Sunday, 30 November 2014

Bilangan Cinta

“Karina... Apa kabar?” Sapa sebuah suara laki-laki dari belakang. Karina menoleh, segera ia mengembangkan senyumnya dan membinarkan matanya yang bening.
“Daniel! Kemana saja kau? Aku pikir, kau sudah tak lagi kuliah di TU Berlin!” balas Karina. Daniel membalas senyum.
            Terakhir pertemuan antara Karina dan Daniel adalah satu tahun yang lalu, di Mathe-Gebäude TU Berlin lantai satu, di mana para mahasiswa menghabiskan waktunya untuk berdiskusi atau belajar kelompok. Saat itu Daniel sedang minta diajarkan sebuah soal matematika. Tiba-tiba Sabine datang dengan nafas tersengal-sengal, mengatakan kepada Karina, bahwa pengumuman kelulusan mata kuliah Biokimia telah keluar, dan nomor Karina terpampang di sana. Karina gembira luar biasa, karena dengan begitu ia telah menyelesaikan Vordiplom-nya. Ia dan Sabine berlari menuju pengumuman itu dan meninggalkan Daniel di sana, bersama dengan kertas-kertas soal matematikanya. Dan saat Karina kembali, Daniel sudah tidak lagi ada. Hilang, dan baru bertemu kembali hari ini.
“Kau ada waktu, Karina?” tanya Daniel.
“Tentu. Sampai jam dua siang, setelah itu aku ada kuliah”. Jawab Karina dengan tidak memudarkan senyum di wajahnya.
“Kita ke Cafétaria. Minum kopi, aku yang traktir.”
Karina mengangguk.
            Karina Wulandari, adalah mahasiswi asli Indonesia jurusan Bioteknologi. Entah bagaimana, tiba-tiba ia kedatangan sosok Daniel Grohmann, mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan Teknik Mesin. Mereka satu tutorium di mata kuliah Matematika Analisis tiga semester yang lalu. Daniel, yang tinggi dan selalu mengenakan jaket hitam dan jeans biru itu, menghampiri Karina dan mengutarakan kekagumannya ketika melihat Karina mengerjakan soal trigonometri di papan tulis dan berdebat mengenai keberadaan bilangan tak hingga. Daniel ingin lebih banyak belajar matematika pada Karina. Karina pun menerima dengan senang hati. Mulai saat itu mereka sering bersama, berdiskusi, belajar, dan saling bercerita tentang berbagai hal.
“Mengapa kau menghilang begitu saja, Daniel?” Tanya Karina sambil meneguk kopi pahitnya.
“Aku ingin belajar sendiri, mengejar ketertinggalanku, dan meraih Vordiplom-ku. Agar aku bisa bertemu kau lagi” Jawabnya.
“Ingin belajar sendiri sampai pindah rumah segala? Ganti nomor ponsel segala? Sampai-sampai dunia pun tak tahu di mana kau berada.”
Daniel tersenyum pahit.
“Itulah caraku. Aku datang ke UNI hanya untuk ikut ujian. Selebihnya di rumah.”
“Dan...?”
“Dan sekarang aku telah mendapatkan Vordiplom-ku.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyum bangga.
“Berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Kau butuh bersosialisasi, tidak dengan menghilang, menyendiri selama satu tahun. bisa-bisa kau dibilang autis.” Ajar Karina, kali ini dengan serius.
“Oh tentu, untukmu aku berjanj.” Jawab pemuda berambut pirang itu.
            Karina tertegun. Sepertinya ia tersandung pada kata “untukmu” yang baru saja dilontarkan Daniel.
“Untukku?” Tanyanya.
“Ya. Untukmu. Dan aku datang kembali ke sini juga untukmu. Tidak kah kau melihat itu?” Lugas Daniel. Karina semakin tertegun. Senyum di wajahnya yang ceria memudar. Perlahan ia mulai gugup.
“Maksudmu?”
            Daniel menarik nafas panjang. “Aku mencintaimu dari dulu, Karina. Sekarang aku beranikan untuk mengatakan ini padamu. Aku ingin kau jadi kekasihku.” Ungkap sorot mata tajam berwarna biru abu-abu itu.
Karina tertawa. Tawa yang dipaksakan.
“Kau bercanda Daniel, mana mungkin aku jadi kekasihmu. Kau itu tampan luar biasa!”
“Dan kau cantik luar biasa.”
            Karina terkekeh lagi sambil berputar mencari kata lain.
“Tidak mungkin Daniel, aku ini muslimah. Aku harus shalat lima waktu. Nanti acara nonton kita terganggu.”
“Tidak masalah. Aku akan menunggumu menyelesaikan shalatmu.”
“Aku ini berjilbab, nanti orang-orang akan memandangmu aneh bila kita berjalan bersama.”
“Itu juga tidak masalah. Di Berlin ini sudah banyak wanita berjilbab. Itu hal yang biasa, orang tidak lagi melihat keanehan di sana.”
            Karina terdiam sesaat. Meneguk kopinya kembali.
“Daniel, mengapa kau ucapkan ini padaku? Kau pasti sudah tahu apa jawabanku? Aku pikir, kau menganggapku hanya sebatas teman, eine Kommilitonin.” Tanya Karina sambil menghela nafas.
            Daniel tertunduk. Ada guratan kecewa di sana.
“Kau tahu, bagian matematika apa yang paling aku sukai?” Tanya Daniel berbalik.
            Karina bingung, mencoba mencari korelasi antara pernyataan cinta dan bagian matematika yang Daniel sukai.
“Geometri. Terutama lingkaran. Kau pernah bilang, bahwa lingkaran itu indah, tidak punya sudut. Walau aku bersikukuh bahwa lingkaran juga memiliki sudut yaitu sudut tak hingga. Kau juga bilang, kalau lingkaran itu serupa obat. Banyak dipakai orang, bermanfaat. Dan katamu juga, bahwa di dalam lingkaran ada sebuah penyusun yang sangat místerius. Tak mampu tertangkap secara utuh. Namun ia ada pada setiap lingkaran.”
            Daniel tersenyum mendengar jawaban itu. “Ingatanmu hebat, Karina. Karena itulah juga aku mencintaimu. Kau mendengar setiap detail perkataan orang dan memberikan pancaran perhatian. Carilah penyusun misterius pada lingkaran itu, maka kau akan tahu siapa kau di mataku.”
Karina mengerutkan dahi.
“Kau sedang bercanda ya?”
“Tidak aku serius. Gabungkanlah penyusun misterius pada lingkaran itu dengan apa yang kau ajarkan padaku ketika terakhir kita bertemu. Lalu datanglah ke Ku-Damm tepat di sebelah gedung Hugendubel pada tanggal 6 Januari 2012. Rasakanlah.”
“Aku tahu kau bercanda. Sudahlah. Sekarang ini tanggal 2 Nopember 2012. Mana mungkin aku datang ke masa lalu?”
            Daniel menggelengkan kepala. Menandakan bahwa ia serius. “Aku yakin kau bisa mendapatkan jawabannya. Aku tunggu seminggu lagi.”
***
Akhir Desember tahun 2011. Daniel datang dari arah Hauptgebäude. Karina sudah menunggunya selama 15 menit di depan Mathe-Gebäude bersama dengan asap-asap rokok mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di sana.
“Kemana saja?” ucap Karina pura-pura kesal.
“Es tut mir leid, aku harus ke toilet dulu tadi.”
“Baiklah, kita segera ke lantai satu.”
            Mereka berjalan menaiki anak-anak tangga menuju lantai satu tempat mereka akan belajar bersama. Hari ini hari Rabu, seperti biasa setiap Rabu dan Kamis mereka meluangkan waktu untuk belajar bersama.
“Karina, ajarkan aku tentang bilangan natural.”
“Bukankah aku sudah ajarkan itu padamu minggu lalu?”
“Iya, tapi aku lupa. Aku ini seperti fungsi 1/x. Otakku cuma satu namun dibagi-bagi banyak pikiran, sehingga mudah lupa. Ajarkan aku sekali lagi!”
            Karina tersenyum. “Iya kau itu seperti fungsi 1/x tapi pada interval negatif!” Ledek Karina. Daniel mengiyakan. Mereka berdua tertawa.
“Kau tahu, jika kau adalah fungsi 1/x, lalu ditambah 1 dan dipangkatkan x, lalu dioperasikan dengan limit x mendekati tak hingga, maka jawabannya adalah e – bilangan natural!” ujar Karina.
“Benarkah?” tanya Daniel masih dalam tawanya.
“Coba saja kau hitung sendiri!”
            Tiba-tiba datang Sabine, setengah berlari. Perempuan berkuncir ekor kuda dan berkacamata tebal itu menghampiri.
“Karina! Akhirnya aku menemukanmu! Kau tahu, hasil ujian Biokimia sudah keluar! Aku lulus, dan kulihat nomormu juga lulus! Kita lulus Vordiplom! Selamat datang Hauptstudium!“ ujar sabine setengah berteriak sambil lompat-lompat.
“Benarkah?! Alhamdulillah! Segala puji untuk-Mu, Tuhan! Di mana pengumumannya?”
“Di Technische Chemie-Gebäude lantai dua. Ayo ikut aku, kita lihat bersama!”
            Mereka berdua segera berlari menuju ke tempat pengumuman itu. Daniel ditinggal sendiri. Walau ia tahu pasti Karina tak lama lagi akan kembali, namun ia memutuskan untuk pergi dan pulang ke rumah. Ia kecewa, kecewa karena tidak bisa mengambil Vordiplom-nya semester ini. Namun ia tidak menyesalkan kemampuan dirinya yang kurang untuk mendapatkan Vordiplom, melainkan menyayangkan karena ia tidak lagi bersama dengan Karina. Tidak lagi pada mata kuliah Matematika Analisis.
“Tunggu aku di Hauptstudium, Karina. Kita akan bersama lagi.” Ujarnya pelan. Lalu membereskan kertas-kertasnya, dan pergi, mungkin pergi dalam waktu yang lama. Menghilang sementara bagai tertelan kabut.
***
            Karina berada persis di depan gedung Hugendubel di Ku-Damm. Namun pada tanggal 3 Nopember 2012, bukan pada 6 januari 2012 seperti yang diminta Daniel. Ia terdiam. Ia tahu Daniel tidak bercanda. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
            Dipandanginya sekeliling. Gedung yang bersebelahan persis dengan gedung Hugendubel adalah kantor milik Dinas Meteorologi dan Geofisika Berlin. Di atas gedung itu tertempel sebuah termometer digital besar yang menunjukkan angka 12 derajat celcius.
            Karina merebahkan dirinya di bangku besi di ujung jalan. Ia berpikir. Apa yang harus dirasakannya di sini? Mengapa Daniel menyuruhnya merasakan sesuatu di waktu yang lampau? Apa yang ada di balik lingkaran? Dan apa yang diajarkan pada kali terakhir bertemu Daniel?
            Karina mendapat satu jawab. Yang diajarkannya pada kali terakhir bertemu Daniel adalah bilangan natural – e. Tiba-tiba, aliran matematis yang muncul dari penemuan bilangan e membawanya ke bilangan irrasional lainnya, π – phi, yang ada dalam setiap lingkaran namun tak dapat tertangkap secara utuh. Sampai kapanpun tak ada manusia yang mampu menemukan akhir dari deretan angka-angka acak di belakang koma sang phi. Hanya Tuhan yang Mahatahu.
            Satu pertanyaan lagi, apakah yang harus ia rasakan. Ia memandangi termometer besar di atas gedung itu. Satu lagi jawaban ia temukan. Ia harus merasakan suhu udara di sana pada tanggal 6 Januari 2012. Tinggal bagaimana cara mendapatkannya.
            Dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam gedung Meteorologi dan Geofisika.
“Selamat siang, saya Karina Wulandari, mahasiswi TU Berlin.” Ujarnya sambil menyodorkan kartu mahasiswa.
“Bisakah saya mendapatkan data tentang suhu udara di sini pada tanggal 6 Januari 2012?”
“Ya. Anda bisa mendapatkannya. Apakah ini untuk keperluan studi Anda?” tanya wanita gemuk itu di balik meja informasi. Karina mengangguk. “Lurus terus dan belok kiri. Silahkan Anda minta pada Herr Rossbach.”
            Dan Karina mendapatkannya. Suhu udara pada hari itu adalah -1, minus satu.
***
            Malam itu sunyi. Di atas tempat tidurnya Karina mencoret-coret tiga bentuk pada kertas usang. Bilangan e, π, dan angka -1. Tak lama ia tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan Daniel. Bilangan imajiner – i. Bilangan yang apabila bersama-sama π menjadi pangkat bilangan natural – e, akan menghasilkan angka -1.
“e dipangkatkan perkalian phi dan i adalah minus satu. Bilangan i – kau lah jawabannya.”
***
“Aku sudah dapatkan alasannya.” Ujar Karina pada pertemuan mereka berikutnya, tepat seminggu setelah Daniel memberikan teka-teki itu.
“Apa maksudnya bilangan i?” Tanya Karina.
“Ya. kau itu seperti bilangan i. Kau itu terlalu imajiner. Kau ada tapi kau hanya mampu dibayangkan. Maaf, aku bayangkan maksudku. Kau berperilaku sopan pada siapa saja, tak hanya pada orang muslim, bahkan pada orang tak beragama sepertiku. Kau mampu menghormati orang lain, namun kau tidak meninggalkan ideologimu sebagai muslimah. Kau cantik luar dalam, itulah mengapa aku menyukaimu. Namun sekali lagi, kau tak mungkin bisa aku dapatkan, karena kau terlalu imajiner.“
            Karina menitikkan air mata. “Kau pasti tahu apa jawabanku Daniel, maaf. Cinta bagiku adalah ikatan suci yang justru akan mendekatkan aku pada Tuhanku. Aku ingin, siapapun kekasihku, bisa membuatku makin cinta pada Tuhanku. Mengertilah.”
“Aku mengerti” ucap Daniel. Hening sesaat di antara mereka.
“Siapa yang mengajarkanmu ini semua, Karina?” tanyanya lagi.
“Agamaku”
“Aku tidak mengenal agama sejak lahir. Namun ideologimu yang kuat membuat aku tertarik melihat apa agama itu.”
            Daniel pun kembali menghilang. Di hari itu, di musim gugur, seperti tertiup angin bersama dengan dedaunan yang rontok. Karina bergumam dalam hati, aku adalah bilangan imajiner dan Daniel adalah fungsi 1/x di interval negatif. Seketika ia merinding. Fungsi 1/x dalam interval negatif berjalan menuju ke minus tak hingga dan nol. Apakah minus tak hingga dan nol itu? Kematiankah? Istighfar berulang kali ia baca. Ia tak mau Daniel memilih mati oleh karena apa yang diucapkannya hari ini.
            Tapi, fungsi 1/x tak akan menyentuh nol maupun minus tak hingga. Tak akan. Sampai kapanpun. Daniel tidak memilih mati. Ia memilih mengenal apa itu agama. Karina masih bisa berharap tenang dan menunggu Daniel kembali ketika ia sudah mengenal agama. Dan mudah-mudahan, Islam-lah yang akan memberikan jawab atas ketertarikan Daniel melihat agama.
***
***

Sunday, 16 November 2014

Menanti Sang Senja

Hari ini, langit terlihat cerah. Tak ada warna kelabu, hanya gumpalan awan putih berlatar langit biru. Semoga saja hujan tidak turun, harapku. Aku berlari, berlomba dengan sang waktu. Kulirik arloji di pergelangan kiriku. Berharap kali ini aku tak didahului oleh waktu. Kumohon, buat aku bertemu dengannya hari ini, bisikku pada Tuhan.
Aku memutar kenop pintu yang mengarah ke bagian atap gedung tua di tengah kota hujan. Baru saja aku bergerak satu langkah, sang kelabu datang. Menutupi seluruh langit yang tadi terang. Membuat suasana berubah menjadi sendu, tak menyenangkan. Dan perlahan satu-persatu butiran air hujan menjatuhkan dirinya. Ah, dia tak mungkin datang kalau hujan seperti ini. Mungkin esok hari.
Sudah berhari-hari kota ini diguyur hujan. Hari ini pun begitu. Pagi yang kupandang lurus ke luar jendela. Butiran-butiran air menetes di jendela. Hujan. Lagi.
“Sepertinya hujannya akan awet,” ujar salah satu pegawaiku yang tengah sibuk meracik minuman baru untuk menu di kedai kopiku. Aku menghela nafas panjang. Hujan kembali memupuskan harapanku untuk bertemu dengannya.
Yang kulakukan pertama kali pagi ini adalah menatap keluar jendela. Pagi hari rintik hujan telah menyambutku. Gerimis. Aku menyatukan kedua telapak tanganku, menundukkam kepalaku. Ya Tuhan, semoga aku bisa bertemu dengannya hari ini, doaku.
Kupercepat langkahku menaiki anak tangga. Belum terdengar suara rintik hujan. Senyumku mengembang. Aku bertemu dengannya hari ini. Akhirnya setelah menunggu sekian lama. Aku mengeluarkan sesuatu dari tas ranselku. Sebuah kamera instax lembayung. Kutatap jarum arlojiku. Tepat waktu. Kuarahkan lensa kamera lurus ke depan, ke arah langit yang perlahan berubah menjadi jingga. Kupotret lukisan sang senja lalu kutaruh lembaran fotonya di selipan jurnal. Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya.

“Akhirnya aku bisa bertemu, senja.”

Saturday, 15 November 2014

Konstanta Kontinuitas

Malam ini, ketika sepasang mataku sedang menatap potretmu dalam bingkai kayu, muncul sesuatu hal dalam benakku. Takdir ini adalah sebuah rumusan hidup, begitu pun dengan cinta. Setiap cinta pula mempunyai rumusan tersendiri. Seolah hidup dan cinta harus menghasilkan sebuah jawaban atas perumusan itu. Dengan sebuah angka, variabel, dan konstanta. Begitu seterusnya berulang-ulang, sama, dan kontinu. Seperti itulah yang disebut dengan sebuah cinta. C-I-N-T-A. Sebuah rangkaian rumusan takdir yang diciptakan Tuhan untuk manusia, sebuah variabel yang tidak dapat dipisahkan dari hiruk pikuk konsonanitas, kemonotonan, dan jeratan rutinitas teatrikal kehidupan manusia. Tiap -tiap dari kita adalah sebuah konstanta di dalamnya. Menimbulkan perhitungan aritmetika dan kumpulan peluang tentang siapa yang kita cintai dan harus dicintai, yang tak mencintai dan harusnya tak dicintai. Angka-angka mungkin tak kan cukup untuk menafsirkan kadar cinta atau prosentase rasa rindu seseorang yang sedang kasmaran pada pujaan hatinya. Barang kali, berbait-bait kalimat takkan mampu untuk menjelaskan bagaimana kita bisa jatuh hati kepada seseorang, layaknya sebuah soal cerita matematika, sebuah kata-kata sederhana yang di dalamnya terdapat angka, dan di dalam angka-angka itu terdapat jawaban yang rumit.
Semua orang pasti akan sepakat dengan saya, menggeleng-gelengkan kepala, mendecak-decakkan lidah, lalu mengangguk dan berkata, “Iya ya, itu benar”. Tapi itu bukan jawaban, sekali lagi itu bukan jawaban soal cinta. Itu hanyalah sebuah pembenaran rasio atas rasa, akal pada hati. Semua itu akan terus menimbulkan seonggok kalimat tanya — tentang apa, siapa, bagaimana, kapan, berapa, dan dimana. Apa yang saya rasakan ini cinta? Siapa yang sebenarnya saya cintai ini? Bagaimana cinta ini seharusnya? Kapan ini mulai disebut cinta? Berapa besarkah rasa cinta ini? Dan dimanakah rasa ini seharusnya agar bisa mencintai? Sebuah teka-teki silang vertikal dan horizontal tentang cinta yang selalu ku temui dalam bingkai potretmu. Terkadang cinta membuatku mengkonsepkan sesuatu, memvisualisasikan yang riil dan yang imajiner menjadi sebuah bahasa verbal yang abstrak. Berandai-andai untuk membuat diriku makin terkonsep pada kompleksitas dalil-dalil tentang cinta. Sebuah teorema pengantar tidur yang selalu harus berakhir pada sekedar bunga tidur.
Kadang aku juga berfikir, haruskah semudah itu aku menyerah pada sebuah kalkulasi takdir? Menyandarkan semua keyakinan ini pada semua keragu-raguan, ataukah menepiskan ragu dan meyakinkan diri ini sebagai sebuah konstanta yang mampu merubah kalkulasi takdir? Dalam hal ini, setiap dari kita pasti akan berkata: “Atas nama cinta, akulah sang konstanta itu”. Seperti konstanta dalam kesebandingan yang akan merubah hasil akhir dari tiap-tiap jawaban, termasuk jawaban atas takdir cintaku padamu. Kadang kala itulah yang membuatku selalu siap untuk berjuang — memperjuangkan cinta. Aku selalu siap akan segalanya. Siap menang dan menjadi pahlawan, tapi juga jauh lebih besar siapku untuk kalah dan menjadi pecundang. Sesuatu yang selalu menggelitik batinku tentang sebuah rasa pesimis di atas sedikit rasa optimis, atau mungkin lebih tepatnya “pasrah”.
***
Setiap dari susunan huruf namaku adalah sebuah susunan abjad vokal dan konsonan yang disusun oleh para dewa-dewa. “Hera”. H-E-R-A. Butuh seorang yang pantas untuk menjemput hatiku yang lelah menunggu di persimpangan jalan. Lalu maukah kamu menjadi “Zeus”? Z-E-U-S. Raja para dewa, menggenggam dunia, dan mempersembahkannya kepadaku. Menunjukkan sekelebat atraksi memainkan petir di tangan hanya untuk bisa melihatku berdecak kagum sambil menepukkan kedua telapak tangan dengan anggun, menyunggingkan senyum malu-malu seorang dewi, ratu para dewi. Menggenggam tanganku yang layu melambai-lambai. Menyatukan dua hati kita dengan kalimat-kalimat magis dewa-dewa di kerajaan langit. Pemandangan diskrit itulah yang selalu ingin kujejalkan dalam sepasang mataku ini, menambah perbendaharaan momen-momen spesial dalam hidupku.
Namun kembali lagi aku tersadar dari angan-anganku tentang siapa aku. Pesonamu sungguh tidak dapat ku jangkau dengan materi, dengan kata, dan terlebih dengan angka. Sekalipun kamu adalah Phytagoras. Dengan teoremanya yang dapat menghubungkan kita dalam sebuah bangun datar bernama segitiga—segitiga siku-siku. Dua titik yang segaris dihubungkan oleh satu titik di atasnya; dua insan yang berstatus hamba, dipertemukan karena satu titik, karena Tuhan. Tapi sekali lagi, ada yang mengganjal dalam rangkaian perjalanan pikiranku untuk menembus relung hatimu. Hypotenusa. Sebuah garis miring dalam segitiga siku-siku cinta kita. Sebuah garis yang teramat sulit bagiku — yang hanya seorang pengagum Phytagoras — untuk menujumu. Mungkin tiap-tiap dari kalian yang melihat sikap saya akan menggeleng-gelengkan kepala, memanyun-manyunkan bibir, menghembus-hembuskan nafas, dan berkata, “Hah, payah, payah”.
Cintaku tak semudah itu, Bung. Cinta ini bukan cinta Mimi dan Mintuno, Paimi dan Paimo, atau Sarmini dan Sarmino, ini soal cinta Hera dan Heru. H-E-R-A dan H-E-R-U. Bukan sebuah cinta yang mudah ditukar dengan berlian berdigit enam yang melingkar di jari manis. Atau kuda besi berdigit sembilan yang di minumkan pertamax. Atau pula di gadai dengan megahnya bangun ruang bervolume besar, di digit dua belas. Karena faktanya tidak satu pun dari digit-digit itu yang aku punya, selain beberapa lembar kertas dengan angka berdigit empat dan lima, bahkan lebih sering berdigit tiga atau dua. Tiap digitnya merujuk pada kumpulan angka–angka dari himpunan bilangan real, bahkan lebih real dan nyata lagi dari yang terbayangkan.
***
Seketika bayang-bayangku atas potretmu terhenti. Ketika malam telah semakin larut, memunculkan angka di dinding hati yang carut marut, dalam pikiran yang berlarut-larut. Seolah semua itu merayuku untuk menutup bingkai potretmu, dan meninggalkannya sendiri dalam bayang-bayang di sudut kamarku yang paling gelap. Tubuh ini mungkin bisa lemah, mata ini pun bisa lelah, tapi tidak untuk hati ini. Cintaku tak sekali pun akan lemah dan lelah untukmu. Cinta seorang Hera. “Hera dan Heru”. H-E-R-A dan H-E-R-U. Seperti sebuah konstanta, berharga mutlak, tak berhingga, begitu seterusnya berulang-ulang, sama dan kontinu.

***


Aku + Engkau = Kita (Kehabisan Cerita)

Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang, Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Hhhmmm. Kenapa tak hujan saja? Mungkin dengan hujan yang turun, tak ada lagi mendung yang bergelayut menutupi angkasa. Kenapa tak hujan saja? Hujan yang bisa menghalau kabut-kabut yang menggerogoti setiap sendi. Kenapa tak hujan saja? Dan setidaknya aku mampu menutupi linang-linang air yang menetes.
Di sore yang lalu. Mendung sore tak mengusik. Ada begitu banyak mendung namun tak bisa membuatku menggugat cuaca. Mendung yang lebih hebat dari ini pun tak mampu menghalau.
Aku, engkau, kita. Sebuah cerita yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada. Aku, engkau, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, engkau, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.
Seharusnya di mendung yang sama, aku, angkau, kita, bisa menikmatinya. Tarik ulur cuaca menjadi sebuah drama kolosal. Tarik ulur cuaca yang bisa menjadi sebuah inspirasi baru. Sayangnya, mendung sama yang pernah aku, engkau, kita lihat kini berbeda. Semuanya terasa hampa. Bukan aku yang sedang menikmati drama kolosalnya. Bukan engkau yang menjadi penonton. Bukan kita yang duduk di ujung dermaga menyaksikan kepungan awan gelap yang menutupi ufuk barat. Yang ada kini hanya aku seorang yang terduduk lesu. Melihat segalanya begitu keras. Tidak punya makna. Hampa.
Waktu terlalu cepat mengusir cerita yang baru saja dirangkai dari kumpulan kata. Rangkaian puisi yang dirangkai lewat rima dan syair-syair. Puisi yang seharusnya menjadi buku yang menceritakan tentang aku, engkau, kita. Hanya tercipta satu halaman dan kehabisan kata menjadi lembaran-lembaran putih.
Aku pernah begitu menutup diri atas semua manusia yang datang. Aku pernah tertunduk lesu pada setiap lelaki yang hadir. Aku pernah mengenyahkan jauh-jauh perasaan yang kadang menggelitik hati karena begitu takut untuk jatuh pada kenangan lama. Aku pernah membuang jauh-jauh semua perasaan hati yang kutakutkan bisa menguras habis keping hati. Kepingan karena luka yang lama. Aku pernah kehilangan segalanya. Segala tentang hati terkubur begitu jauh.Engkau yang kemudian datang. Menciptakan sebuah gemuruh dan angin topan dahsyat yang bisa membuatku lupa. Lupa aku harus tetap tertidur dalam kubur yang kubuat sendiri. Engkau yang datang seharusnya tidak mengusik dunia yang kubangun dengan begitu senyap. Engkau yang datang tak seharusnya membuatku merasa kembali hidup. Aku berusaha menghalau, namun tetap tak bisa. Tak mampu. Aku ternyata berlari untuk segera meninggalkan duniaku. Menujumu. Ke arah dimana engkau berdiri.
Kini, segala tentang aku, engkau, kita terkikis gelombang waktu. Semunya berakhir tanpa mampu kukendalikan. Aku terhempas dengan begitu keras saat gelombang datang. Aku, yang seharusnya tetap berada dalam dunia kita, terbuang kembali ke dunia gelap. Sunyi dan senyap. Dan engkau, tetap pada duniamu. Jarak begitu jauh mengantarai kita. Bahkan untuk sekedar mendengar desahmupun tak bisa kulakukan.
Kita tinggal cerita.
Untuk kesekian kali, aku harus belajar mengikhlaskan. Belajar melepaskan. Belajar bahwa kita akan tetap menjadi sebuah kenangan yang indah meski tak lagi serumpun.
Kita berakhir disini.
Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang. Tapi rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Air mata menetes. Aku harus memendam rasa. Rasa yang tak berujung. Air mata menetes, tapi bukan karena perih. Aku meneteskannya karena aku tersadar, keindahan rasa ini terlalu anggun hanya untuk sekedar dilupakan. Aku meneteskan air mata, karena itu caraku melepas beban. Melepas asa yang mungkin tak teraih. Meneteskan airmata menjadi sebuah syarat. Betapa semuanya begitu sayang untuk kubuang.

Aku, engkau, kita. Sebuah cerita yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada. Aku, engkau, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, angkau, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.Tapi, aku, engkau, dan kita akan tetap ada dalam sejarah pergulatan cuaca. Cuaca dimana awan menggelantung pada hati yang tak terdefinisi.

Senandung Untukmu

Gelap sudah bergelayut disini, hujan menyisakan genangan genangan air di kolam kolam kecil di halamanku. Tapi aku masih saja mematung menepis kesunyian. Mulai ku julurkan telunjuk mengukir sisa sisa bayangmu di kaca yang berembun. Akhh aku lupa, aku lupa saat mulai membuat sketsa wajahmu karena semburat senja tadi menghalangiku menatap dirimu lebih lama. Tidak.. tidak.. ternyata memoriku jauh lebih kuat dari itu, bukan wajahmu yang aku lupa tapi seberapa lama aku mengenalmu yang aku lupa, karena detak jam dinding pun tak mau bercerita tentang sejak kapan kau tawarkan kehangatan itu padaku. Hey, untuk kau yang sedang pongah mengikuti dilema hidupmu. Dengarlah aku akan bercerita tentang sekeping hati yang ku sisakan untukmu. Benar, kau benar.. Sekeping hati itu tidak akan ku satukan pada sekeping hati yang masih rancu bagimu. Karena ada seonggok hati utuh yang telah kau genggam lebih dahulu. Tapi kenapa kau ragu? aku tidak akan meminta mu memungut kepingan hati itu untukku. Aku hanya meminta kau biarkan saja kepingan hatiku berkelana sesuka hatinya sampai waktu menghentikan langkahnya. Tahu kah kau, buah kata yang akan ku lantunkan di setiap sembah sujudku kepada Sang Pembolak balik hati. Ya tentu, tentu ada namamu, ada doa ketentraman dan kesehatan untukmu. Akhh andai kau tahu, saat ini aku tidak pernah punya angan jauh bersamamu, dapat melihatmu tersenyum saja sudah melepaskan gundahku. Aneh memang, jangankan kau.. aku saja bingung dengan perasaan ku. Aku tak ingin memiliki mu hari ini, tapi aku ingin kau tetap ada disini menjadi senandung tidurku. Biarlah sayapku kembang dengan bayangmu. Sungguh indah, benar-benar indah rasa ini. Tuhan memberikan aku sebuah rasa keikhlasan yang lebih kuat dari rasa inginku. Tuhan pun mengulurkan tanganNya dengan murah hati untuk menampung rasa yang telah aku titipkan padaNya. Aku tak pernah takut, aku tak pernah sedih, karena aku bukan seekor kukang yang selalu malu malu menampakkan meganya. Aku adalah seekor semut yang akan selalu mengangkat beban jauh lebih berat tanpa mengutuk-ngutuk adam dan Tuhannya karena Tuhan memberikan ku sebuah rasa dengan keikhlasan yang tiada terkira. Indah.. sungguh.. Dan rasa itu yang menuntunku untuk menepis kesendirian itu. Hey aku tak sebejat itu. Tidak, aku tidak akan membagi sekeping hati yang telah aku sisakan untukmu kepada para pengembara baru yang mencoba untuk singgah dan berlabuh disana. Karena aku akan membiarkan sekeping hati itu tertanam dan mengakar hidup dalam semak semak rindu yang terkadang berbuah dan berbunga atau terkadang hanya akan menjadi makanan ulat ulat kecil saja.
Sekarang aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk diri ku, hidupku dan agamaku. Karena aku bukan cleopatra yang cantik rupa dan dipuja setiap mata memandangnya, tapi aku hanya seseorang hamba sederhana yang mencintaimu dengan bersembunyi di balik doanya. Bukan disini aku menunggumu, bukan hari ini ingin aku memilikimu tapi nanti..

Suatu hari jika torehan tinta takdir Sang Pencipta tergores bersamamu di mahligai keindahannya.

Hanya Untuk Menunggumu (Lagi)

Aku menatap semu ke sebuah lorong gulita yang bersiluet dan sunyi, entah apa yang aku tunggu seakan pandanganku tak beranjak kabur dan ingin terus menatap kegelapan itu. “tuk.. tuk.. tuk…” hentakkan kaki seseorang pun tak membuatku terkejut. Aku masih tetap fokus dengan pandanganku. Di gedung tua ini aku menghabiskan setengah hariku hanya untuk memandangi lorong itu, lorong yang tersambung dengan pintu masuk dan keluar sehingga aku bisa mengetahui siapa saja yang datang dan pergi melalui lorong itu.
“Hey. What are you doing? Are you okay?” wanita paruh baya dengan rambut pirangnya berusaha memperhatikan aku dan dia terlihat bingung dengan keadaanku yang hanya duduk melamun terpengarah terhadap satu pandangan. Aku mencoba mengubrisnya “yeah, I’m fine” ku selipkan senyuman tipis yang kutampilkan di wajahku, tanpa ku alihkan pandanganku dari sudut lorong itu. Wanita itu beranjak kemudian dia mengelus tanganku dengan lembut dan menghapus kedinginan di ruangan ini seakan hangat dan membuatku nyaman. Dia berlalu dengan tergopoh-gopoh karena membawa barang-barang yang besar hingga dia menghilang di balik pintu masuk.
Dari Matahari terlihat terik dan bersemangat memulai hari, sampai Hujan rintik meredamkan aspal yang melepuh dan kini mulai membanjirinya. Jalan semakin Macet dan orang-orang berlalu-lalang mencari tempat teduhan, dari gedung ini sepi dan sunyi hingga aku mulai merasakan nafasku sesak dan kakiku terjepit barang-barang yang mereka bawa. Seseorang berseragam rapih yang bekerja di tempat ini bertanya kepadaku “selamat Malam Nona, Apa kau menunggu seseorang? Sedari siang aku melihatmu disini namun kau tak beranjak sekalipun dari tempat ini. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mulai tersadar, seharian aku di tempat ini dan aku terbelalak melihat sekelilingku, sungguh ramainya disini “oh tidak, terima kasih. Saya mau pulang saja” aku bergegas berdiri, namun jemari kakiku mulai keram rasanya seperti disemuti puluhan ribu semut rangrang yang berkonvoi di kakiku. Aku merintih kecil hingga membuat petugas itu kembali bertanya “apa kau baik-baik saja nona?” dengan sigap ku pulihkan tenagaku yang tersisa lalu ku jawab “ya, saya baik-baik saja” dengan mengabaikannya aku berjalan melewatinya, sungguh arogan sekali sikapku ini tanpa mengakhiri perhatiannya dengan kata terima kasih, masa bodoh.
Menerobos hujan yang deras tanpa mengenakan pelindung anti air sehelai pun, Aku berjalan santai tak kupedulikan orang-orang yang menawariku ojek payung ataupun taksi yang berderet di pangkalannya. Pakaianku basah, Jalanku mulai tak berarah, pikiranku kembali merenung entah campur aduknya perasaanku kini yang ku inginkan hanya menangis. Aku tak habis pikir, hari ini ku habiskan hanya untuk menunggu (lagi) sudah berapa banyak waktuku yang tersita hanya untuk menunggu. “katamu kau akan pulang! Katamu kau akan kembali! Katamu kau tak akan buatku menunggu lagi! Katamu kau akan tepati janji!…” suaraku melampaui suara hujan, bibirku keriput sampai kurasakan hingga ke jemariku. Setengah nafas aku berusaha bernafas, sempoyongan aku berjalan, lagi-lagi kau buatku menelen asa mengundang hampa.
Aku lelah jika harus terus menunggu, menanti harapan palsu, membuat hidupku layaknya abu, rapuh dan menyapu alur. Jika ingin datang mengapa kau buatku semerana ini, Jika tak ingin datang mengapa kau beri aku untaian harapan yang tak dapat kau wujudkan? Hari ini seharusnya kau sudahi penantian panjangku, seharusnya kau menyadarinya, di Stasiun tengah Kota aku menunggu mengharapkan kedatanganmu, sosokmu yang selalu membuatku cemas bahkan melebihi kecemasan akan diriku sendiri. Semoga kau lekas pulih dari retaknya ingatanmu akan diriku.
Dari Langit yang menggapai Matahari

Menunggu Pelangi hingga Pagi