan kami tetap memainkan games yang terakhir meski ombak dan cuaca tidak bersahabat. Pada akhirnya kami semua kebasahan, bukan karena mandi dipantai melainkan karena tersiram air hujan. Meski demikian kami tetap menikmati suasana yang ada hingga para panitia memberi kami arahan untuk kembali ke villa.
            Air hujan yang membasahi seakan memaksa kami untuk mandi di senja itu. Saya yang awalnya tak ada niat untuk mandi akhirnya mandi juga. Selesai membersihkan badan, saya dan dua orang teman yang selama disana tidak pernah terpisahkan yaitu Dilla dan Fitria mulai membuka kresekan yang setiap saat ditenteng. Tentu saja kresekan itu berisi persediaan makanan selama disana.
“Wah malam ini kita pesta Pop Mie”, kataku sambil menerima Pop Mie dari Dilla.
“Kita mau nyeduh mie dimana?”, kata Fitria.
“Ya udah kita ke aula aja, kan disana ada dispenser”, kataku sambil menggiring mereka berdua menuju aula villa.
“Nggak  usah disana ah, takut sama kakak-kakaknya. Kita nyeduh ama ibu yang jualan di depan aja” kata Dilla, memutar haluan.
“Takut kenapa? Mereka nggak makan orang kok. Sudahlah jangan malu-malu seperti itu” bujukku dan meneruskan perjalanan ke aula villa.
***
            Aula villa memang tempat yang paling sering di kunjungi oleh teman-teman peserta selain tempat untuk lunch atau dinner, ada keperluan pribadi atau universal mungkin mereka juga ingin lebih akrab lagi dengan para panitia atau senior. Namun, tujuan kami bertiga kali ini tidak lain hanya untuk menyeduh mie. Awalnya kami Cuma bertiga, akan tetapi kak Halim datang dan ingin menyeduh mie juga. Kebetulan di depan aula terdapat kursi dan meja yang bisa kami duduki sejenak selagi menyantap mie kami masing-masing.
            Sambil memandangi rerumputan dan dedaunan yang basah akibat tetesan hujan hingga memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami, kak Halim tak sungkan membagi pengalamannya selama di IKAMI kepada kami bertiga dan sesekali menghiasinya dengan candaan. Bukan hanya dia yang bercerita, kami pun ikut menceritakan pengalaman masing-masing hingga berujung dengan diskusi.
            Tak terasa wadah mie kami sudah tak berisi lagi, perut yang tadinya keroncongan kini sudah berisi. Kami akhirnya menyudahi pembicaraan itu kemudian saya, Dilla dan Fitria beranjak dari kursi lalu menuju kamar untuk beristirahat sejenak sebelum memulai materi terakhir. Belum sempat memejamkan mata tiba-tiba ponsel saya berdering, terlihat panggilan masuk dari kak Firman dan memberi amanah kepada saya untuk memberitahukan kepada teman-teman yang lain bahwa tiba saatnya untuk makan malam.
***
            Usai makan malam kami langsung memasuki materi terakhir mengenai teknik persidangan yang dibawakan oleh kakanda Amiruddin Wata. Selain materi, kami juga di beri praktek secara langsung bagaimana sidang dalam organisasi itu. Ada 4 cara peserta memberi intruksi kepada pimpinan sidang yaitu: point of order, point of information, point of clarification, point of privat. Suasana pada malam ini yang awalnya biasa saja tiba-tiba menjadi gaduh. Tentu saja karena praktek dalam persidangan yang sejak awal sudah direncanakan oleh panitia membuat banyak peserta merasa tegang kemudian kabur masuk ke dalam kamar. Meskipun saya bukan anak psikologi, namun saya bisa melihat dari raut wajah para panitia yang tidak begitu serius dan mungkin karena saya sudah merasakan hal ini sebelumnya ketika musyawarah cabang di Situ Gintung yang lalu. Akhirnya materi persidangan selesai, di penghujung malam minggu kali ini semuanya bersuka ria dengan menampilkan kreasi dari tiap kelompok hingga waktu yang ditetapkan berakhir.
***
            15 Desember 2013 pagi ini angin terasa merambah kedalam sum-sum tulang, sedikit demi sedkit mata ini membuka dan terlihat semuanya masih tertidur pulas tanda kelelahan. Hampir sejam jam setelah saya membuka mata tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan yang masih serak. Ternyata itu para kakak panitia yang sejak pagi telah bangun untuk menyiapkan sarapan buat kita semua. Pagi ini kami dihidangkan nasi goreng ala kakak panitia yang super lezat. Usai sarapan bersama, banyak dari kami yang bergegas menuju pantai namun lain halnya denga kami bertiga. Meskipun cuaca sangat mendukung untuk bermain di pantai, rasa PW untuk tetap di villa masih sangat terasa. Kami pun mencari lokasi disekitar villa untuk mengabadikan kebersamaan ini dan kami pun menemukan lokasi yang cukup indah di dekat pohon beringin kebetulan berdekatan dengan villa senior. Kami duduk sejenak diteras villa senior dan  mengabadikan moment itu dalam lensa kamera. Tiba-tiba kak Amir datang menghampiri kami dan memulai candanya, tak lupa dia mengeluarkan rayuan gombalnya. Tapi, bukan kepada kami bertiga melainkan dengan seseorang yang masih berada di dalam kamar villa.
            Tak lama kemudian kak Anna yang sedari tadi kami tunggu akhirnya keluar juga dari villa, dia mengajak kami untuk berfoto di pantai. Awalnya kami tidak ada niat untuk ke pantai tapi karena ajakan kakak, kami pun kesana. Kami menikmati suasana dan keramaian pantai carita pagi itu, tiba-tiba ada kejadian yang membuat kita harus meninggalkan pantai sesegera mungkin. Selepas dari pantai kami diperintahkan untuk packing karena sebentar lagi kami akan meninggalkan anyer dan sejuta kenangannya.
            Tiba saatnya penutupan dan penyerahan hadiah bagi kelompok yang menang pada saat games kemarin. Dan pada kesempatan itu pula Ihsan terpilih sebagai ketua ta’aruf IKAMI Sul Sel cab. Ciputat angkatan 2013. Dia menyebut angkatan kami dengan sebutan Duo Villa dengan alasan: belum ada sejarah bahwa IKAMI menyelenggarakan ta’aruf dengan memakai dua villa sekaligu hingga angkatan 2012 dan kali ini angkatan 2013 menuliskan sejarah itu. Kami menganggap itu logis dan masuk akal sehingga kami sepakat bahwa angkatan kami disebut dengan Duo Villa.
            Usai penutupan kami belum juga di pulangkan ke Ciputat karena ada trouble yang memungkinkan kami untuk tetap tinggal beberapa jam di Anyer. Mau tidak mau kami harus menjadi orang yang sabar meski tak dipungkiri keluhan demi keluhan selalu tersirat dari bibir kami. Akhirnya, pada pukul yang hampir menunjukkan 15.00 WIB bus pun berangkat menuju Ciputat. Di perjalanan saya banyak berbincang dengan kak Amir, sambil berbagi ilmu dan pengalaman kepada saya dia tak henti-hentinya mengeluarkan rayuan gombal atau biasa disebut modus malam terhadap kakak cantik yang duduk di sebelah saya. Tak terasa bus memasuki kawasan Lebak Bulus itu artinya sebentar lagi saya dan teman-teman se asrama akan tiba di tempat yang kami ibaratkan sebagai rumah. Kurang dari pukul 22.00 WIB kami sampai dengan selamat.
            Terima kasih buat para kakak-kakak panitia dan senior yang telah bersedia mengenal kami dan menunda aktivitasnya yang mungkin padat selama 3 hari 2 malam. Kami bersedia menjadi regenerasi IKAMI Sul Sel cab. Ciputat di tahun yang akan datang dengan semangat:
Lempu, Macca, Warani.
Sipakatau, Sipakainge’, Sipakale’bi.

EWAKO…! EWAKO…! EWAKO…!

Dibawah ini sedikit kegiatan kami di balik lensa kamera:

Materi ke IKAMI-an oleh kakanda Rusdi Anwar (tengah)

Sambutan oleh ketua panitia

Para peserta ketika menyimak materi

Istirahat sejenak ketika sampai di villa

Ini kelompok kami (kelompok 1) biasa disebut La Recu

Fitria, Dilla, Laila (pagi hari di Pantai Carita)

Makan malam peserta cowok

Makan malam peserta cewek

Salah satu games  kekompakan (mengangkat air dengan sarung)

Suasana bus ketika pulang ke Ciputat





Friday, 20 December 2013

Siapa saya?

Oke baiklah, kenalin nama saya Laila Idayanty Zul kadang ada yang memanggil Ela ataupun Laila, whatever!
asal jangan dipanggil Zul itu bagian dari nama saya yang paling sakral. Hmm... saya sih suka segala hal sesuai dengan mood saya saat itu. Kadang nyanyi-nyanyi nggak jelas, berpuisi, menulis, nonton film sampai menjadi orang terbersih bisa saya lakukan haha :D. Tapi jangan salah hobby yang tidak pernah saya tinggalkan itu menjelajah dunia. Yah, pastinya dengan bantuan internet gitu..
Saya lahir dari keturunan suku Bugis tapi, teman saya kebanyakan suku Makassar dan anehnya sekarang saya mencoba memasuki ranah kehidupan suku Jawa dan kalau bisa sih semua suku di Indonesia.
Intinya kalian tidak harus kenal saya di dunia nyata kalau mau tahu siapa saya yang sebenarnya. OK!
This is my pict:

Semasa saya bersekolah di MTsN Model Makassar

Semasa saya bersekolah di MAN Bulukumba

Baju kebanggaan saya (baju bodo)

Kampus tercinta saya (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Menjadi peserta Indonesian Law years Club

Ini bukan nyanyi, tapi berpuisi dengan menggunakan bahasa Bugis

Sunday, 8 December 2013

Mama Merekalah IKAMI itu


Usai shalat subuh saya bergegas mengambil ponsel yang ada di tempat tidur. Dengan jantung yang berdegup kencang dan rasa penasaran yang semakin memuncak saya akhirnya berhasil membuka website yang menjadi penentu masa depan saya. Karena di website itu tertera pengumuman SPMB-PTAIN PPA. Tinggal itu satu-satunya harapan saya untuk lolos di perguruan tinggi melalui jalur undangan tanpa test. Sambil menerka-nerka di dalam hati apakah saya lolos atau tidak, tiba-tiba saya melihat background di pengumuman saya berwarna hijau spontan saya mengucap syukur Alhamdulillah. Namun saya belum tahu PTAIN mana yang menerima saya, pelahan-lahan saya turunkan cursor ponsel saya dan melihat prodi yang saya masuki adalah Pendidikan Matematika. Sempat saya berfikir sejenak sebelum melanjutkan gerakan cursor itu.
“perasaan saya tidak mengambil jurusan Pendidikan Matematika di UIN Alauddin Makassar dan berarti universitas yang menerima saya adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” kataku dalam hati.
Dan akhirnya dugaan tersebut benar, saya merasa sangat senang karena dapat melanjutkan kuliah di luar pulau Sulawesi dan juga merasa belum yakin kalau saya bisa kuliah disana. Saya langsung berteriak mencari mama yang saat itu sedang berada di dapur, saya sempat berbasa-basi terlebih dahulu sebelum memberitahukan pengumuman tersebut.
“Ma, coba tebak saya lolos di PTAIN apa?” Sambil tersenyum.
“Kalau menurut mama kamu lolos di UIN Alauddin Makassar, tapi sepertinya kamu sangat yakin kalau kamu lolos di Jakarta. Memangnya pengumuman PTAIN sudah keluar?”.
“Iya ma, pengumumannya sudah keluar dan tebakan mama benar”.
“Mama bilang juga apa, pasti UIN Makassar dan kalau kamu itu dari dulu udah diramalkan kuliah di UIN”.
“Iya ma, tapi tebakan mama yang benar itu adalah tebakan yang kedua dan memang benar kalau saya ditakdirkan buat kuliah di UIN dan itu UIN Jakarta bukan UIN Makassar hehe”.
            Mama pun kaget bukan kepalang dan mengatakan kalau impian dan cita-citaku sewaktu kecil sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Karena sjak kecil saya memang sering bercerita ke mama ketika besar nanti saya akan tinggal di Jakarta karena jodoh saya ada di Jakarta, mama pun selalu mengaminkan kata-kata itu setiap terucap dari mulut saya. Entah apa yang ada di fikiran anak kecil yang masih polos seperti saya sampai-sampai mengatakan hal yang seperti itu.
            Namun tak segampang itu saya mewujudka impian dan cita-cita saya, banyak pro-kontra yang terjadi antara keluarga dan saya, hampir 90% dari mereka tidak sepakat saya berkuliah di Jakarta karena mereka fikir Jakarta itu adaah kota metropolitan dan semua hal-hal buruk tentang Jakarta mereka utarakan tanpa melihat sisi baik dari Jakarta dan orang-orangnya. Kegaluan dan dilema pun semakin memuncak dalam diri saya hingga ketika semuanya tak menyetujui pilihan saya tersebut  saya nekad tidak keluar dari kamar beberapa hari dan tidak mau makan. Awalnya mereka menganggap bahwa itu Cuma bualan saya agar keinginan untuk berkuliah di Jakarta bisa terwujud namun lama kelamaan mama melihat tekad dan sikap keras kepala saya yang semakin keras seperti batu karang. Sebagai seorang ibu dia tidak tega melihat masa depan anaknya hancur hanya karena satu keinginan besarnya tidak terpenuhi.
            Mama akhirnya membujuk saya untuk keluar kamar dan memberi nasehat bahwa gula janganlah dipadukan dengan gula karena tidak akan menghasilkan apapun namun, kamu harus bisa memadukan gula itu dengan air hangat agar menghasilkan air yang manis. Maksudnya, egoisme dan keras kepala dari keluarga jangan dibalas dengan hal serupa, namun balaslah dengan kelembutan dan meyakinkan mereka bahwa kamu bisa.
***
            Malam ini semua keluarga besar saya berkumpul di rumah dan membicarakan tentang bagaimana masa depan saya selanjutnya. Ada diantara mereka yang berkata:
“kalau saja dia masih tetap dengan pendiriannya dan keras kepala seperti itu maka kita nikahkan saja”.
Saya pun mengelak perkataan itu sambil membentak dengan nada kesal
“memangnya kamu siapa? Orang tua saya saja tidak pernah berkata seperti itu, saya masih punya mimpi dan cita-cita Insya Allah suatu saat saya akan membahagiakan orang tua saya tanpa melalui jalan pernikahan dini”.
            Orang itu tiba-tiba terdiam, dan nenek saya pun mulai bertanya dengan nada khawatir
“nak nanti kamu kesana sama siapa? Kalau tiba dijemput sama siapa? Dan mau tinggal dimana? Kamu ini anak gadis sulung dari mama kamu dan kamu belum mengerti situasi dan kondisi Jakarta”
            Saya pun tertunduk ternyata mereka mengkhawatirkan keadaan saya ketika sampai di sana maka dengan nada rendah saya menjawab pertanyaan itu,
“Insya Allah saya tidak akan tersesat disana dan saya yakin Allah selalu melindungi saya ketika berada disana. Mungkin ini sudah menjadi garis takdir saya untuk melanjutkan kuliah disana. Ketika saya lolos seleksi Teen Model Contest 2009 dan harus ke Jakarta tetapi terkendala dengan ujian semester padahal sudah membeli 2 buah tiket mama pernah bilang mungkin ini bukan jalan kamu untuk ke Jakarta tapi, mama yakin suatu hari nanti kamu akan ke Jakarta dan bisa melihat Jakarta dari puncak Monumen Nasional. Dan saya yakin inilah waktunya nek. Jangan khawatirkan saya”.
            Keluarga yang berkumpul pada malam itu sudah meyakini tekad saya dan mengizinkan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta dengan syarat saya harus berangkat seorang diri. Saya pun menyetujui itu.
***
            Satu masalah sudah teratasi dan hasilnya memuaskan batin saya akan tetapi saya kepikiran dengan perkataan nenek saya bahwa nanti ketika sampai di Jakarta siapa yang menjemput dan dimana saya tinggal untuk sementara? Pertanyaan itu berulang-ulang dalam benak saya. Kebetulan saya sedang membuka media sosial dan tiba-tiba terbesit di otak bahwa saya harus memcari perkumpulan mahasiswa di Jakarta karena beberapa waktu yang lalu ketika para mahasiswa UI yang berasal dari Sulawesi mengadakan Try Out di Bulukumba saya mendengar kalau mereka punya sekretariat. Dari situlah pikiran saya menelaah pasti UIN juga punya perkumpulan seperti itu.
            Mulailah saya searching dengan key word: Perkumpulan mahasiswa Sulawesi Selatan di Jakarta. Tidak cukup 60 secon saya menemukan halaman media sosial grup IKAMI Sul Sel cab. DKI Jakarta. Dengan perasaan senang saya mulai mengetik beberapa huruf hingga menjadi kata-kata untuk mengutarakan maksud dan tujuanku di dinding halaman tersebut, aji mumpung pun menimpa saya pada saat itu admin halaman tersebut sedang online juga dia merespon dengan baik apa yang saya inginkan. Setelah saya mencari tahu adminnya adalah ketua umum IKAMI Sul Sel cab. DKI Jakarta namanya Ashari Alang Pabua dia memberikan saya nomor ponsel ketua umum IKAMI Sul Sel Cab. Ciputat berhubung kampus saya letaknya di Ciputat. Tanpa berfikir panjang saya mengutarakan maksud dan tujuan saya ke Jakarta sembari berkenalan dengan ketua umumnya yang bernama Amiruddin Wata.
            Saya dengan perasaan senang memberitahukan kepada mama dan semua keluarga bahwa akan ada yang menjemput saya ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta meskipun saya belum terlalu yakin dengan hal ini.
***
Pada H-1 keberangkatan saya, entah kenapa hati saya merasa sangat sakit dan ingin menangis ketika ingin berpisah dengan orang tua, keluarga, teman-teman dan kerabat untung saja saya tidak punya pujaan hati. Tapi, perjalanan hidup baru saya baru saja akan di mulai dan tidak mungkin saya stop sampai disini. Tak lupa saya menghubungi kak Amir untuk meminta kepastian apakah nantinya ketika saya sampai di Jakarta akan ada yang menjemput atau tidak. Alhamdulillah kak Amir mengiyakan itu dan akan ada yang menjemput namanya Muhammad Sapril, dia pun memberikan nomor ponsel yang bisa saya hubungi agar nantinya bisa berkomunikasi.
Sekitar jam 07:30 WITA mama mengantarku ke bandara dan membawa sekoper penuh barang-barang dan pakaian yang akan saya gunakan nantinya. Satu hal yang membuat saya sedih ketika koper yang mama bawa diberikan kepada saya dan ditempat itu orang-orang berkerumunan dan saya tidak menyadari sudah berada di dalam bandara setelah menengok ke belakang mama dan adik saya yang kecil sudah tidak terlihat lagi di kerumunan orang.
24 Juni 2013 adalah hari pertama kalinya saya menginjakkan kaki di ibukota negara dan kak Sapril menjemput saya on time. Di sepanjang jalan kami berbagi cerita dan pengalaman dan dia menceritakan sedikit pengalamannya selama bergambung dengan IKAMI. Saya terdiam dan merasa sangat beruntung akan dipertemukan dengan mereka dan mulai saat itulah saya jatuh cinta dengan organisasi yang bernama IKAMI Sul Sel ini karena dengan satu alasan, bahwa IKAMI adalah organisasi yang membangun karakter para kadernya untuk berjiwa kekeluargaan dan menolong siapa saja tanpa pamrih. Tak terasa 2 jam lebih kami berada di perjalanan dan akhirnya sampai di sekretariat IKAMI Sul Sel cab. Ciputat, letaknya tidak terlalu jauh dari kampus UIN Jakarta. Sesampainya disana para anak IKAMI menyambut saya dengan hangat dan perasaan gembira mulailah saya berkenalan dengan mereka meskipun saya belum bisa menghafal nama mereka satu per satu.
Salah seorang dari mereka menghubungi anak IKAMI perempuan untuk memberikan saya tempat tinggal sementara waktu. Setelah beristirahat beberapa jam, 3 orang perempuan menjemput saya untuk tinggal di tempat mereka, namanya Nura Abla, Selvi dan Cida. Saya merasa sangat bersyukur dan hati pun tak henti-hentinya berbicara: “mungkin karena niat dan tekadku yang kuat serta doa dari orang-orang terkasih, Allah memberiku kemudahan dalam mencapai cita-citaku salah satunya yaitu dengan mempertemukanku dengan mereka IKAMI Sul Sel”.



Inilah salah satu foto kebersamaan saya dengan IKAMI . Foto ini diambil sehari setelah saya sampai di Jakarta tepatnya 25 Juni 2013 dalam acara Indonesia Law Years Club di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.




Kiri: ----, kak Lihin, kak Fahri, kak Daus, kak Amir, kak Ari, kak Anna, saya dan kak Sapril
***


Saya (kiri) pun diperkenankan hadir dalam Musyawarah Cabang IKAMI Sul Sel cab. Ciputat ke-XIX pada tanggal 28 Juni 2013.