“Karina...
Apa kabar?” Sapa sebuah suara laki-laki dari belakang. Karina menoleh, segera
ia mengembangkan senyumnya dan membinarkan matanya yang bening.
“Daniel!
Kemana saja kau? Aku pikir, kau sudah tak lagi kuliah di TU Berlin!” balas
Karina. Daniel membalas senyum.
Terakhir pertemuan antara Karina dan
Daniel adalah satu tahun yang lalu, di Mathe-Gebäude TU Berlin lantai satu, di
mana para mahasiswa menghabiskan waktunya untuk berdiskusi atau belajar
kelompok. Saat itu Daniel sedang minta diajarkan sebuah soal matematika.
Tiba-tiba Sabine datang dengan nafas tersengal-sengal, mengatakan kepada
Karina, bahwa pengumuman kelulusan mata kuliah Biokimia telah keluar, dan nomor
Karina terpampang di sana. Karina gembira luar biasa, karena dengan begitu ia
telah menyelesaikan Vordiplom-nya. Ia dan Sabine berlari menuju pengumuman itu
dan meninggalkan Daniel di sana, bersama dengan kertas-kertas soal
matematikanya. Dan saat Karina kembali, Daniel sudah tidak lagi ada. Hilang,
dan baru bertemu kembali hari ini.
“Kau
ada waktu, Karina?” tanya Daniel.
“Tentu.
Sampai jam dua siang, setelah itu aku ada kuliah”. Jawab Karina dengan tidak
memudarkan senyum di wajahnya.
“Kita
ke Cafétaria. Minum kopi, aku yang traktir.”
Karina
mengangguk.
Karina Wulandari, adalah mahasiswi asli
Indonesia jurusan Bioteknologi. Entah bagaimana, tiba-tiba ia kedatangan sosok
Daniel Grohmann, mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan Teknik Mesin. Mereka
satu tutorium di mata kuliah Matematika Analisis tiga semester yang lalu.
Daniel, yang tinggi dan selalu mengenakan jaket hitam dan jeans biru itu,
menghampiri Karina dan mengutarakan kekagumannya ketika melihat Karina
mengerjakan soal trigonometri di papan tulis dan berdebat mengenai keberadaan
bilangan tak hingga. Daniel ingin lebih banyak belajar matematika pada Karina.
Karina pun menerima dengan senang hati. Mulai saat itu mereka sering bersama,
berdiskusi, belajar, dan saling bercerita tentang berbagai hal.
“Mengapa
kau menghilang begitu saja, Daniel?” Tanya Karina sambil meneguk kopi pahitnya.
“Aku
ingin belajar sendiri, mengejar ketertinggalanku, dan meraih Vordiplom-ku. Agar
aku bisa bertemu kau lagi” Jawabnya.
“Ingin
belajar sendiri sampai pindah rumah segala? Ganti nomor ponsel segala?
Sampai-sampai dunia pun tak tahu di mana kau berada.”
Daniel
tersenyum pahit.
“Itulah
caraku. Aku datang ke UNI hanya untuk ikut ujian. Selebihnya di rumah.”
“Dan...?”
“Dan
sekarang aku telah mendapatkan Vordiplom-ku.” Ucapnya sambil menyunggingkan
senyum bangga.
“Berjanjilah
untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Kau butuh bersosialisasi, tidak dengan
menghilang, menyendiri selama satu tahun. bisa-bisa kau dibilang autis.” Ajar
Karina, kali ini dengan serius.
“Oh
tentu, untukmu aku berjanj.” Jawab pemuda berambut pirang itu.
Karina tertegun. Sepertinya ia
tersandung pada kata “untukmu” yang baru saja dilontarkan Daniel.
“Untukku?”
Tanyanya.
“Ya.
Untukmu. Dan aku datang kembali ke sini juga untukmu. Tidak kah kau melihat itu?”
Lugas Daniel. Karina semakin tertegun. Senyum di wajahnya yang ceria memudar.
Perlahan ia mulai gugup.
“Maksudmu?”
Daniel menarik nafas panjang. “Aku
mencintaimu dari dulu, Karina. Sekarang aku beranikan untuk mengatakan ini
padamu. Aku ingin kau jadi kekasihku.” Ungkap sorot mata tajam berwarna biru
abu-abu itu.
Karina
tertawa. Tawa yang dipaksakan.
“Kau
bercanda Daniel, mana mungkin aku jadi kekasihmu. Kau itu tampan luar biasa!”
“Dan
kau cantik luar biasa.”
Karina terkekeh lagi sambil berputar
mencari kata lain.
“Tidak
mungkin Daniel, aku ini muslimah. Aku harus shalat lima waktu. Nanti acara
nonton kita terganggu.”
“Tidak
masalah. Aku akan menunggumu menyelesaikan shalatmu.”
“Aku
ini berjilbab, nanti orang-orang akan memandangmu aneh bila kita berjalan
bersama.”
“Itu
juga tidak masalah. Di Berlin ini sudah banyak wanita berjilbab. Itu hal yang
biasa, orang tidak lagi melihat keanehan di sana.”
Karina terdiam sesaat. Meneguk kopinya
kembali.
“Daniel,
mengapa kau ucapkan ini padaku? Kau pasti sudah tahu apa jawabanku? Aku pikir,
kau menganggapku hanya sebatas teman, eine Kommilitonin.” Tanya Karina sambil
menghela nafas.
Daniel tertunduk. Ada guratan kecewa
di sana.
“Kau
tahu, bagian matematika apa yang paling aku sukai?” Tanya Daniel berbalik.
Karina bingung, mencoba mencari
korelasi antara pernyataan cinta dan bagian matematika yang Daniel sukai.
“Geometri.
Terutama lingkaran. Kau pernah bilang, bahwa lingkaran itu indah, tidak punya
sudut. Walau aku bersikukuh bahwa lingkaran juga memiliki sudut yaitu sudut tak
hingga. Kau juga bilang, kalau lingkaran itu serupa obat. Banyak dipakai orang,
bermanfaat. Dan katamu juga, bahwa di dalam lingkaran ada sebuah penyusun yang
sangat místerius. Tak mampu tertangkap secara utuh. Namun ia ada pada setiap
lingkaran.”
Daniel tersenyum mendengar jawaban
itu. “Ingatanmu hebat, Karina. Karena itulah juga aku mencintaimu. Kau
mendengar setiap detail perkataan orang dan memberikan pancaran perhatian.
Carilah penyusun misterius pada lingkaran itu, maka kau akan tahu siapa kau di
mataku.”
Karina
mengerutkan dahi.
“Kau
sedang bercanda ya?”
“Tidak
aku serius. Gabungkanlah penyusun misterius pada lingkaran itu dengan apa yang
kau ajarkan padaku ketika terakhir kita bertemu. Lalu datanglah ke Ku-Damm
tepat di sebelah gedung Hugendubel pada tanggal 6 Januari 2012. Rasakanlah.”
“Aku
tahu kau bercanda. Sudahlah. Sekarang ini tanggal 2 Nopember 2012. Mana mungkin
aku datang ke masa lalu?”
Daniel menggelengkan kepala.
Menandakan bahwa ia serius. “Aku yakin kau bisa mendapatkan jawabannya. Aku
tunggu seminggu lagi.”
***
Akhir
Desember tahun 2011. Daniel datang dari arah Hauptgebäude. Karina sudah
menunggunya selama 15 menit di depan Mathe-Gebäude bersama dengan asap-asap
rokok mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di sana.
“Kemana
saja?” ucap Karina pura-pura kesal.
“Es
tut mir leid, aku harus ke toilet dulu tadi.”
“Baiklah,
kita segera ke lantai satu.”
Mereka berjalan menaiki anak-anak
tangga menuju lantai satu tempat mereka akan belajar bersama. Hari ini hari
Rabu, seperti biasa setiap Rabu dan Kamis mereka meluangkan waktu untuk belajar
bersama.
“Karina,
ajarkan aku tentang bilangan natural.”
“Bukankah
aku sudah ajarkan itu padamu minggu lalu?”
“Iya,
tapi aku lupa. Aku ini seperti fungsi 1/x. Otakku cuma satu namun dibagi-bagi
banyak pikiran, sehingga mudah lupa. Ajarkan aku sekali lagi!”
Karina tersenyum. “Iya kau itu
seperti fungsi 1/x tapi pada interval negatif!” Ledek Karina. Daniel
mengiyakan. Mereka berdua tertawa.
“Kau
tahu, jika kau adalah fungsi 1/x, lalu ditambah 1 dan dipangkatkan x, lalu
dioperasikan dengan limit x mendekati tak hingga, maka jawabannya adalah e –
bilangan natural!” ujar Karina.
“Benarkah?”
tanya Daniel masih dalam tawanya.
“Coba
saja kau hitung sendiri!”
Tiba-tiba datang Sabine, setengah
berlari. Perempuan berkuncir ekor kuda dan berkacamata tebal itu menghampiri.
“Karina!
Akhirnya aku menemukanmu! Kau tahu, hasil ujian Biokimia sudah keluar! Aku
lulus, dan kulihat nomormu juga lulus! Kita lulus Vordiplom! Selamat datang
Hauptstudium!“ ujar sabine setengah berteriak sambil lompat-lompat.
“Benarkah?!
Alhamdulillah! Segala puji untuk-Mu, Tuhan! Di mana pengumumannya?”
“Di
Technische Chemie-Gebäude lantai dua. Ayo ikut aku, kita lihat bersama!”
Mereka berdua segera berlari menuju
ke tempat pengumuman itu. Daniel ditinggal sendiri. Walau ia tahu pasti Karina
tak lama lagi akan kembali, namun ia memutuskan untuk pergi dan pulang ke rumah.
Ia kecewa, kecewa karena tidak bisa mengambil Vordiplom-nya semester ini. Namun
ia tidak menyesalkan kemampuan dirinya yang kurang untuk mendapatkan Vordiplom,
melainkan menyayangkan karena ia tidak lagi bersama dengan Karina. Tidak lagi
pada mata kuliah Matematika Analisis.
“Tunggu
aku di Hauptstudium, Karina. Kita akan bersama lagi.” Ujarnya pelan. Lalu
membereskan kertas-kertasnya, dan pergi, mungkin pergi dalam waktu yang lama.
Menghilang sementara bagai tertelan kabut.
***
Karina berada persis di depan gedung
Hugendubel di Ku-Damm. Namun pada tanggal 3 Nopember 2012, bukan pada 6 januari
2012 seperti yang diminta Daniel. Ia terdiam. Ia tahu Daniel tidak bercanda.
Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Dipandanginya sekeliling. Gedung
yang bersebelahan persis dengan gedung Hugendubel adalah kantor milik Dinas
Meteorologi dan Geofisika Berlin. Di atas gedung itu tertempel sebuah
termometer digital besar yang menunjukkan angka 12 derajat celcius.
Karina merebahkan dirinya di bangku
besi di ujung jalan. Ia berpikir. Apa yang harus dirasakannya di sini? Mengapa
Daniel menyuruhnya merasakan sesuatu di waktu yang lampau? Apa yang ada di
balik lingkaran? Dan apa yang diajarkan pada kali terakhir bertemu Daniel?
Karina mendapat satu jawab. Yang
diajarkannya pada kali terakhir bertemu Daniel adalah bilangan natural – e.
Tiba-tiba, aliran matematis yang muncul dari penemuan bilangan e membawanya ke
bilangan irrasional lainnya, π – phi, yang ada dalam setiap lingkaran namun tak
dapat tertangkap secara utuh. Sampai kapanpun tak ada manusia yang mampu
menemukan akhir dari deretan angka-angka acak di belakang koma sang phi. Hanya
Tuhan yang Mahatahu.
Satu pertanyaan lagi, apakah yang
harus ia rasakan. Ia memandangi termometer besar di atas gedung itu. Satu lagi
jawaban ia temukan. Ia harus merasakan suhu udara di sana pada tanggal 6
Januari 2012. Tinggal bagaimana cara mendapatkannya.
Dengan langkah ragu, ia masuk ke
dalam gedung Meteorologi dan Geofisika.
“Selamat
siang, saya Karina Wulandari, mahasiswi TU Berlin.” Ujarnya sambil menyodorkan
kartu mahasiswa.
“Bisakah
saya mendapatkan data tentang suhu udara di sini pada tanggal 6 Januari 2012?”
“Ya.
Anda bisa mendapatkannya. Apakah ini untuk keperluan studi Anda?” tanya wanita
gemuk itu di balik meja informasi. Karina mengangguk. “Lurus terus dan belok
kiri. Silahkan Anda minta pada Herr Rossbach.”
Dan Karina mendapatkannya. Suhu
udara pada hari itu adalah -1, minus satu.
***
Malam itu sunyi. Di atas tempat
tidurnya Karina mencoret-coret tiga bentuk pada kertas usang. Bilangan e, π,
dan angka -1. Tak lama ia tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan Daniel.
Bilangan imajiner – i. Bilangan yang apabila bersama-sama π menjadi pangkat
bilangan natural – e, akan menghasilkan angka -1.
“e
dipangkatkan perkalian phi dan i adalah minus satu. Bilangan i – kau lah
jawabannya.”
***
“Aku
sudah dapatkan alasannya.” Ujar Karina pada pertemuan mereka berikutnya, tepat
seminggu setelah Daniel memberikan teka-teki itu.
“Apa
maksudnya bilangan i?” Tanya Karina.
“Ya.
kau itu seperti bilangan i. Kau itu terlalu imajiner. Kau ada tapi kau hanya
mampu dibayangkan. Maaf, aku bayangkan maksudku. Kau berperilaku sopan pada
siapa saja, tak hanya pada orang muslim, bahkan pada orang tak beragama
sepertiku. Kau mampu menghormati orang lain, namun kau tidak meninggalkan
ideologimu sebagai muslimah. Kau cantik luar dalam, itulah mengapa aku
menyukaimu. Namun sekali lagi, kau tak mungkin bisa aku dapatkan, karena kau
terlalu imajiner.“
Karina menitikkan air mata. “Kau
pasti tahu apa jawabanku Daniel, maaf. Cinta bagiku adalah ikatan suci yang
justru akan mendekatkan aku pada Tuhanku. Aku ingin, siapapun kekasihku, bisa
membuatku makin cinta pada Tuhanku. Mengertilah.”
“Aku
mengerti” ucap Daniel. Hening sesaat di antara mereka.
“Siapa
yang mengajarkanmu ini semua, Karina?” tanyanya lagi.
“Agamaku”
“Aku
tidak mengenal agama sejak lahir. Namun ideologimu yang kuat membuat aku
tertarik melihat apa agama itu.”
Daniel pun kembali menghilang. Di
hari itu, di musim gugur, seperti tertiup angin bersama dengan dedaunan yang
rontok. Karina bergumam dalam hati, aku adalah bilangan imajiner dan Daniel
adalah fungsi 1/x di interval negatif. Seketika ia merinding. Fungsi 1/x dalam
interval negatif berjalan menuju ke minus tak hingga dan nol. Apakah minus tak
hingga dan nol itu? Kematiankah? Istighfar berulang kali ia baca. Ia tak mau
Daniel memilih mati oleh karena apa yang diucapkannya hari ini.
Tapi, fungsi 1/x tak akan menyentuh
nol maupun minus tak hingga. Tak akan. Sampai kapanpun. Daniel tidak memilih
mati. Ia memilih mengenal apa itu agama. Karina masih bisa berharap tenang dan
menunggu Daniel kembali ketika ia sudah mengenal agama. Dan mudah-mudahan,
Islam-lah yang akan memberikan jawab atas ketertarikan Daniel melihat agama.
***
***





