Friday, 24 April 2015

Mungkin, Aku Terlalu Berharap Banyak


Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kautinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya

Tuesday, 21 April 2015

Mengapa Harus Kartini?

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi Monumen Nasional (Monas). Saat itu saya baru menyadari adanya patung R.A Kartini. Patung tersebut menggambarkan 3 pose Kartini yang berbeda: sedang berjalan, menyusui, dan menari. Patung ini adalah pemberian dari Jepang sebagai lambang persahabatan untuk Indonesia. Upacara peletakkan Patung Kartini digelar pada 20 Desember 2005 oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yutaka Himura kepada Gubernur Jakarta Sutiyoso.
Mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia? Ada dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh. Kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, dua wanita ini tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf.
Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.
Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Itulah dua wanita hebat yang hidup jauh sebelum Kartini lahir. Maka penggambaran situasi sosial masyarakat di Nusantara yang sangat menindas kaum perempuan dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah yang kita terima, adalah penggambaran yang sama sekali tidak berdasar.
Selanjutnya, Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.
Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
Pertanyaan yang harus timbul adalah: MENGAPA HARUS KARTINI?
Bangsa Indonesia harus bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu?
Apakah karena Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda?? Ia tidak pernah menyerah ataupun berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Rohana Kudus, meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, ia juga memiliki visi keislaman yang tegas.
Modern tidak berarti wanita bisa sama segala-galanya dengan laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Demikian juga laki-laki dengan kemampuan dan kewajibannya.
“Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”, begitu kata Rohana Kudus.

Wednesday, 15 April 2015

Mengenal Lebih Dekat Negeri Hitler



Budaya Belajar
Sejauh pengamatan yang saya lakukan, budaya belajar di Jerman sangat baik, salah satu indikasinya adalah walaupun hari libur (Sabtu - Minggu), namun perpustakaan tetap buka, dan pengunjung tetap ramai, jangan kaget jika anda susah mencari tempat duduk, untuk belajar. Semangat kemandirian, tepat waktu, inisiatif dan kreatif  merupakan semangat yang sangat ditumbuh kembangkan di Jerman. Bagi anda yang datang ke Jerman untuk belajar, maka jangan terlalu banyak tergantung kepada orang lain, anda harus mandiri, mencari sendiri apa yang anda butuhkan, artinya maju tidaknya anda, tergantung upaya yang anda lakukan, termasuk juga , jangan terlalu berharap banyak pada profesor pembimbing anda. Berupayalah untuk tepat waktu dalam berbagai kesempatan, karena budaya tepat waktu sudah menjadi budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat.
Lokasi kampus
            Universitas dan pusat penelitian di Jerman tersebar dengan merata ke semua wilayah di Jerman, dengan kualitas yang standar nasional Jerman. walaupun anda kuliah di kota kecil, bahkan bisa juga disebut kampung, namun tetap saja kualitas universitas atau pusat penelitian di kota kecil tersebut berkualitas sangat tinggi, namun bagi anda yang dari Indonesianya berasal dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surbaya, Medan, dll, maka jangan kaget kalau ternyata kampus yang anda tuju berada di kota kecil yang penduduknya bisa jadi sebanyak satu kecamatan di Jakarta, artinya dari awal anda siap menghadapi bahwa kota yang anda datangi adalah kota kecil. Suatu hari ada mahasiswa master dari Indonesia kuliah di kota dimana untuk mendapatkan sinyal handphone pun susah. namun sekali lagi kualitas universitasnya tetap tinggi. Namun ada juga kota-kota besar seperti Berlin, Hamburg, Frankfurt, dll. kalau kota saya tinggal kota menengah, tidak besar dan tidak pula kampung.
Transportasi
             Untuk transportasi, salah satu andalan di Jerman adalah kereta api, semua jadwal dan harga kereta api antar kota, bisa anda lihat di www.bahn.de , di web ini, anda bisa mendapatkan semua informasi jadwal dan harga tiket kereta antar kota ke seluruh Jerman, bahkan ke eropa. Bagi anda  mahasiswa cukup banyak paket discount (anggebot), yang diberikan pengelola kereta api bagi anda, tinggal kesigapan anda mencari dan berselancar di web kereta api Jerman. Kemudian juga penting untuk diperhatikan, jadwal kereta api di Jerman, hampir seluruhnya tepat waktu, artinya jika anda terlambat beberapa detik saja, anda bisa di tinggalkan, tidak ada istilah toleransi.
Masjid dan Jadwal Sholat.
            Jangan anda kaget jika, tidak menemukan bangunan masjid seperti layaknya di Indonesia, karena sebagian besar masjid di Jerman adalah bagian dari bangunan yang ada ruang luas yang dijadikan masjid, jadi dari luar tidak kelihatan seperti masjid, namun jika anda masuk ke dalam, anda akan mendapatkan masjid, yang karpetnya bagus, dan bersih. Cuma ada beberapa buah masjid saja di jerman, yang dari luarnya kelihat memang berbentuk masjid, seperti di Darmstat. Untuk jadwal sholat jauh berbeda dengan di Indonesia, awal saya sampai di Jerman, waktu itu musim dingin, pukul 04.30 CET, saya sudah sholat shubuh, padahal ternyata pada musim dingin sholat shubuh baru masuk pukul 06.00 lebih, dan ini terus berubah sesuai musim, untuk itu anda bisa melihat jadwal sholat di www.islamicfinder.org, tinggal anda lihat kota dimana anda berada. kemudian juga unik adalah, kalau anda sholat shubuh di masjid, sebagian besar masjid komunitas Turki (setahu saya masjid yg paling banyak di Jerman, adalah masjid komunitas Turki) baru melaksanakan sholat shubuh 30 menit sebelum fajar. dengan demikian walaupun waktu sholat shubuh misalnya sudah masuk pukul 04.00 CET, dan waktu Fajar 05.49 CET, maka sholat shubuh berjama'ah baru dimulai pukul 05.15 CET. Beberapa kali orang Indonesia yang baru sampai di Jerman, sholat shubuh di masjid komunitas Turki, bingung dengan kondisi ini, namun begitulah budaya mereka.

Minimarket/Supermarket
            Kalau anda punya kebiasaan pada hari minggu mau jalan-jalan ke mall dan belanja, maka selama anda di Jerman, anda harus merubah kebiasaan tersebut, karena hampir semua mall dan pusat perbelanjaan pada hari minggu libur, kecuali di central station (haupbahnhoft), itupun tidak semua central station ada minimarketnya, namun di beberapa kota besar, biasanya ada minimarket dan beberapa toko di central station yang buka, nah kalau ada keperluan mendesak, anda bisa datang ke central station nya untuk belanja kebutuhan pokok.
Pfand
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPEQVGiPSUYU2S-j5tQ7WBWeEY4HADrhu2NGUwR7CDjT1DuxXwdwwYzEf0fN4ZNtavv5WMs_1vFtqLDfjETKlMQoordz6Y1-EY4IZw5H_Kkv6eI9dk1Ttwg8ARYdBI47PpPJx_law8fX5P/s200/Pfand1.jpg
           Kalau anda membeli air mineral dan minuman lainnya, jangan serta merta membuang botolnya, karena sebagian besar minuman dikemas dengan botol untuk di daur ulang, dan ketika anda membelinya harga jual sudah termasuk harga untuk proses daur ulang. Agar anda mudah mengenali apakah minuman yang anda beli bisa dikembalikan ke toko/mesin, maka anda tinggal mengamati botol anda, apakah ada tanda pfandnya atau tidak, jika ada tanda seperti digambar, maka itu berarti anda bisa menukarkannya kembali ke toko atau ke mesin (seperti mesin ATM) disetiap tempat yang telah disediakan, biasanya di minimarket seperti Penny, Rosman, Netto, dll. Setiap botol yang anda tukarkan anda mendapatkan pengembalian uang sebesar 0,25 euro. jadi lumayan kan bisa digunakan untuk beli air mineral kembali.

Tetangga
           Pada prinsipnya orang Jerman cukup ramah, namun tetap berhati-hatilah dengan tetangga anda, karena bisa jadi kalau anda terlalu brisik, maka pintu anda diketuk dan disuruh diam, atau pernah juga ada cerita, orang Indonesia yang dilaporkan polisi oleh tetangganya karena di anggap terlalu brisik, atau anaknya terlalu ribut. Untuk anda yang membawa keluarga dan punya anak-anak kecil selama di Jerman, sangat disarankan berhati-hati memilih rumah tempat tinggal, salah satu yang harus diperhatikan adalah siapa tetangga anda, apakah akan terganggu atau tidak dengan suara anak-anak anda. saya menyarankan untuk mencari rumah dimana tetangga anda juga mempunyai keluarga dan anak-anak, syukur-syukur tetangga anda juga berasal dari luar Jerman. kondisi ini relatif lebih aman bagi kenyamanan keluarga anda.
  
Toilet
         Toilet di Jerman adalah Toliet kering dan tentunya bersih, namun biasanya tidak tersedia alat untuk "cebok". Bagi anda yang belum terbiasa, ini agak menyulitkan, yang tersedia dan banyak adalah tisu. pada awalnya mungkin merepotkan, namun seiring dengan waktu, anda harus mampu menyesuaikan diri, kalau di rumah anda sendiri, maka anda bisa membeli tambahan alat untuk cebok, kalau di masjid-masjid biasanya ada air dan alat yg bisa digunakan untuk bersuci. Sementara ini, beberapa catatan ringan, tentang beberapa budaya yang menurut saya berbeda dengan Indonesia, semoga memberikan informasi awal bagi siapa saja yang akan dan baru datang di Jerman.

Perbedaan Pandangan etika, moral antara Indonesia dan jerman
Di Jerman sekarang ini sedang merisaukan jumlah penduduknya yang tiap tahun makin mengurang.Berusaha menarik orang asing yang mempunyai keahlian untuk bekerja dan tinggal disana. Kanzlerin Merkel, Mentri Tenaga Kerja Van d.Leyen, Mentri Perekonomian Bruderle mengatakan perekonomian Jerman yang sekarang kembali tinggi akan menurun lagi, kalau tidak ada  tambahan ahli ahli orang asing. Tambahan problem Jerman adalah kelahiran manusia yang makin sedikit dan umur manusia di Jerman yang makin lama , artinya uang pemasukan untuk pensiunan dan untuk tanggungan kesehatan makin kurang, sedangkan pengeluaran makin banyak.
Dalam berita terahir pemerintah Jerman akan memberi kemudahan untuk orang asing yang bersedia bekerja dan tinggal di Jerman. Saratnya bisa berbahasa Jerman, punya satu keahlian dan bisa menerima adat kebudayaan Jerman. Tapi mungkin bagi orang Indonesia  ragu untuk bekerja dan tinggal disana, karena Etika dan Kemoralan Jerman tidak bisa dimengerti.
Dengan tulisan ini semoga bisa ada pengertian dari kedua pihak,ada toleransi antar kedua bangsa ,bisa memamfaatkan kebutuhan kedua bangsa.  Moral adalah subyek dari beberapa penelitian. Etika adalah disiplin filsafat,berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan,satu cara pembahasan ciri sikap perilaku, nilai hidup , kebajikan, validitas klaim, penuntutan hidup, argumen, dll dipelajari , dinilai dan  ditentukan menjadi satu aturan yang berlaku.  Dalam menentukan satu etika ada  sarat saratnya.  Penilaian mana yang dinamakan etika baik atau buruk  tergantung dari tempat kediaman masarakat , kebudayaan , agama dan tradisi.Jadi etika ini  di dunia  berbeda beda. Umpamanya etika Jerman tidak sama denga etika Indonesia karena dua negara yang berlainan adat istiadat, kebudayaannya, berlainan Agamanya dan juga berlainan iklimnya.
Moral dari bahasa latin  Moralitas  yang berarti adat kebiasaan. Adat  kebiasaan yang bernilai baik. Moral secara eklisip adalah hal hal yang berhubungan  dengan kesosialan individu. Penilaian terhadap moral tergantung dari adat kebudayaan, tradisi , Agama masyarakat setempat . Jadi Moral adalah hasil produksi dari Kebudayaan,Tradisi dan Agama.
Moralitas dalam konteks unit sosial atau organisasi merupakan salah satu objek dari  Kesosialan.
Prof.Dr.Ayala Francisco berpendapat dalam mengartikan penilaian Etik dan Moral juga tergantung dari pendidikan ( Intelektuel ) manusia. Terachir Luhman mengatakan bahwa penilaian, pendangan Moral dan Etik juga tergantung dengan perkembangan satu bangsa.
Kadang dalam penggunaan sehari hari kata moral dipergunkan juga umpamanya sebagai unjukan motivasi orang ( moral cara kerja, moral pasukan dsb ). Disini ada istilah yang dikatakan bermoral dan  tidak bermoral.
Kami tidak membahas tentang etika dan moral ini secara mendalam , tidak membicarakan tentang teori etika , tetapi ingin bicara tentang pandangan atau penilaian arti moral, etika   di Indonesia dan  di Jerman  yang berbeda. Saya tidak menilai etika , moral mana yang baik di Jerman atau di Indonesia , karena keduanya disesuaikan dengan kehidupan, kebudayaan  masing masing.  Dengan contoh contoh dibawah ini bisa melihat perbedaannya .
1.        Wanita dan laki laki bercinta didepan umum atau wanita dan laki laki hidup bersama  tanpa kawin di Indonesia dipandang tidak bermoral , etika yang jelek , di Jerman dipandang normal , tidak melangar etika .
2.       Satu pekerja ( tukang tembok,sarjana mesin, atau dokter, atau pekerja lain   mengerjakan pekerjaannya asal sajah , tidak teliti, tidak memperhatikan jam kerja , malas di Jerman dipandang hal yang tidak ber moral , etika hidup yang jelek di Indonesia hal ini dimaklumi, tidak melanggar etika.
3.       Minuman  yang mengandung alkohol seperti minuman anggur (  wine ), bir, Champagne, Sekt,Rum, Korn, whisky, Brandy, Cognag , Grafa , Aquavit dsb, termasuk satu kultur yang sudah ratusan tahun  ( mungkin ini sesuai dengan iklimnya). Umpamanya minum wine ada aturannya , wine apa yang harus diminum,kapan minum wine, caranya minum wine dan Juga ada penyesuaian gelasnya.Jadi minum  minuman yang mengandung alkohol yang berkultur tidak dianggap tak bermoral, kecuali mabok mabokan.  Di Indonesia karena berdasarkan  agama  minuman apapun yang mengandung alkohol dianggap tidak beretika  dan tidak bermoral. Apalagi sampai mabok.
4.       Seorang pengendara mobil tidak memperhatikan aturan lalu lintas, tidak menghormati orang yang jalan kaki , nyerobot nyerobot di Jerman di pandang tak bermoral di Indonesia tidak dinilai dengan kemoralan manusia.
5.       Tidak memperhatikan kebersihan rumah, tempat umum,tempat jalan kaki dimuka rumah , membuang kotoran, sampah semaunya di Jerman dianggap tidak bermoral di Indonesia dianggap tidak ada hubungannya dengan moral..
6.       Beristri lebih dari satu ( Poygami ) di Jerman satu hal yang tak bermoral dan satu etika yang jelek, di Indonesia dianggap biasa.
7.        Tidak bakti dan tidak menurut kata orang tua di Indonesia adalah satu hal yang  tak bermoral dan etika yang jelek, di Jerman bakti dan selalu menurut orang tua bukan hal yang harus atau kata bakti kepada orang tua di Jerman tidak ada.
8.       Tidak memperhatikan  kewajiban sebagai warga  negara umpamanya tidak bayar pajak atau menipu pajak ini di Jerman dipandang tidak bermoral , menjalankan etika yang tidak baik, di Indonesia di kecam tetapi tidak ada hubungannya dengan moral manusia.
9.       Tidak bersembahyang, tidak puasa dalam bulan Ramadan ,tidak melakukan zakat di Indonesia dipandang orang yang tak bermoral , di Jerman tidak menjadi persalahan kalau tidak sembahyang. Zakat tidak ada karena mereka pandang setiap warga membayar pajak yang cukup besar ( 23 sampai 43 % dari bruto pendapatan ) dan dari hasil pemungutan pajak ini diberikan untuk bantuan negara negara yang sedang berkembang atau yang dalam kesusahan.Juga ada yang namanya pajak gereja yaitu 3 % dari pendapatan bruto tiap bulan.
Kesimpulan yang diambil dari beberapa contoh penilaian Moral dan Etika dari dua bangsa. Dari contoh ini terbukti bawa penilaian moral dan etika tergantung dari faktor faktor yang diatas diuraikan yaitu adat istiadat ,kebudayaan , agama masarakat setempat . Kelihatannya di Indonesia lebih mendasarkan keagamaan dan di Jerman lebih dikemukakan faktor  Kebudayaan kita  tidak bisa menilai bahwa  etika  di Jerman itu  rendah dan di Indonesia tinggi atau kebalikannya.Atau orang Jerman bermoral tinggi dan Indonesia rendah atau kebalikannya, karena  etika dan penilaian moral di Indonesia dan di Jerman berlainan.


PERBEDAAN ETOS KERJA ANTARA JERMAN DAN INDONESIA
A.Latar Belakang
Saat ini bila kita bandingkan antara pemerintah Indonesia dengan Jerman,khususnya dalam bidang ekonomi tentu sangatlah berbeda.Kita sering bertanya-tanya dalam hati mengapa hal itu terjadi?Apakah karena orang Jerman lebih besar dari orang Indonesia sehingga otaknya juga lebih besar dibandingkan dengan otak kita?
Keberhasilan dari sebuah negara tidak hanya berpengaruh pada apakah negara tersebut adalah negara yang kaya akan kekayaan alam,sehingga dengan menjual segala kepunyaan tersebut dapat menjadi kaya.Keberhasilan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh etos kerja yang dimiliki oleh bangsa tersebut.Etos kerja merupakan salah satu kunci sukses sekaligus fondasi untuk mencapai suatu keberhasilan.Dengan tingginya etos kerja suatu bangsa merupakan salah satu akar yang membawa suatu negara pada kualitas  yang lebih baik terutama pada bidang ekonomi,sehingga pada level yang lebih luas menjadikan suatu negara lebih maju.
Sebagai pelajar bahasa asing, khususnya bahasa Jerman, tidak cukup jika kita hanya mempelajari bahasanya saja tanpa mengatahui asal-usul dan bagaimana model budaya di Jerman. Dalam pembicaraanya pada konferensi kerjasama Indonesischer German isten verband/AGI dengan Program Studi Bahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta yang bertempat di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Setiawati Darmojuwono, M.A, ketua Assosiasi Germanistik Indonesia (AGI) mengatakan berkomunikasi dengan orang asing seharusnya mempunyai kemampuan komunikasi antarbudaya agar tujuan komunikasi dapat tercapai dan efektif. Kemampuan ini juga diharapkan dapat mencegah konflik karena kesalahpahaman budaya.
Pada mata kuliah Kontrastive Kulturkunde kita mendapatkan ilmu bagaimana perbedaan bangsa Jerman dengan Indonesia baik dari segi ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan lain sebagainya, karena hal itu sangat berpengaruh pada profesionalitas jika kita sudah menjadi seorang guru bahasa Jerman.Selain itu kita juga dapat belajar dari cara kerja orang jerman, bagaimana mereka pada saat bekerja bila dibandingkan dengan orang Indonesia. Hal ini juga mudah-mudahan dapat berpengaruh pada kualitas ekonomi Indonesia jika bangsa ini tidak malu dan mau mencontohi etos kerja orang Jerman.
Tentunya saya juga berharap bahwa kita kaum muda dan generasi penerus bangsa untuk mulai dari sekarang menerapakan etos kerja yang tinggi yang mengedepankan pentingnya disiplin dalam bekerja.

A. Pengertian Etos Kerja
Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak, kesusilaan, adat istiadat, kebiasaan.Etos ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fakor budaya, faktor iklim, bahkan faktor agama. Menurut Jansen Sinamao, etos adalah kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa.Etos juga merupakan salah satu syarat bagi upaya peningkatan kualitas tenaga kerja atau SDM, baik pada level individual, organisasional, maupun sosial.Jadi etos yang dimaksudkan disini merupakan suatu sikap, pandangan atau nilai yang mendasari prinsip kerja suatu komunitas,masyarakat atau bangsa.
Kerja adalah usaha komesial yang menjadi suatu keharusan demi hidup,atau sesuatu yang imperatif dari diri,maupun sesuatu yang terkait pada identitas diri yang telak bersifat sakral(Taufik Abdullah,1986).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa etos kerja adalah suatu perinsip,sikap atau pandangan hidup sekelompok orang atau masyarakat terhadap sebuah pekerjaan yang dihadapinya.

B. Bagaimana etos kerja bangsa Jerman
Jerman sangat mengutamakan peraturan dan disiplin, dan dalam hal pekerjaan mereka melakukan dengan sangat serius. Di mata beberapa orang, dalam banyak kasus, orang Jerman kaku, tidak fleksibel, dan bahkan sedikit tidak manusiawi. Jerman sangat mengutamakan peraturan tentang kebersihan dan kerapian. Di Jerman, baik taman, jalan-jalan, atau teater atau tempat-tempat umum lainnya, dan di mana-mana terlihat rapi. Jerman juga menekankan peraturan untuk memakai pakaian pada tempatnya. Saat bekerja memakai pakaian kerja, saat di rumah meskipun anda bisa berpakaian santai, tapi selama ketika ada tamu datang, atau pergi keluar, anda harus berpakaian rapi. Di teater, para wanita mengenakan rok panjang, atau setidaknya mengenakan pakaian gelap.
Berdasarkan survei yang dilakukan majalah Spiegel terhadap 1.000 responden bulan Maret 2005 menunjukkan bahwa nilai ”kesadaran nasional”(national consciousness) merupakan nilai yang paling rendah (26-31 persen) di antara nilai-nilai lainnya yang dianggap penting dalam kehidupan rakyat Jerman.Nilai yang tertinggi peringkatnya adalah kejujuran dan integritas (81-83 persen).Dari survei ini dapat dilihat bahwa orang Jerman sangat memprioritaskan kejujuran dan integritas dalam melakukan sesuatu.Adapun hal-hal yang perlu kita pelajari dari kebiasaan atau etos kerja orang Jerman adalah sebagai berikut:
1.Menghargai waktu
Jerman sangat menghargai waktu, jika ada janji, tidak akan berubah waktu dengan mudah. Orang Jerman jika diundang ke rumah orang lain atau pergi keluar untuk mengunjungi teman, akan tiba dengan tepat waktu , tidak membuang-buang waktu dengan datang lebih awal ataupun terlambat.Di Jerman jika tidak ada acara khusus, mereka harus menghargai tetangga sekitar dengan tidak diperbolehkan menbuat kebisingandari pukul 20:00-08:00 hari berikutnya. Jika ada acara khusus, harus minta izin di awal ke tetangga-tetangga. Jika tidak, akan menuai protes dari tetangga dan bahkan akan dilaporkan ke polisi.
2.Tulus dan fokus pada etiket
Berurusan dengan orang Jerman tidaklah memiliki banyak kesulitan. Dalam kebanyakan kasus, yang bisa mereka lakukan, mereka akan segera memberitahu Anda “bisa melakukannya.” Dimana mereka tidak dapat dilakukan, mereka jelas akan memberitahu Anda “Tidak”, atau memberi  jawaban yang  jelas. Tentu saja, tingkat hubungan pribadi tidak akan pengaruh pada hubungan pekerjaan.Mirip dengan kebanyakan negara Barat, Jerman lebih memperhatikan etiket. Mereka bertemu, selalu menyapa “Hello.” .Bertemu dengan teman mereka akan berjabat tangan dulu. Jika teman lama mereka akan saling memeluk. Pada acara formal mereka juga akan mencium tangan wanita sebagai rasa hormat.
Memberi hadiah adalah sangat dihargai di Jerman. Ketika diundang ke rumah orang lain, biasanya datang dengan hadiah. Kebanyakan orang dengan karangan bunga, beberapa tamu laki-laki dengan botol anggur, ada juga yang membawakan buku atau album. Dalam menyambut para tamu (seperti stasiun, bandara dan tempat-tempat lain) untuk mengunjungi pasien, banyak juga mengirimkan bunga. Biasanya mereka langsung membuka hadiah di depan pemberi dan mengucapkan terimakasih.Di Jerman dan negara-negara Barat lain, perempuan adalah prioritas. Seperti saat antrian mereka akan mendahulukan perempuan. Dalam berbicara dengan rekan kerja, orang Jerman sangat berhati-hati untuk menghormati satu sama lain. Jangan tanya urusan pribadi orang lain (seperti usia wanita).
Adapun etos kerja orang Jerman menurut Max Weber dalam bukunya yang berjudul “The spirit of Capitalism” adalah :
1.Bertindak rasional
2.Berdisiplin tinggi
3.Bekerja keras
4.Berorientasi sukses material
5.Tidak mengumbar kesenangan
6.Hemat dan bersahaja
7.Menabung dan berinvestasi

C. Etos kerja orang Indonesia
Setelah melihat etos kerja orang Jerman,pertanyaanya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini? Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial,ekonomi dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan? Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku"Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.
Hasil pengamatan para pemikir/cendekia tersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya (dan mudah-mudahan) bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan Dalam “Manusia Indonesia” kita sosialisaikan, tumbuhkembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.
 Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya Candi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos Kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai batas tertentu),kerja keras, dan lain-lain. Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan Infrastruktur teknologis maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa belanda mengunjungi kita. kita juga mengenal slogan-slogan yang setidaknya dulu pernah menjadi perminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, iroake, Nambahake. Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah air
Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional putra-putri Indonesiadengan ciri-ciri sebagai berikut:
      1.    Kerja adalah Rahmat
      2.    Kerja adalah Amanah
      3.    Kerja adalah Panggilan
      4.    Kerja adalah Aktualisasi
      5.    Kerja adalah Ibadah
      6.    Kerja adalah Seni
      7.    Kerja adalah Kehormatan
      8.    Kerja adalah Pelayanan

D. Hubungan antara etos kerja dengan pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa  asing
Ketika dunia kita menjadi lebih kompleks dan plural secara budaya, topik tentang komunikasi antar budaya menjadi semakin penting. Kemampuan komunikasi antar budaya mempengaruhi kemampuan kita untuk berfungsi dengan baik tidak hanya di tempat kerja dan sekolah, namun juga di rumah, bersama keluarga, dan pada saat kita bermain. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk melakukan komunikasi antar budaya, kita tampaknya juga harus memperbaiki kemampuan komunikasi kita sendiri.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari bahasa Jerman khususnya pendidikan tentu sudah seharusnya kita harus mempelajari budaya Jerman.Kata budaya memang memiliki defenisi yang sangat luas apabila dijadikan judul dalam menyusun makalah ini.Oleh karena itu saya mengambil salah satu aspek dari budaya itu sendiri,yakni “etos kerja”.
Berbicara mengenai etos kerja tidak terlepas dari seorang manusia sebagai makhluk sosial yang setiap hari selalu berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.Begitu pula dengan kita yang nantinya akan menjadi seorang guru,selain bisa mengajari peserta didik dengan baik kita juga memberikan teladan yang baik kepada anak didik dengan memperlihatkan etos kerja kita yang baik,seperti datang tepat waktu,serius dalam bekerja ,dan lain sebagainya sehingga bisa ditiru oleh mereka dan diterapakan di masyarakat.Dari situ mereka juga menerapakan hal tersebut dilingkungan mereka berada ,seperti di tempat kerja,dan lain sebagainya.Berawal dari sini kita telah mencoba salah satu langkah untuk memperbaharui kualitas ekonomi negara kita.Bukan hal yang tidak mungkin dan mustahil jika seluruh guru di Indonesia melakukan hal demikian,saya yakin 15-20 tahun yang akan datang negara kita akan menjadi salah satu negara yang disegani di dunia khususnya di bidang ekonomi.Karena kalau diperhatikan bahwa kualitas kerja guru di Indonesia masih sangat rendah.
Selain di bidang pendidikan,jika kita bekerja pada sebuah perusahaan apalagi perusahaan asing,etos kerja sangat diperhatikan oleh perusahaan tersebut.Orang barat sangat memprioritaskan antara lain : bertindak rasional dalam bekerja,berdisiplin tinggi,dan orang yang suka bekerja keras.Jika kita menerapkan etos kerja orang indonesia (bukanya meremehkan,tetapi memang kenyataanya) kita tidak akan diterima pada perusahaan mereka.Pentingnya mempelajari budaya orang lain dalam hal bekerja disini adalah bagaimana kita memahami budaya bangsa lain,serta mencoba untuk masuk budaya mereka yang baik dan yang jeleknya jangan ditiru, dengan sendirinya hubungan kita akan baik dengan mereka dan memberikan dampak yang positif bagi kita juga.
Dari pembahasan diatas, disumpulkan bahwa etos kerja mempunyai peran yang sangat penting dalam kemajuan sebuah negara.Dengan tingginya etos kera suatu bangsa merupakan salah satu akar yang akan membawa suatu negara pada kualitas yang lebih baik terutama pada bidang ekonomi,sehingga pada level yang lebih luas menadikan suatu negara menjadi lebih maju.
Selain sangat berperan penting pada kemajuan sebuah negara,etos kerja juga beperan penting bagi para kaum muda khususnya para mahasiswa,karena jika kaum muda mulai dini menerapkan sistem kerja yang baik maka akan berdamapak pada kualitas keperibadian mereka dan akan berdampak positif juga bagi bangsa dan negara.
Sebagai pembelajar bahasa basing khususnya bahasa Jerman,selain mempelajari bahasanya kita juga harus mempelajari budaya Jerman.Budaya yang baik seperti etos kerja mereka yang tinggi kita pelajari,dan yang buruknya seperti kehidupan bebas,tidak sopan santun,dan lain-lain yang menurut kita kurang baik tidak perlu dipelajari.

Kado dari Tuhan


Kubuka mataku dari belaian hangat mimpi yang indah. Senyum menghiasi wajahku yang berseri. Bergegas kubereskan tempat tidurku dan berlari keluar. Kulihat seperti biasa, mama sedang memasak didapur.
“Pagi ma! Emmuach!” sapaku sambil mencium pipi mama.
“Pagi Anna. Selamat ulang tahun ya?” kata mama sambil membelai rambutku.
“Makasih ma! Buat kadonya, aku minta liburan ke Bandung ya ma!”
“Iya! Nanti kita kesana sekeluarga! Kamu cepet mandi gih. Ntar telat sekolah lho…”
“Iya ma.” kulempar senyum manisku dan bergegas ke kamar mandi.

Setelah semuanya siap, aku berjalan menuju meja makan. Disana sudah ada papa, mama, kak Deny dan kak Ita. Saat aku akan duduk, kulihat ada sebuah bingkisan kado ditempat duduk yang biasa aku gunakan. Karena senangnya, langsung kubuka bingkisan kado itu.
“Wah, apa ini?”
“Buka aja sendiri!” sahut kak Ita. Ternyata itu kado dari kak Ita. Sebuah sweater berwarna ungu, sama seperti warna favoritku.
“Kalo dari kakak besok aja ya?” kata kak Deny sembari melahap sarapannya.
“Iya kak. Wah, kak Ita kok bisa tahu kalo Anna pengen sweater sih?” kutatap wajah kak Ita. Wajahnya nampak pucat dan lesu. “Kak Ita sakit ya?” lanjutku. Entah mengapa ekspresi semua keluargaku menjadi kaget dan bingung mendengar pertanyaanku.
Namun papa segera menjawab, “Nggak. Paling kakakmu itu cuma kecapekan.”

Setelah selesai sarapan, papa mengantarkan aku dan kak Ita berangkat sekolah. Sedangkan kak Deny naik sepeda motor karena ia sudah kuliah. Dimobil, tak seperti biasanya. Kak Ita memelukku. Aku pun membalas pelukannya. Tiba-tiba ia membisikkan sesuatu padaku.
“Kakak sayang sama Anna. Selamat ulang tahun ya?” kak Ita memang dari dulu dekat denganku. Ia selalu ada untukku. Ia bahkan menyayangiku lebih dari apapun. Bahkan ia rela terluka demi aku.
Kurasakan air mata kak Ita menetes. Wajahnya masih pucat dan matanya terpejam.
“Kakak kenapa?” tanyaku sambil mengusap air matanya.
“Kakak tidak apa-apa. Kakak hanya ingin memeluk Anna dengan erat. Ini kan hari spesial Anna!”

Mobil yang membelah jalanan kota Jakarta itu berhenti disekolah kak Ita. Kak Ita melepas pelukannya dan menciumku. Setelah kak Ita turun, mobil kembali dipacu menuju sekolahku.
“Kak Ita kenapa ya?” gumamku. 10 menit kemudian sampailah digerbang sekolahku. Kuberikan salam untuk papa. Dan mobil papa pun hilang di balik tikungan sesaat setelah papa memberi lambaian tangannya.
“Hai Anna! Selamat ulang tahun ya?” sapa teman-temanku. Mereka semua memberiku kado, hingga tasku penuh rasanya. Ada juga cowok yang memberiku bunga mawar dan cokelat. Wah, senangnya.

Saat pulang sekolah, aku menunggu taxi. Akan tetapi, tak ada satupun yang lewat. Tiba-tiba muncullah Erik, sahabatku, yang menawariku tumpangan. Aku ikut saja, toh dari tadi tak ada taxi yang lewat.
“Makasih ya Rik buat tumpangannya!” kataku sesampainya digerbang rumah.
“Sama-sama. By the way, rumahmu kelihatan sepi ya?”
“Iya, tumben. Mungkin kakakku belum pulang. Mau mampir?”
“Nggak usah. Aku pulang dulu ya?”
“Iya, hati-hati.” kataku sambil menepuk pundaknya.

Kubuka gerbang yang terkunci dengan kunci cadangan yang kubawa. Ternyata pintu rumah juga dikunci.
“Kok aneh? Tumben pintu pada ditutup. Mama kemana ya?” gumamku. Setelah kucari seisi rumah, tak ada seorangpun disana. Perasaanku mulai tak enak. Aku coba telepon mama berulang kali, tapi tak diangkat. Begitu juga papa dan kak Ita. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon kak Deny.
“Halo kak Deny?” kataku saat teleponku dijawab olehnya.
“Ya halo Anna. Sebentar lagi kakak jemput kamu. Tunggu ya?” sahut kak Deny yang langsung menutup teleponnya.
“Ada apa ini? Semua tak seperti biasanya. Apa maksud kak Deny mau menjemputku? Kenapa suaranya parau? Memangnya semua orang kemana?” tanyaku kebingungan sambil menunggu kak Deny.

25 menit kemudian motor kak Deny sampai didepan gerbang. Hatiku sedikit lega.
“Cepat kunci pintu dan naik motor kakak!” perintahnya. Aku tak berani bertanya apa pun padanya. Wajahnya nampak kacau dengan bekas tangisnya. Aku bergegas naik motor kak Deny sambil membawa tas yang penuh kado ini. Aku ingin menunjukkannya pada kak Ita. Siapa tahu kak Ita juga ada disana.
Aku bingung. Sangat bingung. Kenapa kak Deny membawaku ke rumah sakit?
“Kakak nggak salah tujuan kan? Kenapa kita kerumah sakit?” tanyaku.
“Kamu tunggu disini. Kakak mau ke resepsionis sebentar!”

Kami berjalan menuju ruang ICU. Kulihat dari kaca pintu, kuingin tahu siapa yang ada disana. Bagai disengat listrik ratusan volt. Aku melihat kak Ita tengah berbaring disana. Air mataku pun menetes. Aku melihat kak Deny sedang duduk melamun disamping mama dan papa. Aku menghampiri mereka.
“Kak Ita kenapa?” tanyaku histeris. Kak Deny berusaha memelukku dan menenangkanku.
“Kamu sabar dulu. Jangan ikut nangis. Nanti kakakmu tambah sedih!” sahut papa yang ikut menenangkanku.
“Iya! Tapi kak Ita kenapa? Kenapa tiba-tiba kak Ita ada di ICU?” tanyaku lagi.
“Kakakmu mengidap Leukimia, sayang. Maaf kami tak memberitahumu. Ini keinginan kakakmu sendiri. Ia nggak mau kamu sedih!” kata mama yang ikut menangis. Kak Deny yang memelukku pun tak kuasa menahan tangisnya. Seorang perawat keluar dan mempersilahkan 2 orang untuk menjenguk kak Ita. Aku dan kak Deny lah yang masuk. Kami memakai busana yang steril yang telah disediakan oleh rumah sakit.
“Kak Ita? Kakak kenapa nggak cerita ke aku sih?”
“Ka..kk..ak ng..gggak pap...ah kok di..ik” katanya sambil tersenyum.
“Kak Ita cepet sembuh. Aku kan mau cerita ke kakak kalo tadi tuh banyak yang ngasih kado ke aku!” kataku menahan ribuan tetes air mata yang hendak meledak diujung mataku.
“Ahaha.. pac..ar kam..muh jj..jug..a yy..ya?” godanya. Kak Deny langsung bersandar didekat kepala kak Ita. Ia menangis.
“Ka..k Den..h..ny jj..jangan nang..h..iss. It..ta ud..dah sen..eng kok,”
“Aku lalu mencium kak Ita dan ikut bersandar di kepalanya. Tak terasa waktu yang kami milikki untuk menjenguk telah habis. Terpaksa kami harus meninggalkan kamar kak Ita.

Bulan menampakkan wujudnya. Dan bintang ikut menemaninya. Aku yang sedang duduk termenung diteras rumah bersama kak Deny menikmati indahnya tanpa kak Ita. Kami tidak di izinkan untuk tinggal di rumah sakit terlalu lama. Dulu kami sering menikmati malam bertiga sambil membakar jagung. Dan kak Deny selalu makan paling banyak. Itu membuat kak Ita ngambek dan mencubit pipinya.
Tiba-tiba suara handphone kak Deny memecahkan lamunan kami.
“Iya ma?” kata kak Deny saat menjawab telepon dari mama. Wajahnya langsung pucat pasi. Air matanya mengalir. Firasatku mulai tak enak lagi.
“Iya ma. Aku ngerti!” jawab kak Deny langsung mematikan teleponnya.
“Cepat ganti baju dan ikut kakak!” serunya.

Kak Deny tak mengunci pintu maupun pagar. Aku bingung. Ia langsung memacu motornya kerumah tante yang kebetulan masih satu komplek.
“Iya Den. Tante dan om sudah tahu. Cepatlah kesana!” kata tante dan om yang nampak terburu-buru. Kak Deny memacu motornya lagi menuju rumah pak RT. Aku menunggu diluar. Aku tak tahu apa yang teerjadi. Kenapa harus ke pak RT?
“Ayo berangkat!” kata kak Deny. Aku tak berani bertanya apa pun.
Sesampainya disana, aku melihat kamar ICU kak Ita telah kosong. aku senang, karena kukira kak Ita telah membaik dan telah dipindahkan ke kamar biasa. Namun kegimbiraanku berhenti sampai disana. Aku melihat papa, mama dan kak Deny menangis. Aku mendekatinya.
“Anna. Kamu bareng kak Deny saja ya pulangnya?” tanya papa. Pulang? Aku bahagia. Karena kukira kak Ita telah sembuh dan boleh dibawa pulang. Aku lalu mengiyakan saja tawaran papa tadi sembari tersenyum.

Diperjalanan, aku merasa heran. Kenapa motor kak Deny dan mobil papa mengikuti ambulance? Kecurigaanku semakin bertambah ketika ambulance itu berhenti didepan rumahku. Begitu juga suasana rumahku yang ramai sekali. Banyak orang yang memakai baju berwarna hitam. Saat aku turun dari motor kak Deny, aku melihat bendera kuning yang ada dipagar rumahku. Ada apa ini?
Pintu ambulance itu terbuka. Betapa kagetnya aku. Bagai tersambar petir ditengah gurun pasir.
“Kak Ita?!” gumamku tak percaya. “KAAAKK ITTAAAA!!!” teriakku. Tangan kak Deny meraihku dan memelukku. Aku menangis tak karuan.
“Kak Ita… kenapa kak Ita pergi? Kenapa kak Ita ninggalin aku disaat aku berulang tahun? Kenapa kak Ita nggak sempet nemenin aku membuka kado-kado itu, kak?” kataku sambil menangis dipelukan kak Deny.
“Anna sayang, sudah ya? Jangan sedih terus. Ikhlaskan kakakmu. Dia juga nggak mau lihat kamu sedih dan menangis seperti ini!” Kata kak Deny menyeka air matanya lalu mengusap air mataku.
“Lalu siapa yang nemenin kita bakar jagung? Siapa yang akan menceritakan cerita lucu pada kita? Siapa yang akan ngajak kita jalan-jalan? Siapa yang akan kita jahilin saat kak Ita masak? Siapa yang akan menemani kita menatap langit? Siapa kak Deny? Siapa?” tangisku memuncak.
“Tapi Ita akan sedih jika lihat kamu nangis!”
“Aku belum membuka kadoku bersamanya. Aku ingin memberikan kado yang ia senangi. Tapi kenapa Tuhan mengambilnya?!!”
*****

Sore itu tepat 7 hari meninggalnya kak Ita. Aku dan kak Deny sedang duduk dihalaman belakang rumah. Biasanya kami bertiga bercerita dan bernyanyi bersama disini. Namun kini tiada lagi canda tawa kak Ita. Ia telah bahagia hidup disana. Selamat jalan kakakku sayang… semoga amal kebaikanmu diterima disisi-Nya. Aku adikmu dan kak Deny selalu merindukanmu. I LOVE YOU…