Hari
ini 13 Desember 2013 suasana siang menjelang sore hari terasa
sangat bising dan lumayan panas. Sambil melihat wajah-wajah yang nampak asing
bagi saya, butiran-butiran debu pun serasa menutupi pandangan ini terhadap
mereka. Kami calon kader dari IKAMI Sul Sel cab. Ciputat akan melaksanakan makrab atau lebih dikenal dengan
istilah ta’aruf. Mendengar cerita dari para senior, peserta tahun ini cukup
meluap dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Ayo.. ayo cepat naik.!” Kata beberapa orang panitia
saat memulai keberangkatan ke Anyer.
Saya bergegas naik ke atas bus yang berada di deretan ke
dua bersama seeorang teman dan kakak panitia, sebut saja namanya Dilla dan kak
Rosita. Saya duduk beberapa deret dari jarak Pak supir sedangkan mereka duduk
di belakang saya. Sambil mengingat kembali buku sewaktu saya masih duduk di
bangku kelas 2 SD, di dalamnya terdapat cerita mengenai Pantai Carita, Anyer.
Sempat saya menerawang jauh keindahan Anyer seperti yang di ilustrasikan oleh
buku itu. Tiba-tiba imajinasi indah itu terputus oleh suara mesin bus yang siap
berangkat. Saya pun menghentikan imajinasi itu dan berfokus terhadap pemandangan
kota Tangerang, sambil sesekali bercakap dengan kak Anna yang duduk di sebelah
saya ataupun kak Rosita dan Dilla yang berada di belakang saya.
Di tengah perjalanan ass. supir menyuguhkan kami beberapa
lagu lawas yang kira-kira trend sekitar tahun 90-an, bibirku pun ikut bergoyang
mengikuti syair-syair lagu tersebut sambil memainkan ponsel dengan satu tujuan
yaitu membuka media sosial. Dengan kalimat “welcome Banten, welcome Anyer
beach” kusuguhkan kalimat itu kepada teman-teman yang membuka media sosial.
Rasanya lumayan suntuk juga ketika hujan turun ditambah dengan suasana bus yang
terasa hening. Beberapa kali saya mencoba menutup mata tetapi rasanya mata saya
masih terasa fresh.
Ketika memasuki kawasan Anyer, hujan sempat reda namun
tak lama hujan pun turun lagi dengan sangat derasnya. Langit tampak menghitam
dan terlihat jelas tanda-tanda bahwa mentari telah berganti bulan tapi sayang,
sepertinya malam ini bulan tertutupi oleh awan hitam. Namun itu bukanlah
kendala untuk tujuan kami kali ini. Dalam suasana yang membosankan, datanglah
beberapa teman dari deretan belakang menyanyikan beberapa lagu ditemani dengan
gitar ditangannya. Saya cukup menikmati lagu-lagu yang dinyanyikannya tanpa
terasa 5 jam berlalu kami pun sampai di villa yang akan menyatukan kami semua.
***
Tanah yang becek dan hujan yang masih saja turun membuat
kami berhati-hati dalam melangkah menuju villa. Tanpa saya duga tragedi kecil menimpa
ketika memasuki teras villa, sambil menenteng barang-barang saya pun terpeleset
di teras villa untung hanya memar yang saya dapat dari tragedi itu.
“Uh, sakit…!!!” desah
kecilku.
“Makanya kalo jalan
hati-hati dong, biar nggak kepleset”, kata seorang teman yang melihat saya terpleset.
“Apakah cuma saya yang
terpleset karena kurang hati-hati atau mungkin terasnya benar-benar licin?
ntahlah!”, kataku dalam hati.
Villa yang kami tempati terdiri atas dua tingkat dan
pemisahan antara cewek dan cowok di bagi berdasarkan tingkatan villa itu.
“Cewek tidur di atas
dan cowok tidur di lantai dasar”, kata beberapa panitia.
Setelah beristirahat
beberapa jam kami disuguhi makan malam dengan lauk ayam, karena telur himpunan
bagian dari ayam maka semuanya sepakat bahwa makan malam kita adalah ayam.
Beberapa menit setelah makan malam, acara pembukaan ta’aruf dimulai. Kami
diperkenalkan beberapa senior dan panitia meskipun bagi saya beberapa dari mereka
telah saya kenal sebelumnya tapi mungkin tidak untuk teman-teman yang lain dan
diperkenalkan pula kepada kami calon anggot IKAMI yang berstatus anggota luar
biasa yaitu anggota yang bukan berasal atau berdarah Sulawesi Selatan tetapi
ingin menjadi bagian dari IKAMI. Malam semakin larut, sebelum beristirahat kami
dibagi kelompok secara acak dan saya masuk ke dalam kelompok 1 yang dimentoring
oleh kak Jumansyah atau biasa dipaggil kak Anca.
***
14 Desember 2013,
pagi hari yang cukup dingin ditambah dengan kamar yang ber-AC membuat bulu
kuduk merinding, rerumputan yang basah menandakan hujan baru saja berhenti.
Kegiatan kami tidak cukup sampai disini,
meskipun asam laktat dalam tubuh masih menumpuk dan glukosa yang terpecah masih
sedikit, kegiatan pagi hari kami yaitu mentoring dan perkenalan sesama teman
kelompok masih tetap berlanjut. Namun, ada berita mengagetkan dari mentor kami,
kita semua akan meninggalkan villa dan belum pasti apakah kita akan pindah ke
villa yang lain atau mereka akan memulangkan kita semua ke Ciputat.
“Rasanya mirip kisah
Cinderella saja meski ada sedikit perbedaan jika Cinderella harus meninggalkan
istana jam 12 malam, tak jauh beda dengan kami yang harus meninggalkan villa
yang sedari awal sudah menjadi istana bagi kami semua pada jam 12. Namun 12
yang saya maksud adalah 12 siang”. Candaku pada diri sendiri.
Usai sarapan kami di suguhkan materi tentang ke IKAMI-an
yang dibawakan oleh kakanda Rusdi Anwar S.H, beliau mengungkapkan bahwa ada
empat tujuan IKAMI yaitu: meningkatkan
mutu keilmuan, melestarikan budaya & nilai-nilai luhur, pengabdian masyarakat
dan mempererat semangat kekeluargaan. Setelah materi selesai kami siap-siap
untuk packing, kabar baiknya kami tidak dipulangkan tetapi menuju villa yang
baru di daerah Padeglang, Banten yang bernama “Villa Mama Teteh”. Sayangnya
perjalanan kami kesana dihiasi oleh hujan deras hingga aktivitas selama disana
sempat vakum beberapa jam.
***
Sore
hari, hujan terlihat agak reda dan memungkinkan kita semua untuk bermain di
pantai. Berbicara tentang pantai pasti tidak lepas dengan jeprat-jepret dan
mandi di temani oleh ombak yang menggulung-gulung. Sesampainya di pantai kami
para anggota baru bermain beberapa permainan yang sangat menyenangkan yang di
pandu oleh kak Afni dan kak Ambo. Saya
mengakui bahwa kelompok kami sering melakukan kecurangan hampir di setiap games
hingga kelompok dan mentor yang lain meneriaki kami.
“Curang…! Curang…!
Curang…! Kelompok 1 curang…!”, teriak mereka.
“Bagaimana tidak
curang? Namanya saja Laa Recu hahaha”, balasku dengan teriakan yang keras juga.
Games
masih berlanjut namun hujan mulai turun lagi, tanpa menghiraukan hujan kami
tetap memainkan games yang terakhir meski ombak dan cuaca tidak bersahabat.
Pada akhirnya kami semua kebasahan, bukan karena mandi dipantai melainkan
karena tersiram air hujan. Meski demikian kami tetap menikmati suasana yang ada
hingga para panitia memberi kami arahan untuk kembali ke villa.
Air hujan yang membasahi seakan memaksa kami untuk mandi di
senja itu. Saya yang awalnya tak ada niat untuk mandi akhirnya mandi juga. Selesai
membersihkan badan, saya dan dua orang teman yang selama disana tidak pernah
terpisahkan yaitu Dilla dan Fitria mulai membuka kresekan yang setiap saat
ditenteng. Tentu saja kresekan itu berisi persediaan makanan selama disana.
“Wah malam ini kita pesta
Pop Mie”, kataku sambil menerima Pop Mie dari Dilla.
“Kita mau nyeduh mie
dimana?”, kata Fitria.
“Ya udah kita ke aula
aja, kan disana ada dispenser”, kataku sambil menggiring mereka berdua menuju
aula villa.
“Nggak usah disana ah, takut sama kakak-kakaknya.
Kita nyeduh ama ibu yang jualan di depan aja” kata Dilla, memutar haluan.
“Takut kenapa? Mereka
nggak makan orang kok. Sudahlah jangan malu-malu seperti itu” bujukku dan
meneruskan perjalanan ke aula villa.
***
Aula villa memang tempat yang paling sering di kunjungi
oleh teman-teman peserta selain tempat untuk lunch atau dinner, ada keperluan
pribadi atau universal mungkin mereka juga ingin lebih akrab lagi dengan para
panitia atau senior. Namun, tujuan kami bertiga kali ini tidak lain hanya untuk
menyeduh mie. Awalnya kami Cuma bertiga, akan tetapi kak Halim datang dan ingin
menyeduh mie juga. Kebetulan di depan aula terdapat kursi dan meja yang bisa
kami duduki sejenak selagi menyantap mie kami masing-masing.
Sambil memandangi rerumputan dan dedaunan yang basah
akibat tetesan hujan hingga memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di
sekitar kami, kak Halim tak sungkan membagi pengalamannya selama di IKAMI
kepada kami bertiga dan sesekali menghiasinya dengan candaan. Bukan hanya dia
yang bercerita, kami pun ikut menceritakan pengalaman masing-masing hingga
berujung dengan diskusi.
Tak terasa wadah mie kami sudah tak berisi lagi, perut
yang tadinya keroncongan kini sudah berisi. Kami akhirnya menyudahi pembicaraan
itu kemudian saya, Dilla dan Fitria beranjak dari kursi lalu menuju kamar untuk
beristirahat sejenak sebelum memulai materi terakhir. Belum sempat memejamkan
mata tiba-tiba ponsel saya berdering, terlihat panggilan masuk dari kak Firman
dan memberi amanah kepada saya untuk memberitahukan kepada teman-teman yang
lain bahwa tiba saatnya untuk makan malam.
***
Usai makan malam kami langsung memasuki materi terakhir
mengenai teknik persidangan yang dibawakan oleh kakanda Amiruddin Wata. Selain materi,
kami juga di beri praktek secara langsung bagaimana sidang dalam organisasi
itu. Ada 4 cara peserta memberi intruksi kepada pimpinan sidang yaitu: point of order, point of information, point
of clarification, point of privat. Suasana pada malam ini yang awalnya
biasa saja tiba-tiba menjadi gaduh. Tentu saja karena praktek dalam persidangan
yang sejak awal sudah direncanakan oleh panitia membuat banyak peserta merasa
tegang kemudian kabur masuk ke dalam kamar. Meskipun saya bukan anak psikologi,
namun saya bisa melihat dari raut wajah para panitia yang tidak begitu serius
dan mungkin karena saya sudah merasakan hal ini sebelumnya ketika musyawarah
cabang di Situ Gintung yang lalu. Akhirnya materi persidangan selesai, di
penghujung malam minggu kali ini semuanya bersuka ria dengan menampilkan kreasi
dari tiap kelompok hingga waktu yang ditetapkan berakhir.
***
15 Desember 2013
pagi ini angin terasa merambah kedalam sum-sum tulang, sedikit demi sedkit mata
ini membuka dan terlihat semuanya masih tertidur pulas tanda kelelahan. Hampir
sejam jam setelah saya membuka mata tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan
yang masih serak. Ternyata itu para kakak panitia yang sejak pagi telah bangun
untuk menyiapkan sarapan buat kita semua. Pagi ini kami dihidangkan nasi goreng
ala kakak panitia yang super lezat. Usai sarapan bersama, banyak dari kami yang
bergegas menuju pantai namun lain halnya denga kami bertiga. Meskipun cuaca
sangat mendukung untuk bermain di pantai, rasa PW untuk tetap di villa masih
sangat terasa. Kami pun mencari lokasi disekitar villa untuk mengabadikan
kebersamaan ini dan kami pun menemukan lokasi yang cukup indah di dekat pohon
beringin kebetulan berdekatan dengan villa senior. Kami duduk sejenak diteras
villa senior dan mengabadikan moment itu
dalam lensa kamera. Tiba-tiba kak Amir datang menghampiri kami dan memulai
candanya, tak lupa dia mengeluarkan rayuan gombalnya. Tapi, bukan kepada kami
bertiga melainkan dengan seseorang yang masih berada di dalam kamar villa.
Tak lama kemudian kak Anna yang sedari tadi kami tunggu
akhirnya keluar juga dari villa, dia mengajak kami untuk berfoto di pantai. Awalnya
kami tidak ada niat untuk ke pantai tapi karena ajakan kakak, kami pun kesana. Kami
menikmati suasana dan keramaian pantai carita pagi itu, tiba-tiba ada kejadian
yang membuat kita harus meninggalkan pantai sesegera mungkin. Selepas dari
pantai kami diperintahkan untuk packing karena sebentar lagi kami akan
meninggalkan anyer dan sejuta kenangannya.
Tiba saatnya penutupan dan penyerahan hadiah bagi
kelompok yang menang pada saat games kemarin. Dan pada kesempatan itu pula
Ihsan terpilih sebagai ketua ta’aruf IKAMI Sul Sel cab. Ciputat angkatan 2013. Dia
menyebut angkatan kami dengan sebutan Duo
Villa dengan alasan: belum ada
sejarah bahwa IKAMI menyelenggarakan ta’aruf dengan memakai dua villa sekaligu
hingga angkatan 2012 dan kali ini angkatan 2013 menuliskan sejarah itu. Kami
menganggap itu logis dan masuk akal sehingga kami sepakat bahwa angkatan kami
disebut dengan Duo Villa.
Usai penutupan
kami belum juga di pulangkan ke Ciputat karena ada trouble yang memungkinkan
kami untuk tetap tinggal beberapa jam di Anyer. Mau tidak mau kami harus menjadi
orang yang sabar meski tak dipungkiri keluhan demi keluhan selalu tersirat dari
bibir kami. Akhirnya, pada pukul yang hampir menunjukkan 15.00 WIB bus pun
berangkat menuju Ciputat. Di perjalanan saya banyak berbincang dengan kak Amir,
sambil berbagi ilmu dan pengalaman kepada saya dia tak henti-hentinya
mengeluarkan rayuan gombal atau biasa disebut modus malam terhadap kakak cantik
yang duduk di sebelah saya. Tak terasa bus memasuki kawasan Lebak Bulus itu
artinya sebentar lagi saya dan teman-teman se asrama akan tiba di tempat yang
kami ibaratkan sebagai rumah. Kurang dari pukul 22.00 WIB kami sampai dengan
selamat.
Terima kasih buat para kakak-kakak panitia dan senior
yang telah bersedia mengenal kami dan menunda aktivitasnya yang mungkin padat
selama 3 hari 2 malam. Kami bersedia menjadi regenerasi IKAMI Sul Sel cab. Ciputat
di tahun yang akan datang dengan semangat:
Lempu, Macca, Warani.
Sipakatau, Sipakainge’,
Sipakale’bi.
EWAKO…! EWAKO…! EWAKO…!
Dibawah ini sedikit kegiatan kami di balik lensa kamera:
Materi ke IKAMI-an oleh kakanda Rusdi Anwar (tengah)
Sambutan oleh ketua panitia
Para peserta ketika menyimak materi
Istirahat sejenak ketika sampai di villa
Ini kelompok kami (kelompok 1) biasa disebut La Recu
Fitria, Dilla, Laila (pagi hari di Pantai Carita)
Makan malam peserta cowok
Makan malam peserta cewek
Salah satu games kekompakan (mengangkat air dengan sarung)
Suasana bus ketika pulang ke Ciputat










.jpg)
.jpg)





