Izham
dan Lilis adalah dua anak yang kehidupannya saling bertolak belakang. Namun
dari perbedaan itu mereka dapat memperlihatkan kepada semua orang bahwa
perbedaan latar belakang keluarga bukanlah penghalang dari hubungan mereka.
Panggil saja Izham, dia adalah seorang musisi terkenal yang sering membanggakan
orang-orang di sekitarnya. Ketajiran dan prestasi-prestasi yang ia raih dalam
setiap ajang perlombaan membuat namanya semakin tenar, baik itu di lingkungan
sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya akan tetapi Izham bukanlah anak
yang cukup berprestasi di bidang akademik. Izham termasuk anak yang malas
mengikuti pembelajaran, apalagi jika yang masuk adalah guru mata pelajaran yang
tidak ia senangi pastilah dia enggan menginjakkan kakinya di dalam kelas
bersama dengan sahabatnya Atur.
Lain
halnya dengan penyair cantik yang bernama Lilis, dia memang berasal dari
keluarga sederhana namun dia sangat dikagumi oleh teman-temannya. Mengapa
tidak, setiap tahunnya dia mendapatkan predikat sebagai juara kelas sekaligus
juara umum di sekolahnya. Semua guru mengagumi kecerdasan dan kemahirannya di
bidang akademik dan juga sastra. Tidak jauh beda dengan Izham, Lilis juga
mempunyai sahabat mereka berjumlah 6 orang Nita, Niky, Indah, Hesty, Hera dan
Lilis. Ke enam sahabat itu tidak bertahan lama mereka terpecah belah menjadi
dua kelompok disebabkan adanya kesalahfahaman antara Nita dan Niky. Lilis dan
Indah ikut bersama Niky dan Hesty serta Hera ikut bersama Nita.
Izham
dan Lilis mempunyai jalan fikiran yang bertolak belakang, mereka memang sekelas
namun tiap hari Izham beserta sahabatnya Atur selalu membully Lilis. Entah
karena alasan apa sampai-sampai mereka berdua selalu melakukan itu. Bisa di
katakana bahwa mereka berdua di ibaratkan sebagai tikus dan kucing yang
kerjaannya hanya berkelahi tiap kali bertemu. Sering Lilis dibuat nangis dengan
kejahilan Izham dan Atur maka dari itu Lilis sangat benci sebenci bencinya dengan mereka berdua.
Pada
suatu hari Izham dan Lilis diberi amanat oleh guru mereka untuk mewakili
sekolahnya dalam festival lomba puisi se-provinsi yang diiringi dengan music
akustik (gitar). Mau tidak mau Lilis dan juga Izham harus menjalankan amanah
gurunya agar pamour mereka di sekolah semakin naik. Al hasil mereka mampu
meraih juara pertama dalam ajang itu. Hingga banyak gosip-gosip yang beredar
bahwa mereka berdua menjalin hubungan yang special. Dan ternyata semenjak
kejadian itu Izham diam-diam memendam rasa kepada Lilis namun itu tidak dapat
terwujud karena Izham mempuyai kekasih dan begitupun dengan Lilis, dia juga
mempunyai seorang kekasih yang jaraknya berjauhan dengan Lilis atau biasa di
sebut dengan LDR (Long Distance Relationship) yang dalam bahasa Indonesia biasa
di sebut dengan hubungan jarak jauh.
Hingga
suatu ketika hubungan Lilis dengan pacarnya tidak berjalan dengan baik. Dia
seperti biasa-biasa saja tetap terlihat riang namun siapa sangka, didalam lubuk
hatinya merasakan kesakitan yang mendalam. Akhirnya dia memutuskan untuk
mengajak teman-teman kelasnya liburan musim panas dengan melakukan wisata alam
ke salah satu tempat pariwisata di kotanya. Lilis tak sendirian membuat rencana
itu, ia meminta pertolongan Izham melalui jejaring social akhirnya mereka
berdua saling tukaran nomor handphone untuk membahas tentang rencana mereka
mengadakan pariwisata saat liburan sekolah. Dari situlah Lilis mengetahui kalau
sebenarnya Izham sudah lama putus dengan pacarnya dan rencana mereka berhasil,
semua teman kelasnya setuju dengan kegiatan itu hingga pada hari yang di
tentukan tiba mereka semua berangkat ke tempat pariwisata tersebut.
Setibanya
disana, mereka semua beristirahat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka
sukai. Pada malam hari, mantan kekasih Lilis mengirimkan pesan singkat yang
isinya seolah-olah dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya. Ia
masih menganggap Lilis sebagai kekasihnya dan kejadian bebeerapa hari yang lalu
hanya kesalahfahaman antara mereka berdua. Di situlah Lilis mulai bingung dan
memutuskan untuk keluar dari penginapan dan mencari udara segar, kebetulan
tempat pariwisata yang mereka datangi adalah sebuah pantai. Lilis duduk
termenung tiba-tiba teman-temannya datang dan mengajak Lilis bersenda gurau dan
Izham pun datang dengan headset di telinganya. Tanpa Lilis sadari Izham
langsung duduk disampingnya dengan menawarkan kepada Lilis satu bagian dari
headset yang ia kenakan. Tak sungkan Lilis langsung menerimanya, ternyata tanpa
terduga Izham memutarkan beberapa lagu
yang berisikan tentang perasaannya kepada Lilis. Sesekali Izham menatap
Lilis dengan sangat dalam sampai-sampai membuat Lilis salah tingkah beberapa
saat kemudian tangan Izham menggenggam tangan Lilis menandakan bahwa ia sangat
sayang kepada Lilis, mungkin dengan cara seperti itu Izham mengungkapkan
perasaannya.
Merasa
terganggu dengan teman-teman yang ada di sekelilingnya, Izham mengajak Lilis
untuk duduk berdua di tepi pantai dengan menggunakan sebuah sarung Bali untuk
membuat mereka berdua tetap hangat. Teman-teman mereka yang ada di belakang
merasa sangat curiga dengan kedekatan mereka berdua. Apalagi dengan adanya
sarung Bali yang mereka kenakan berdua, itu membuat suasana semakin romantis
kata teman-temannya. Izham dan Lilis seakan-akan menikmati suasana sejuk di
pantai malam itu, sambil bercanda tawa berdua tangan mereka pun saling
menggenggam satu sama lain agar tubuh mereka tetap merasa hangat. Tak terasa
malam semakin larut, angin pun semakin bertiup kencang akhirnya mereka
memutuskan untuk masuk kedalam penginapan. Sesampainya di penginapan Lilis
merasa ada yang aneh dengan teman-temannya, mereka semua menatap Lilis dan
Izham dengan penuh rasa curiga. Mereka sebenarnya tahu kalau diantara Lilis dan
Izham ada chemistry namun mereka berusaha menutup-nutupinya.
Menjelang
tidur, Izham mengajak Lilis tidur di sampingnya karena Izham tidak mau terjadi
sesuatu yang tak di inginkan olehnya terhadap Lilis. Bersama dengan Indah,
Lilis tidur diatas dipan bertiga dengan Izham. Sesekali Izham bangun untuk
melihat Lilis yang tertidur untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja akan
tetapi sebenarnya Lilis tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya dan kadang
kala ia juga melihat apa yang sedang dilakukan Izham. Hingga menjelang subuh
mereka berdua tidak dapat tertidur lelap akhirnya mentari pun mulai terbit
teman-teman mereka sudah banyak yang bangun mereka berdua pun ikut bangun. Pagi
itu Lilis bersama dengan teman-temannya keluar menghirup udara segar di pinggir
pantai dan ternyata Izham tertidur dengan lelap di pagi itu.
Tak
terasa mentari sudah berada di tempatnya mereka semua harus bergegas pulang
kerumah, pengalaman wisata mereka di pantai itu sangat-sangat terasa buat
semuanya. Sesampai di rumah Lilis mengechek
handphone miliknya ternyata ada pesan singkat dari Izham, semenjak kejadian itu
Lilis benar-benar yakin kalau Izham ada feeling dengannya. Namun, ketika Lilis
membuka jejaring social miliknya ternyata teman-temannya lagi heboh
membicarakan soal kedekatan antara Lilis dan Izham seketika pula Lilis langsung
memberi tahu Izham tentang hal itu. Tapi, Izham tidak mau ambil pusing malahan
Izham mengajak Lilis untuk keluar pada malam pergantian tahun. Lilis tidak mau
ambil resiko dia memberi tahu Izham kalau dia belum dapat izin dari orang
tuanya. Tetapi, Izham tetap ngotot supaya Lilis mau pergi bersamanya.
Untungnya
orang tua Lilis sangat pengertian, mereka membiarkan Lilis keluar bersama Izham
d malam itu. Akhirnya pada malam hari Izham datang menjemput Lilis dengan motor
balapnya. Di tengah perjalanan, Izham mengajak Lilis dinner bersama namun Lilis
menolak. Dan akhirnya mereka hanya mampir di swalayan untuk membeli minuman.
Sesampainya di tempat tujuan mereka berdua mangkal disuatu tempat dan beberapa
saat kemudian Atur datang seorang diri, dia heran melihat Lilis dan Izham
berduaan. Akan tetapi dia tidak peduli akan hal itu dia tetap melanjutkan
obrolannya bersama Izham kemudian izham menawarkan sebotol minuman kepada Atur
awalnya dia menolak karena minuman yang dibeli Izham hanya ada dua namun Izham
berkata bahwa sebotol sudah cukup untuk dia dan Lilis. Itulah awal Lilis
merasakan kasih sayang Izham yang seutuhnya. Malam pun larut, Izham mengajak
Lilis untuk pulang. Namun, Lilis menginap di rumah Indah yang kebetulan membuat
party malam itu.
Indah
yang awalnya tidak percaya melihat Lilis dan izham jalan berdua kini
membeberkan fakta kedekatan Izham dan Lilis melalui jejaring social miliknya.
Sampai suatu ketikan berita tersebut menjadi trending topic di kalangan
teman-temannya. Beberapa hari berlalu, perasaan aneh yang tidak dapat
dijelaskannya mengenai Izham kini menggerogoti hati dan fikiran Lilis mungkin
inilah yang dinamakan CINTA. Tapi, Lilis masih belum percaya kalau dia
benar-benar cinta sama orang yang selalu membuat hari-harinya kacau.
Beberapa
hari kemudian, Lilis dan pacarnya putus karena konflik yang mereka hadapi sudah
tidak dapat mereka selesaikan bersama dan tidak lama setelah kejadian itu Lilis
mengetahui bahwa Izham sudah mempunyai pacar. Dia melihat sendiri di akun
facebook Izham berpacaran dengan seseorang yang bernama Eni. Sebelumnya, Lilis
tidak mengetahui siapa orang tersebut. Karena penasaran ia mencari tahu seluk
beluknya. Dengan mengetahui identitas Evhi, Lilis merasa terbakar cemburu karena
Izham tidak memberitahukan semuanya kepada Lilis dan semenjak kejadian itu
Izham menghilang dari kehidupan Lilis akan tetapi Atul menjelaskan kepada Lilis
melalui jejaring social bahwa sebenarnya Izham hanya ingin mengalihkan
perhatian teman-temannya agar nantinya mereka berdua tidak menjadi bahan
perbincangan semua teman sekolahnya. Meskipun Lilis tidak mengerti apa
sebenarnya maksud Izham melakukan itu dia tetap percaya dengan kata-kata Atul,
dia pun sering curhat mengenai Izham kepada Atul dan dia mereply curhatan Lilis
degan berkata, “kamu yang sabar yah Lis tenang aja semua pasti akan indah pada
waktunya” akhirnya Lilis merasa bahwa memang Izham benar-benar sayang sama dia.
Hari
ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas kemarin,
dikelas terlihat Lilis dan Izham saling bungkam dan enggan berbicara. Mereka
bagaikan orang yang tak saling kenal hanya suara teman-temannya yang
menghidupkan suasana kelas saat itu. Sahabat-sahabat Lilis merasa heran dengan
sikap mereka berdua hingga mereka mengejek Lilis dan Izham dengan berkata
“cie.. kok pacaran diem-dieman sih” Lilis tertegun enggan bicara mendengar
ejekan itu, hati kecilnya berkata “jangan sampai mereka curiga terhadapku dan
Izham, jangan sampai mereka bertambah yakin kalau aku menjalin hubungan dengan
Izham. Tp, buat apa aku gelisah jika kenyataanya kami nggak menjalin hubungan”.
Meskipun Lilis membuat pengakuan bahwa dia tidak pacaran dengan Izham, tetapi
teman-temannya tetap yakin terhadap insting mereka yg mengatakan bahwa Lilis
dan Izham pacaran.
Lilis
seringkali gelisah memendam semua rahasia hatinya dan rahasia dibalik rahasia
yang ia simpan seorang diri. Akhirnya dia meluapkan semuanya kepada salah satu
temannya yaitu Rina. Memang Rina bukanlah salah satu anggota geng Lilis namun,
dia mampu menjaga semua rahasia yang dikatakan oleh Lilis sekaligus Rina menjadi
tempat curhatan Lilis tentang sikap Izham yang saat ini sangat dingin dan tak
banyak bicara terhadap Lilis. Seolah-olah dia telah melupakan segala yang terjadi
diantara dia dan Lilis.
Hari
ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan Ujian Nasional semua peserta ujian
dan para guru merasakan ketegangan menanti saat-saat kelulusan sekolah tiba.
Tidak terlepas dari itu, rencana perpisahan sekolah tahun ini akan diadakan di
pantai tempat Lilis dan kawan-kawan mengadakan liburan pada musim panas
kemarin. Sangat berat rasanya jika Lilis harus kembali ke pantai itu. Tempat yang
membuat dirinya seolah-olah terbang diatas pantai menyaksikan keindahan
kuasa-Nya lalu seketika sayapnya dipatahkan hingga terjatuh dan terapung diatas
pantai tanpa arah yang jelas. Namun, semua orang menginginkan Lilis hadir dalam
acara tersebut dan memberikan persembahan terakhir melalui sajak-sajak
indahnya.
Hari
perpisahan sekolah telah tiba akan tetapi sejak berangkat hingga sampai ke
tempat tujuan, Lilis sama sekali tidak melihat Izham. Salah seorang guru
menanyakan keberadaan Izham kepada Lilis namun tak banyak kata-kata yang ia
lontarkan hingga Lilis melihat Atul dan memanggilnya kemudian bertanya: “Izham
ikut nggak? Kok dari tadi aku nggak liat dia sih.” Atul tersenyum dan
menanggapi pertanyaan Lilis “Cie ada yang kangen nih sama Izham. Dia nggak ikut
sama rombongan soalnya lagi barengan sama salah satu guru, tadi ada urusan
katanya. Tenang aja, dia bentar lagi sampai kok.” Mendengar jawaban Atul, Lilis
merasa senang namun ada rasa malas bertemu dengan Izham. Tibalah malam puncak
perpisahan sekolah mereka, ternyata Lilis dan Izham harus mewakili kelas mereka
untuk menampilkan persembahan terhadap teman-teman yang lain. Belum ada
persiapan yang dilakukan oleh mereka berdua. Maka dari itu mereka harus latihan
ditempat yang sunyi dan jauh dari kerumunan teman-teman agar penampilan mereka
berkesan dihadapan semua yang hadir.
Pinggiran
pantai merupakan tempat yang cocok untuk latihan, tepat ditempat di mana mereka
pernah duduk bersama. Setelah latihan, tiba-tiba Izham memainkan gitarnya dan
menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Mimpi” yang dipopulerkan oleh Anggun.
Dia seakan mengisyaratkan sebuah makna dari lagu tersebut dan sesekali menatap
Lilis yang juga menatapnya. Izham tetap memainkan gitarnya dan menyatakan
perasaannya, Lilis pun langsung menundukkan kepalanya dan terdiam. Belum sempat
ia memberi jawaban terhadap pernyataan Izham, guru mereka pun memanggil bahwa
sebentar lagi mereka akan tampil. Lilis beranjak meninggalkan Izham menuju
tempat teman-teman mereka berkumpul.
Lilis
dan Izham berkolaborasi membawakan puisi dan lagu tentang perpisahan. Terlihat
jelas wajah Lilis yang seakan menahan tangis entah karena terbawa suasana atau
ada hal lain yang mengganjal di fikirannya. Usai tampil, Lilis menuju ke
pinggir pantai dengan tangan tertekuk dilutut. Dia menangis sejadi-jadinya dan
mengeluarkan apa yang menjadi beban fikirannya. Setelah perasaannya mulai
membaik barulah ia kembali ke rombongan dan menghabiskan malam bersama semua
teman dan guru-gurunya.
Amplop
pengumuman kelulusan sudah dipegang oleh kepala sekolah, was-was dan penasaran
menyelimuti hati setiap orang yang hadir pada saat itu. Terlebih lagi Lilis
yang namanya disebutkan oleh kepala sekolah untuk maju dihadapan para
teman-temannya. Dia ditanya perihal rencana setelah lulus sekolah dan dia
menjawab “Sebentar lagi perusahaan tempat ayah saya bekerja akan ditutup dan
dialihkan ke luar kota. Jika ayah saya masih menginginkan pekerjaan itu, bisa
jadi dia pindah ke luar kota dan bukan hanya dia yang pindah mungkin kami
sekeluarga. Jadi saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi
dikota ayah saya bekerja”. Tepuk tangan yang meriah seakan mendukung keputusan
Lilis, dia pun memandangi satu per satu wajah teman-temannya dan terlihat Izham
yang tertunduk tak berekspresi. Selanjutnya kepala sekolah memanggil Izham dan
menanyakan pertanyaan yang sama dengan Lilis, sambil memandang Lilis dia pun
menjawab “Lima menit yang lalu saya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan
tinggi yang membuat perasaan saya menjadi bahagia karena melihat senyuman perempuan
cantik tapi sepertinya sekarang, saya harus berfikir dua kali untuk hal itu. Yah
saya masih mempertimbangkan antara lanjut kuliah atau tidak”. Mendengar perkataan
Izham yang seperti itu, Lilis bertanya-tanya didalam hati “apakah perempuan
yang dimaksud itu adalah saya? Entahlah”.
Kepala
sekolah mengumumkan satu per satu nama siswa yang lulus dan Lilis tetap menjadi
yang unggul dan terbaik sedangkan Izham berada di urutan ke-5. Semua orang
tidak percaya jika Izham mampu menduduki urutan dengan nilai tertinggi ke-5
diantara teman-temannya yang lain. Lilis dan Izham saling memberi ucapan
selamat namun dengan raut wajah yang tidak begitu bahagia. Sepertinya mereka
saling mengetahui bahwa perpisahan sudah didepan mata. Tak satu pun yang mampu
mencegah perpisahan diantara mereka. Setelah itu, Lilis beranjak pergi
meninggalkan Izham yang diam tak berkutik melepas kepergian Lilis. Apakah ini
pertemuan terakhir mereka? Tak ada yang mengetahui itu!
Pantai
adalah saksi bisu kisah antara Izham dan Lilis yang tidak tahu harus berbuat
apa ketika takdir memisahkan jarak antara mereka berdua. Hingga akhirnya, tanpa
sengaja Lilis melihat jejaring sosial milik Izham yang terlihat bahagia dengan
seorang perempuan cantik berada disampingnya. Lilis merasa lega melihatnya
karena Izham mampu membuktikan kata-katanya ketika hari pengumuman kelulusan.
Izham melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang membuat perasaannya
bahagia melihat senyuman perempuan cantik. Lilis pun mengerti bahwa perkataan
yang terucap mampu menjadi kenyataan meski yang diharapkan bukanlah objek yang sebenarnya.
